in

Review Buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong

Dari Priyayi sampai Nyi Blorong – Buku sejarah yang perlu kamu baca agar mengetahui seluk-beluk sejarah Indonesia di masa lalu. Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan kisah sejarah tentang priyayi, sistem pemerintahan di negeri ini, dan sejarah penguasa zaman dahulu yang menggunakan kekuatan gaib.

Selain itu, buku ini juga membahas mengenai kehidupan sosial masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Lalu, kepercayaan masyarakat tradisional yang masih mempercayai roh-roh gaib sehingga mempengaruhi pola pikir mereka sampai masa kini.

Membaca buku ini akan membuatmu memiliki pengetahuan baru tentang sejarah Indonesia dan menambah banyak wawasan dari masa lampau. Buku sejarah ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan milik Ong Hok Ham yang pernah diterbitkan oleh Harian Kompas pada tahun 1980-2002 dan kini diterbitkan menjadi satu buku oleh Penerbit Kompas.

Masih penasaran dengan jalan cerita yang ada di dalam buku ini? Jika iya, kamu bisa simak review singkat ini, ya. Siapa tahu, kamu jadi lebih ingin memiliki bukunya.

 

Sinopsis Buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong

Apakah bangsa ini pernah mempelajari sejarah? Jika jawabannya “Iya”, mengapa banyak sebuah persoalan yang sama, seperti bentuk korupsi dan kekerasan masih saja merajalela sampai saat ini?

Selain itu, Apakah benar jika sejarah Indonesia pada mulanya hanyalah sejarah dari suatu kekuasaan, naik ke puncak kesuksesan lalu jatuh secara tragis? Dengan adanya uraian yang bernas dan penuh catatan sejarah Ong Hok Ham, semua itu dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada.

Dengan membaca buku sejarah ini yang merupakan kumpulan artikel milik Ong Hok Ham, kita seperti sedang diajak untuk menyadari sejarah negeri ini tidaklah bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, buku ini layak dibaca untuk semua kalangan, terutama penguasa negeri ini.

 

Review Buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong

Buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara merupakan karya Ong Hok Ham. Buku ini secara keseluruhan menceritakan sejarah Indonesia dari tahun 1980-2002. Awalnya, tulisan di dalam buku ini merupakan kumpulan artikel milik Ong Hok Ham yang diterbitkan dalam Harian Kompas, namun artikel-artikel itu disatukan dan dijadikan sebagai sebuah buku.

Cek di Balik Pena : Beby Chaesara

Buku ini menceritakan mengenai sejarah-sejarah Indonesia di masa lampau, seperti masa perkembangan priyayi, sistem pemerintahan Indonesia di masa lalu, kepercayaan masyarakat tradisional pada hal-hal gaib yang mempengaruhi pola pikir mereka sampai saat ini, dan masih banyak lainnya.

Ong Hok Ham sebagai sejarawan membuat buku ini menjadi sangat bagus dan layak dibaca untuk semua kalangan. Gaya bahasa yang digunakan pun mudah dipahami sehingga memudahkan pembaca untuk memahami sejarah yang disajikan. Dapat dikatakan bahwa Ong Hok Ham menjadi sejarawan yang menulis sejarah dengan bentuk populer di Indonesia.

Membaca buku ini juga tentunya menambah wawasan baru mengenai sejarah bangsa ini. Pembaca dapat menemukan sejarah yang rumit sampai ke isu-isu kecil di dalam buku ini. Ong Hok Ham berbicara mengenai humanisme, kolonialisme sampai ke aktivitas sehari-hari seperti premanisme, hal-hal gaib, dan lainnya.

 

Profil Penulis

Buku ini ditulis oleh Ong Hok Ham. Ia merupakan seorang sejarawan Indonesia. Ia sudah banyak menulis pada kolom sejarah majalah Tempo. Semua tulisannya di majalah Tempo selama 1976-2001 dan diterbitkan pada tahun 2002. Tulisan-tulisan tersebut berjudul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.

Sebagai seorang sejarawan, ia menulis banyak artikel mengenai keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia. Lima belas dari banyak artikelnya yang dulu pernah terbit di Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa.

Ia juga pernah menjadi dosen di Universitas Indonesia. Pemikiran Ong dibuat dalam wujud sebagai pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di daerah Jakarta Timur. Ong pensiun sebagai dosen di UI pada tahun 1989. Ia meninggal dunia pada tahun 2007 karena terkena stroke. Sebelumnya, ia juga pernah terkena stroke di tahun 2001. Tetapi hal itu tidak membuatnya untuk berhenti menulis.

 

Kelebihan, Kekurangan, dan Rating

Pros & Cons

Pros
  • Terdapat banyak pengetahuan mengenai sejarah Indonesia
  • Gaya bahasa yang mudah dipahami pembaca
Cons
  • Perlu teliti dalam membacanya karena banyak sejarah yang diceritakan

 

Setiap buku tentunya ada hal yang disukai dan kurang disukai oleh pembaca. Namun, hal tersebut tidak mengurangi rasa suka pembaca pada bacaan favoritnya. Kali ini kita akan membahas kelebihan, kekurangan, serta rating yang terdapat dalam buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara karya Ong Hok Ham.

Kelebihan dalam buku ini adalah terdapat banyak pengetahuan mengenai sejarah Indonesia. Dalam buku ini, Ong Hok Ham menjelaskan banyak hal mengenai sejarah di masa lalu sehingga membuat pembaca mengetahui permasalahan sosial di masa lalu dan menjadikannya refleksi di masa sekarang.

Lalu, gaya bahasa yang mudah dipahami pembaca. Gaya bahasa yang sederhana membuat penjelasan sejarah di buku ini dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Hal itu dikarenakan tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan sebuah kumpulan artikel yang ditulis oleh Ong yang pernah terbit di Harian Kompas dan kemudian diterbitkan kembali menjadi buku.

Kekurangan dalam novel ini adalah perlu teliti dalam membacanya karena banyak sejarah yang diceritakan. Banyak sejarah, tahun, dan detail yang akan dijelaskan di dalam buku ini. Oleh karena itu, pembaca harus teliti dengan hal-hal tersebut. Namun, buku ini sangat bagus dibaca untuk menambah wawasan mengenai bangsa ini.

Buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara memiliki rating yang bagus di goodreads. Rating yang dihasilkan oleh buku ini sebesar 4.21 dari 5. Hal ini menandakan bahwa pembaca sangat menikmati isi cerita yang ditampilkan dalam buku ini.

 

Penutup

Itulah review singkat dari buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara karya Ong Hok Ham. Setelah melihat rating pembaca di goodreads, buku ini memiliki antusiasme pembaca yang cukup tinggi. Hal itu dikarenakan isi cerita dalam buku ini sangatlah menarik.

Berbagai sejarah mengenai masa lalu dicatat dengan baik dalam buku ini. Sebelum adanya buku ini, Ong Hok Ham menulis sejarah-sejarah itu di dalam sebuah artikel dan diterbitkan oleh Harian Kompas. Oleh karena itu, artikel-artikel ini sangatlah bagus dibaca untuk menambah pengetahuan baru mengenai sejarah negeri ini.

Bagi kamu yang penasaran dengan berbagai sejarah masa lalu Indonesia yang ditulis oleh Ong Hok Ham. Kamu dapat membaca buku Dari Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara dengan membelinya di gramedia.com dan dapatkan diskon menarik, ya.

 

Penulis: Fiska Rahma Rianda

 

Rekomendasi Buku

1. Sejarah Perang Salib Paling Membara

 

Buku Sejarah Perang Salib Paling Membara merupakan karya Jati Pamungkas. Perang Salib adalah sebuah periode sejarah yang paling bagus untuk dibahas. Hal itu karena perang ini melibatkan dua ideologi untuk mempertahankan dominasi dari ideologi tersebut pada kawasan Mediterania. Kedua ideologi itu adalah Islam dan Kristen.

Perang Salib merupakan perang yang terjadi antara Kristen dan berbagai kerajaan di Eropa untuk meruntuhkan dominasi Islam dengan merebut kota Yerusalem. Pengertian itu merupakan hal yang paling sering didengar dan dipahami oleh banyak orang di masa kini.

Buku ini menjelaskan Perang Salib secara objektif dengan memperlihatkan kronologi pada Perang Salib di antara tahun 1096-1365. Di dalam buku ini dinyatakan bahwa Perang Salib terjadi di dua tempat, yaitu Yerusalem (Perang Salib di Timur) dan Granada (Perang Salib di Barat). Perang di kedua tempat itu merupakan upaya gereja untuk meruntuhkan kekuasaan Islam.

 

2. Panggil Aku Kartini Saja

 

Tahun 1899 seorang perempuan berdarah ningrat menolak disapa Raden Ajeng. Sebagai putri bupati, ia sebenarnya berhak menerima penghormatan itu. Tapi ia menolaknya dengan segala alasan. Di sepucuk suratnya, perempuan itu menulis: Panggil Aku Kartini saja, itulah namaku!

Kartini yang kita tahu bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme budaya Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pelopor dari sejarah modern Indonesia”

Biografi ini mengajak mengingat Kartini, tapi bukan dari sudut pandang domestik rumah seperti dia adalah gadis pingitan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan lalu mati. Coba singkirkan kenangan itu dan alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan itu semua, melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Kartini tidak punya massa, apalagi uang.

Uang tidak akrab dengan perempuan hamba Kartini. Yang dipunyai Kartini adalah kepekaan dan keprihatinan dan ia tulislah segala-segala perasaannya yang tertekan itu. Dan hasilnya luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa didengar sampai jauh, bahkan sampai ke negeri asal dan akar segala kehancuran manusia Pribumi. Pramoedya Ananta Toer merekam itu semua dengan tajam dan penuh pesona yang kemudian membedakannya dengan uraian dan tafsir mana pun atas sosok Kartini.

 

3. Jejak Langkah

 

Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan. Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata.

Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prijaji. Dengan koran ini, Minke berseru-berseru kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: ‘Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.’

 

Sumber:

https://www.goodreads.com/id/book/show/3095382

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy