in

Review Novel Guru Aini: Pejuang Pendidikan

Novel Guru Aini ditulis oleh novelis ternama Indonesia, Andrea Hirata, yang dikenal karena salah satu karya pertamanya yang dinobatkan menjadi karya fenomenal dalam skala internasional pada masa itu.

Novel Guru Aini terbit pada tahun 2020, dan merupakan prekuel dari novel Orang-Orang Biasa. Novel Guru Aini menceritakan kisah perjuangan seorang guru untuk mengajar seorang anak yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah, tapi ia bercita-cita menjadi seorang dokter, agar dapat menyembuhkan ayahnya yang sakit.

Novel Guru Aini ini mengandung kisah yang sederhana, dengan menampilkan kisah yang umum terjadi di lingkungan sekitar kita. Namun, kisah tersebut dikemas sedemikian rupa oleh Andrea Hirata menjadi kisah yang seru untuk diikuti para pembaca.

Novel Guru Aini adalah buku yang dapat menginspirasi dalam bidang pendidikan. Andrea Hirata dalam novel ini membahas isu pendidikan yang terkait dengan isu ekonomi, yang mana kaum marjinal atau yang berkekurangan secara ekonomi pada umumnya tidak dapat mendapatkan pendidikan wajib yang seharusnya bisa didapatkan semua orang.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari novel yang sederhana ini. Para pembaca akan disuguhkan dengan cerita simpel yang menyenangkan, lucu, tapi juga inspiratif, edukatif, dan berkesan.

Review Novel Guru Aini: Pejuang Pendidikan

tombol beli buku

Profil Andrea Hirata – Penulis Novel Guru Aini

Andrea Hirata - Penguin Books Australia

Sumber foto: penguin.com.au

Andrea Hirata memiliki nama lengkap Andrea Hirata Seman Said Harun. Andrea Hirata lahir di Belitung, Provinsi Bangka Belitung pada tanggal 24 Oktober 1982.

Andrea Hirata menempuh pendidikan tinggi S1 di Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah lulus mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi, Andrea berhasil mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Tesis Andrea Hirata dalam bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas ternama tersebut. Andrea pun lulus dengan menjadi lulusan terbaik atau cumlaude. Tesis karya Andrea Hirata kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan tesis ini menjadi buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Andrea Hirata merupakan pegawai di PT Telkom Indonesia sejak tahun 1997 hingga sekarang. Selain itu, Andrea Hirata merupakan seorang novelis ternama Indonesia yang populer karena karya novelnya yang diangkat menjadi film layar lebar, yang berjudul Laskar Pelangi.

Andrea Hirata menulis novel tersebut bukan dengan maksud untuk menerbitkannya, melainkan untuk mengabadikan perjuangan guru tercintanya.

Diawali saat Andrea Hirata menjadi relawan untuk korban tsunami di Aceh, keinginan untuk menulis kisah pengabdian sosok inspiratornya itu memuncak. Hal itu disebabkan karena Andrea melihat berbagai bangunan yang runtuh, rumah, sekolah, dan bangunan lainnya.

Pemandangan itu sontak membuka memori masa kecilnya, yakni mengenai perjuangan guru tercintanya, Bu Mus. Andrea kemudian menulis kisah tersebut menjadi sebuah karya sastra, dan ia berhasil melahirkan novel dengan judul Laskar Pelangi dalam waktu 3 minggu saja.

Andrea pada awalnya tidak berniat untuk menerbitkan novel Laskar Pelangi, tapi entah bagaimana caranya, pada akhirnya novel itu menemukan jalannya untuk sampai ke tangan penerbit.

Novel Laskar Pelangi akhirnya terbit pada tahun 2005. Novel ini membawa Andrea kepada kepopuleran dan kesuksesan. Berbagai penghargaan berhasil diraih Andrea berkat novel Laskar Pelangi ini. Beberapa penghargaan yang diterima Andrea Hirata, yakni Khatulistiwa Literaly Award (KLA) pada tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, Netpac Critics Award, dan lain sebagainya.

Novel Laskar Pelangi kemudian diangkat menjadi film layar lebar pada tahun 2008. Seperti novelnya, film Laskar Pelangi berhasil meraih kesuksesan, bahkan dalam skala internasional.

Film Laskar Pelangi diputar di berbagai negara seperti Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, Hongkong, Singapura, dan masih banyak lainnya. Begitu banyak penghargaan yang diterima film tersebut. Film Laskar Pelangi dinobatkan sebagai salah satu film fenomenal pada tahun 2008.

Karir Andrea Hirata sebagai seorang novelis sungguh cemerlang. Kehebatannya sebagai penulis dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang ia raih dalam skala internasional.

Beberapa penghargaan yang diterima Andrea Hirata, yakni menjadi pemenang pertama penghargaan sastra New York Book Festival tahun 2013, pemenang pertama di Buchawards, Jerman tahun 2013, pemenang seleksi crrita pendek di majalah sastra Washington Square Review, Amerika tahun 2011, dan diberikan gelar Doktor Honoris Causa di bidang sastra oleh University of Warwick, United Kingdom.

Hingga saat ini, Andrea Hirata masih terus berkarya menerbitkan buku-buku yang mayoritas populer di masyarakat. Jumlah karya buku yang ditulis Andrea Hirata sampai saat ini mencapai 14 buku. Memang kepiawaian Andrea Hirata dalam membuat cerita dan menuliskannya tidak usah diragukan lagi.

Review Novel Guru Aini: Pejuang Pendidikan

tombol beli buku

Sinopsis Novel Guru Aini

Desi Istiqomah sudah mencintai pelajaran matematika sejak dia duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Desi memperlihatkan buku catatannya ke tengah meja guru matematikanya, Bu Amanah, “Ini persamaan hidupku sekarang, Bu,”. Bu Amanah tersenyum lebar ketika melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang diberikan nama sendiri oleh Desi. x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Hal yang menarik perhatian Bu Amanah adalah konstanta a: pengorbanan. Desi menjelaskan “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah”.

Kecintaannya terhadap matematika membawanya mendapatkan nilai sempurna ketika lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Desi memiliki cita-cita untuk mendedikasikan dirinya menjadi seorang guru matematika. Cita-cita Desi ini didasarkan pada keinginannya untuk memberantas kebodohan dalam pelajaran matematika, yang selama ini menjadi pelajaran yang dinilai paling sulit dan menimbulkan paling banyak kegagalan dalam nilai rapor siswa.

Cita-cita Desi terhalang oleh restu orang tuanya. Orang tua Desi menginginkan anaknya yang merupakan lulusan terbaik itu untuk melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi atau Fakultas Kedokteran. Namun, Desi tetap berpendirian teguh dan menyatakan keinginannya secara jelas bahwa ia ingin menjadi seorang guru matematika.

Desi kemudian melanjutkan kuliah ikatan dinas D3 guru matematika. Masa kuliah Desi berjalan dengan sangat baik, Desi lulus dengan menyandang gelar sebagai lulusan terbaik. Lalu Desi pun akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri dan siap untuk ditempatkan di suatu wilayah di Pulau Sumatera sebagai bentuk pengabdiannya.

Desi memiliki hak untuk memilih ingin ditempatkan di wilayah Sumatera mana pun yang ia suka. Namun, Desi menginginkan untuk ditempatkan secara acak seperti teman-temannya. Maka itu, Desi akhirnya mengikuti undian penempatan dinas. Hasil undian Desi menyatakan ia akan melaksanakan dinas di kota Bagan Siapi Api, tetapi ia menukar hasil undiannya tersebut dengan temannya, Salamah.

Desi merasa iba dengan Salamah yang sampai menangis ketika mengetahui bahwa ia ditempatkan di pulau terpencil di Sumatera, yakni di Tanjong Hampar. Selain itu, Desi juga menginginkan tantangan dan merasa siap untuk ditempatkan di mana pun, sekali pun itu di tempat pelosok.

Orang tua Desi pun ikhlas, karena melihat tekad putrinya untuk menjadi guru matematika itu sangat kuat. Namun, orang tua Desi sempat merasa cemas ketika mengetahui bahwa Desi ditempatkan di wilayah pelosok yang tak pernah mereka ketahui namanya.

Walaupun keadaan Desi saat itu dapat terbilang sukses dan ia dapat mengajar di wilayah mana pun yang ia inginkan, keinginan Desi untuk memberantas kebodohan begitu besar. Jadi, Desi tidak peduli jika ia harus mengajar di sekolah di wilayah pelosok mana pun itu. Sebab, di mana pun itu, Desi akan melaksanakan tugasnya dan mencerdaskan anak bangsa.

Desi juga berpikir bahwa menjadi seorang guru di desa pelosok dapat membawanya untuk membuktikan bahwa menjadi guru adalah sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan untuk membagikan ilmu, wawasan, dan mengembangkan mimpi, tanpa peduli akan pandangan rendah masyarakat terhadap guru. Pandangan seperti terhadap gaji guru, bagaimana apresiasi masyarakat terhadap guru, dan lain sebagainya.

Konon kata banyak orang yang tidak berlandaskan penelitian yang valid, secara umum idealisme anak muda yang baru lulus dari perguruan tinggi akan bertahan paling lama 4 bulan saja. Setelah itu, mereka akan menjadi penggerutu, pengeluh, dan penyalah seperti kebanyakan orang lainnya. Lalu, mereka akan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi secara menyedihkan, serta mereka akan tunduk dengan patuh pada sistem yang buruk.

Dalam kenyataan hidup kebanyakan orang yang seperti itu, seberapa lama dan seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya untuk menjadi guru matematika di sekolah pelosok?

Akhirnya, tiba lah pada waktu untuk penempatan Bu Desi di sekolah. Desi pun pergi menuju Pulau Tanjung Hampar yang ada di ujung selatan Pulau Sumatera, tepatnya di Kampung Ketumbi. Perjalanan Desi menuju Kampung Ketumbi tidak mudah, ia harus menghabiskan waktu perjalanan selama 6 hari dan 6 malam, dengan naik kapal bermuatan kayu.

Sempat terlintas ras menyesal di benak Desi, karena ia menukar hasil undian miliknya dengan temannya. Desi lelah, dan juga mabuk laut. Namun, rasa lelahnya itu menghilang seketika ia melihat buku kalkulus yang ada di hadapannya.

Setelah turun dari kapal, Desi masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ketumbi melalui jalur darat, sejauh 100 kilometer. Desi naik angkutan darat berupa bus reot yang jalannya sudah terseok-seok.

Akhirnya, sampai lah Desi di Kampung Ketumbi. Kehadirannya disambut secara hangat oleh para warga Kampung Ketumbi. Mereka berseru dan memanggil Desi dengan sebutan Bu Guru. Desi yang mendengarnya menjadi kembali semangat dan penuh energi, serta melupakan rasa lelah akibat perjalanan yang telah ditempuhnya.

Bu Desi ditempatkan di Sekolah Menengah Atas Ketumbi. Murid-murid di SMA Ketumbi lebih parah dibandingkan bayangan Desi. Sebab, sebagian besar murid SMA Ketumbi anti dan takut terhadap pelajaran matematika. Desi sempat merasa gagal karena para murid benar-benar tidak menyukai matematika sedikit pun. Namun, Bu Desi tetap gigih untuk memenuhi tujuannya untuk memberantas kebodohan.

Di sekolah tersebut, Bu Desi memiliki seorang anak murid bernama Aini. Aini merupakan anak yang sama sekali tidak mengerti tentang pelajaran matematika. Nilai Aini di pelajaran matematika sangat buruk sejak ia duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang di sekolah menengah atas ini.

Namun, Aini memiliki mimpi untuk menjadi seorang dokter ahli saraf. Mimpi ini muncul, karena Aini melihat kondisi ayahnya yang sakit parah. Keluarga Aini berkekurangan secara ekonomi, maka itu Aini tidak bisa membawa ayahnya berobat ke dokter.

Oleh sebab itu, Aini memiliki tekad untuk menjadi seorang dokter, agar dapat menyembuhkan penyakit ayahnya. Aini mengerti bahwa untuk menjadi seorang dokter, Aini harus menguasai pelajaran matematika. Maka itu, Aini kemudian mendaftar untuk dapat masuk kelas Bu Desi, karena Bu Desi merupakan guru matematika paling jenius di sekolah itu

Aini belajar mati-matian, begitu giat, dengan tekad bulat, dan dibantu juga oleh Bu Desi, guru matematikanya. Walaupun nilai matematika Aini masih jelek selama proses belajarnya, dan ia sempat menjadi murid dengan nilai paling rendah di kelas, Aini tetap berjuang dan pantang menyerah.

Ia terus dan terus belajar, hingga pada akhirnya usahanya terbayarkan. Aini pada akhirnya menjadi ahli dalam pelajaran matematika. Namun, untuk menjadi seorang dokter ternyata tidak bisa hanya dengan ahli dalam pelajaran matematika.

Untuk menjadi seorang dokter dibutuhkan modal juga berupa biaya yang cukup besar. Akibat keterbatasan Aini dalam ekonomi, pada akhirnya mimpi Aini menjadi dokter menjadi tertunda. Aini harus berusaha mengumpulkan biaya hingga cukup untuk masuk ke Fakultas Kedokteran.

Review Novel Guru Aini: Pejuang Pendidikan

tombol beli buku

Kelebihan Novel Guru Aini

Novel Guru Aini ini kisahnya sangat sederhana yang umum terjadi di lingkungan sekitar, tetapi Andrea Hirata dapat menuliskannya sebagai kisah yang hebat dan seru untuk dibaca. Andrea Hirata menggunakan gaya bahasa sehari-hari tapi menarik, sehingga mudah dimengerti oleh para pembaca.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari kisah sederhana dalam novel Guru Aini ini. Andrea Hirata mengangkat beberapa isu penting yang ada di Indonesia, yakni isu mengenai pendidikan yang terkait dengan isu ekonomi. Andrea Hirata melalui novel ini ingin menekankan bahwa seharusnya pendidikan di Indonesia bisa dengan mudah didapatkan oleh seluruh orang.

Sebab, memang menjadi hak bagi semua orang untuk dapat mendapat pendidikan. Namun, memang tak bisa dipungkiri, lapisan sosial yang ada di masyarakat menyebabkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan pendidikan dengan mudah. Sistem pendidikan juga bergantung pada ekonomi untuk dapat berjalan.

Para pembaca akan disuguhkan dengan selingan adegan komedi dan alur yang tidak terduga dalam novel ini. Maka itu, para pembaca akan merasa terus penasaran akan kelanjutan kisah Bu Desi dan Aini dan dapat merasa antusias ketika membaca novel ini.

Kekurangan Novel Guru Aini

Oleh karena novel ini merupakan novel prekuel dari novel Orang-Orang Biasa, para pembaca yang ingin membaca novel ini harus membaca novel Orang-Orang Biasa terlebih dahulu, agar dapat memahami makna cerita novel Guru Aini dengan lebih mendalam.

Terdapat beberapa penjelasan adegan yang terlalu berlebihan dan kurang efektif bahasanya. Hal ini kemudian dapat membuat para pembaca merasa adegan tersebut menjadi kurang bermakna.

Pesan Moral Novel Guru Aini

Jika kita ingin berusaha, tidak ada hal yang mustahil untuk kita lakukan. Seperti Aini yang tidak pintar matematika, tapi ia terus berusaha untuk belajar dengan tekad bulat untuk menggapai cita-cita. Ia tidak menyerah meskipun memiliki keterbatasan. Jangan jadikan keterbatasan menjadi suatu hambatan bagi dirimu untuk berkembang, tetapi jadikan lah keterbatasan tersebut sebagai acuan bagi dirimu untuk berusaha lebih keras lagi.

“Apa pun yg tak dapat membunuhmu, akan membuat dirimu semakin kuat”

Semasa hidupmu, selagi kamu masih bisa bernapas, segala hal negatif yang kamu lalui akan menempa dirimu menjadi manusia yang baru. Jadi, jangan biarkan pengalaman negatif meruntuhkanmu, karena kamu harus bertahan hidup. Buktikan bahwa segala pengalaman negatif yang terjadi kepadamu akan membuat dirimu terlahir kembali menjadi lebih kuat.

Pendidikan adalah sebuah keuntungan. Pendidikan yang seringkali dianggap sebagai hal biasa, bahkan membuat sebagian orang malas untuk menjalaninya, merupakan hal yang diidamkan oleh orang lain. Kita harus menyadari bahwa kita yang dapat memperoleh pendidikan adalah orang yang beruntung, dan menjalaninya dengan sepenuh hati.

Bagi kalian yang ingin membaca kisah inspiratif perjuangan Bu Desi dan Aini, kalian bisa mendapatkan novel Guru Aini karya Andrea Hirata di www.gramedia.com.

Review Novel Guru Aini: Pejuang Pendidikan

tombol beli buku

Written by Gabriel