in

Review Novel Eragon Karya Christoper Paolini

Novel Eragon adalah novel pertama dalam seri novel The Inheritance Cycle yang ditulis oleh penulis fantasi asal Amerika, Christopher Paolini. Novel Eragon ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2001. Christopher Paolini mulai menulis novel Eragon setelah lulus dari sekolah pada usia lima belas tahun.

Setelah selesai menulis draf pertama novel ini selama satu tahun, Christopher Paolini menghabiskan tahun kedua untuk menulis ulang dan menyempurnakan cerita dan karakter tokoh. Orang tua Christopher yang melihat manuskrip terakhir novel karya anaknya itu, kemudian pada tahun 2002 memutuskan untuk menerbitkan Eragon sendiri.

 

Setelah novel Eragon terbit, Christopher Paolini menghabiskan satu tahun lamanya untuk berkeliling Amerika Serikat, dalam rangka mempromosikan novel Eragon. Novel Eragon kemudian ditemukan oleh novelis Carl Hiaasen, dan diterbitkan ulang dalam versi Alfred A. Knopf. yang dirilis pada 26 Agustus 2003.

Novel Eragon sendiri mendapatkan ulasan yang baik, juga beberapa kritikan dari para penikmat buku. Ulasan baik mengenai novel Eragon kerap kali berfokus pada karakter dan plot ceritanya. Salah satu contohnya, Matt Casamassina dari IGN menyebut novel Eragon sebagai buku yang menghibur. Ia juga menambahkan bahwa Christopher Paolini menunjukkan bahwa ia memahami cara untuk menahan mata pembaca dan hal ini lah yang pada akhirnya menjadikan novel Eragon berbeda dari banyak novel fantasi yang dimilikinya.

Chris Lawrence dari About.com juga memberikan ulasan yang positif, yang menyatakan bahwa novel Eragon memiliki seluruh bahan tradisional yang membuat novel fantasi ini menjadi menyenangkan. Novel ini menjadi menyenangkan dibaca baginya, karena plotnya cepat dan asyik, serta dikemas dengan aksi dan keajaiban. Lawrence menyimpulkan ulasannya dengan memberikan buku itu peringkat 3,8 dari 5, dan memberikan komentar bahwa karakter dalam novel ini menarik, plotnya asyik, dan pada pembaca dapat mengetahui bahwa pada akhirnya orang baik akan menang.

Eragon menjadi novel hardback anak-anak yang berhasil menduduki urutan ketiga novel paling laris tahun 2003, dan menjadi buku sampul buku anak-anak terlaris kedua tahun 2005. Novel Eragon juga masuk ke dalam daftar Buku Anak-Anak Terbaik versi New York Times selama 121 minggu. Pada tahun 2006, novel Eragon berhasil mendapatkan Penghargaan Nene oleh anak-anak Hawaii. Novel Eragon juga memenangkan Penghargaan Buku Pembaca Muda Rebecca Caudill dan Penghargaan Pilihan Pembaca Muda pada tahun yang sama.

Kesuksesan novel ini membawa cerita Eragon diadaptasi menjadi sebuah film yang dirilis pertama kali di Amerika Serikat pada tanggal 15 Desember 2006. Selain itu, kisah Eragon juga berhasil diadaptasi menjadi sebuah video game yang pertama kali dirilis pada tanggal 14 Desember 2006. Gim ini merupakan gim video dengan sudut pandang orang ketiga yang dirilis untuk PlayStation 2, Xbox, Xbox 360, dan Microsoft Windows, yang dikembangkan oleh Stormfront Studios.

Profil Christoper Paolini – Penulis Novel Eragon

Sumber foto: goodreads.com

Christopher James Paolini merupakan pria kelahiran Los Angeles, California, pada 17 November 1983. Christopher Paolini adalah seorang novelis dan penulis skenario Amerika. Pada usianya yang ke sembilan belas tahun, Christopher Paolini berhasil menjadi penulis terlaris versi The New York Times. Christopher Paolini dikenal karena karyanya yang berjudul The Inheritance Cycle, yang terdiri dari novel Eragon, Eldest, Brisingr, Inheritance, dan kumpulan cerita pendek lanjutan The Fork, The Witch and The Worm.

Anggota keluarganya termasuk orang tua Christopher, yakni Kenneth Paolini dan Talita Hodgkinson, dan adik perempuannya, Angela Paolini menempuh pendidikan dengan home schooling selama masa pendidikannya. Christopher Paolini berhasil lulus dari sekolah menengah atas pada usia 15 tahun melalui serangkaian kursus korespondensi terakreditasi dari American School of Correspondence di Lansing, Illinois.

Setelah berhasil lulus, Christopher Paolini memulai karyanya dengan menulis novel pertamanya yang berjudul Eragon. Novel Eragon menjadi novel pertama yang mengawali empat seri buku lainnya yang berlatar di negeri mitos Alagaësia. Pada tahun 2002, novel Eragon diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Paolini International LLC, perusahaan penerbitan milik orang tua Christopher.

Demi mempromosikan novel Eragon, Christopher mengunjungi lebih dari 135 sekolah dan perpustakaan untuk mendiskusikan, membaca, dan menulis bersama orang-orang di sana, sambil menggunakan kostum abad pertengahan berupa kemeja merah, celana hitam mengembang, sepatu boot bertali, dan topi hitam yang anggun. Christopher juga menggambar sendiri sampul untuk edisi pertama Eragon, yang menampilkan mata Saphira, dan menggambarkan peta di sampul dalam bukunya.

Pada pertengahan tahun 2002, anak tiri penulis Carl Hiaasen menemukan novel Eragon di toko buku dan ia menyukai novel itu. Hal ini kemudian menyebabkan Hiaasen menarik perhatian penerbitnya, Alfred A. Knopf. Knopf kemudian mengajukan tawaran untuk menerbitkan Eragon dan The Inheritance Cycle lainnya. Edisi kedua Eragon akhirnya diterbitkan oleh Knopf pada Agustus 2003.

Pada bulan Desember 2006, Fox 2000 merilis film adaptasi dari novel Eragon di bioskop di seluruh dunia. Film ini menghasilkan pendapatan kotor domestik dan internasional gabungan sebesar $249.488.115 US Dollar dengan anggaran produksi sebesar $100.000.000.

Pada 23 Agustus 2005, novel Eldest, sekuel dari Eragon dirilis. Kemudian, buku ketiga dalam The Inheritance Cycle, yakni Brisingr, dirilis pada 20 September 2008. Meskipun The Inheritance Cycle awalnya direncanakan sebagai trilogi, pada akhirnya Christopher merilis buku keempat, yang berjudul Inheritance. Buku keempatnya ini dirilis pada tanggal 8 November 2011 di AS, Australia, Selandia Baru, Uni Eropa, dan India, dan kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di lima puluh tiga negara.

Rangkaian buku The Inheritance Cycle diketahui telah terjual lebih dari 35 juta kopi. Pada tanggal 31 Desember 2018, The Fork, The Witch, and The Worm yang menjadi buku pertama dari seri uku berjudul Tales of Alagaësia, diterbitkan dan dirilis ke publik.

Paolini juga belum lama ini merilis novel fiksi ilmiah yang berjudul To Sleep in a Sea of Stars, yang dirilis pada 15 September 2020 oleh Tor Books. Christopher juga berencana untuk kembali ke dunia Alagaësia dengan buku kelima ketika dia menyelesaikan buku fiksi ilmiahnya ini.

Buku-buku Paolini telah terjual dengan sangat baik dan menduduki puncak daftar yang dibuat The New York Times, USA Today, dan daftar buku terlaris Publishers Weekly. Guinness World Records bahkan mengakui Christopher Paolini sebagai penulis termuda dari seri buku terlaris pada 5 Januari 2011.

Christopher Paolini telah melahirkan karya yang cukup banyak dan masih aktif berkarya hingga sekarang. Sejumlah karyanya, yaitu Eragon (2003), Eldest (2005), Brisingr (2008), Inheritance (2011), Eragon’s Guide to Alagaësia (2009), The Official Eragon Coloring Book – with Ciruelo Cabral (2017), Tales from Alagaësia: The Fork, the Witch, and the Worm (2018), To Sleep in a Sea of Stars (2020), dan Unity (2021).

Sinopsis Novel Eragon

 

Sebuah Shade bernama Durza, bersama dengan sekelompok Urgal, menyergap rombongan yang terdiri dari tiga elf. Mereka membunuh dua elf, dan Durza mencoba mencuri telur yang dibawa oleh elf perempuan yang masih bertahan. Namun, elf itu berhasil menggunakan sihirnya untuk memindahkan telur itu ke tempat lain. Durza sontak marah dan kemudian menculiknya, serta menahannya di kota Gil’ead.

Ada seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun bernama Eragon. Ia tinggal bersama pamannya Garrow, dan sepupunya Roran di sebuah peternakan dekat desa Carvahall. Eragon ditinggalkan di sana oleh ibunya, Selena, setelah ia baru saja lahir. Ketika ia sedang berburu, Eragon melihat ada ledakan besar dan menemukan telur naga di reruntuhan.

Pada malam setelah ledakan itu, seekor bayi naga menetas dari telur, dan terikat dengan Eragon. Anak naga itu memberikan tanda perak di tangan Eragon. Eragon kemudian memberi nama naga itu Saphira. Ia menemukan nama itu menurut nama yang disebutkan oleh pendongeng desa tua yang bernama Brom.

Ia membangkitkan naga secara rahasia sampai dua pelayan Raja Galbatorix, Ra’zac, datang ke Carvahall. Eragon dan Saphira lalu melarikan diri dan bersembunyi di Spine, tetapi Garrow terluka parah dan pertanian dibakar oleh Ra’zac. Setelah Garrow mati, Eragon dan Saphira memutuskan untuk memburu Ra’zac sebagai bentuk pembalasan. Brom bersikeras menemani Eragon dan Saphira, dan kemudian memberi Eragon pedang Zar’roc.

Melalui ikatannya dengan Saphira, Eragon menjadi Penunggang Naga. Dia adalah satu-satunya Penunggang yang dikenal di Alagaësia selain Raja Galbatorix, yang menjadi Penunggan Naga berkat bantuan Terkutuk yang sekarang sudah mati. Ketika mereka melakukan perjalanan, Brom mengajar Eragon untuk melakukan pertarungan pedang, sihir, mempelajari bahasa elf kuno, dan cara menunggang naga.

Mereka kemudian melakukan perjalanan ke kota Teirm, di mana di sana mereka bertemu dengan teman Brom, yakni Jeod. Keberuntungan Eragon diceritakan oleh seorang penyihir bernama Angela, dan temannya yang bernama Solembum Werecat. Mereka juga memberikan nasihat misterius kepada Eragon. Dengan bantuan Jeod, mereka melacak Ra’zac ke kota Dras-Leona.

Mereka berhasil menyusup ke kota, tetapi kemudian melarikan diri lagi setelah bertemu dengan Ra’zac. Pada malam itu, mereka disergap oleh Ra’zac. Lalu, seorang asing bernama Murtagh menyelamatkan mereka, tetapi Brom terluka parah. Brom kemudian memberi Eragon restunya. Ia mengungkapkan bahwa ia pernah menjadi Penunggang Naga, dengan seekor naga bernama Saphira, dan ia mati. Saphira kemudian menggunakan sihirnya untuk membungkus Brom di makam berlian.

Murtagh menjadi pendamping baru Eragon dan mereka melakukan perjalanan ke kota Gil’ead untuk mencari informasi tentang cara menemukan kaum Varden, yakni sekelompok pemberontak yang mencari kejatuhan Galbatorix. Di dekat Gil’ead, Eragon ditangkap dan ditahan di penjara yang menampung elf wanita yang sering hadir di mimpinya. Murtagh dan Saphira kemudian melakukan misi penyelamatan, dan Eragon membawa elf yang tak sadarkan diri itu bersamanya.

Setelah melawan Durza, Murtagh membunuhnya dengan panah yang ditembakkan ke kepalanya, lali mereka melarikan diri. Eragon berkomunikasi dengan elf itu menggunakan telepati. Elf itu bernama Arya, ia kemudian mengungkapkan bahwa ia telah mengirim telur naga kepadanya secara tidak sengaja. Berkatnya, ia mengetahui lokasi kaum Varden.

Murtagh enggan melakukan perjalanan ke kaum Varden, ia mengungkapkan bahwa dirinya adalah putra Morzan yang merupakan mantan pemimpin Kaum Terkutuk. Pasukan Kull, Urgal elit, mengejar Eragon ke markas Varden, tetapi diusir oleh kaum Varden, yang mengawal Eragon, Saphira, Murtagh, dan Arya ke Farthen Dr, tempat persembunyian gunung mereka. Eragon bertemu pemimpin kaum Varden, Ajihad.

Ajihad menahan Murtagh di penjaga setelah ia menolak untuk membiarkan pikirannya dibaca untuk menentukan kesetiaannya. Eragon diberitahu oleh Ajihad bahwa Murtagh gagal membunuh Durza, karena satu-satunya cara untuk membunuh Shade adalah dengan menusuk jantungnya. Orik, keponakan Raja kurcaci Hrothgar, ditunjuk sebagai pemandu Eragon dan Saphira. Eragon juga bertemu putri Ajihad, Nasuada, dan tangan kanan Ajihad, Jörmundur.

Lalu, ia bertemu Angela dan Solembum lagi, dan kemudian mengunjungi Murtagh di penjara. Di sana, ia diuji oleh dua pesulap, Si Kembar, serta Arya. Eragon dan kaum Varden kemudian diserang oleh pasukan Urgal yang sangat besar. Eragon secara pribadi melawan Durza lagi, dan setelah pertarungan mental, Durza menebasnya dari belakang.

Arya dan Saphira menghancurkan Isidar Mithrim yang merupakan safir besar yang membentuk atap ruangan, guna mengalihkan perhatian Durza dan supaya Eragon bisa menusuk jantungnya dengan pedang. Setelah itu, Eragon mengalami koma, dan dikunjungi secara telepati oleh orang asing, yang memberitahunya untuk mengunjunginya di ibu kota Elf, Ellesméra. Setelah Eragon bangun, dengan bekas luka di punggungnya, ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Ellesméra.

 

Kelebihan Novel Eragon

Gaya bercerita Christopher Paolini dalam menuliskan narasi novel ini dinilai memukau. Sebab, ia menuliskannya ketika ia baru berusia 15 tahun, dan ia dapat menuliskan narasi cerita yang sangat detail. Cerita yang dituliskannya begitu mengalir, penggambarannya juga sangat realistis.

Petualangan yang dituliskan dalam novel ini sangat seru, dan dapat membawa para pembacanya mengarungi dunia yang penuh fantasi. Selain itu, novel ini juga mampu menginspirasi dalam hal pencarian jati diri seorang remaja.

Christopher juga menyelipkan sedikit unsur komedi dalam novel ini, yakni melalui percakapan jenaka antara Eragon dengan sang naga, Saphira. Hal ini menjadikan novel ini menjadi seru untuk diikuti.

Kekurangan Novel Eragon

Novel Eragon ini dapat dikatakan sebagai buku yang cukup berat untuk dibaca, karena melibatkan fantasi pembaca dari awal hingga akhir, juga narasi novem ini tebal. Pembaca juga menemukan hampir tidak ada variasi dalam penulisan kalimat dalam narasi yang panjang.

Hal ini menjadi suatu kesulitan bagi para pembaca untuk memahami cerita yang ada di novel ini. Beberapa pembaca juga menemukan kejadian yang sifatnya kurang relevan dengan kejadian sebelumnya.

Pesan Moral Novel Eragon

Kebanyakan orang memiliki kebiasaan yang mengganggu dirinya sendiri. Kebiasaan untuk mengingat-ingat hal yang seharusnya tidak diingatnya. Padahal dirinya sudah mengetahui bahwa mengingat hal itu hanya membawa dampak negatif baginya, tetapi masih saja dilakukan.

Banyak orang yang meninggal, karena mempertahankan kepercayaannya. Keberanian yang sejati adalah seperti itu, berani hidup dalam kepercayaan dan berani menderita karena kepercayaan yang dimiliki.

Jangan biarkan seorang pun mengatur pikiranmu dan tubuhmu; apa yang kamu lakukan. Pastikan kamu dapat menegaskan dirimu sendiri bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang paling baik mengenal dirimu dsn mengetahui apa yang terbaik bagi dirimu.

Bagi kalian yang ingin mengetahui keseruan petualangan Eragon, yuk dapatkan novel Eragon karya Christopher Paolini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel