in

Review Buku Pemburu Aksara Karya Ana Maria Shua

Buku Pemburu Aksara: sepilihan fiksi mini merupakan buku yang ditulis oleh Ana Maria Shua. Buku Pemburu Aksara ini hanya memiliki total 132 halaman saja. Setiap halaman dalam buku ini hanya berisi sejumlah paragraf pendek atau yang disebut dengan fiksi mini.

Setiap halaman terdiri atas satu paragraf hingga maksimal lima paragraf saja. Dalam buku Pemburu Aksara yang sangat tipis ini, terdapat 6 bab yang membagi total 114 fiksi mini. Hampir seluruh kisah yang disajikan super pendek. Ada beberapa yang cukup panjang, tapi tak seperti kisah pada umumnya.

Plot kisah pada tiap paragrafnya tentunya sangat padat. Tema cerita yang disajikan dalam buku Pemburu Aksara ini tidak terlalu jauh membahas seputar kehidupan sehari-hari. Bagi banyak pembacanya, itu lah yang menjadi keunikan fiksi mini tulisan Ana Maria Shua.

Dalam setiap tulisan dalam buku Pemburu Aksara ini, seolah tidak mengizinkan kegenitan sastrawi untuk muncul. Setiap kisahnya disajikan dengan cara sederhana, tetapi mengandung renungan yang reflektif dan mendalam, sehingga menyajikan berbagai kejutan. Tulisan Ana Maria Shua bahkan dianggap memiliki unsur magis yang ingin disampaikan kepada pembaca, karena terdapat kebersahajaan yang elegan di setiap tulisannya.

Beruntung, pada tahun 2018 lalu, Ronny Agustinus melalui penerbit Marjin Kiri menerjemahkan buku Pemburu Aksara yang menjadi salah satu dari sekian banyak buku yang ditulis Ana Maria Shua, yang isinya sangat menghentak. Tanpa peran Ronny Agustinus dan penerbit Marjin Kiri, pembaca Indonesia mungkin akan kesulitan dalam mencerna karya yang sangat spektakuler ini.

Beberapa paragraf pendek dalam buku ini terkadang menggelikan dan kerap kali membuat terkejut. Paragraf-paragraf yang singkat nan ajaib itu, mengisi satu lembar halaman saja. Apakah anda bisa membayangkan, betapa paragraf yang sangat pendek dapat mengejutkan pembacanya? Mungkin hal ini juga diakibatkan genre fiksi mini belum cukup populer di Indonesia.

Fiksi mini yang belum populer, yang dimaksud adalah dalam bentuk buku. Sebab, sejauh ini fiksi mini yang populer ditemukan dalam bentuk digital, yaitu yang diunggah dalam bentuk thread cerita di media sosial Twitter. Maka itu, pembaca dapat menemukan ‘sensasi’ yang baru ketika membaca buku seperti buku Pemburu Aksara.

Ana Maria Shua menuai banyak pujian berkat buku Pemburu Aksara yang ditulisnya ini. Publishers Weekly menyatakan bahwa setiap tulisan ringkas dan liris ini, antara anekdot, aforisme, dan puisi, serta paragrafnya jarang ada yang panjangnya melebihi satu paragraf. Kisah singkat ini berisi pemikiran yang encer, mengejutkan, dan kerap kali sangat menggelikan.

Clarin bahkan menyebut Ana Maria Shua sebagai ratu cerita mikro. El Pais juga memuji Ana Maria Shua, ia menyebutnya sebagai salah satu pencipta terbaik di genre fiksi mini. Coal Hill Review, berpendapat bahwa singkatnya cerita yang dituliskan dalam buku ini memungkin Ana Maria Shua untuk menyimpang dari sejumlah aturan klasik karya fiksi, dalam prosa yang padat ini, tidak ada ruang bagi kegenitan sastrawi. Meskipun begitu, terdapat keindahan yang elegan dan lugas dari kesahajaan tulisan ini.

Words Without Borders mengatakan bahwa hal paling memukau dari cerita sangat pendek yang ditulis Ana Maria Shua, yaitu ia menghadirkan situasi-situasi yang absurd, sangat fantastis, atau paradoks dengan nada yang sepenuhnya lempeng. Anda penasaran akan buku yang menuai banyak pujian ini? Yuk segera dapatkan buku ini hanya di Gramedia.com.

Profil Ana Maria Shua – Penulis Buku Pemburu Aksara

Sumber foto: jwa.org

Ana Maria Shua merupakan wanita yang lahir di Buenos Aires, pada tahun 1951. Ana Maria Shua memang dikenal bukan penulis biasa seperti pada umumnya, karena Ana mampu menggebrak dunia sastra melalui kumpulan puisi El sol y yo (The Sun and I) yang ia buat pada tahun 1967. Dari kumpulan puisi itu, Ana yang kala itu baru berusia 16 tahun berhasil mendapatkan dua penghargaan nasional.

Ini menjadi awal perjalanan Ana Maria Shua menjadi seorang penulis. Ana Maria Shua menempuh pendidikan tinggi di Universidad Nacional de Buenos Aires. Setelah lulus, Ana bekerja sebagai seorang copywriter periklanan dan jurnalis pada tahap awal karir kepenulisannya. Sejak itu, Ana Maria Shua sudah menerima banyak penghargaan nasional dan internasional. Salah satu contohnya adalah penghargaan Guggenheim Fellowship untuk novelnya yang berjudul El libro de los recuerdos (The Book of Memories, 1994).

Hingga saat ini, Ana Maria Shua telah melahirkan puluhan buku dalam berbagai genre, seperti cerita pendek, puisi, fiksi mini, novel, esai, cerita rakyat Yahudi, fiksi anak-anak, antologi, artikel jurnalistik, fiksi anak-anak, dan humor. Nama Ana Maria Shua telah mendapatkan tempat khusus dalam fiksi Argentina kontemporer dengan penerbitan banyak buku di hampir seluruh genre.

Karya-karya Ana Maria Shua yang sukses meraih penghargaan juga sudah diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris, Korea, Prancis, Cina, Jerman, Jepang, Italia, Kepulauan, Portugis, Bulgaria, Belanda, Serbia, dan Swedia. Kisah-kisahnya tulisan Ana juga muncul dalam antologi di seluruh dunia.

Beberapa karya Ana Maria Shua bahkan berhasil diadaptasi menjadi film. Contohnya, yaitu karyanya yang berjudul Soy Paciente (Patient, 1980) dan Los amores de Laurita (Laurita’s Loves, 1984). Selain itu, beberapa novel lain karya Ana Maria Shua, yaitu La muerte como efecto secundario (Death as a Side Effect, 1997) dan El peso de la tentación (The Weight of Temptation, 2007).

Selain novel, Ana Maria Shua juga kerap menerbitkan mikro fiksi yang diterbitkan dalam satu volume di Madrid. Empat karya mikro fiksi pertamanya, yaitu Cazadores de Letras, (Letter’s Hunters, 2009). Cerpen lengkapnya telah diterbitkan sebagai Que tengas una vida interesante (Buenos Aires, 2009). Buku mikro fiksi terakhir yang ditulisnya adalah Fenómenos de circo pada tahun 2011. Pada tahun 2013, Ana Maria shua menerbitkan cerita pendek yang berjudul Contra el tiempo.

Sinopsis Buku Pemburu Aksara

Aku tak memiliki masalah apa-apa dengan telur ceplok. Mereka saja yang menatapku dengan mata membelalak penuh ketakjuban dan ketakutan.

Di antara sejumlah cara bunuh diri, kembali lah ke masa persis sesaat sebelum pembunuhanmu, lalu cegah hal itu terjadi.

3452, 3453, 3454 … Supaya bisa tidur, dia menghitung banyaknya jumlah pria yang tidak pernah menjadi kekasihnya, sambil membayangkan mereka melompati gerbang.

Aku menceritakan kepada salah satu teman, bahwa ada dia di dalam mimpiku. Kau harus menjelaskan penutupnya padaku, ujarnya, seolah-olah mimpi punya penutup, seolah-olah aku sendiri yakin bahwa ini sudah bukan mimpi.

Luis melihat seorang pria tergeletak di lantai, ia berpikir bahwa orang itu sudah mati, “Dia mati.” “Bukan,” jawab ibunya. “Dia hanya tidur.” “Tidak ada orang yang tidur dengan menggeletak seperti itu. Tidak nyaman,” kata Luis. “Dia lelah sekali. Kadang aku juga ingin tidur persis seperti itu!”.

Luis dan ibunya semestinya mengecilkan volume suara mereka, karena orang itu bukan tidur atau mati, melainkan tergambar di halaman buku, dan ia dapat mendengar dengan jelas segala obrolan mereka yang memperbincangkan tentang dirinya.

Kejadian yang terjadi di masa lampau menentukan kejadian yang terjadi di masa sekarang. Misalnya, jika kedua orang tuamu tidak bertemu, kamu tidak akan ada sekarang ini. Semakin jauh kamu mundur menyusuri rangkaian situasi yang membentuk sejarah dunia, maka akan semakin mengejutkan dan subtil jadinya dampak dari tindakan paling sepele, yang menghasilkan rangkaian pertautan kompleks dan nyaris tidak berhingga.

Misalnya, jika selama Periode Cretaceous Akhir seekor plesiosaurus karnivora tertentu tak memakan telur-telur yang dengan cerobohnya dilahirkan oleh seekor triceratops betina di tepi pantai, mungkin, siapa tahu, kau masih mencintaiku.

Rumah bordil desa meniru rumah bordil populer di kota yang meniru rumah bordil di New Orleans yang meniru gambaran yang orang-orang kaya Amerika bayangkan tentang rumah bordil di Paris. Bordil desa, tiruan yang jauh: balkon-balkon dengan beludru merah, perempuan-perempuan berbesi tempa.

Kelebihan Buku Pemburu Aksara

Ide cerita yang disajikan Ana Maria Shua dalam setiap cerita singkatnya dinilai sangat segar dan liat. Premis ceritanya sangat menakjubkan. Hal ini membuat para pembaca ingin lagi dan lagi untuk membaca cerita lainnya.

Para pembaca mampu merasakan berbagai emosi ketika membaca ini. Emosi seperti heran, bingung, kaget, geli, dan sebagainya. Kumpulan mikro fiksi ini menjadi salah satu pengalaman membaca yang baru bagi sebagian besar pembaca.

Ide cerita fiksi mini dalam buku Pemburu Aksara sendiri tak jauh dari bentuk metafora kehidupan sehari-hari. Maka itu, cerita dalam buku ini banyak mengandung pesan yang bersifat reflektif dan berkesan.

Kekurangan Buku Pemburu Aksara

Bagi sebagian pembaca, mereka menemukan sejumlah cerita yang membuat mereka berpikir dengan sangat keras untuk dapat memahami maksud dari cerita itu. Beberapa pembaca sampai harus membaca berulang kali. Bahkan ada beberapa cerita yang tetap tidak bisa mereka mengerti, meskipun sudah dibaca berulang kali.

Pesan Moral Buku Pemburu Aksara

Buku Pemburu Aksara ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam bercerita atau berkisah, kita tidak perlu bertele-tele. Sebetulnya, bukan hanya dalam berkisah saja, melainkan juga dalam melakukan segala hal.

Salah satu contohnya, ketika mencintai seseorang, hendaknya kita juga tidak perlu bertele-tele. Cintailah seseorang dengan sederhana, sampaikan pesan yang menunjukkan bahwa anda mencintai dia dengan simpel, tapi pastikan pesan cintanya bisa tersampaikan. Hal ini tentu akan menjadi lebih bermakna dibanding bertele-tele dengan cara yang extra, tapi pesannya sulit untuk dipahami.

Selain itu, dari buku Pemburu Aksara ini, kita juga dapat belajar bahwa ukuran atau ketebalan buku tidak dapat menentukan seberapa bagus kualitas buku itu. Begitu juga, penampilan seseorang atau sesuatu tidak dapat menjadi acuan bagi kita untuk menilainya. Sebab dalam kesederhanaan, justru lebih mampu menghadirkan kemewahan.

Pada intinya, kesederhanaan mampu menjadi sesuatu yang mewah, jika dapat disampaikan dengan baik. Daripada tidak sederhana, yang kerap kali malah membuat bingung, membuat pesan menjadi tidak tersampaikan dengan baik. Kesederhanaan adalah kemewahan.

Berhenti lah menjadi perempuan baik-baik yang sesuai dengan standar sosial, karena menjadi seseorang yang sempurna itu tidak mungkin, alias fiksi. Terima saja ketidaksempurnaan yang kamu miliki, jadikan hal itu humor untuk memanusiakan dirimu sendiri. Jangan juga hidup membosankan, karena anda akan memakan dirimu sendiri dalam konteks mati bosan.

Bagi kalian yang ingin menikmati fiksi mini yang mengagumkan, kalian bisa mendapatkan buku Pemburu Aksara karya Ana Maria Shua ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel