in

Review Buku I Want To Die But I Want to Eat Tteokpokki: Memahami Self-Healing

Review I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki – Ketika perasaan stres dan depresi lebih terkalahkan oleh rasa lapar dan keinginan makan tteokpokki atau makanan favorit kamu, apa yang akan kamu lakukan? Apakah memilih untuk menyerah atau makan saja dulu?

Mengambil premis menarik, Baek Se Hee selaku penulis buku ini rupanya mampu menggetarkan dunia non fiksi dengan buku motivasinya yang diangkat dengan cara unik dan menawan.

Mengingat beberapa tahun terakhir buku motivasi yang membahas segala hal tentang self-healing dan improvement memang sedang banyak digandrungi oleh pembaca. Salah satu buku motivasi dari negara ginseng ini yakni I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki menduduki jajaran best seller di banyak negara.

Sebagai salah satu buku yang sempat hits di Indonesia, buku ini memiliki judul menarik yang membuat banyak orang semakin penasaran dengan kisah di balik buku dengan cover merah muda ini. Kisah Baek Se Hee yang menarik ini bahkan pernah direkomendasikan oleh idol KPop RM BTS, S.Coups SEVENTEEN, Hyunjin Stray Kids, dan lainnya.

Kendati dari judulnya saja terkesan seperti sedang bercanda namun buku ini sebenarnya memiliki kisah yang sama sekali tidak bercanda. I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki ini merupakan catatan pengobatan sang penulis sendiri yang dikemas sebagai sebuah buku bacaan yang menenangkan.

Profil Penulis

Nama Baek Se Hee kini sudah semakin mengudara karena tulisan-tulisannya yang banyak dicintai para pembaca yakni I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki satu dan dua. Penulis asal Korea Selatan ini merupakan perempuan kelahiran Februari 1990 tepatnya di Seoul.

Buku pertamanya yang dirilis pada 2019 lalu langsung meraih best seller di Korea, yang akhirnya diterjemahkan dalam banyak bahasa termasuk bahasa indonesia. Sebelum kini menjadi sosok yang menginspirasi banyak generasi muda, Baek Se Hee sendiri pernah mengalami masa kelam hidupnya.

Dirinya pernah mengalami depresi berkepanjangan dan setelah melakukan pengobatan serta terapi untuk jangka yang cukup lama barulah Baek Se Hee mampu benar-benar bertahan dan sembuh dari kesulitannya selama ini.

Menulis kisahnya sendiri merupakan salah satu self healing Baek Se Hee dengan menceritakan semua apa adanya. Tulisan tersebut pun dirasa cukup baik dan diterbitkannya dalam buku berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki.

Berawal dari menulis ringan yang menjadi salah satu terapi untuk dirinya sendiri, justru membawa banyak keberuntungan lain yang merubah kehidupan Baek Se Hee kini. Saat ini dirinya sebagai penulis kembali menerbitkan karya keduanya sebagai lanjutan dari buku pertama.

Review I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Review I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki

Membaca judulnya, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa buku ini seperti buku motivasi yang lucu. Namun sebenarnya kisah yang ditulis di dalamnya jauh dari hal tersebut. Baek Se He mengajak para pembaca melihat sebuah situasi tentang pengalaman depresi melalui sudut pandang dirinya.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Mengambil latar belakang pribadi penulis yang pernah berjuang melawan distimia (persistent depressive disorder) dan gangguan kecemasan selama kurang lebih 10 tahun, buku ini juga menceritakan kisah pribadinya dan seperti apa gejolak yang terjadi selama masa depresi.

Lebih dari itu, buku ini juga merupakan catatan selama Baek Se Hee melakukan pengobatan dan sesi konsultasi dengan psikiaternya. Maka dari itu tidak heran saat membuka isi buku ini kamu akan melihat kebanyakan dialog adalah tentang percakapan Baek Se Hee dan sang psikiater.

Di awal buku kita akan disuguhkan semua gejolak emosi si tokoh utama, yang sedang mengalami penurunan minat serta ketertarikan akan hal-hal normal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Semakin hari Baek Se Hee bahkan merasa rendah diri dan menganggap dirinya kurang mampu memenuhi standar dirinya sendiri.

Menjadi semakin tidak produktif dan selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk dalam diri si karakter utama ini membuat para pembaca memahami konflik batin yang sebenarnya terjadi.

Hingga pada suatu titik, Baek Se Hee merasa bahwa dirinya tidak mampu menangani permasalahannya sendiri, dan meminta bantuan ahli. Rupanya Baek Se Hee mengalami distimia yang mana mirip dengan depresi berkepanjangan.

Dia mungkin terlihat biasa saja dan baik diluar, namun memiliki hati yang kecil dalam dirinya. Dia merasa hidupnya selama ini tidak berguna. Hal ini terjadi karena dia sendiri masih menyimpan luka di masa lalu yang terus dibawanya hingga saat ini dan justru semakin memberatkan dirinya.

Demi bangkit dan melawan masa-masa terberat dalam hidupnya, Baek Se Hee terus melakukan pengobatan dimana banyak percakapan yang ditulisnya pada buku ini. Penggalan percakapan sederhana tersebut rupanya sangat membantu Baek Se Hee berfikir dengan cara yang baru.

Demi kelangsungan hidup supaya membaik Baek Se Hee memutuskan mencari kegiatan yang bisa membuat dirinya sedikit lebih lega dan melepaskan penatnya, yakni dengan cara menulis di blog pribadinya.

Tulisannya pun tidak lain adalah penggalan percakapan sederhana yang membuat hati Baek Se Hee terasa jauh lebih baik ketika membacanya kembali. Melalui percakapan dan semua pemikiran Baek Se Hee tersebut ada hal-hal menarik yang dia temukan.

Bahwa ada kalanya saat dirinya merasa benar-benar sedih dan seperti tidak berguna lagi, bahkan rasanya ingin memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ada semangkuk tteokpokki favoritnya sempat terbesit dalam benaknya.

Bahkan hanya dengan memikirkan memakan ttekpokki saja sudah membuat hatinya merasa hangat dan sedikit bahagia karena membayangkan betapa nikmatnya makanan tersebut. Satu hal lucu yang dia temukan adalah bagaimana bisa semangkuk tteokpokki pedas bisa membuyarkan depresinya.

Dari sinilah Baek Se Hee menyadari bahwa rupanya selalu ada hal sederhana yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membawa sedikit kebahagiaan. Mungkin sebenarnya yang dia butuhkan hanyalah mencintai dirinya sendiri.

Dalam kasus Baek Se Hee, semangkuk tteokpokki adalah sebuah kebahagiaan dan caranya untuk mencintai diri sendiri. tteokpokki juga merupakan makanan favorit penulis yang selalu menemaninya dalam menulis semua rangkuman percakapannya di blog pribadinya.

Dengan kata lain Baek Se Hee mengajak kita untuk melihat sekitar bahwa mungkin sebenarnya ada banyak kebahagiaan kecil yang bisa membuat hari-hari manusia menjadi terasa lebih baik dan kita perlu untuk mensyukurinya.

Review I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki

Kelebihan

Sebagai buku motivasi, buku karya Baek Se Hee ini bisa dikatakan memiliki keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari judulnya yang terkesan menggelitik, juga isi dalam buku yang rupanya memiliki pesan yang amat baik.

Bahkan isu yang diangkat dalam buku ini juga sangat familiar dan mungkin ada banyak dari pembaca yang merasa relate dengan gejolak emosi yang dipaparkan sang penulis dalam bukunya ini. Lebih dari itu, buku bercover pink ini juga memiliki penggalan dialog percakapan yang merupakan dialog nyata dari Baek Se Hee dan sang psikiater.

Dari penggalan dialog pendek inilah yang justru menjadi poin penting dan menarik yang bisa membuka cara pandang kita yang baru. Buku ini berhasil membuat para pembacanya melihat dunia dari sisi yang jauh lebih dekat.

Bahwa ada banyak kebahagiaan yang bisa di dapatkan bahkan dari semangkuk makanan yang selama ini dia makan.

Kekurangan

Mengingat buku ini lebih cenderung sebagai catatan pengobatan antara pasien dan psikiaternya sehingga akan menemukan beberapa istilah-istilah kedokteran yang agak sulit dipahami bagi mereka yang tidak berkecimpung di dunia serupa.

Beberapa kata juga tampak memiliki makna yang sedikit ambigu, hal ini disebabkan karena sebagai buku terjemahan ada beberapa kata yang mungkin masih sulit diartikan.

Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan oleh penulis pada para pembacanya. Sehingga secara keseluruhan inti dari buku tetap tersampaikan dengan baik.

Pesan Moral

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa ada hal mendasar yang bisa kita pelajari setelah membaca buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki ini.

1. Tidak Perlu Membandingkan Diri

Menurut buku ini, selama mengalami distimia Baek Se Hee seringkali overthinking dan merasa rendah diri. Dia melihat dirinya sendiri tampak memiliki banyak kekurangan dibandingkan orang lain. Dia juga mengaku merasa tidak bisa mengikuti standar masyarakat yang mana ini juga menimbulkan banyak permasalahan lain.

Padahal setelah menjalani terapi dia menyadari bahwa hal tersebut tidaklah penting, kenyataan bahwa apa yang kita lakukan dan apa yang telah kita capai ternyata berbeda dengan orang lain adalah sesuatu yang wajar.

Melalui bukunya Baek Se Hee memberitahu kita bahwa tidak apa menjadi berbeda, tidak masalah untuk tidak baik-baik saja dan tidak harus membandingkan diri dengan orang lain. Sebab kita sendiri sebenarnya juga tidak benar-benar tahu apa saja yang terjadi pada orang lain, bisa jadi mereka juga sedang tidak baik-baik saja.

Dalam menjalani hidup kita tidak bisa menilai hidup siapa yang lebih baik dari siapa, kita juga tidak pernah tahu pasti seperti apa hidup orang lain. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang seharusnya kita buang karena hal tersebut hanya akan memberikan beban yang lebih berat.

Hal tersebut juga secara tidak langsung akan memberikan tekanan yang jauh lebih besar terhadap diri kita sendiri, dan memicu stres yang berlebihan. Maka belajar dari kisah Baek Se Hee tidak seharusnya kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

2. Bahagia Itu Sederhana

Saat hidup terasa sia-sia, ketika perasaan sedang sangat sedih dan tertekan membuat manusia sering lupa akan hal-hal yang telah mereka miliki. Padahal ada hal yang jauh lebih sederhana yang bisa kita syukuri, sesederhana makanan favorit.

Baek Se Hee mengajak kita untuk percaya bahwa kebahagiaan ada dimana saja, bahwa bahagia adalah hal yang begitu sederhana tinggal bagaimana kita melihatnya. Maka dari itu, untuk bisa melihat dan mensyukuri kesederhanaan tersebut kita tidak boleh terlalu terpuruk dalam rasa sedih.

Saat sesuatu hal buruk menimpamu, saat kamu dihantui perasaan bersalah akan sesuatu dan terus memikirkannya kadang hanya akan menemui jalan buntu. Ada baiknya kita untuk memikirkan segala sesuatu dalam sisi baik dan buruknya.

Supaya pemikiran dan hati akan terus seimbang. Agar kita bisa terus mensyukuri apa yang telah kita miliki. Misalnya bersyukur karena kamu menemukan makanan favoritmu, bersyukur karena ada film kesukaanmu sedang tayang di TV dan segala hal sederhana lainnya.

Berdasarkan pengalaman penulis terbukti perasaan depresinya yang sudah terjadi selama 10 tahun terakhir mampu sedikit teralihkan hanya karena membayangkan makanan yang dia sukai, dengan memakannya saja sudah membuat dia bahagia.

Jadi sesungguhnya bahagia itu sangat sederhana, sehingga saat kamu merasa hidup sedang tidak baik-baik saja ingatlah apa hal yang selama ini membuatmu bahagia.

3. Saatnya Memahami dan Mencintai Diri Sendiri

Setelah selesai membaca buku ini, kita dapat melihat benang merah yang dari karya Baek Se Hee ini. Penulis ingin menyampaikan betapa pentingnya kita untuk mampu memahami diri sendiri dan mulai mencintai diri.

Mencintai diri disini maksudnya bukan dengan cara lebih mementingkan diri sendiri dan kurang peduli dengan orang di sekitar kita. Melainkan menyadari apa hal yang sebenarnya kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan.

Self love yang dicontohkan Baek Se Hee dalam bukunya adalah mencintai diri sendiri mulai dari hal yang paling sederhana, seperti makan tteokpokki dan pergi ke psikiater untuk bangkit dari rasa keterpurukannya selama ini.

Tepatnya pada tahun 2017 lalu merupakan titik balik dirinya di mana penulis memutuskan untuk meminta bantuan psikiater supaya bisa menangani permasalahan dirinya yang tidak kunjung usai itu. Dengan begitu bisa dibilang bahwa sebenarnya ini sudah merupakan bentuk keinginan Baek Se Hee untuk memiliki lebih baik dan mengakhiri masa sulitnya.

Maka dari itu berulang kali penulis menyatakan secara tersirat bahwa saatnya kita mendengarkan apa yang diri kita butuhkan, apa yang kamu inginkan serta melakukan segala sesuatu sesuai keinginan kamu.

Misalnya seperti, memiliki pekerjaan yang sesuai kamu inginkan tanpa adanya tekanan dari orang lain. Dengan begitu kita akan menemukan kebahagiaan kita sendiri. Mencintai diri sendiri tujuannya supaya kita tidak memiliki tekanan dalam melakukan apapun dalam hidup.

Sebab jika kita sendiri tidak mulai mencintai diri, bagaimana orang lain akan mampu mencintai kita.

Review I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki

Kesimpulan Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Setelah membaca ulasan diatas, apakah Grameds menjadi tertarik membaca buku karya Baek Se Hee ini?

Ada banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari catatan perjalanan Baek Se Hee selaku penulis buku ini. Melalui masalah-masalah yang dihadapi penulis, kita sadar bahwa ada saatnya sebagai manusia, kita merasa down dan sedih.

Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa kita buka satu-satunya orang yang mengalami kesedihan serupa di dunia ini. Bisa jadi ada banyak orang lain diluar sana yang mengalami masa yang lebih sulit. Maka dari itu hal yang kita perlukan saat sedang dilanda kesedihan hanyalah rasa syukur.

Artinya sebagai manusia kita sedang ditempa hal yang wajar dan oleh karena itu kita tidak perlu terlalu memupuk diri dan berlarut dengan emosi negatif ini. Alih-alih sedih, ada baiknya kita mengingat hal sederhana apa yang bisa membuatmu tertawa.

Jika hal tersebut dirasa masih sulit, mintalah bantuan orang yang kamu percayai untuk membantu meringankan beban sehingga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sekecil apapun itu.

Review I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki

Demikian review I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki. Jika Grameds, tertarik membaca buku ini dan seri keduanya juga buku lainnya, kamu bisa mendapatkannya di https://www.gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas tentunya Gramedia akan selalu berusaha memberikan produk terbaik dan terlengkap, agar Grameds bisa memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Inka

Written by Ananda