in

Mengenal Ular Sanca Biru, Reptil Eksotis Berharga Mahal yang Viral!

Sumber: Unsplash

Ular sanca biru – Hewan berjenis reptil sudah tidak lagi asing dipelihara oleh masyarakat luas. Dibandingkan dengan hewan-hewan mamalia seperti kucing, anjing, atau hamster, pemeliharaan hewan reptil bisa menjadi pengalaman unik dan menarik bagi para pemeliharanya.

Selain itu, memelihara hewan reptil juga memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan memelihara hewan mamalia. Umumnya, hewan reptil tidak memerlukan banyak tempat untuk memeliharanya. Selain itu, mereka juga tidak berisik dan tidak perlu dilatih layaknya hewan mamalia, cocok bagi orang-orang yang suka ketenangan.

Tidak sampai di sana, terdapat banyak sekali jenis reptil yang Grameds bisa pilih untuk dipelihara. Mulai dari kadal, iguana, tokek dan bahkan ular, adalah segelintir dari sekian banyak pilihan yang tersedia di pasaran. Kalian bisa memilih sesuai dengan budget untuk merawat serta minat pada hewan ini.

Pada artikel kali ini, kita akan berfokus membahas salah satu hewan reptil yang paling banyak diburu oleh penggemar reptil, yaitu Ular Sanca Biru. Kita akan membahas berbagai macam hal mengenai ular sanca biru, mulai dari cara berkembangbiak, habitat, sampai harga jual.

Mengenal Ular Sanca

ular sanca biru
Sumber: Kompas.com

Tetapi, sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai Ular Sanca Biru, kita akan terlebih dahulu membahas mengenai Ular Sanca pada umumnya. Hal ini bertujuan agar Grameds bisa memahami pembahasan mengenai Ular Sanca Biru lebih jelas lagi.

Jadi, Ular Sanca, atau disebut juga sebagai Ular Piton, merupakan jenis ular yang memangsa dengan cara membelit hewan buruannya. Hewan tersebut akan dililit sampai mereka kehabisan napas dan mati. Setelahnya, barulah Ular Sanca ini memakan mangsanya tersebut.

Kemampuan Ular Sanca dalam memakan makanannya terbilang cukup unik. Kepala mereka bisa meregang cukup lebar untuk memakan mangsa mereka bulat-bulat. Tidak hanya itu, perut mereka juga bisa meregang, membuat mereka bisa mencerna mangsa hingga mereka lumat di dalam perut.

Lokasi hidup Ular Sanca dapat dikatakan tersebar hampir diseluruh wilayah di dunia, khususnya wilayah-wilayah dengan iklim tropis, seperti negara-negara di Benua Afrika, negara-negara di Benua Asia, atau Benua Australia. Agak jarang menemukan Ular Sanca di wilayah yang punya iklim subtropis.

Layaknya sejumlah hewan reptil lainnya, Ular Sanca berkembang biak dengan cara bertelur. Ular Sanca betina akan mengerami telur-telur mereka di sarang sampai telur-telur tersebut menetas. Di alam liar, Ular Sanca bisa bertahan hidup selama 20 tahun sampai 30 tahun.

Semakin hari, kita bisa menemukan Ular Sanca dipelihara oleh berbagai kalangan penggemar reptil. Ini dikarenakan Ular Sanca tidak memiliki bisa yang mampu membahayakan manusia. Ular Sanca juga bukan jenis hewan yang akan menyerang manusia, kecuali jika mereka merasa terancam dengan keberadaan kita.

Ular Sanca Biru

ular sanca biru
Sumber: erabaru.net

Perlu Grameds ketahui bahwa setidaknya sudah ada 42 spesies Ular Sanca yang ditemukan oleh peneliti. Menariknya, Ular Sanca Biru tidak termasuk ke dalam 42 spesies tersebut. Ini dikarenakan Ular Sanca Biru merupakan bentuk mutasi dari spesies Ular Sanca lainnya.

Ular Sanca Biru sebenarnya merupakan Ular Sanca Hijau yang memiliki mutasi warna. Penyebab dari mutasi ini belum diketahui pasti. Namun, ada sejumlah penelitian yang mengatakan kalau warna Ular Sanca Hijau bisa bermutasi menjadi warna lain seperti kuning atau biru karena pengaruh suhu dan iklim.

Selain itu, Ular Sanca Hijau yang baru saja lahir juga diketahui memiliki sejumlah warna berbeda selain hijau, seperti kuning, merah, atau biru. Ketika mereka dewasa di lokasi dengan suhu dan iklim yang berbeda, mereka akan berganti warna menjadi hijau dengan sedikit campuran warna lain.

Dalam suatu kondisi tertentu, Ular Sanca Hijau akan tetap menyimpan warna asli mereka ketika mereka tumbuh dewasa. Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya Ular Sanca Biru. Mutasi dari warna kulit Ular Sanca Biru sejauh ini belum bisa direplikasi menggunakan teknologi yang ada, membuat perubahan ini langka dan belum tentu terjadi setiap saat.

Inilah yang menyebabkan Ular Sanca Biru begitu diburu oleh penggemar reptil eksotis tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Diketahui bahkan ada penggemar reptil yang rela merogoh kocek sebesar Rp. 6 miliar untuk membeli Ular Sanca Biru asli.

Sebagai perbandingan, harga Ular Sanca biasa rata-rata berkisar Rp700.000 sampai dengan Rp2.000.000 tergantung dari jenis, usia, dan beberapa faktor lainnya. Ini menunjukkan bahwa Ular Sanca Biru sebagai salah satu hewan reptil yang amat langka sehingga orang-orang dengan kemampuan finansial tinggi dan menyukai hewan reptil tidak akan sungkan membeli dan memelihara ular ini.

Namun, tidak selamanya cerita Ular Sanca Biru adalah cerita yang menakjubkan saja. Sebagai informasi, Ular Sanca Hijau, spesies asli dari Ular Sanca Biru, masuk ke dalam daftar hewan yang sering diselundupkan oleh pengedar untuk dijual ke pasar hewan, terutama pasar hewan gelap.

Saat ini, status Ular Sanca Hijau masih belum masuk ke kategori hewan langka atau hewan terancam. Tetapi, tahun 2010, International Union for Conservation of Nature (IUCN), lembaga yang mengawasi terkait konservasi alam liar, sempat menyatakan bahwa keberadaan Ular Sanca Hijau bisa terancam dan masuk ke dalam daftar hewan langka.

Hal ini disebabkan tidak lain karena penangkapan hewan secara liar dari habitatnya untuk diperjualbelikan. Untuk itu, terdapat peraturan yang mengatur penangkapan untuk memperjualbelikan Ular Sanca Hijau di pasar hewan, agar kondisi mereka tetap terlestarikan.

Saat ini, Ular Sanca Hijau menjadi salah satu peliharaan reptil eksotis yang cukup populer. Mereka yang memelihara spesies Ular Sanca ini biasanya mengusahakan agar kandang mereka bisa sesuai dengan habitat mereka. Ular Sanca Hijau sendiri dapat ditemukan di hutan-hutan di wilayah timur Indonesia, seperti di Pulau Papua.

Mereka biasanya ditemukan di bagian atas pohon, melilitkan badan mereka di sekitar cabang-cabang pohon tersebut. Tetapi, ada kalanya seseorang menemukan Ular Sanca Hijau sedang berada di tanah. Hal ini biasa terjadi ketika mereka sedang ingin berburu mangsa.

Mangsa dari Ular Sanca Hijau sendiri cukup mirip dengan Ular Sanca pada umumnya, yang berupa mamalia kecil seperti tikus. Tetapi, jika tidak ada tikus, tidak jarang juga Ular Sanca Hijau memangsa hewan lain, biasanya hewan reptil seperti kadal atau tokek.

Merawat ular jenis apapun sebenarnya perlu perhatian khusus karena mereka cukup sulit untuk bertahan hidup jika suhu serta lingkungan mereka tinggal tidak sesuai. Kedua faktor ini dapat dikatakan amat berlaku bagi Ular Sanca Hijau.

Banyak penggemar hewan reptil yang menganggap bahwa Ular Sanca Hijau termasuk ke dalam hewan reptil yang cukup sulit untuk dirawat bagi pemula, terlebih dalam segi penyesuaian kandang untuk tempat tinggal. Untungnya, dari segi makanan, Ular Sanca Hijau dapat dikatakan sama dengan Ular Sanca spesies lainnya.

Reptil Eksotis Lainnya

Selain Ular Sanca Biru yang tadi kita sudah bahas, tentunya masih ada beberapa reptil lain yang masuk ke dalam kategori reptil eksotis. Mereka juga kerap dipelihara oleh para penggemar reptil di seluruh dunia. Tidak hanya itu, harganya juga terbilang mahal layaknya Ular Sanca Biru di atas.

Sebagai penutup, kita akan membahas sejumlah reptil lain yang masuk ke dalam kategori reptil eksotis. Tetapi, perlu Grameds pahami bahwa tidak semua reptil yang akan dijelaskan di bawah ini bisa kalian pelihara. Beberapa di antaranya bahkan dilarang untuk dipelihara karena beberapa faktor.

Untuk itu, penjelasan di bawah ini bukan sepenuhnya untuk menunjukkan reptil eksotis mana yang bisa dipelihara, melainkan juga untuk menjelaskan bahwa tidak semua hewan liar bisa dipelihara, dan lebih baik dibudidayakan agar tidak cepat punah.

Ular Sanca Bodo

ular sanca biru
Sumber: Unsplash

Ular Sanca Bodo, atau dikenal juga sebagai Ular Sanca Burma, adalah jenis Ular Sanca lain yang termasuk ke dalam jenis reptil eksotis. Ular Sanca Bodo, sesuai dengan nama lainnya, merupakan spesies Ular Sanca yang umum ditemukan di Burma atau Myanmar, Kamboja, Vietnam dan juga di Indonesia.

Namun, berbeda dengan Ular Sanca Hijau di atas, Ular Sanca Bodo masuk ke dalam kategori hewan terancam. Habitat mereka, yaitu di hutan sekitar rawa, banyak dirusak oleh manusia. Untuk itu, beberapa negara melarang pemeliharaan Ular Sanca Bodo dan lebih memilih untuk menaruhnya ke dalam penangkaran.

Meskipun demikian, pemeliharaan tetap diizinkan dengan sejumlah prosedur ketat yang wajib diikuti pemeliharanya. Harga dari Ular Sanca Bodo ini bervariasi. Ular Sanca Bodo dengan harga murah bisa ditemukan dengan harga sekitar Rp500.000, dan harga yang mahal bisa mencapai Rp3.000.000 sampai Rp4.000.000.

Bearded Dragon

ular sanca biru
Sumber: Unsplash

Meskipun lebih dikenal dengan nama “Bearded Dragon”, nama asli dari reptil ini adalah “Pogona”. Di alam liar, Bearded Dragon biasa ditemukan di daerah kering seperti padang pasir, daerah bebatuan, atau padang rumput kering di sejumlah wilayah di negara Australia.

Bearded Dragon menjadi salah satu hewan yang cukup populer untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan, dan masuk ke dalam kategori reptil eksotis. Bearded Dragon yang masih kecil biasanya memiliki harga sekitar Rp750,000.00. Dan ketika sudah memasuki usia dewasa, harganya bisa mencapai Rp. 12.000.000.

Alasan di balik kepopuleran Bearded Dragon sebagai peliharaan adalah perawatannya yang mudah serta harga jualnya yang cukup tinggi. Bearded Dragon hanya perlu memiliki pencahayaan yang memiliki sinar ultraviolet dan peletakan di tempat hangat, serta makanan seperti jangkrik, kecoa dan daun-daunan.

Tokek Jambul

ular sanca biru
Sumber: Unsplash

Tokek Jambul atau Crested Gecko dalam Bahasa Inggris adalah reptil eksotis yang cukup langka dan berasal dari Kaledonia Selatan, sebuah negara kecil terletak di wilayah Oseania. Mereka tinggal di pedalaman hutan hujan dan kerap melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Saat ini, status Tokek Jambul di lokasi asalnya masuk ke dalam hewan terancam. Bahkan, Tokek Jambul ini sempat dianggap sebagai hewan yang sudah punah, sebelum akhirnya kembali ditemukan pada tahun 1994. Penyebab utamanya adalah keberadaan serangga Semut Api, yang selain memangsa buruan Tokek Jambul, juga kerap menyerang Tokek Jambul untuk dimakan.

Saat ini, pemerintah Kaledonia Selatan melarang ekspor Tokek Jambul ke luar negara. Tetapi, negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat banyak mengembangbiakan reptil ini, sehingga banyak penggemar reptil memelihara mereka. Harga di pasaran sekitar Rp600.000 sampai dengan Rp3.000.000.

Naga Air Cina

ular sanca biru
Sumber: Unsplash

Naga Air Cina, atau dalam Bahasa Inggris disebut juga sebagai Chinese Water Dragon dan Asian Water Dragon, adalah jenis kadal yang biasa ditemukan di daerah perairan sekitar Asia Selatan dan Asia Tenggara seperti Cina, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja.

Status Naga Air Cina di alam liar saat ini masuk ke dalam kategori terancam, lagi-lagi karena ulah manusia yang menyerang habitat mereka. Meskipun begitu, Naga Air Cina sudah banyak dikembangbiakkan oleh orang-orang, terutama untuk dijadikan sebagai peliharaan. Harganya berkisar Rp600.000 sampai yang paling mahal sekitar Rp5.000.000.

Reptil eksotis ini banyak dipelihara karena sikapnya yang ramah terhadap manusia. Naga Air Cina terbilang tidak agresif, cenderung menghabiskan waktunya untuk berjemur di siang hari dan menikmati sentuhan dari manusia. Meskipun begitu, Naga Air Cina memerlukan sedikit usaha lebih, terutama dalam menyesuaikan kandang sesuai dengan habitat asli mereka.

Kadal Basilisk

ular sanca biru
Sumber: Unsplash

Dan terakhir, adalah reptil eksotis bernama Kadal Basilisk. Reptil yang satu ini merupakan reptil yang berasal dari wilayah Amerika Tengah, membentang dari sebelah selatan Meksiko sampai dengan sebelah utara Kolombia. Kadal Basilisk dapat ditemukan di wilayah perairan seperti rawa-rawa dan pinggiran sungai.

Kadal Basilisk cukup populer karena diketahui memiliki kemampuan untuk berlari di atas air. Kemampuan tersebut sayangnya tidak dapat digunakan ketika mereka dijadikan peliharaan. Meskipun begitu, dikarenakan statusnya yang saat ini tergolong sebagai hewan tidak langka, Kadal Basilisk menjadi peliharaan yang cukup populer dan masuk ke dalam kategori reptil eksotis.

Tentunya, perawatan yang diperlukan adalah dengan memberikan kandang serupa dengan habitat aslinya, serta makanan yang sesuai. Dan dibandingkan dengan harga reptil lainnya, harga Kadal Basilisk terbilang cukup murah, yakni sekitar Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 500 ribu.

Kesimpulan

Dengan ini, berakhir sudah artikel yang membahas mengenai Ular Sanca Biru. Grameds tadi sudah mempelajari serba-serbi mengenai reptil eksotis ini, mulai dari penjelasan terkait Ular Sanca secara keseluruhan, spesies asli Ular Sanca Biru yakni Ular Sanca Hijau, habitat, kembangbiak, sampai status hewan ini.

Tidak hanya itu, Grameds tadi juga sudah mendapatkan informasi seputar reptil eksotis lainnya. Grameds bisa mempelajari bahwa di balik keindahan dan keunikan suatu hewan, dalam kasus ini reptil, ternyata tidak semuanya menyimpan cerita yang menyenangkan.

Semoga saja, ini menyadarkan Grameds bahwa tidak semua hewan cocok untuk dipelihara. Meskipun hewan ini tidak ada masalah jika disimpan di rumah, akan lebih baik jika mereka dibiarkan tinggal di habitat aslinya atau diserahkan ke penangkaran agar bisa tetap terlestarikan.

Terakhir, kami memiliki sejumlah buku rekomendasi terkait reptil, khususnya ular, yang bisa Grameds baca untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Buku-buku tersebut adalah buku “Memilih & Merawat Kura-Kura Ular & Gecko : Reptil Unik Nan Eksotis“, buku “Ensiklopedia Animalia – Ular Piton vs Buaya“, dan buku “Ripleys Believe It or Not! Seri Pengetahuan Ripley – Ular dan Reptil“.

Memilih & Merawat Kura-Kura Ular & Gecko: Reptil Unik Nan Eksotis

https://www.gramedia.com/products/memilih-merawat-kura-kura-ular-gecko-reptil-unik-nan-e?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/memilih-merawat-kura-kura-ular-gecko-reptil-unik-nan-e?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Ensiklopedia Animalia – Ular Piton vs Buaya

https://www.gramedia.com/products/ensiklopedia-animalia-ular-piton-vs-buaya?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/ensiklopedia-animalia-ular-piton-vs-buaya?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Ripleys Believe It or Not! Seri Pengetahuan Ripley – Ular dan Reptil

https://www.gramedia.com/products/ripleys-believe-it-or-not-seri-pengetahuan-ripley-ular-dan-reptil?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/ripleys-believe-it-or-not-seri-pengetahuan-ripley-ular-dan-reptil?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Buku-buku ini adalah persembahan dari kami, Gramedia, #SahabatTanpaBatas, agar Grameds bisa mendapatkan ilmu, informasi, dan wawasan bermanfaat #LebihDenganMembaca. Kalian bisa temukan buku-buku tersebut di situs kami yaitu Gramedia.com.

Penulis: M. Adrianto S.

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by M. Hardi