in

Pengertian Bullying dan Cara Mengatasi Bullying di Sekolah

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya (Sejiwa, 2008).

 

Bullying Di sekolah, Kenali Dan Cegah Sejak Dini

Siang ini, sampai di rumah, Nana tertunduk lesu. Wajahnya tampak murung, seperti terlihat sedih, jengkel, dan takut. Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir gadis mungil berusia 10 tahun ini. Apa yang membuatnya seperti ini?

 

Nana adalah gadis berusia 10 tahun, ia duduk di bangku sekolah dasar. Nana adalah anak yang periang, cerdas, dan penurut. Nana termasuk anak yang memiliki banyak teman di sekolah. Nana disukai, karena Nana tidak pernah memilih-milih teman untuk bergaul. Tetapi, kenapa siang itu Nana terlihat murung?

 

Kebetulan, tidak lama berselang, ibu Nana pulang dari tempatnya bekerja. Ibu Nana bekerja sebagai tukang jahit di sebuah usaha konveksi milik tetangganya. “Lho, nak, kok murung? Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini.” Tanya ibu kepada Nana. Nana hanya diam dan menggelengkan kepala. Sang ibu semakin bingung dengan keadaan ini.

 

Sore itu juga, ibu menuju ke rumah Tea, untuk mencari tahu apa yang telah dialami oleh Nana. Tea adalah teman sekelas Nana. Setelah ibu Nana sampai di rumah Tea, dan memberi salam kepada ibu Tea serta memberi salam kepada Tea, ibu Nana langsung bertanya kepada Tea. “Nak Tea, maafkan ibu telah mengganggu waktu nak Tea, ibu mau menanyakan kejadian yang menimpa Nana, apakah nak Tea tahu penyebabnya?” Tanya ibu Nana pada Tea.

 

“Iya ibu, tadi di sekolah, Nana sempat diejek oleh kakak kelas kami, katanya sepatu Nana ada jendelanya. Begitu, bu.” Ucap Tea. Raut wajah ibu Nana, mendadak menjadi sedih.

 

Na, Gramedians, dari potongan cerita di atas, sedikit terbuka ya, mengenai gambaran sebuah kejadian yang menimpa seorang adik kelas, dan dilakukan oleh kayak kelas. Kejadian ini bukan kejadian yang menyenangkan, melainkan kejadian yang tidak mengenakkan, membuat seseorang malu, jengkel, dan ujung-ujungnya menjadi murung.

 



Hal yang dialami oleh Nana, adalah tindakan bullying. Nana menjadi korban bullying yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Peristiwa bullying ini terjadi di sekolah, maka disebut sebagai bullying di sekolah.

 

Sebagaimana kita tahu, bullying merupakan merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat

atau berkuasa terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

 

Meski disebut sebagai tempat belajar, tempat bersosialisasi, dan tempat mengenal budi pekerti, sekolah juga berpotensi menjadi tempat merebaknya kasus bullying. Setiap warga sekolah, dalam lokasi tertentu, berpotensi menjadi pelaku, maupun korban bullying. Bullying di sekolah, dapat dilakukan oleh, guru kepada siswa, orang dewasa di lingkungan sekolah (staf tata usaha, pelaksana harian, atau petugas keamanan sekolah non guru), siswa senior kepada juniornya, atau siswa dengan sebayanya.

 

Bentuk bullying yang terjadi di sekolah

Dalam berbagai aktivitas di sekolah, setiap warga sekolah, baik itu guru, karyawan, maupun siswa, selalu terlibat untuk ikut serta di dalamnya. Meski bertujuan mendidik, tidak jarang aktivitas-aktivitas ini memicu munculnya konflik yang berujung padai suatu bentuk tindakan bullying. Untuk diketahui bersama, ada beberapa jenis bullying yang mungkin dapat terjadi di lingkungan sekolah.

 

  • Bullying verbal

Bullying jenis ini biasanya terlontar melalui kata-kata yang tidak menyenangkan. Dapat berupa ejekan, umpatan, cacian, makian, celaan, serta fitnah. Semua jenis ungkapan berupa kata-kata yang bersifat menyakiti orang lain, merupakan bentuk bullying verbal.

 

  • Bullying fisik

Berbicara mengenai fisik, hal ini terkait erat dengan fisik atau tubuh seseorang. Bullying fisik merupakan bentuk kekerasan yang terjadi dengan menyakiti fisik seseorang. Bentuk kekerasan ini dapat berupa tendangan, pukulan, tamparan, atau meludahi seseorang.

 

  • Bullying relasional

Di sekolah, bullying relasional terjadi karena muncul kelompok-kelompok tertentu yang berseberangan dengan kelompok atau individu lain, sehingga muncul pengucilan terhadap seseorang yang dianggap berseberangan, selain dikucilkan, seorang siswa yang dianggap “berbeda” dengan kebanyakan siswa di sekolah akan diabaikan, dicibir, dengan segala hal yang dapat membuat siswa tersebut diasingkan dari kelompoknya.

 

Contoh kasus bullying di Indonesia yang terjadi di sekolah selama tahun 2020

 

  • Kasus bully yang menimpa siswa SMP di Malang

Seorang siswa sebuah SMP, berinisial MS (13) menjadi korban bullying yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Siswa tersebut diangkat oleh temannya yang berjumlah tujuh orang, kemudian dijatuhkan di paving. Bukan hanya sekali itu saja, korban juga diangkat lagi, kemudian dijatuhkan di dekat pohon. Korban mendapat perawatan di rumah sakit, akibat kekerasan fisik tersebut dan menyebabkan jari tengah tangannya diamputasi, karena tidak berfungsi lagi. Kejadian ini sangat berbahaya, meski pelaku hanya beralasan karena iseng.

 



Sumber: tribunnews.com, guru pukul murid hingga siswi disabilitas mengalami bullying

 

  • Murid membully gurunya di Gresik

Terjadi sekitar bulan Februari 2019. Seorang siswa sesekali mendorong gurunya, dengan mengarahkan kedua tangannya yang terkepal ke arah sang guru. Siswa tersebut melakukannya di dalam kelas pada saat jam pelajaran berlangsung. Siswa tersebut melakukan, sambil merokok di dalam kelas.

Guru tersebut, tidak membalas, hanya memandang wajah siswanya. Kejadian tersebut direkam oleh temannya sambil menertawakan kejadian tersebut. Aksi ini dianggap sebagai lelucon oleh siswa tersebut. Namun hal ini termasuk sebuah aksi tidak pantas, dan termasuk dalam jenis bullying fisik.

 

Sumber: okezone.com, 6 Kasus Kekerasan dan Bullying di Awal 2019, Nomor 2 Berakhir Tragis

 

Contoh-contoh kasus di atas, merupakan sebagian kecil kisah yang menyedihkan dari para korban bullying yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Namun tidak jarang pula para korban ini meregang nyawa akibat kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh sesamanya, termasuk kekerasan yang terjadi di sekolah.

Seorang psikolog dan konselor, Yunita Kristanti Nur Indarsih, mengungkapkan faktor balas dendam juga dapat menjadi pemicu utama terjadinya bullying di sekolah, selain karena persaingan dan iri hati. Akar kepahitan yang dialami sejak dini, membuat anak usia sekolah, cenderung akan menyakiti sebayanya, meski si anak masih di usia taman kanak-kanak.

Pengaruh dari orang dewasa menjadi model bagi anak-anak usia sekolah. Anak-anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Sehingga sikap dan cara bertutur mereka menyerupai orang dewasa yang dekat dengan mereka.

 

Hukum Untuk Bullying

Kadang tindakan semacam ini dipandang remeh dan tidak mendapat perhatian dari para guru atau orang dewasa yang ada di lingkungan satuan pendidikan. Bullying merupakan suatu tindakan pelanggaran hak asasi manusia, maka dari itu, hal semacam ini memiliki payung hukum dalam perundang-undangan di negara kita.

Selain undang-undang perlindungan anak. Kasus bullying di lingkungan satuan pendidikan mempunyai payung hukum seperti yang tertuang berikut ini.



 

Pasal 54 UU Nomor 35 tahun 2014

Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

 

Deteksi bullying sejak dini

Untuk kalian yang paham akan bahaya bullying. Alangkah baiknya, jika kita semua sama-sama berusaha menghentikan segala bentuk kekerasan, terutama di lingkungan sekolah, agar suasana belajar kita kondusif, nyaman, dan apa yang kita cita-citakan tercapai. Ada baiknya kita kenali bentuk-bentuk bullying dan lakukan langkah-langkah berikut sebagai upaya menghentikan bullying.

Jika kalian dibully

  1. Tetap percaya diri dan hadapi tindakan bullying dengan berani.
  2. Simpan semua bukti bullying yang bisa kalian laporkan, kepada orang dewasa yang dekat dan kalian percaya, seperti guru, jika guru adalah pelaku, laporkan segera ke orang tua kalian, jika perlu melaporkan ke aparat penegak hukum, dalam hal ini Polisi.
  3. Jangan pernah takut untuk berbicara atau melaporkan, meskipun kalian diancam oleh pelaku, karena, mengancam juga merupakan tindakan kriminal.
  4. Berbaurlah dengan teman-teman yang membuat kalian percaya diri dan selalu berpikir positif.
  5. Tetap berpikir positif. Tidak ada yang salah dengan diri kalian, selama kalian tidak merugikan orang lain. Tetaplah jadi diri kalian sendiri dan lawan rasa takut kalian dengan rasa percaya diri.

Jika kalian melihat bullying

  1. Jangan diam!
  2. Berusahalah mendamaikan!
  3. Dukunglah korban bullying agar dapat memulihkan rasa percaya dirinya kembali dan mendampinginya agar tetap bertindak positif
  4. Bicaralah dengan orang terdekat pelaku bullying agar dapat memberikan perhatian dan masukan kepada pelaku!
  5. Laporkan kepada pihak yang bisa menjadi penegak hukum di lingkungan terjadinya bullying, seperti kepala sekolah & guru, jika guru atau kepala sekolah yang menjadi pelaku, seperti tokoh masyarakat, atau aparat penegak hukum!

 

Kriteria Teman Yang Baik

Gramedians, jika kalian ingin mencari teman, yang bisa membuat pertemanan kalian nyaman, jadilah teman yang dapat menghadirkan pertemanan kalian bebas dari konflik atau berpotensi terjadi bullying. Seperti apa sih kriteria teman yang dapat membawa pertemanan kalian terbebas dari bullying. Simak beberapa saran berikut!

 

  1. Saling memberi dan menerima masukan

Teman  yang baik cenderung saling memberi masukan positif terutama nasehat kepada kalian.  Ketika kalian memiliki masalah, teman yang baik akan memberimu masukan yang baik pula. Namun, ketika kamu memiliki teman yang menyarankan kalian untuk berbuat sesuatu hal yang negatif, kalian harus berani mengatakan tidak, dan sebaiknya menjaga jarak dengannya.

 

  1. Dapat bekerjasama dengan baik

Memiliki teman yang dapat diajak kerjasama merupakan keuntungan tersendiri bagi kalian. Kalian dapat saling melengkapi dan berkolaborasi, mau dan mampu menerima satu sama lain, merupakan satu upaya untuk memperkecil potensi terjadinya kasus bullying.

 

  1. Menerima apa adanya

Seorang teman yang baik, mau menerima apa adanya, bukan ada apanya. Apapun kondisi kalian, seorang teman yang baik tidak akan mempermasalahkan ataupun mempertanyakan. Karakter demikian tidak dimiliki oleh sembarang orang. Jadi, jika kalian memiliki

rekan yang memiliki karakter demikian, maka tentu kalian patut bersyukur. Orang yang tidak Menerima kalian apa adanya juga memiliki kecenderungan akan berlaku tidak baik kepada kalian atau orang-orang yang dianggap memiliki kekurangan.

 

  1. Tidak mudah mengeluarkan kata-kata kasar

Cara bertutur yang baik merupakan salah satu ciri dari seseorang yang memiliki karakter baik pula. Orang yang mudah mengeluarkan kata-kata kasar, yang berisi cacian, makian, celaan atau umpatan, memiliki karakter sama seperti apa yang ia lakukan. Dan kata-kata tersebut dapat menjadi pemantik konflik.

 

  1. Jujur

Kejujuran adalah suatu kewajiban dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pertemanan. Kejujuran seseorang tidak dapat dinilai dengan apapun. Oleh karena itu, tidak hanya bagi diri kalian pribadi, seorang teman juga wajib memegang prinsip kejujuran yang baik Kebohongan juga memicu konflik yang bisa menjadi titik awal terjadinya bullying.

Untuk para orang tua, hendaknya peka terhadap kondisi pribadi putra putri Anda. Pahami dan kenali kondisi putra putri Anda, karena mereka semua memiliki kemungkinan akan menjadi pelaku atau korban bullying. Untuk lebih jelasnya, kita kenali satu per satu ciri putra putri Anda.

 

Ciri anak yang rentan menjadi korban bullying

  1. Anak yang cenderung susah bersosialisasi, sehingga dianggap anak yang kuper atau lebih sering kita dengar dengan sebutan “culun”.
  2. Anak yang memiliki kondisi fisik berbeda dengan yang lain, seperti kelebihan berat badan, terlalu kurus, bentuk fisik yang berbeda misalnya berkuping caplang, atau berbibir tebal.
  3. Anak yang cenderung berbeda dengan yang  anak-anak yang lain (berasal dari keluarga berkecukupan, sangat sukses namun manja, kuang mandiri atau sering tertinggal dalam suatu bidang tertentu).

 

Ciri anak yang suka melakukan tindakan bullying

  1. Anak yang cemburu karena merasa gagal dalam hal akademik atau nonakademik.
  2. Anak yang mengalami masalah dalam keluarga.
  3. Anak yang terlalu dimanja di rumah.
  4. Anak yang ingin mendapat pengakuan, biasanya karena di rumah kurang dapat perhatian.
  5. Anak yang sakit hati karena secara psikologis merasa kalah bersaing dengan sang calon korban bullying.

Sekolah Yang Rawan Terjadi Bullying

Lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap terjadinya bullying. Begitu juga sekolah, bagaimana ciri sekolah yang rawan terjadi bullying? Yuk kita simak bersama!

  1. Sekolah yang minim sarana pengawasan.
  2. Sekolah yang memiliki tingkat kompetisi terlalu tinggi antar murid.
  3. Sekolah yang menganut sistem senioritas.

 

Peran Pendidik Untuk Mencegah Bullying

Sekolah merupakan tempat menimba ilmu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengasah budi pekerti luhur bagi para siswa. Maka, hendaknya para pendidik mampu berperan aktif untuk mencegah terjadinya bullying dengan cara-cara seperti dibawah ini.

 

  1. Membentuk nilai persahabatan antar siswa

Pembentukan nilai-nilai persahabatan sejak dini sangat penting dilakukan di lingkungan sekolah agar tercipta hubungan pertemanan dan memunculkan semangat kolaborasi yang saling menghargai diantara murid-murid di sekolah, dengan sendirinya, hal ini akan menjauhkan mereka dari kekerasan.

 

  1. Memberdayakan siswa untuk memiliki jiwa sosial, aktif, dan berprestasi

Bullying sering dikaitkan dengan ego seseorang untuk mendapatkan sebuah pengakuan akan eksistensi dan dominasi dalam komunitasnya. Maka dari itu, para guru sebaiknya mendorong siswa untuk meningkatkan kapasitas dirinya melalui hal-hal positif seperti kegiatan sosial dan  prestasi di sekolah daripada melakukan tindakan bullying.

 

  1. Membangun Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif antara guru dan murid sangat penting, hal ini menjadi dasar keharmonisan hubungan di lingkungan satuan pendidikan, karena dengan komunikasi yang efektif berguna untuk membantu siswa agar mau berbagi masalah dengan guru mengenai permasalahan yang mereka alami. Siswa usia sekolah berada dalam masa pembentukan karakter dan kepribadian sosial, sehingga semua pihak yang memiliki hubungan langsung dengan keberadaan siswa di sekolah bertanggung jawab untuk mendampingi, membina, dan mendidik mereka.

Nah Gramedians, pernahkah kalian berpikir bahwa mungkin teman kalian akan menjadi korban berikutnya apabila kalian tidak menghentikan bullying? Mari kita hentikan bullying mulai dari di kita, dan lakukan mulai sekarang.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy