in

Review Buku Sepasang Sepatu Tua

Sepasang Sepatu Tua – Nama Sapardi Djoko Damono sudah tidak asing lagi di kalangan pembaca sastra, khususnya bagi mereka yang gemar membaca puisi. Sapardi telah menarik perhatian banyak pembaca sejak menerbitkan buku pertamanya yang berjudul DukaMu Abadi tahun 1969 hingga sekarang.

Melalui karya-karyanya, Sapardi Djoko Damono mendapat banyak penghargaan bergengsi, seperti The Putera Poetry Award tahun 1983, The Jakarta Arts Council Award tahun 1984, The Sea Write Award tahun 1986, serta The Akademi Jakarta Award tahun 2012.

Karya-karya Sapardi Djoko Damono juga telah banyak dialihwahanakan ke dalam bentuk karya lain, seperti musikalisasi puisi dan film. Sebut saja album musikalisasi Ari-Reda yang terinspirasi dari puisi-puisi karya Sapardi.

Film Hujan Bulan Juni tahun 2017 dan disutradarai oleh Hestu Putra, terinspirasi dari novel dengan judul yang sama karya Sapardi. Banyak karya Sapardi Djoko Damono yang membuat orang-orang jatuh cinta pada membaca buku.

Buku Sepasang Sepatu Tua menjadi karya Sapardi yang ke-47. Buku ini resmi diluncurkan pada tanggal 13 Maret 2019 di Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok sebagai peringatan hari jadi ke-35 perpustakaan Universitas Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek berisi karyanya yang sudah terbit sebelumnya dan karyanya yang baru.

Walaupun beberapa cerita dalam buku telah ada di karyanya yang lain, namun tidak membuat buku ini kehilangan daya tarik. Sepasang Sepatu Tua memberikan harmonisasi yang epik antara karya terdahulu dengan tulisannya yang baru. Sapardi menjelaskan jika buku ini adalah kolaborasi antara dirinya sebagai penulis, editor, dan penerbit.

Grameds, artikel ini akan mengulas mengenai buku kumpulan cerita pendek Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono. Berikut sinopsis dari buku ini.

 

Sinopsis Buku Sepasang Sepatu Tua

Judul Buku : Sepasang Sepatu Tua

Cek di Balik Pena : Beby Chaesara

Penulis Buku : Sapardi Djoko Damono

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 120

1. Sepasang Sepatu Tua

“Selama hampir sebulan dalam perjalanan selanjutnya di negeri itu, aku selalu mendengar cakap kedua sepatu itu. Meskipun bukan aku yang diajak bicara, meskipun tidak memahami sepatah kata pun yang mereka bicarakan.”  

Tokoh Aku selalu beranggapan jika sepatu lamanya yang rusak merupakan sepatu buatan India. Dia dapat mengatakan itu, karena sepatunya tidak bisa bicara. Dia kadang iri pada teman-teman kantor yang selalu membicarakan mengenai sepatu mereka yang dapat bicara. Sepatu yang dimiliki olehnya terbuat dari kulit sapi, sedangkan di India sapi adalah hewan yang suci. Tidak mungkin kulit hewan suci mau untuk diinjak-injak, itu mungkin salah satu alasan sepatunya tidak bisa bicara.

Tokoh Aku mengganti sepatu bisu dengan sepatu baru, karena tiba-tiba sepatu buatan India itu rusak. Dia membeli sepatu baru di sebuah tokoh Cina di Amerika. Bentuk dan warna sepatunya berhasil menarik perhatian, apalagi harganya yang lumayan murah. Penjualnya mengatakan jika sepatu itu merupakan produk buatan Jerman.

Hal yang selalu diinginkannya terwujud, sepasang sepatu yang baru dibelinya tidak pernah berhenti bicara. Walaupun dia tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan, tapi dia tetap senang mendengar sepasang sepatunya bisa bicara.

2. Arak-Arakan Kertas

“Aku perhatikan satu demi satu sebisanya. Ada yang jelas-jelas kertas koran bekas, ada yang bungkus rokok, ada yang kucel seperti karbon, ada yang glosi dan agak tebal, ada yang warnanya putih, ada yang jingga. Mereka semua adalah anak-anak, mereka itu semua terbuat dari kertas”. 

Tokoh aku kembali merasakan malam yang sudah lama tidak ditemuinya. Malam yang tenang dan sepi, tanpa ada suara bising dari kelompok-kelompok yang sering lewat dan menimbulkan suara gaduh yang mengganggu.

Tidak lama, dari arah timur terdengar suara berisik anak-anak, jumlahnya cukup banyak mungkin puluhan. Ada yang sedang lari-larian, menari-nari, dan ada juga yang hanya menunduk saja. Semua anak itu terbuat dari kertas.

Suara lain pun ikut terdengar, yaitu cicak di langit beranda yang sedang melahap laron. Tokoh Aku lebih suka berkhayal dengan cicak dibandingkan mendengar suara berisik dari kumpulan kertas. Barisan anak-anak yang terbuat dari kertas itu menghampirinya di depan rumah dan masuk melalui celah jeruji. Mereka berdiri dan mengucapkan selamat malam secara bersamaan.

 

Review Buku Sepasang Sepatu

 

Buku kumpulan cerita pendek Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono terbit pertama kali tahun 2019. Buku ini berisi 19 judul cerita pendek yang satu sama lainnya tidak berkaitan. Tidak ada benang merah yang menghubungkan cerita satu dengan yang lainnya. Pembaca dapat menikmati semua cerita dengan karakternya masing-masing.

Beberapa cerita di dalamnya merupakan personifikasi dari benda-benda mati yang biasa ada di kehidupan sehari-hari manusia, seperti sepatu, kertas, rumah, daun, dan sebagainya. Benda-benda tersebut mengandung pesan yang mengingatkan pembaca terhadap kehidupan di dunia. Grameds, dapat menemukan cerita dengan personifikasi benda-benda mati pada lima judul yang ada dalam buku ini, yaitu Sepasang Sepatu Tua, Arak-Arakan Kertas, Ketika Gerimis Jatuh, Rumah-Rumah, dan Daun Di Atas Pagar.

Cerita pertama dibuka dengan kisah sepasang sepatu tua yang tidak berhenti bicara. Bahkan hingga usia sepatu tersebut sudah tidak muda lagi, mereka masih terus berbicara. Hal tersebut membuat pemiliknya penasaran dengan topik yang mereka bicarakan, karena bahasa dari sepasang sepatu tidak dimengertinya. Namun, setelah usianya sama tua dengan sepatu, pemilik justru semakin sayang dan berat membuang sepatu tua yang sudah tidak layak untuk dipakai lagi.

Buku Sepasang Sepatu Tua menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca dapat lebih mudah merasakan emosi, perasaan, serta segala masalah yang terjadi pada tokoh. Pembaca seolah berperan sebagai tokoh “Aku” dan melakukan peristiwa yang terjadi dalam cerita. Cerpen yang termuat dalam buku ini juga termasuk ke dalam cerpen koran, artinya cerita-ceritanya tidak cukup panjang.

Ide cerita mengenai sepasang sepatu ini unik dan kreatif. Sapardi Djoko Damono berhasil menggambarkan cerita dengan menggunakan benda-benda mati di sekitar kita. Sapardi tidak hanya memberi ruang pada benda saja, terdapat juga pesan-pesan yang ingin disampaikan. Melalui kisah Sepasang Sepatu Tua, pembaca dapat memperoleh pelajaran untuk selalu menghargai setiap benda yang sudah dipakai, karena benda tersebut menjadi saksi dari perjalanan hidup pemiliknya.

Cerpen-cerpen selanjutnya tidak kalah memikat, seperti kisah pada judul Seorang Rekan di Kampus Menyarankan Agar Aku Mengusut Apa Sebab Orang Memilih Menjadi Gila. Judulnya saja sudah menarik perhatian, cerita yang digambarkan pun cukup unik. Sapardi ingin memberitahu bahwa setiap orang gila memiliki alasannya masing-masing untuk menjadi gila.

Pembaca juga ikut melihat sudut pandang lain dari orang gila dan kehidupan yang dilaluinya. Melalui cerita ini pembaca lebih mengerti cara memperlakukan orang-orang yang memiliki gangguan jiwa dengan layak dan tulus. Tunggu apalagi, biar bisa ikut merasakan setiap cerpen yang ada di dalam buku ini, dapatkan segera bukunya di gramedia.com.

 

Kelebihan dan Kekurangan Buku Sepasang Sepatu Tua

Pros & Cons

Pros
  • Menggunakan personifikasi dari benda-benda sekitar.
  • Cerita dalam buku tidak panjang dan tidak berbelit-belit.
  • Mengandung pesan-pesan tersirat.
Cons
  • Menggunakan gaya bahasa yang tinggi.

 

Daya tarik utama dalam buku Sepasang Sepatu Tua terdapat pada penceritaan berdasarkan personifikasi benda-benda sekitar. Gambaran mengenai rumah-rumah yang bergunjing atau obrolan sepasang sepatu tua membuat pembaca berpetualang dalam imajinasinya sendiri. Hal tersebut membuat pembaca tenggelam pada setiap kisah dalam buku ini.

Terkadang, kita selalu membayangkan bagaimana jika benda-benda mati disekitar dapat berbicara, apa yang mereka bicarakan, dan perasaan setiap benda tersebut terhadap pemiliknya. Semua itu dapat dijumpai dalam buku ini.

Alur cerita yang disampaikan tidak berbelit-belit. Topik dan peristiwa dalam buku digambarkan cukup padat dan jelas, bahkan buku ini dapat dibaca habis dalam sekali duduk. Sapardi Djoko Damono berhasil menulis 19 judul cerita pendek dalam 120 halaman saja.

Selain sudut pandang dari hal yang tidak biasa di luar diri manusia, buku ini menyajikan pesan tersirat yang baik untuk pembacanya. Seperti pada kisah Sepasang Sepatu Tua, Sapardi seolah memberi tahu bahwa apa saja yang disayangi, meski tua sekalipun tetap harus dihargai. Perbandingannya sama dengan hubungan manusia, kasih sayang antar manusia tidak akan bisa tergantikan. Oleh karena itu, penting menghargai setiap hubungan, maupun hal-hal di sekitar.

“Sepatu, istriku, dan aku, kami sama-sama sudah tua.” – Halaman 6.

Buku ini mewakili perasaan banyak pembaca mengenai pengalaman membeli sepatu atau barang lainnya. Kini orang-orang menilai sebuah barang berdasarkan harga dan mereknya. Semakin mahal barang tersebut, maka semakin tinggi pula nilainya. Model dan warna juga berpengaruh pada kelas sosial seseorang.

Apabila sebuah barang tidak sesuai dengan selera kelas sosial tertentu, maka barang itu dianggap tidak berkelas atau jelek. Penilaian terhadap kenyamanan atau kebutuhan tidak lagi penting. Orang-orang berlomba memiliki barang mewah agar setara dengan kelas sosial tertentu.

Sayangnya, untuk beberapa pembaca, buku ini termasuk ke dalam kategori sulit. Buku Sepasang Sepatu Tua menggunakan gaya bahasa yang tinggi, sehingga sulit menangkap maksud dan isi ceritanya. Beberapa diksi yang termuat dalam buku asing untuk pembaca. Sapardi Djoko Damono seolah menghadirkan bait-bait puisi dalam cerita pendek. Walaupun memiliki kalimat yang kaya akan diksi imaji dan alur cerita yang tidak begitu menegangkan, buku Sepasang Sepatu Tua tetap berhasil memikat banyak pembaca.

 

Penutup

Buku Sepasang Sepatu Tua merupakan kumpulan cerita pendek dengan kisah yang tidak biasa dan memiliki tutur penceritaan yang beraneka ragam. Melalui personifikasi benda sehari-hari, pembaca dapat berimajinasi mengenai sepatu yang bicara satu sama lain, rumah-rumah yang bergunjing, kumpulan kertas yang berisik, dan cerita dari daun di atas pagar.

Sapardi Djoko Damono berhasil mengajak pembaca untuk berpetualang dengan pikirannya sendiri. Buku Sepasang Sepatu Tua menjadi salah satu karya Sapardi Djoko Damono yang wajib dibaca. Selain mengandung cerita yang unik, terdapat juga banyak pesan baik di dalamnya.

Itulah sedikit penjelasan dan ulasan singkat mengenai buku kumpulan cerita pendek karya Sapardi Djoko Damono berjudul Sepasang Sepatu Tua. Apabila Grameds tertarik untuk membaca dan membeli buku kumpulan cerita pendek, seperti Sepasang Sepatu Tua, Grameds dapat mendapatkannya di Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

 

Penulis: Dwi Puji Lestari

 

Sumber Artikel:

  • Buku Sepasang Sepatu Tua Karya Djoko Damono
  • https://ebooks.gramedia.com/id/buku/sepasang-sepatu-tua
  • Artikel: Sapardi Djoko Damono Luncurkan Kumpulan Cerpen Sepasang Sepatu Tua
  • https://lifestyle.bisnis.com/read/20190314/254/899288/sapardi-djoko-darmono-luncurkan-kumpulan-cerpen-sepasang-sepatu-tua

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy