in

Sifat & Kebiasaan Orang Maluku

Sifat & Kebiasaan Orang Maluku – Masyarakat Indonesia merupakan  masyarakat majemuk, salah satu akibat dari kemajemukan ini adalah beraneka ragamnya kebiasaan yang dilakukan dan dilestarikan oleh tiap-tiap daerah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut mempunyai bentuk yang berbeda tiap daerah dan memiliki tujuan yang berbeda pula antara masyarakat satu dengan yang lain. Perbedaan tempat tinggal, adat istiadat, serta tradisi yang diwariskan secara turun temurun lah yang menyebabkan perbedaan tersebut.

Salah satu contohnya adalah daerah Maluku.  Maluku merupakan salah satu daerah di timur Indonesia yang memiliki banyak keunikan dan budaya yang cukup kaya. Realitas multikultural Maluku merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Dari perspektif historis, sebagai the spices island (pulau rempah-rempah), khasnya cengkeh dan pala. Sejak dahulu Maluku sudah menjadi tempat perjumpaan berbagai peradaban dunia serta terbangun jalinan nusantara. Selain menjadi wilayah kontestasi berbagai kepentingan dagang dan politik dunia terutama bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang. Kondisi ini menjadikan Maluku menjadi masyarakat yang multikultural (Wakano: 2019).

Sobat Gramedia, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kebiasaan-kebiasaan orang Maluku, yuk simak artikel di bawah ini !

20 Sifat & Kebiasaan Orang Maluku

sifat dan kebiasaan orang maluku (6)

  1. Memiliki Solidaritas Tinggi

Orang Maluku memiliki rasa solidaritas tinggi terutama jika bertemu sesama orang Maluku. Mereka akan membantu teman, sahabat, saudara, sesama orang Maluku yang mengalami kesusahan. Apalagi jika bertemu di tanah rantau. Hal ini menjadi salah satu keuntungan berteman dengan orang Maluku. Apakah kamu juga memiliki teman dari daerah Maluku?

 

  1. Memiliki Tubuh Atletis

Postur tubuh orang Maluku umumnya berkulit gelap, rambut ikal, dan kerangka tulang yang kuat dan besar (atletis). Dengan ciri postur tubuh tersebut, secara fisik mereka lebih tegap dan atletis dibandingkan orang dari suku lain di Indonesia.

Hal ini bisa saja dilatarbelakangi dari kondisi alam daerah Maluku yang berupa kepulauan. Masyarakat Maluku terbiasa melakukan aktivitas fisik seperti berenang dan berlayar sehingga menunjang postur tubuhnya, terutama kaum laki-laki. Maluku juga merupakan provinsi yang memiliki luas lautan daripada daratan.

 

  1. Pemberani

sifat dan kebiasaan orang maluku (6)

Apakah kamu pernah bertemu dengan orang Maluku? Mereka terkenal tidak memiliki rasa takut. Orang Maluku jika ia merasa dirinya berada di pihak yang benar, maka mereka akan tetap memperjuangkan kebenaran tersebut meskipun nyawa taruhannya.

Hal ini juga bisa jadi orang Maluku terinspirasi tokoh sejarah, yaitu Pattimura dalam melawan penjajah. Jika sudah merasa apa yang diperjuangkan adalah kebenaran, maka mereka akan totalitas dalam menunjukkan keberaniannya.

 

  1. Memiliki Tradisi Pukul Sapu

Pukul sapu adalah kebiasaan suku Maluku yang dilaksanakan dengan memukul sapu lidi dari pohon enau selepas hari idul fitri. Pukul sapu ini merupakan tradisi yang sering dilakukan penduduk Desa Mamala.



 

Kebiasaan ini dilakukan setelah satu minggu Idul Fitri oleh kaum pria dan dilakukan dengan mengenakan celana pendek, ikat kepala, serta bertelanjang dada. Biasanya mereka melakukan atraksi pukul memukul sapu lidi dari tulang daun pohon mayang atau pohon enau.

Nilai filosofis dari tradisi ini adalah persaudaraan tidak memandang suku, agama, maupun golongan. Rasa sakit dapat dirasakan Bersama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis antar sesama, istilah mereka yaitu sakit di kuku, rasa di daging.

 

  1. Budaya Hawear

Hawear (sasi) merupakan budaya yang tumbuh dan berlaku dalam kehidupan masyarakat kepulauan Kei secara turun temurun. Dokumen tertulis, cerita rakyat, maupun yang lain merupakan prasarana untuk melestarikan budaya, salah satunya Hawear.

 

Sejarah Hawear ini dimulai dari seorang gadis yang diberikan daun kelapa kuning (janur kuning) oleh ayahnya, kemudian daun kelapa kuning tersebut  disisipkan atau diikat di kain seloi yang dipakainya.

 

Gadis tersebut melakukan perjalanan panjang untuk menemui seorang raja. Maksud dari janur kuning tersebut sebagai tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seseorang yang dimaksudkan agar ia tidak diganggu oleh siapapun dalam perjalanan.

 

Janur kuning tersebut diberikan oleh sang ayah karena sang ayah pernah diganggu oleh orang tak dikenal dalam perjalanannya. Ini merupakan proses Hawear yang masih dijalankan sesuai dengan maknanya hingga saat ini.

 

  1. Malam Badendang

Malam Badendang yaitu kebiasaan orang Maluku yang menari dan bergoyang yang diadakan pada malam-malam tertentu. Kebiasaan ini ditujukan untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Hal ini juga menjadikan masyarakat Maluku memiliki solidaritas yang tinggi.

Para peserta yang mengikuti Malam Badendang ini akan berdansa dan menari tarian Orlapei dan Katreji. Acara malam Badendang ini dilakukan semlaam suntuk dan biasanya akan dimeriahkan juga oleh musik karaoke dan makanan khas Maluku.

 

  1. Kebiasaan Makan dengan Ikan Laut

Dari kebiasaan makan, orang Maluku juga memiliki khas. Kebanyakan mereka gemar makan ikan, bahkan bisa dibilang selalu ada ikan dalam setiap hidangan makanannya.

 

Selain tidak bisa makan tanpa ikan laut, orang Maluku juga memiliki porsi makan lebih banyak dibandingkan suku lainnya di Indonesia. Kegiatan fisik yang menguras tenaga, bisa jadi membuat porsi makan menjadi lebih banyak.

 

  1. Makan Pisang Goreng dan Teh Manis

sifat dan kebiasaan orang maluku (6)



Orang Maluku selain makan ikan, juga gemar makan pisang didampingi teh manis. Ini merupakan kebiasaan sejak zaman dahulu. Kebiasaan tersebut dilakukan di setiap kesempatan, ketika bersantai, menyuguhi tamu, dan lain sebagainya. Biasanya mereka makan pisang didampingi teh manis ini pada waktu pagi dan sore hari.

 

 

  1. Budaya Arumbae

Budaya Arumbae adalah kebudayaan berlayar masyarakat Maluku. Di dalam pataka Maluku, Arumbai menjadi simbol daerah yang digambarkan atau diceritakan  dengan lima orang mendayung perahu untuk menghadapi tantangan. Perjuangan melintasi lautan merupakan bagian dari terbentuknya masyarakat.

 

Secara filosofis, itu berarti masyarakat Maluku adalah masyarakat yang dinamis, mereka memiliki daya juang yang tinggi dalam menghadapi tantangan atau rintangan untuk menyongsong masa depan yang gemilang.

 

Arumbae tampak dalam beragam karya seni seperti syair kata tujuh ya nona, ditambah tujuh, sapuluh ampa ya nona dalang parao. Banyak gapura negeri adat Maluku berbentuk Arumbae. Lagu daerah  banyak mengumpamakan keharmonisan dengan simbol perahu atau Arumbae.

Arumbae juga mewarnai bidang olahraga seperti Manggurebe Arumbae, lomba yang menjadi salah satu bidang yang diikutsertakan dalam Festival Teluk Ambon.

 

  1. Upacara Fangnea Kidabela

Di daerah Maluku Tenggara Barat, tepatnya kepulauan Tanimbar, upacara Fangnea Kidabela masih dilakukan dengan tujuan memperkokoh hubungan sosial di daerah Tanimbar. Kabupaten Maluku Tenggara Barat ini memiliki kebudayaan yang mengatur persaudaraan serta kehidupan sosial dalam bentuk Duan Lolat dan Kidabela.

Duan Lolat mengatur hubungan sosial masyarakat yang luas yaitu memperkuat hubungan antar dua desa atau lebih dan hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Kidabela. Upacara Fangnea Kidabela ini memperkokoh hubungan sosial masyarakat Tanimbar  dalam wadah persaudaraan dan persekutuan agar tidak mudah terpecah belah karena adanya konflik.

 

  1. Batu Pamali

Batu Pamali merupakan simbol material adat masyarakat Maluku. Batu Pamali termasuk mikrokosmos dalam negeri-negeri yang ditempati masyarakat adat Maluku. Batu Pamali ini merupakan batu alas atau batu dasar berdirinya sebuah negeri adat yang selalu diletakkan di samping rumah Baileo sekaligus representasi kehadiran nenek moyang (leluhur) di dalam kehidupan masyarakat.



Batu Pamali sebagai bentuk penyatuan soa-soa dalam negeri adat, dengan demikian Batu Pamali adalah milik Bersama setiap soa. Di beberapa daerah adat Maluku, Batu Pamali dimiliki secara kolektif termasuk negeri adat yang masyarakatnya memeluk agama yang berbeda. Seiring dengan perkembangan agama di masyarakat, terjadi pergeseran praktik tata cara dalam upacara keagamaan dan keberadaan Batu Pamali.

 

  1. Sasahil dan Nekora

Apakah kamu pernah mendengar tradisi Sasahil dan Nekora? Sasahil pada masyarakat adat di Negeri Siri Sori Serani dan Siri Sori Islam di Pulau Saparua.

Bagi masyarakat Telalora, Nekora memiliki basis nilai tolong menolong antar warga. Nilai tradisi Sasahil dan Nekora terletak pada cara dan proses pelaksanaanya.

 

Nilai tolong-menolong atau gotong royong yang terdapat dalam tradisi Sasahil maupun Nekora memiliki basis solidaritas yang kuat dan menciptakan relasi saling memberi dan menerima antar warga agar suatu pekerjaan berat untuk mendirikan rumah bisa lebih ringan. Seiring perkembangan zaman, tradisi Sasahil dan Nekora tetap dipertahankan dengan baik.

 

  1. Makan Patita

Tradisi makan Patita adalah tradisi kuliner atau acara makan Bersama yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya di wilayah Maluku. Makan Patita biasanya dilaksanakan sebagai salah satu agenda momentum besar, seperti: Hari Ulang Tahun (HUT) Kota, HUT Kemerdekaan Indonesia, HUT tempat ibadah,  dan hari besar lain.

 

Makan Patita biasanya dilakukan bersama-sama dengan menu khas Maluku seperti ikan asar, singkong rebus, patatas rebus,  colo-colo, sayur-sayuran, papeda, kohu (urap Maluku), dan masih banyak lainnya. Setiap rumah akan memasak menu tersebut dalam jumlah banyak kemudian hasil masakan tersebut akan dibawa ke tempat berkumpul dan dimakan bersama. Esensi dari tradisi makan Patita ini adalah makan dalam kebersamaan dan kehangatan dengan jumlah banyak orang dengan bertujuan memupuk semangat kekeluargaan.

 

  1. Budaya Kalwedo

Budaya Kalwedo adalah sebuah tanda salam persaudaraan serta salam perdamaian yang mempersatukan setiap komunitas masyarakat kepulauan Babar dan Maluku Barat Daya. Nilai budaya Kalwedo terimplementasi dalam berbagai sapaan kekeluargaan bersama yang bersifat lintas negeri dan pulau yang disebut inanara ama yali (basudara laki dan perempuan).

 

Pendukung budaya Kalwedo memahami bahwa Kalwedo tidak hanya memiliki nilai sosial dalam penyelenggaraan praktis kehidupan sehari-hari, tetapi juga nilai religius yang sakral, menjamin kedamaian, keselamatan, kebahagiaan bersama sebagai orang basudara.

 

Tradisi hidup masyarakat Maluku Barat Daya (MBD) dibentuk untuk saling berbagi, saling membantu (tolong-menolong) dalam hal potensi alam, sosial, budaya, dan ekonomi, yang diwariskan oleh alam kepulauan Maluku Barat Daya(MBD).

 

  1. Suka bernyanyi

sifat dan kebiasaan orang maluku (6)

Orang Indonesia Timur memang terkenal dengan suaranya yang merdu. Maluku merupakan salah satunya. Selain Glenn Fredly, masih banyak artis dari Maluku dan Indonesia Timur yang memiliki suara emas. Hanya saja, terkadang kemampuan seni orang Maluku ini tidak dibarengi dengan teknik sehingga jarang muncul di berbagai lomba pencarian bakat di tanah air.

 

  1. Senang Berhumor

Orang Maluku suka membuat lelucon alias berhumor. Mereka suka membuat orang lain tertawa. Dijamin, orang yang ada di dekatnya akan sering tertawa. Mereka akan mudah tertawa meskipun hal yang didengar atau dilihatnya kurang jenaka. Selera humor orang Maluku memang bagus dan pandai melontarkan kata-kata humor.

 

  1. Memiliki suara yang Nyaring

Dari segi suara, orang Maluku begitu khas dengan suara nyaringnya. Ketika mendengarkan mereka berbincang, terdengar seperti berteriak. Padahal nyaringnya suara orang Maluku ini adalah wajar yang sering digunakan mereka dalam berkomunikasi.

 

Memang suara mereka memiliki volume yang tinggi dan terdengar seperti orang marah, namun, sebenarnya mereka tidak marah, hanya saja memang volume suaranya yang tinggi.

 

  1. Mudah sayang dengan Orang Lain

Rasa kekeluargaan orang Maluku memang tinggi. Mereka tidak memandang asal orang dalam hal sayang-menyanyangi. Meskipun berbeda daerah, mereka sangat mudah menyayangi orang lain mulai dari teman, saudara, sampai hubungan percintaan.

 

  1. Memiliki Senyum yang Khas

Meskipun raut muka orang Maluku sering dianggap sangar, sebenarnya mereka memiliki kebiasaan yaitu murah senyum, lho. Mereka suka menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya meskipun belum dikenalnya. Keramahan dan ketulusannya itulah yang membuat orang maluku dikenal dengan senyumnya yang khas.

 

  1. Suka Memasak

sifat dan kebiasaan orang maluku (6)

Kepandaian dalam Memasak bagi orang Maluku dianggap sebagai keahlian istimewa yang wajib dimiliki. Memasak bagi mereka bukan sebatas tradisi. Kepandaian memasak juga menjadi salah satu persyaratan lulus ujian untuk menjadi menantu ideal di hadapan mertua.

 

Uniknya, calon mertua tidak segan untuk menantang adu skill dengan calon menantu perempuannya. Wah serem juga nih bagi yang belum bisa memasak dan ingin dapat jodoh orang Maluku.

Multikultural Maluku merupakan khazanah dan modal sosial yang sangat strategis untuk masyarakat Maluku dalam membangun dan memajukan peradabannya. Salah satu modal sosial yang sangat penting dalam masyarakat multikultural yaitu pada setiap etnis dan suku memiliki local wisdom. Mewujudkan dan menghidupkan adat istiadat maupun kebiasaan berbasis local wisdom merupakan suatu kemestian untuk masyarakat Maluku.

 

Semangat monodualistis siwalima yang merupakan akar budaya masyarakat Maluku adalah nilai dasar terhadap berbagai bentuk kerukunan dan persaudaraan di wilayah Maluku. Bentuk-bentuk persaudaraan dalam buaya Maluku sangat menghargai perbedaan, baik dari suku, agama, maupun golongan.

 

Adapun perbedaan itu tetap dianggap sebagai saudara yang dalam istilah lokal orang Maluku disebut sebagai Orang Basudara (orang yang bersaudara). Filosofi hidup orang Basudara adalah “potong di kuku, rasa di daging, ale rasa, beta rasa (kamu rasa, saya rasa juga) dan sagu selempang dibage dua (sepotong sagu dibagi dua)”. Persaudaraan ini bersifat pro eksistensi karena sama-sama merasa memiliki dan punya tanggung jawab terhadap yang lain (Wakano: 2019).

 

Keunikan dan keindahan nilai-nilai persaudaraan yang dimiliki masyarakat Maluku ini tercermin di dalam berbagai kearifan lokal (local wisdom) maupun kecerdasan local (local genius) seperti nilai persaudaraan dalam budaya Hawear, Malam Badendang, Budaya Kalwedo, Makan Patita, dan lain sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dimiliki masyarakat Maluku inilah yang wajib kita tiru untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sobat Gramedia, itulah beberapa kebiasaan orang Maluku yang bisa kita kenali. Meskipun tidak semua orang Maluku memiliki kebiasaan seperti disebutkan di atas. Setiap individu adalah unik dan kita harus menghargai perbedaan kebiasaan masing-masing daerah.

 

Rekomendasi Buku Terkait Kebiasaan Orang Maluku

Seri Backpacking & Traveling – Extremely Beautiful MALUKU

tombol beli buku

“””Jika berwisata ke Maluku bersiaplah terkesima. Kecantikan alam dan pulaunya, kemolekan pantai dan panorama bawah laut yang jarang terjamah, serta ragam budayanya, telah lama menjadi incaran wisatawan mancanegara.

  • Banda Naira,
  • Desa Sawai,
  • Pantai Ngurbloat,
  • Pantai Liang,
  • Benteng Duurstede
  • hanya beberapa tempat dari ratusan destinasi indah di negeri seribu pulau ini.

Buku ini berisi 125 tempat yang patut Anda kunjungi di Maluku, terbagi atas 6 wilayah yaitu:

  • Kota Ambon,
  • P ulau Ambon,
  • Pulau Seram,
  • Pulau Saparua,
  • Pulau Banda,
  • Pulau Kei Kecil

Setiap tempat dilengkapi informasi biaya transportasi, akomodasi, dan peta lokasi, yang pasti mempermudah rencana perjalanan Anda. Happy backpacking!”””

 

Fabel 34 Provinsi: Maluku Utara – Pemilihan Raja Bidadari Halmahera (Maluku Utara)

tombol beli buku

Raja burung bidadari Halmahera ingin menyerahkan kekuasaan kepada salah satu anaknya. Menurut tradisi turun temurun, burung Halmahera yang menari paling indah akan terpilih menjadi Rajaw. Siapa yang akhirnya menjadi Raja burung bidadari Halmahera? Mengapa si Sulung merasa kesal? Fabel 34 provinsi terdiri dari 34 judul dengan tokoh binatang endemik dari seluruh provinsi di Indonesia. Terdapat fakta unik di masing-masing akhir cerita.

 

Merawat Perdamaian; 20 Tahun Konflik Maluku

tombol beli buku

Kepulauan Maluku adalah daerah yang mashyur akan keberagaman dan toleransinya. Sayangnya, pada periode 1999-2004, Maluku dilanda konflik horizontal yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda. Budaya kekeluargaan yang selama ratusan tahun terpelihara lewat kearifan lokal pela dan gandong seolah tak tersisa. Beruntung, melalui berbagai upaya serius yang dilakukan banyak pihak, kedamaian di Kepulauan Maluku berhasil dikembalikan. Maka, buku ini ditulis dengan cita-cita menularkan semangat merawat perdamaian tidak hanya di Maluku dan Maluku Utara, tapi juga di seluruh Indonesia. Terdapat 55 artikel dalam buku ini yang ditulis oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, jurnalis, tokoh agama sampai pelaku konflik itu sendiri. Membaca buku ini akan membuka horizon wawasan kita akan makna sebuah perdamaian.

 

Artikel Lain Terkait Sifat & Kebiasaan Orang Maluku


Referensi:

  • Wakano, Abidin. 2019. Nilai-nilai Pendidikan Multikultural dalam Kearifan Lokal Masyarakat Maluku. Ambon: Jurnal Pendidikan Islam Vo. 4 No. 2.
  • Hawear di Kepulauan Kei. 2012. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon.
  • Peranan Batu Pamali dalam Kehidupan Masyarakat Adat di Maluku. 2012. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy