in

Review Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Tokyo dan Perayaan Kesedihan – Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang. Terkadang, orang yang terlihat paling bahagia atau dapat menjadi tempat ternyaman untuk orang-orang di sekitarnya justru menyimpan banyak kesedihan. Ketika dia menunjukkan kesedihannya, kita merasa bahwa itu bukan masalah besar, karena dia selalu terlihat baik-baik saja. Itulah gambaran kecil dari novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan karya Ruth Priscilia Angelina.

Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan merupakan sebuah perjalanan dari Ruth Priscilia Angelina. Ruth memutuskan pergi ke Tokyo seorang diri untuk melawan rasa takutnya. Di tengah hiruk pikuk Tokyo dengan segala keramaiannya, Ruth menjelajah jalanan dengan perasaan sendu, hingga membuatnya terinspirasi untuk menulis sebuah novel berjudul Tokyo dan Perayaan Kesedihan.

Novel ini bukan karya pertama Ruth. Sebelumnya Ruth sudah menerbitkan sekitar 5 sampai 6 buku dengan pembawaan cerita yang sama dengan novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan.

Ruth Priscilia Angelina, wanita kelahiran jakarta, 12 April 1991 ini sudah mulai menulis sejak duduk di bangku SMP. Walaupun begitu, Ruth masih sulit memanggil dirinya penulis. Ruth senang menonton drama bertema cinta dan horor, dia juga penggemar berat anime.

Ruth mengikuti banyak aktor Thailand dan senang tidur bersama dengan anjing kesayangannya. Ruth Aktif membagikan aktivitas kesehariannya di sosial media instagram dan twitter yaitu @ruthpriscilia.

 

Sinopsis Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Judul Buku : Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Penulis Buku : Ruth Priscilia Angelina

Tanggal Terbit : 12 April 2020

Cek di Balik Pena : Beby Chaesara

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 208

“Kita semua egois untuk hal-hal yang kita sayangi, Josh. Ini bukan perlombaan. Hidup bukan perlombaan…” – Halaman 163.

Shira Hidajat Nagano memutuskan untuk pergi ke Tokyo, dia ingin melarikan diri dari kehidupannya yang menipu. Shira ingin menemukan penyelesaian paling tepat dan jujur dalam hidupnya. Sebelumnya, Shira hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang-orang. Shira tidak pernah menjadi dirinya sendiri, entah itu di depan keluarganya maupun teman-temannya.

Perjalanan Shira ke Tokyo juga untuk menjawab segala pertanyaan mengenai kehidupan yang sesungguhnya. Shira ingin menghirup udara yang lebih jujur dan tidak lagi menjadi orang yang siap memenuhi ekspektasi orang lain.

Di Tokyo, Shira justru mendapat jawaban yang tidak pernah direncanakannya. Dia bertemu dengan seorang pemain biola profesional bernama Joshua. Seseorang yang mampu memvalidasi keputusannya, bahkan membuat Shira berhenti sejenak untuk mengerjakan penyelesaian yang menjadi tujuannya.

Joshua Sakaguchi telah menjejakkan kaki di berbagai benua untuk menampilkan kehebatannya sebagai seorang pemain biola profesional. Joshua dengan sikapnya yang tenang, sopan, dan berwibawa berhasil menarik perhatian Shira. Tokyo menyambut keduanya dengan hangat, tapi tidak dengan kisah mereka. Joshua mendapat banyak pertanyaan yang tidak pernah dipertanyakannya. Begitupun Shira mendapat banyak jawaban yang tidak pernah ada dalam rencananya.

Dibalik sikap tenangnya, Joshua ternyata menyimpan penyesalan yang mendalam. Dia selalu menganggap dirinya sebagai seorang pecundang yang tidak bertanggung jawab. Sebelumnya, Joshua terlalu mementingkan karirnya sebagai seorang pemain biola hingga mengabaikan keluarganya sendiri. Joshua mengabaikan kakaknya yang sakit dan Ayahnya yang sedang kritis.

Pertemuan antaran Shira dan Joshua di Tokyo seolah takdir untuk melihat jendela lain yang menjadi jawaban dari kesulitan masing-masing hidup mereka. Joshua berhasil membuat Shira kembali mengenal dirinya yang sebenarnya, tanpa mendengarkan suara-suara yang selama ini membebaninya. Melalui Shira, Joshua ingin menjadi seseorang yang lebih peduli. Dia tidak ingin terjebak dengan penyesalan di masa lalu.

Joshua ingin menjadi bagian yang dapat menolong Shira. Lalu, apakah Joshua berhasil menolong Shira?

 

Review Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Sesuai dengan judulnya, novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan menampilkan kisah sendu dan terasa gelap. Ruth Priscilia Angelina  berhasil merubah hiruk pikuk keramaian Tokyo yang terkenal dengan orang-orang sibuk menjadi senyap dan sepi.

Novel dengan tebal 208 halaman ini termasuk ke dalam buku bacaan pendek, sehingga dapat dibaca dalam satu kali duduk saja. Konflik yang ditampilkan pun cukup padat, jelas, dan tidak terlalu rumit.  Cerita hanya berfokus pada dua tokoh sentral saja, yaitu Shira dan Joshua.

Novel ini terbagi ke dalam dua sudut pandang penceritaan. Cerita akan diawali dengan sudut pandang dari tokoh Shira terlebih dahulu. Shira merupakan wanita dewasa yang sedang mencari makna kehidupan yang sesungguhnya. Karakter Shira digambarkan keras kepala dan melankolis. Kehidupan Shira sebenarnya tidak rumit, dia mendapatkan lingkungan keluarga dan pertemanan yang baik. Namun, hal itu justru membuatnya tertekan, dia merasa tidak cocok dengan dunianya. Shira bahkan merasa tidak sesuai dengan ekspektasi orang-orang di sekitarnya, dia juga seolah terjebak dalam dunia yang terlalu sempurna. Oleh karena itu, Shira memilih untuk pergi ke luar negeri dan mencari tahu eksistensi hidupnya yang lebih jujur.

Selanjutnya yaitu sudut pandang penceritaan dari tokoh Joshua, seorang pemain biola profesional. Joshua memiliki karakter yang tenang. Dia begitu menawan, bahkan hidupnya terlihat sempurna bersama dengan karir yang bersinar. Namun, Joshua menyimpan masa lalu yang kelam, dia memiliki penyesalan sebagai seorang anak laki-laki.

Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan menggunakan sudut pandang orang pertama, Tokoh Shira menggunakan kata “gue”, sedangkan Joshua menggunakan “saya”. Ruth seolah ingin menyampaikan isi hati dari kedua tokoh seperti sebuah buku harian.

Alur cerita dalam novel berjalan cepat dan mengalir. Setiap bab juga ditandai dengan sebuah tanggal, mulai dari tanggal 26 Desember 2019 sampai 8 Januari 2020. Hal tersebut memudahkan pembaca untuk mengenal latar waktu dalam novel.

Novel ini tidak menampilkan kisah romansa yang manis. Konflik batin antara Shira dan Joshua tersampaikan jelas. Ruth berhasil mengemas cerita singkat tapi penuh dengan makna kehidupan. Luka batin yang biasa dianggap sepele terasa spesial dalam novel ini. Seseorang yang terlihat baik-baik saja, justru menyimpan banyak kesedihan. Orang-orang yang terlihat mendukung, justru dapat menjadi salah satu penyebab luka. Shira dan Joshua seolah menjadi gambaran dari kehidupan yang selalu menuntut untuk lebih.

 

Kelebihan dan Kekurangan Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Pros & Cons

Pros
  • Memiliki sampul yang cantik dan elegan.
  • Berisi foto hitam putih yang diambil langsung oleh penulis.
  • Konflik yang ditampilkan dalam novel dekat dengan kehidupan. 
Cons
  • Latar belakang kehidupan Shira tidak terlalu kuat dan terasa semu.
  • Terdapat typo di beberapa halaman.
  • Tidak ada penjelasan mengenai istilah-istilah Bahasa Jepang yang digunakan.

 

Kelebihan Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan 

Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan memiliki sampul yang cantik dan elegan. Pemilihan skema warna dengan kombinasi ungu, hijau, dan emas membuat sampulnya terlihat semakin menarik. Terdapat ilustrasi wanita yang terjebak di antara dua batang pohon dan dedaunan berhasil memberi kesan yang dalam untuk menggambarkan isi dari novelnya sendiri.

Novel ini termasuk ke dalam buku bacaan yang sederhana, karena tidak ada konflik berlebihan dan hanya berfokus pada tokoh utama saja. Pembaca juga mudah mengenal karakter-karakternya.

Cerita semakin menarik dengan foto hitam putih yang diambil langsung oleh Ruth Priscilia Angelina selaku penulis ketika dia berada di Tokyo. Pembaca tidak hanya menyalami cerita dengan kata-kata saja, karena masing-masing foto seolah menggambarkan setiap halaman cerita. Seakan sedang jalan-jalan, pembaca dimanjakan dengan pemandangan Tokyo yang ramai dan penuh dengan kebudayaan lokalnya.

Pesan yang ingin disampaikan dalam novel juga indah dengan akhir yang mengharukan. Tidak butuh waktu lama untuk bersimpati pada tokoh-tokohnya, karena konflik yang ditampilkan dekat dengan kehidupan beberapa orang. Sebagian mungkin merasa takut, khawatir, lelah, atau bahkan sedih akibat lingkungan yang terlalu menuntut. Orang-orang terdekat yang secara tidak sadar justru menjadi salah satu sumber masalah. Semua itu digambarkan cukup jelas dalam novel ini.

Kesendirian yang ingin dirasakan oleh Shira dan Joshua bukan sebuah pelarian, melainkan petualangan untuk mencari jawaban dari kerisauan hati. Khususnya Shira yang meromantisasikan sebuah kesedihan sebagai perayaan lewat perjalanannya di Tokyo. Banyak orang menganggap bahwa seseorang yang terlihat baik-baik saja pasti tidak memiliki masalah emosional. Namun, orang-orang seperti itulah yang berhasil menyembunyikan kesedihannya, sama dengan yang dilakukan oleh Joshua. Karakternya yang tenang menutupi hatinya yang terluka.

Kekurangan Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan 

Pembaca dapat merasakan kesedihan melalui kisah dari masing-masing tokoh. Latar belakang kehidupan Joshua digambarkan cukup jelas, panjang, dan padat. Sedangkan untuk latar belakang kehidupan Shira masih terasa mengambang. Alasan kesedihan dari Shira tidak sekuat Joshua. Hal tersebut mungkin karena novel ini dikemas dalam 208 halaman saja atau termasuk novel yang tidak terlalu panjang.

Kekurangan lain terdapat pada typo di beberapa halaman, seperti konsistensi penggunaan kata sapaan dan kata-kata lainnya yang tidak sesuai. Narasi Shira sedari awal digambarkan menggunakan kata ganti orang pertama yaitu “gue”, sedangkan di beberapa halaman berubah menjadi “aku”. Joshua yang sedari awal menggunakan “saya-anda” berubah menjadi “gue-lo”. Perubahan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengganggu, tapi hanya tidak konsisten saja. Kemudian, terdapat typo, seperti kata “membelakinya” mungkin maksudnya “membelakanginya”.

Karena latar tempat yang ditampilkan dalam novel yaitu Tokyo, maka ada beberapa istilah Bahasa Jepang yang digunakan dalam cerita. Namun sayangnya, tidak ada penjelasan dari istilah-istilah tersebut, sehingga menjadi sulit untuk beberapa pembaca yang tidak mengerti. Selebihnya pembaca tetap dapat menikmati isi cerita dalam novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan karya Ruth Priscilia Angel.

 

Penutup

Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan karya Ruth Priscilia Angelina merupakan bacaan pendek yang bagus.  Konflik yang ditampilkan tidak terlalu rumit, apalagi dibagi ke dalam dua sudut pandang antara Shira dan Joshua. Perkembangan karakter Shira dan Joshua juga digambarkan bertahap, pembaca dapat merasakan emosi keduanya yang semakin positif di setiap halamannya.

Novel ini dapat menjadi refleksi kehidupan bagi pembaca yang sedang berjuang untuk hidup yang lebih jujur. Novel ini juga dapat dibaca oleh banyak kalangan, mulai dari remaja hingga dewasa.

Grameds, itulah ulasan singkat dari novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan karya Ruth Priscilia Angelina. Apabila Grameds penasaran dengan keseluruhan kisah dari Shira dan Joshua. Grameds dapat membaca dan membeli novel ini di Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

 

Penulis: Dwi Puji Lestari

 

Sumber Artikel:

  • Buku Tokyo dan Perayaan Kesedihan karya Ruth Priscilia Angelina
  • https://ebooks.gramedia.com/id/buku/tokyo-dan-perayaan-kesedihan
  • Profil Ruth Priscilia Angelina
  • https://gpu.id/author/37465/ruth-priscilia-angelina
  • Artikel: Resensi Buku Novel “Tokyo dan Perayaan Kesedihan”
  • https://www.kompasiana.com/nandinibratandari7364/606e180c8ede484c822d66a2/resensi-buku-novel-tokyo-dan-perayaan-kesedihan

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy