pertanyaan interview ads spesialis – Kalau kamu sedang bersiap naik level dari Ads Specialist junior ke posisi yang lebih strategis, kamu pasti tahu kalau tantangan terbesarnya bukan hanya soal menguasai dashboard iklan.
Hiring manager ingin melihat bagaimana kamu membaca data, mengambil keputusan, dan memikirkan dampaknya terhadap bisnis. Oleh karena itu, kamu perlu memahami apa saja pola pertanyaan interview Ads Specialist agar kamu bisa tampil lebih siap dan meyakinkan.
Yuk, simak 25+ pertanyaan interview Ads Spesialis yang paling sering muncul, lengkap dengan arahan cara menjawabnya!
Table of Contents
Pertanyaan Interview Ads Spesialis Dasar yang Tetap Muncul
Pertanyaan dasar ini tetap muncul untuk memastikan kekuatan pondasi teknismu. Pertanyaan dasar ini menjadi penyaring awal apakah kamu benar-benar memahami struktur iklan, objective, audience, dan prinsip optimasi.
1. Apa perbedaan antara campaign, ad set, dan ads?
Hirarki ini menentukan bagaimana kamu mengatur budget, audience, placement, dan variasi kreatif.
Ads Specialist yang tidak bisa menjelaskan struktur dasar biasanya akan kesulitan ketika berbicara tentang optimasi yang lebih kompleks seperti A/B testing, scaling, atau segmentasi.
2. Objective apa yang sering kamu gunakan dan kenapa memilih objective tersebut?
Objective bukan hanya label, tetapi menentukan perilaku algoritma dan siapa yang akan melihat iklanmu.
Memahami objective menunjukkan bahwa kamu bisa menyelaraskan strategi iklan dengan kebutuhan bisnis.
3. Apa yang kamu perhatikan saat menentukan audience targeting?
Interviewer ingin tahu apakah kamu memahami karakteristik audiens berdasarkan perilaku, minat, lokasi, kebiasaan browsing, dan tahap funnel.
Ads Specialist yang matang juga mampu menjelaskan kapan harus menggunakan custom audience, lookalike, atau broad targeting.
4. Bagaimana kamu menentukan budget harian atau total untuk campaign?
Misalnya, kamu bisa menentukan budget campaign dari ROAS sebelumnya, ukuran audience, frekuensi, atau kebutuhan pacing.
Kemampuan menentukan budget secara logis menjadi dasar penilaian apakah kamu bisa dipercaya untuk mengelola budget yang lebih besar.
5. Apa indikator utama yang kamu lihat untuk menilai apakah campaign berjalan baik?
Interviewer ingin melihat apakah kamu memahami KPI dasar, seperti CTR, CPC, CPM, CPA, ROAS, dan bagaimana KPI tersebut saling memengaruhi.
Kandidat yang bisa menjelaskan hubungan antar metrik biasanya lebih siap untuk pertanyaan lanjutan tentang analisis dan optimasi.
Pertanyaan Interview Ads Spesialis Dasar untuk Mengukur Pola Pikir
Pertanyaan ini dapat menilai apakah kamu sudah berpikir seperti Ads Specialist mid-level—bukan hanya menjalankan campaign, tetapi mampu membaca data, memahami konteks bisnis, membuat keputusan berbasis insight, dan menyusun strategi yang efektif.
1. Bagaimana kamu menentukan objective campaign yang paling tepat untuk sebuah bisnis?
Pertanyaan ini menilai apakah kamu bisa menyelaraskan tujuan kampanye dengan kebutuhan bisnis dan tahap funnel.
Ads Specialist mid-level harus mampu memilih objective berdasarkan:
- Tujuan jangka pendek dan jangka panjang,
- Kondisi brand
- Tingkat kesiapan audiens
- Performa pada fase sebelumnya
2. Apa pendekatanmu ketika CPA tiba-tiba naik drastis?
CPA naik bisa disebabkan berbagai faktor: kompetisi meningkat, audience overlap, creative fatigue, atau masalah pada landing page. Ads Specialist mid-level harus mampu:
- Memetakan kemungkinan penyebab
- Mengurutkan prioritas pengecekan
- Menggunakan data untuk mengonfirmasi hipotesis
- Memberi solusi yang berlandaskan insight
Interviewer ingin melihat apakah kamu menyelesaikan masalah secara terstruktur, bukan menebak-nebak atau melakukan perubahan yang tidak relevan.
3. Kapan kamu memutuskan untuk scale up budget dan bagaimana caranya?
Pertanyaan ini mengukur pemahamanmu tentang stabilitas performa, kapasitas audience, dan risiko breakdown saat scaling.
Scaling bukan hanya menaikkan budget. Kamu perlu memastikan bahwa:
- Metrik stabil minimal beberapa hari
- Audience belum jenuh
- Creative masih segar
- Funnel siap menerima traffic lebih tinggi.
Selain itu, interviewer ingin tahu apakah kamu memahami berbagai metode scaling seperti vertical scaling, horizontal scaling, penambahan ad set, atau membuat lookalike baru.
4. Bagaimana kamu menentukan apakah masalah ada di kreatif, targeting, atau landing page?
Pertanyaan ini menguji kemampuan diagnosis performa secara menyeluruh. Ads Specialist mid-level harus bisa melihat metrik sebagai petunjuk.
Misalnya:
- CTR rendah ? kemungkinan masalah di kreatif
- CPC tinggi ? mungkin audience terlalu sempit atau kompetitif
- Banyak add to cart tapi sedikit purchase ? masalah di landing page atau checkout
5. Bagaimana cara kamu menyusun strategi full-funnel untuk produk baru?
Produk baru membutuhkan strategi yang terstruktur, bukan sekadar langsung menjalankan ads dengan objective conversion. Kamu harus mampu menjelaskan:
- Bagaimana membangun awareness?
- Bagaimana memancing consideration?
- Bagaimana mendorong konversi?
- Bagaimana melakukan retargeting?
Dalam konteks ini, interviewer ingin melihat bahwa kamu memahami customer journey dan bisa merancang strategi jangka panjang yang realistis dan efektif.
Pertanyaan Interview Ads Spesialis Dasar Seputar Platform: Meta Ads, Google Ads, TikTok Ads
Interviewer menggunakan pertanyaan teknis untuk menilai seberapa dalam pemahamanmu terhadap masing-masing platform iklan.
Mereka ingin memastikan bahwa kamu bukan hanya tahu caranya menjalankan campaign, tetapi juga memahami logika optimasi, perilaku algoritma, dan cara membaca performa berdasarkan karakteristik setiap platform.
1. Meta Ads: Apa indikator pertama yang kamu lihat ketika performa turun?
Pada Meta, perubahan performa biasanya dimulai dari interaksi di level atas, sehingga metrik seperti CTR, CPC, dan Quality Ranking menjadi petunjuk awal untuk mendeteksi masalah.
Jika CTR turun, kemungkinan masalah ada pada kreatif atau hook. Jika CPC naik, bisa jadi kompetisi meningkat atau audiens terlalu sempit.
Jawaban kamu harus menunjukkan bahwa kamu memahami hubungan antara creative performance, audience behavior, dan algoritma delivery.
2. Meta Ads: Kapan kamu memilih Advantage Campaign Budget (ACB) dibanding manual budget?
ACB cocok digunakan ketika kamu sudah memiliki struktur ad set yang jelas dan ingin Meta melakukan distribusi budget berdasarkan performa.
Namun, untuk testing atau saat kamu ingin mengontrol alokasi masing-masing ad set, manual budget lebih efektif.
3. Google Ads: Bagaimana kamu menentukan keyword yang paling relevan dan menguntungkan?
Pertanyaan ini menguji pemahamanmu terhadap riset keyword dan pencocokan intent.
Interviewer ingin melihat apakah kamu mampu:
- Menganalisis search intent
- Menilai volume pencarian
- Melihat kompetisi
- Membaca CPC
- Menggunakan kombinasi match type
- Melakukan negative keyword filtering
Google Ads sangat berbasis intent, sehingga jawabanmu harus menunjukkan kemampuan memahami perilaku pencarian dan menghubungkannya dengan tujuan bisnis.
4. Google Ads: Apa yang kamu lakukan jika Quality Score campaign turun?
Quality Score memengaruhi biaya iklan dan posisi penayangan.
Jadi, ketika turun, kamu harus bisa menjelaskan langkah-langkah seperti menyesuaikan ad copy agar lebih relevan, memperbaiki kecepatan landing page, memperbaiki struktur keyword, atau menggunakan ad extension yang tepat.
5. TikTok Ads: Bagaimana kamu mengatasi creative fatigue yang cepat terjadi di TikTok?
Pertanyaan ini menguji pemahaman kamu terhadap karakter platform yang sangat mengandalkan kreativitas dan kecepatan refresh konten.
TikTok memiliki siklus creative yang lebih cepat dibanding Meta dan Google karena audiensnya cenderung mudah bosan. Kamu harus bisa menjelaskan strategi seperti:
- Mempersiapkan banyak variasi hook
- Membuat konten UGC
- Memadukan storytelling
- Melakukan rapid testing
- Memanfaatkan spark ads
Interviewer ingin mengetahui apakah kamu paham bahwa TikTok bukan hanya soal targeting, tetapi lebih pada kreativitas dan relevansi konten.
6. TikTok Ads: Apa metrik utama yang kamu gunakan untuk menilai efektivitas iklan TikTok?
.Selain CTR dan CPA, TikTok sangat mengandalkan Video Watch Time, Thumb Stop Rate, dan Engagement Rate.
Jelaskan caramu dalam membaca metrik tersebut menunjukkan untuk menunjukkan pemahamanmu terhadap karakter unik platform ini dan dapat menyesuaikan strategi konten yang relevan.
Pertanyaan Interview Ads Spesialis Dasar tentang Data Analysis dan Decision Making
Pada tahap interview Ads Specialist, pertanyaan tentang data analysis dan decision making biasanya bertujuan untuk menguji bagaimana kamu membaca angka, menemukan pola, mengambil keputusan cepat, dan menentukan strategi berbasis data.
1. Bagaimana cara kamu menentukan bahwa sebuah campaign dianggap sukses atau gagal?
Campaign dianggap sukses jika memenuhi KPI utama seperti ROAS, CPL, cost per purchase, CAC, CTR, dan conversion rate sesuai target yang ditetapkan sebelum campaign berjalan.
Sebaliknya, campaign dianggap gagal jika data menunjukkan penyimpangan yang signifikan dari baseline, tidak memberikan kontribusi terhadap funnel, atau menurun performanya meskipun sudah diberi optimasi awal.
2. Apa langkah pertama yang kamu lakukan ketika melihat performa iklan turun mendadak?
Langkah pertama biasanya melakukan diagnosis data cepat: mengecek breakdown umur, gender, placement, creative, waktu, dan device untuk melihat penyebab penurunan.
Jika turunnya drastis, kamu perlu meninjau apakah ada perubahan algoritma platform, peningkatan kompetitor, atau masalah teknis seperti pixel error atau tracking putus.
Setelah itu, kamu membuat hipotesis dan mulai menguji solusi seperti refresh creative, ubah audience, menaikkan/menurunkan budget, atau membuat ulang ad set.
3. Bagaimana kamu menentukan prioritas optimasi ketika sebuah campaign memiliki banyak masalah sekaligus?
Biasanya kamu perlu mulai dari bottleneck terbesar yang paling mempengaruhi hasil akhir. Jika masalah terjadi di level CTR, maka creative atau positioning adalah prioritas.
Jika masalahnya CPR/CPL tinggi, maka targeting dan bidding menjadi fokus awal. Jika masalahnya terjadi pada conversion, maka landing page, pixel, serta misalignment antara ads–offer harus dianalisis.
4. Jelaskan bagaimana kamu membuat keputusan berbasis data meskipun datanya tidak lengkap.
Dalam digital ads, data sering tidak sempurna. Karena itu kamu harus menunjukkan data intuition dan kemampuan membuat keputusan dengan risiko terukur.
Biasanya kamu menyebutkan teknik seperti:
- Interpreting directional data ? misalnya tren naik/turun meski angka absolut belum lengkap.
- Membandingkan dengan historical benchmark ? untuk mengukur seberapa jauh perbedaan performa.
- Hypothesis testing ? membuat simulasi cepat untuk memvalidasi asumsi menggunakan A/B test kecil.
- Menggabungkan data lintas platform ? misalnya insights dari GA4, backend, CRM, dan platform ads.
Perekrut ingin melihat bahwa kamu tidak panik saat data terbatas, tapi tetap mengambil keputusan melalui proses analitis yang terstruktur.
Pertanyaan Case Study yang Sering Muncul dalam Interview Ads Specialis Dasar
Pada tahapan interview Ads Specialist, bagian case study adalah salah satu yang paling menentukan karena di sini kamu diuji seperti sedang mengerjakan pekerjaan nyata.
Jawabanmu harus menunjukkan structured thinking, kemampuan analitis, dan pemahaman mendalam mengenai flow paid ads dari hulu ke hilir.
1. Campaign kamu tiba-tiba turun performanya 60% dalam tiga hari. Apa langkah yang kamu ambil untuk memperbaikinya?
Langkah pertama adalah melakukan root cause analysis dengan membagi masalah menjadi beberapa area: creative, audience, placement, tracking, kompetitor, dan faktor eksternal.
Kamu menjelaskan bahwa kamu akan memeriksa breakdown untuk melihat penurunan terbesar, meninjau perubahan algoritma, mengecek pixel/konversi, serta mengidentifikasi apakah ada penurunan industri secara musiman.
Setelah itu, kamu membuat hipotesis dan menguji solusi: refresh creative, memperbaiki tracking event, menyesuaikan budget, memperbarui audience, atau restruktur ad set.
2. Brand kamu ingin menaikkan penjualan 2x lipat dalam 30 hari. Jelaskan strategi paid ads yang akan kamu jalankan.
Penjelasan harus menunjukkan pendekatan berlapis: mulai dari analisis data historis, menentukan baseline CPA/ROAS, lalu mengestimasi budget scaling yang masih aman.
Kamu bisa menyebutkan strategi seperti incremental budget increase, memisahkan funnel (TOF–MOF–BOF), memperbaiki landing page conversion, hingga testing creative intensif. Pastikan kamu memberi gambaran lengkap dari sisi channel, audience segmenting, message differentiation, hingga mekanisme retargeting.
3. Kamu diberi data bahwa CTR tinggi, tapi conversion rate rendah. Apa keputusan yang kamu ambil?
Kamu menjelaskan bahwa creative masih relevan (CTR tinggi), tetapi masalahnya terjadi setelah klik. Maka fokusmu adalah pada landing page, offer mismatch, friction pada form, hingga kecepatan loading.
Kamu juga bisa menyarankan tes A/B untuk value proposition, call-to-action, pricing clarity, atau layout. Selain itu, kamu menyebutkan kemungkinan lain seperti tracking error atau audience terlalu broad sehingga banyak klik yang tidak berkualitas.
4. Jika kamu diberi data multi-channel (Meta, Google, TikTok), bagaimana kamu menentukan channel mana yang paling layak di-scale?
Kamu perlu menjelaskan analisis berdasarkan incremental revenue, bukan hanya angka mentah.
Kamu menilai kualitas trafik tiap channel berdasarkan CAC, ROAS, view-through conversion, assisted conversion, dan konsistensi performa.
Kamu juga harus mempertimbangkan intent: Google untuk demand capture, Meta untuk demand generation, TikTok untuk impulse buyer dan awareness.
5. Brand kamu baru, belum punya data sama sekali. Apa strategi awal untuk membangun paid ads dari nol?
Jawabanmu harus mencakup riset kompetitor, memahami USP brand, menentukan ICP (ideal customer profile), lalu membangun testing framework.
Kamu menyebutkan struktur awal: TOF untuk mengumpulkan trafik berkualitas, MOF untuk menguji intent, BOF untuk conversion push.
Kamu bisa menambahkan pentingnya creative variation, audience testing, dan early metric seperti CTR, CPC, dan add to cart sebagai indikator awal sebelum konversi stabil.
Pertanyaan Interview Ads Specialis Dasar tentang Creative Strategy dalam Paid Ads
Creative adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan campaign, bahkan sering disebut sebagai kontributor lebih dari 50% performa iklan.
Pertanyaan-pertanyaan dalam kategori ini bertujuan untuk melihat apakah kamu memahami proses kreatif dari hulu ke hilir, mulai dari riset, konsep, testing, sampai analisis performa.
1. Bagaimana cara kamu menentukan creative yang cocok untuk target audience tertentu?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kamu bisa menjelaskan bahwa langkah pertama adalah melakukan audience insight analysis, seperti memahami pain point, aspiration, dan konteks penggunaan produk.
Selanjutnya, kamu membuat creative direction berdasarkan messaging yang relevan untuk behavior mereka—apakah mereka lebih responsif pada visual edukatif, UGC, humor, atau komparasi produk.
Kamu juga menunjukkan bahwa keputusan creative tidak boleh berdasarkan feeling saja, tetapi harus didukung data dari campaign sebelumnya, competitor analysis, dan tren platform.
2. Apa saja indikator yang kamu lihat untuk menilai apakah sebuah creative masih ‘sehat’ atau sudah mengalami fatigue?
Kamu bisa menjelaskan bahwa tanda creative fatigue muncul ketika CTR menurun, CPC naik, frequency meningkat, dan CPA perlahan memburuk.
Namun, kamu juga perlu menambahkan bahwa membaca fatigue tidak bisa hanya dari satu metrik.
Kamu membandingkan data dari 3–7 hari terakhir, melihat stability pattern, dan menilai apakah audience sudah jenuh atau algoritma mengalami penurunan relevansi.
3. Bagaimana strategi kamu dalam melakukan creative testing yang efektif?
Kamu bisa menjelaskan framework testing yang umum digunakan, seperti thumb-stopping test, hook testing, format testing, atau messaging variation.
Kamu jelaskan bahwa creative testing sebaiknya dilakukan di TOF untuk mengukur daya tarik awal, dengan variabel yang dikontrol agar hasilnya valid.
Setelah menemukan winner, kamu baru mengadaptasinya untuk MOF dan BOF dengan penyesuaian message.
4. Kapan kamu memilih membuat creative baru dibanding mengoptimalkan creative lama?
Kamu bisa menjelaskan bahwa creative baru diperlukan ketika kontinuitas brand ingin dijaga, atau ketika data menunjukkan bahwa existing creative tidak lagi relevan terhadap audience yang berkembang.
Namun, jika masalahnya hanya pada hook, CTA, atau angle tertentu, maka creative lama bisa dioptimalkan melalui iteration tanpa harus membuat dari nol.
5. Bagaimana kamu memastikan creative memiliki keselarasan dengan funnel (TOF, MOF, BOF)?
Kamu bisa menjelaskan bahwa creative TOF harus fokus pada awareness dan attraction, MOF fokus pada edukasi dan value, sedangkan BOF fokus pada urgency, trust, dan offer.
Kamu bisa menegaskan bahwa isi, tone, dan format creative tidak bisa sama untuk semua funnel karena tujuan dan intensi audience berbeda.
Yuk, Jadi Seorang Ads Specialist yang Unggul!
Dengan kumpulan 25+ pertanyaan interview di artikel ini, kamu bisa menunjukkan kemampuanmu dalam memahami teknis platform dan mengambil keputusan berdasarkan data konteks bisnis.
Jadi, gunakan panduan ini sebagai langkah awal untuk tampil lebih percaya diri dan membuktikan bahwa kamu siap naik level dari junior ke mid-level Ads Specialist!
Rekomendasi Buku tentang Google Ads
1. 10 Juta Pertama dari Google AdSense
Ingin punya blog atau channel YouTube yang bukan cuma ramai, tapi juga menghasilkan cuan? Buku ini hadir sebagai panduan lengkap untuk kamu yang ingin sukses memanfaatkan Google AdSense sebagai sumber penghasilan online.
Di dalamnya, kamu akan belajar cara membuat blog dari nol, mengelolanya dengan WordPress, menulis konten yang menarik, hingga lolos review AdSense. Tak hanya itu, buku ini juga membahas cara membangun channel YouTube, membuat dan mengedit video, meningkatkan subscriber, serta memonetisasi konten secara maksimal. Dengan panduan praktis dan mudah dipahami, buku ini siap membantumu mengubah hobi jadi peluang penghasilan nyata.
2. Buku Sakti Google Ads
Google Ads adalah salah satu platform iklan online terbesar dan paling tepercaya di dunia untuk mengembangkan bisnis dan menjangkau pelanggan. Melalui buku ini, kamu akan mempelajari cara memasang iklan dan menyusun strategi pemasaran digital yang efektif, khususnya untuk kebutuhan bisnis di Indonesia.
Tak hanya membahas Google Ads, buku ini juga dilengkapi panduan membuat website dengan aplikasi 8B serta landing page menggunakan SitePad, semuanya dirancang agar mudah dipahami oleh pemula. Solusi lengkap untuk kamu yang ingin memaksimalkan promosi online secara praktis dan profesional.
3. Google Ads untuk Pemasar Digital
Buku ini berisi panduan menggunakan Google Ads untuk mempromosikan usaha atau jasa layanan. Google Ads adalah jaringan periklanan yang biasa digunakan para pemasar digital profesional untuk mempromosikan jasa dan produk yang dijual. Pembaca akan dipandu untuk bisa membuat aneka kampanye iklan, mulai dari kampanye iklan YouTube sampai kampanye iklan website dengan berbagai target.
Tidak hanya sampai disitu, buku ini juga mengintegrasikan AI untuk melakukan optimalisasi iklan Google Ads dan konten web. Penulis juga menambahkan panduan cara membuat landing page khusus untuk Google Ads sehingga buku ini menjadi panduan yang lengkap bagi mereka yang ingin belajar Google Ads untuk pemasaran digital.
- Alasan Gen Z Banyak Menganggur
- Alasan Izin Tidak Masuk Kerja
- Alasan Melamar Pekerjaan
- Alasan untuk Resign Mendadak
- Alasan Resign Kerja
- Alasan Resign Yang Baik
- Apa itu Fungsi Pendidikan dalam Masyarakat
- Cara Buat CV Online Gratis
- Cara Perkenalan Diri Saat Interview
- Cara Mendeskripsikan Diri Sendiri saat Interview
- Cara Jawab Pertanyaan Alasan Ingin Bekerja
- Cara Mengirim CV Lewat Email
- Cara Buat Kartu Kuning
- Cara Menanyakan Gaji yang Sopan
- Cara Mengisi Daftar Riwayat Hidup
- Cara Menjadi Selebgram
- Cara Menjadi Pemimpin
- Cara Menceritakan Diri Sendiri di Kelas
- Cara Menulis Surat Lamaran Kerja
- Cara Switch Career
- Contoh CV ATS
- Contoh Pekerjaan Wiraswasta
- Contoh Surat Lamaran Kerja
- Contoh CV ATS Friendly
- Daftar Kisaran Gaji PNS + TPP
- Disiplin Kerja
- Divisi Acara
- Employee Recognition
- Employee Wellness Program
- Experimental Learning
- E-learning
- Formalitas
- First Experience
- Gaji Pelayaran
- Gelar M.Eng
- Gap Year
- Hard Skill yang Dibutuhkan dalam Dunia Kerja
- Hobi yang Menghasilkan Uang
- Job Fair
- Kick of Meeting
- Kultur Perusahaan
- Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
- Jabatan Fungsional Apratur Negara
- Jenis Pekerjaan yang Tidak Disukai
- Learning Agility
- Motto Profesional Linkedin
- Passion Kerja
- Pertanyaan tentang Kepemimpinan
- Pembelajaran Kolaboratif
- Pengalaman Organisasi di CV
- Pekerjaan Gaji Tertinggi
- Pertanyaan Interview Ads Spesialis
- Problem Solving Skill
- Pendidikan Non Formal
- Penyebab Introvert di Tempat Kerja
- Perbedaan CV dan Resume
- Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
- Sense Of Belonging
- Situs Lowongan Kerja
- Semangat Kerja
- Skill Issue
- Skill yang Harus Dimiliki di Dunia Kerja
- Skill yang Dibutuhkan di Masa Depan
- Screening Karyawan
- Town House Meeting
- Objective and Key Results
- On Boarding dan Orientation
- On the Job Training
- Pekerjaan yang Cocok Untuk Introvert
- Pekerjaan yang Dibutuhkan di Masa Depan
- Pekerjaan Khusus
- Pekerjaan Jurusan IPA
- Pekerjaan Impian Gen Z
- Top Down dan Bottom Up
- Sarjana Ekonomi
- Semua Bisa Jadi Trainer
- Sikap Kerja Gen Z
- Syarat Pendaftaran Masuk Polisi
- Syarat dan Cara Menjadi Miss Indonesia
- Syarat Masuk STAN
- Tips Interview
- Tugas HRD
- Tugas Supervisor
- Uang Pesangon
- Vlogger




