in

Review Novel Pachinko : Belajar Sejarah Korea dari Cerita Kelurga

Baru-baru ini, sempat populer serial drama Korea terbaru dengan judul Pachinko. Dimana serial drama yang diperankan oleh salah satu aktor terkenal Korea Selatan, Lee Min Ho ini ternyata diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama.

Drama ini sekaligus mendasari comebacknya Lee Min Ho di dunia drama Korea. Kamu bisa menontonnya di Apple TV+ dan situs streaming lainnya. Untuk jalan ceritanya sendiri, drama Pachinko menggambarkan hubungan sejarah dengan modernisasi yang terjadi ketika masa pendudukan Korea oleh Jepang.

Tak hanya soal sejarah saja, namun juga kehidupan masyarakatnya. Terutama dilihat dari berbagai macam perspektif. Berikut ini adalah beberapa ulasan tentang novel Pachinko yang akan kita bahas lebih lanjut.

Sinopsis dan Review Novel Pachinko

Novel dengan judul “Pachinko” karya Min Jin Lee ini menceritakan tentang keluarga Korea dengan setting tahun 1910, yakni pada awal tahun saat Korea dianeksasi oleh Jepang sampai penghujung abad ke-20.

Cerita yang ada di dalam novel ini tidak hanya berpusat pada satu tokoh utama saja. Tapi juga keluarga generasi Korea yang kemudian menjadi bagian dari cikal bakal generasi zainichi Korean. Kisah ini dimulai dengan imigrasi sepasang suami-istri, yang bernama Sunja (yaitu anak dari pemilik losmen kecil yang cacat sehingga cara jalannya agak pincang) dan Baek Isak (seorang pastor berkebangsaan Korea ke Jepang dan tinggal di Ikaino, yakni pemukiman warga Korea di Osaka tahun 1933-1989).

Kemudian dilanjutkan dengan adanya keturunan Sunja dan Baek Isak yang selanjutnya tinggal di Jepang dan memperoleh hak menjadi warga tetap atau permanent resident Jepang pada penghujung tahun 90-an.

Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan negaranya itu, Sunja merupakan seorang gadis desa yang polos dan sempat terlibat asmara dengan Hansu, yakni laki-laki yang telah menolongnya di pasar dari gangguan para laki-laki penggoda. Sejak kejadian tersebut, mereka mulai sering bertemu dan akhirnya Ia mengandung anak dari Hansu.

Tapi, Sunja sendiri memutuskan untuk lari dari Hansu setelah mengetahui bahwa alasan kepergiannya ke negara Jepang tak hanya untuk urusan bisnis saja, tapi juga karena Ia sudah memiliki keluarga disana. Ini adalah salah satu alasan kenapa Hansu tidak mau menikahinya walaupun berniat untuk bertanggungjawab.

Kemudian hadirlah Baek Isak, yakni seorang pastor yang sakit-sakitan yang bersedia menikahinya dan mengajaknya untuk hijrah ke Jepang. Setelah itu, Noa lahir tidak lama setelah kepindahannya mereka pada tahun 1933 dan kemudian disusul oleh Mozasu.

Kehadiran Noa dan juga Mozasu seperti sebuah gula di dalam pahitnya keluarga Sunja. Dimana masalah berdatangan silih berganti, mulai dari suaminya dipenjara karena tuduhan penyebaran ajaran sesat, terbelit hutang, kesulitan ekonomi, merasa tidak aman, dan juga diskriminasi terhadap kaum minoritas.

Masalah tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari dan teman akrab untuk Sunja dan sebagian besar keluarga Korea yang memiliki status sosial rendah. Akan tetapi, dari sekian banyak masalah yang diceritakan dengan sangat detail dan presisi oleh pengarang berdasarkan hasil penelitian yang cukup mendalam. Untuk para pembacanya, terdapat dua hal yang menjadi fokus pengarang, yakni stereotyping dan juga krisis identitas yang diperlihatkan dalam beberapa karakter.

Misalnya saja yang sangat jelas yakni ada pada tokoh Noa yang berdarah murni Korea yang ingin menjadi bagian dari mayoritas. Ia bersikap menjadi “paling Jepang luar dalam” yang ditujukan dengan sikap kesehariannya.

Dimana Ia selalu menggunakan nama Jepang saat berada di luar lingkungan keluarga, sangat pandai berbahasa Jepang, merahasiakan latar belakang keluarganya, dan bersikap seperti orang Jepang asli. Kemudian Noa akhirnya memutus hubungan keluarga dengan Sunja setelah Ia mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah Koh Hansu, yakni seorang laki-laki Korea yang berprofesi sebagai Yakuza karena berhasil menikahi anak bos Yakuza Jepang.

Selama ini, Ia mengenal sosok tersebut sebagai teman ibunya yang kelebihan uang dan bersedia untuk membiayai kuliahnya di Universitas Waseda. Upayanya selama ini menjadi sia-sia dan memutuskan untuk gantung diri karena tidak bisa lagi bergulat dengan dirinya sendiri walaupun sudah memulai hidup baru dengan nama Jepang yang baru dan sudah memiliki keluarga. Dari Noa, para pembaca bisa belajar bahwa sekeras apapun kita mencoba untuk mencabut identitas diri, akar akan tetap menahannya dari dasar yang sangat dalam.

Karakter ini berbanding terbalik dengan Mozasu yang tidak pernah merasa harus menjadi seperti anak-anak pada umumnya yang ingin diterima di dalam masyarakat mayoritas. Pandangan mayoritas terhadap minoritas Korea pada saat itu yaitu bahwa orang-orang minoritas bau, tidak pintar, kotor, miskin, pencuri, mudah marah, dan lainnya tidak diindahkan oleh Mozasu. Ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri, mencintai keluarganya dan latar belakangnya, serta bekerja keras supaya nantinya tidak melihat keluarganya mengalami kesulitan secara finansial lagi.

Kemudian ada Haruki Totoyama, yakni seorang polisi Jepang yang berteman baik dengan Mozasu. Polisi ini merupakan salah satu orang Jepang yang dikenal dengan baik, biasa menjalankan tugasnya sebagai seorang polisi secara jujur, tidak memperlakukan minoritas sebagaimana umumnya, tapi Ia menyimpan rahasia tergelap bahwa Ia merupakan seorang homoseksual. Dimana orientasi seksualnya yang dinilai menyimpang membuatnya menjadi salah satu golongan minoritas yang dipandang masih buruk di mata masyarakat.

Dari sini, pengarang telah berhasil mendeskripsikan dengan sangat detail betapa beratnya tinggal di Jepang pada saat itu. Menjadi minoritas di tengah perang, adanya perbedaan budaya, munculnya diskriminasi sosial, dan pastinya masalah finansial. Hubungan yang sangat kompleks antar tokoh, pentingnya menjadi minoritas dengan akses yang sangat terbatas untuk terus berusaha mengenyam pendidikan, adanya konflik identitas, dan hubungan mereka dengan akar kebudayaan yang mulai tergerus rasanya cukup berbaur dengan masalah sehari-harinya.

Tak hanya itu saja, poin menarik yang bisa diambil dari cerita ini yaitu keteguhan perempuan dalam menanggung rasa kehilangan, usahanya mempertahankan keluarganya, keinginan yang tidak terpenuhi, dan tradisi di tengah masyarakat patriarkis yang mengecilkan mereka. Disini, peran perempuan dalam menjaga keutuhan keluarga dengan kasih sayang dan cinta yang tulus digambarkan nyaris nyata oleh Min Ji Lee.

Kisah pelik tersebut terangkum di dalam satu metafora yang menarik untuk dapat dibahas secara lebih lanjut yakni dengan judul Pachinko. Pachinko merupakan sebuah mesin lotre yang dibuat setelah perang berakhir dan setelah semua perusahaan senjata tidak lagi memproduksi senjata perang. Sebagian besar pemilik bisnis Pachinko pada saat itu dijalankan oleh warga Korea yang ada di Jepang. Sehingga, Pachinko ini seringkali dinilai sebagai bisnis dengan stigma yang buruk pada saat itu, seperti halnya masyarakat Jepang memandang siapa pemiliknya.

Seperti Pachinko yang mengandalkan sebuah keberuntungan untuk bisa memperoleh hadiah lotre dan dipandang buruk, kehidupan Sunja dan Baek Isak ataupun keluarga Korea yang ada di Jepang juga begitu. Hingga hari ini, zainichi masih menerima diskriminasi dan penilaian buruk dari kelompok politik sayap kanan yang ada di Jepang yang ultranasionalis dan menginginkan minoritas dengan jumlah terbanyak di Jepang untuk segera hengkang dari negara Jepang.

Isu yang dibahas di dalam buku ini masih cukup relevan dengan apa yang terjadi di zaman sekarang. Sebab, trauma pasca perang ternyata tidak dapat diselesaikan dengan hanya meminta maag ataupun membayar kerugian perang saja.

Tapi juga kesadaran penuh untuk mengakui kesalahan dengan cara menuliskan kembali kisah-kisah tersebut dengan berani. Kemudian menceritakan kisah tersebut kepada generasi selanjutnya merupakan salah satu upaya yang paling reflektif supaya pengalaman buruk dan juga trauma yang diakibatkan oleh perang tidak akan kembali terulang.

Written by Lely Azizah