in

Arti Toxic Family: Ciri, Dampak, & Cara Menanganinya

Toxic family adalah para anggota keluarga yang berperilaku saling menyakiti anggota lainnya baik secara lisan maupun verbal.

Tinggal dalam lingkungan yang kurang sehat secara mental memang dapat memicu stres semua orang, tak terkecuali bagi mereka yang sudah dewasa. Lingkup inner circle yang negatif mampu membawa pengaruh yang negatif juga bagi siapapun di dalamnya. Kalau sudah begitu bagaimana caranya supaya untuk bebas dari lingkungan toxic family?

Ada banyak tindakan yang dilakukan oleh orang lain yang memiliki berdampak negatif bagi kita. Dampak yang besar ini tentu jarang disadari oleh para toxic people, sehingga mereka terus menerus melakukan perilaku negatif yang akhirnya memperburuk kondisi kesehatan mental dalam suatu lingkungan. Lantas sebenarnya, apa itu toxic family?

Apa sih Toxic Family?

Namanya kehidupan tentu tidak selalu mulus. Terutama dalam sebuah unit terkecil bernama keluarga, yang merupakan lingkup terkecil dan paling dekat dengan kita. Tapi apa daya jika dalam lingkup terkecil saja sering mendapati banyak permasalahan mulai dari yang wajar hingga yang tidak sehat.

Tipis perbedaan sebuah perilaku hingga akhirnya dapat diidentifikasi bahwa hal tersebut  merupakan toxic. Jika dalam suatu permasalahan, anggota keluarga merespon dengan perilaku seperti marah dan menuntut, untuk sesekali masih bisa dikatakan wajar.

Namun jika tingkat kontinuitasnya tinggi dan perilakunya semakin menyimpang hingga merugikan sesama anggota keluarga, maka dapat dikatakan bahwa perilaku tersebut sudah menjadi toxic, yang akan terulang lagi dan lagi.

Toxic family adalah para anggota keluarga yang berperilaku saling menyakiti anggota lainnya baik secara lisan maupun verbal. Cara menyikapi permasalahan keluarga bukan untuk menemukan titik terang, namun justru membuat semakin rumit.

Mereka juga lebih sering mementingkan ego masing-masing. Hingga akhirnya menyakiti anggota lain dalam keluarga. Mengapa ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.

Psikologi Pasangan: Manajemen Konflik Rumah Tangga
Psikologi Pasangan: Manajemen Konflik Rumah Tangga

tombol beli buku

Dalam hubungan keluarga utamanya rumah tangga, merupakan hal yang amat wajar jika terjadi berbagai macam konflik mulai dari sederhana hingga yang cukup besar. Sebesar apapun konflik tentu dapat diselesaikan dengan baik selagi keduanya saling memahami dan ingin berbenah. Dalam buku ini menjelaskan berbagai macam permasalahan dan seperti apa peliknya rumah tangga.

Penyebab Hadirnya Perilaku Toxic dalam Keluarga

Ada banyak faktor yang melandasi terjadinya hubungan toxic sesama anggota keluarga yang membuat hubungan menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman.

1. Terjadi Permasalahan Besar dalam Keluarga

Bisa dikatakan sebagian besar permasalahan dalam toxic family ini muncul dikarenakan adanya permasalahan yang tidak dapat dihindarkan dan membawa dampak besar bagi seluruh anggota keluarga. Beberapa contohnya seperti perceraian, musibah besar, menurunnya keadaan ekonomi keluarga secara drastis dan lainnya.

Kondisi tersebut tentu dapat mengguncang kestabilan emosi setiap anggota keluarga, apalagi pada para toxic family. Hingga akhirnya memunculkan serangkaian permasalahan baru beserta rentetan perilaku negatif mereka.

2. Anak Memiliki Gangguan Fisik atau Sakit

Pada beberapa kondisi keluarga, terkadang penyebab timbulnya perilaku toxic ini juga dipicu oleh gangguan fisik atau penyakit yang diderita anak mereka. Jika seorang anak terlahir dengan mengidap penyakit atau disabilitas tertentu, kadang memang membuat beberapa anggota dalam keluarga sedih hingga stres.

gramedia back to kampus

Penyebabnya stres ini tidak jarang dikarenakan ekspektasi keluarga yang berharap anaknya menjadi sosok normal dan dapat dibanggakan. Sehingga hadirnya kondisi yang diluar kendali mereka ini dianggap sebagai musibah dan bencana yang menghancurkan impian-impian mereka hingga memicu perilaku toxic tersebut.

3. Pengaruh Etnis dan Budaya Lingkungan Tinggal

Penyebab terbesar yang masih sering ditemui dalam masyarakat sekarang yaitu adanya pengaruh dari lingkungan tinggal suatu keluarga yang memegang erat budaya yang lebih sering memicu perilaku toxic.

Misalnya, di indonesia sendiri pada beberapa daerah pelosok masih kerap terjadi budaya menikah muda, sehingga jika ada satu anak dari sebuah keluarga yang telah mencapai usia rata-rata pernikahan di sana.

Tapi belum juga menikah, akan selalu digunjing atau mendapatkan tekanan sosial yang akhirnya mempengaruhi anggota keluarga tersebut. Tekanan ini akhirnya memunculkan perilaku toxic sesama anggota keluarga hingga melukai mereka secara lisan dan verbal.

Meskipun kadang tujuannya untuk hal baik, sebuah perilaku dalam keluarga akan menjadi toxic jika merugikan lawan bicara tanpa adanya rasa bersalah dan empati terhadap orang yang dirugikan. Lalu, seperti apa ciri-cirinya?

Ciri Sikap Toxic Family

Supaya kamu dapat menghindari sifat toxic maka kamu perlu tahu cirinya supaya kamu tahu kapan harus membebaskan diri ketika keluarga sudah semakin toxic. Berikut ini merupakan ciri bahwa kamu berada dalam lingkungan keluarga yang beracun.

1. Merasa Tidak Nyaman Dirumah atau dengan Anggota Keluarga

Rumah yang seharusnya identik sebagai tempat ternyaman yang selalu dirindukan mungkin tidak akan dirasakan oleh kamu, ketika berada dalam lingkungan toxic family.

Berada dalam lingkup toxic family hanya akan membuat siapapun di dalamnya merasa tidak nyaman dan perasaan sesak yang membuat kamu ingin segera pergi dari sana.

Bahkan tidak jarang, perasaan itu disebabkan oleh anggota keluarga tertentu yang membuatmu ingin selalu menghindarinya dan malas berhubungan dengannya.

Selain dampaknya yang buruk, perilaku yang dilakukan dalam toxic family dapat membuat hubungan antar anggota keluarga renggang.

Berpura-Pura Bahagia Itu Melelahkan: How to Avoid Toxic Happiness and to Live Without Worry?
Berpura-Pura Bahagia Itu Melelahkan: How to Avoid Toxic Happiness and to Live Without Worry?

tombol beli buku

Tinggal di lingkungan yang toxic kerap membuat kita harus berpura-pura bahagia demi menyembunyikan luka. Lalu bagaimana cara agar kita berhenti berpura-pura? Buku dari Asti Musman akan mengajarkan kamu untuk menghindari hal toxic dan hidup tanpa kecemasan agar hidup menjadi lebih tenang.

2. Keluarga Lebih Sering Menuntut Dibandingkan Mendukung

Apakah kamu merasa keluargamu terlalu menuntut banyak hal? Jika menuntut sewajarnya seperti untuk belajar giat, mungkin masih bisa dikatakan wajar.

Namun jika tuntutan yang diminta tidak seimbang dengan dukungan tanpa memikirkan perasaanmu, maka kemungkinan keluargamu merupakan salah satu toxic family.

Lebih parahnya, terkadang kamu dibanding-bandingkan dengan anggota keluarga lain atas ketidakmampuanmu dalam suatu hal. Padahal seharusnya, sesama anggota keluarga saling memberikan dukungan supaya kamu juga dapat berkembang.

Failure
Failure

tombol beli buku

Dalam toxic family kamu mungkin akan merasa tertekan atas tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh orang sekitar. Hal tersebut juga membuatmu menjadi takut dengan yang namanya kegagalan. Namun, dalam buku ini kamu akan diberitahukan caranya supaya dapat berdamai dengan kegagalan.Bahwa kegagalan bukanlah mimpi buruk yang dapat kamu takuti.

3. Menyakiti Secara Lisan dan Verbal

Salah satu ciri yang dilakukan toxic people ini yaitu mereka kerap menyakiti secara lisan dan bahkan verbal lawan bicaranya. Baik secara sadar ataupun tidak, tetapi perilaku ini merupakan kebiasaan yang semakin sering dilakukan.

Para anggota keluarga toxic cenderung memiliki temperamen yang tinggi dan sering mengeluarkan kata-kata yang mampu menyakiti lawan bicaranya. Hal ini membuat keadaan rumah menjadi sangat tidak kondusif dan tidak sehat bagi perkembangan anak-anak dalam rumah tersebut.



4. Jarang Memberikan Apresiasi

Pada umumnya sebuah keluarga akan memberikan respon positif berupa apresiasi atas usaha yang telah kamu lakukan, meskipun kadang hasil tidak sesuai harapan. Akan tetapi toxic family ini biasanya tidak terlalu memperdulikan hal-hal seperti ini.

Anggota keluarga yang toxic ini akan lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Mereka mungkin akan menganggap urusan orang lain tidaklah penting. Apalagi urusan hati, orang-orang beracun dalam rumah ini tidak akan repot-repot menjaga perasaan anggota keluarga lainnya.

Sehingga, sebesar apapun usaha yang sudah kamu kerahkan untuk mencapai sesuatu tidak akan mendapatkan apresiasi dan respon yang baik.

5. Kebutuhan Tidak Terpenuhi

Dalam rumah tangga tentu setiap anggota keluarga berhak memenuhi kebutuhan mereka, dan mendapatkan jaminan kenyamanan serta keamanan. Namun sayangnya, pada kondisi keluarga beracun ini kamu mungkin merasa ada banyak kebutuhan pokokmu yang tidak terpenuhi.

Kebutuhan ini bisa jadi makanan, pakaian, tempat tinggal serta kebutuhan sekunder yang mampu mendukung kegiatanmu sehari-hari. Selain itu sebagai sesama manusia sudah semestinya kamu mendapatkan hak untuk merasa nyaman dan aman, mendapatkan hak asasi kamu sebagai salah satu anggota keluarga.

Setelah membaca ulasan diatas, apakah kamu sudah bisa mengidentifikasi keluargamu termasuk golongan toxic atau tidak? Semoga kamu bukan salah satu orang yang berada dalam lingkungan yang kurang sehat tersebut.

Dampak dari Toxic Family

Mengingat efeknya yang besar terhadap sesama anggota keluarga kamu mungkin tidak ini perilaku tersebut muncul pada keluarga tercinta. Oleh karena itu, penting untuk kamu mengetahui juga dampak yang ditimbulkan jika seseorang tinggal dalam keluarga toxic ini.

Dampak paling besar yang mampu terjadi hingga jangka waktu panjang yaitu toxic family dapat mengganggu kestabilan mental seseorang. Ini dapat terjadi dalam jangka pendek atau terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan seseorang yang ‘normal’ saja bisa menjadi ‘gila’ jika ditempatkan pada lingkungan yang tidak sehat ini.

Toxic family mampu memicu timbulnya stres, gangguan kecemasan, perasaan tidak aman, dan membuat seseorang menjadi introvert karena takut bertemu orang lain. Segala perlakuan buruk, kata-kata kasar, sifat yang tidak patut dicontoh akan terekam terus menerus dalam otak dan memunculkan aura negatif juga pada orang lain. Kondisi keluarga menjadi begitu negatif dan tidak nyaman.

Lantas, jika sudah seperti itu bagaimana cara untuk menghadapi orang-orang toxic dalam keluarga ini? apakah jalan satu-satunya adalah memutuskan hubungan keluarga?

Cara Menghadapi Anggota Keluarga yang Toxic

Berada dalam lingkungan keluarga yang beracun mungkin membuat kamu ingin selalu pergi dari rumah, ingin kabur bahkan memutuskan hubungan dengan mereka sebab terlalu menyakitkan jika terus bersua.

Namun, ada kalanya kita sulit untuk mengambil keputusan besar seperti itu. Sedangkan di sisi lain dalam hati sudah terasa muak dan lelah untuk menghadapi perilaku mereka.

Maka kamu bisa menyikapinya dengan cara-cara berikut ini, supaya kondisi keluarga menjadi lebih baik.

1. Hindari Para Pemicu Masalah



Untuk mengurangi keterlibatan kamu dengan segudang masalah di keluarga, kamu harus menghindari sumber masalahnya. Sumber masalah ini bisa saja tentang suatu hal misal membicarakan topik sensitif, atau  salah satu orang yang toxic misalnya orang yang paling sering menyebabkan masalah.

Jika terjadi suatu masalah dalam keluarga, kamu tidak perlu turun tangan ketika masalah dirasa sudah semakin memburuk. Jangan membahas hal-hal yang dapat memancing emosi para toxic people itu.

2. Jangan Takut Berkata “Tidak”

Terkadang, menolak dapat menjadi cara paling ampuh untuk mengurangi permasalahan dalam hidupmu. Terutama jika berada dalam keluarga toxic, kamu mungkin tidak ingin ikut campur urusan mereka, tetapi tidak enak sebab masih keluarga sendiri. Maka kamu perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk berkata tidak ketika mereka memintamu untuk melakukan sesuatu yang sekiranya akan menambah masalah menjadi pelik.

3. Tidak Semua Hal Perlu Dikatakan

Pada beberapa situasi, kamu pasti pernah mengalami penyesalan ketika menceritakan sesuatu yang awalnya sepele menjadi masalah besar. Melihat kondisi ini maka kamu harus bisa menyortir apa saja hal-hal yang sensitif yang sekiranya tidak perlu diceritakan pada keluarga.

Sebab keluarga toxic ini dapat dengan mudah mencari masalah jika ada sekecil apapun pemicunya. Hal yang tadinya sederhana dan biasa saja juga kadang dapat menyulut emosi para pelaku toxic ini.

Prinsip Komunikasi Keluarga
Prinsip Komunikasi Keluarga

tombol beli buku

4. Mencoba Beradaptasi

Berada dalam keluarga yang kurang beracun memang tidak pernah mudah. Sudah baik jika kita tidak ikut terpengaruh menjadi toxic atau tidak stres. Sehingga kadang menjauhi mereka dengan cara keluar dan memutuskan hubungan menjadi jalan pintas terbaik.

Namun, bagi kamu yang cukup tangguh untuk bertahan dalam keluarga yang toxic serta ingin memperbaiki situasi, kamu perlu tahu caranya beradaptasi dengan orang-orang tersebut. Selama tinggal dalam lingkungan yang sama, kamu pasti dapat memahami gerak-gerik, bahasa tubuh dan seperti apa sifat mereka.

Dengan memahami mereka maka kamu bisa beradaptasi dan tahu bagaimana cara bersikap terhadap orang-orang tersebut. Sehingga akan meminimalisir munculnya permasalahan baru. Sebab, jika kamu menunggu mereka yang memahamimu dan berubah jadi lebih baik hal itu mungkin tidak akan terjadi.

5. Konsultasi dengan Ahlinya

Jika kondisi keluarga sudah terlalu memburuk, atau jika kamu tidak sanggup menghadapi keluargamu, pergilah ke tenaga ahli untuk berkonsultasi masalah keluargamu. Dengan berkonsultasi kamu dapat memikirkan solusi yang jauh lebih matang dan siap.

Dengan mengunjungi psikiater setidaknya ada orang lain yang dapat kamu ajak diskusi. Hal ini juga dapat membantu meringankan beban pikiran seputar keluargamu.

Dalam beberapa kasus yang terjadi pada toxic family yang cukup parah hingga menyakiti sesama anggotanya, para ahli juga akan membantu menanganinya. Mereka akan membantumu menyelesaikan masalah, bekerjasama dengan para ahli dalam bidang kesejahteraan sosial.

Cari Tahu Selengkapnya tentang Toxic Family

Setelah membaca ulasan diatas, apakah kamu termasuk salah satu yang lega karena keluargamu bukan golongan toxic? Tentu saja kita semua tidak ingin dan tidak pernah berharap hal ini terjadi pada keluarga siapapun, namun jika rupanya kamu menemukan toxic family seperti contoh di atas setidaknya kini kamu tahu cara menyikapinya.

Para pelaku toxic ini mungkin juga sebenarnya tidak menyadari apa yang telah mereka perbuat, mungkin juga sebenarnya mereka orang baik yang sedang bingung cara menghadapi suatu masalah besar. Hingga harus melampiaskannya dengan cara-cara yang kurang baik.

Ada begitu banyak ulasan mengenai para pelaku toxic seperti ini, dan juga cara menghindarinya supaya tidak terpengaruh. Kamu dapat membacanya melalui rekomendasi buku-buku ini.

Gramedia hadir selalu sebagai #SahabatTanpaBatas untukmu, dengan menyediakan berbagai bacaan bermanfaat seputar psikologi dan masih banyak buku nonfiksi lainnya. Yuk, kunjungi laman kami http://Gramedia.com.

Semoga Kamu Baik-Baik Saja
Semoga Kamu Baik-Baik Saja

tombol beli buku

Apakah kamu sedang dalam keadaan sedih, senang, marah, kecewa, bingung dan lainnya? mungkin buku ini adalah bacaan yang tepat untuk segala rasa hatimu saat ini. Buku tulisan Marcella Viona Legoh ini akan menemani kamu supaya jauh lebih tenang dan bahagia. Serta supaya kamu tahu cara mengatasi suasana hati kamu, bahkan ketika kamu tidak baik-baik saja.

 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Tasya Talitha