Bahasa Indonesia Sastra

Pengertian Sastra: Jenis, Fungsi, dan Periodisasi Perkembangan Sastra di Indonesia

Written by Rifda Arum

Pengertian Sastra – Eksistensi sastra tidak akan lepas kehidupan manusia sehari-hari. Hal tersebut karena manusia dapat menjadi subjek sekaligus objek dalam sebuah sastra.

Sastra tidak hanya sebatas pada sebuah tulisan di lembaran kertas saja, tetapi juga turut berperan penting dalam kehidupan manusia sejak dahulu kala. Melalui sastra, manusia dapat menyampaikan aspirasinya kepada orang lain, mulai dari masyarakat hingga pemerintah.

Tidak perlu bingung mengenai bagaimana bentuk sastra, karena “mereka” dapat ditemukan dan berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita lho… 

Sejak masih kecil hingga sudah besar seperti sekarang ini, pasti Grameds sering menjumpai atau bahkan membuat sebuah karya sastra. Hal itu mungkin saja karena karya sastra juga menjadi bahan pembelajaran ketika di sekolah.

Lalu sebenarnya, apa sih pengertian dari sastra? Apakah hanya sekadar tulisan di lembaran kertas saja? Lalu apa hal-hal yang membuat sebuah tulisan itu dapat disebut sebagai sastra?

Apabila Grameds belum memahaminya, yuk simak ulasan berikut!

Pengertian Sastra

Kata “Sastra” dalam Bahasa Indonesia, sebenarnya mengambil istilah dari bahasa Sansekerta yaitu “shastra”. Kata “sas” memiliki makna instruksi atau pedoman, dan “tra” berarti alat atau sarana.

Dalam pemakaiannya, kata “sastra” sering ditambah awalan su sehingga menjadi susastra. Awalan su tersebut memiliki makna baik atau indah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kata “susastra” berarti hasil karya yang baik dan indah.

Sebelumnya, telah banyak ahli sastra yang menyampaikan pendapatnya mengenai pengertian dari sastra, yakni sebagai berikut:

Menurut Plato, sastra merupakan hasil tiruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Hal tersebut karya sebuah karya sastra harus merupakan bentuk teladan alam semesta sekaligus menjadi model kenyataan kehidupan manusia sehari-hari.

Lalu, menurut Sapardi Djoko Damono (1979), sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra juga menampilkan gambaran kehidupan manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataan sosial.

Kemudian, menurut Mursal Esten (1978), sastra merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai bentuk perwujudan (manifestasi) dari kehidupan manusia dan masyarakat. Dalam sastra, penyampaiannya menggunakan bahasa dan memiliki efek positif bagi kehidupan manusia.

Selanjutnya, menurut Taum (1997), sastra adalah bentuk karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif dan menggunakan bahasa yang indah serta keberadaannya dapat berguna untuk hal-hal lain.

Terakhir, menurut Semi (1988), sastra merupakan bentuk dan hasil pekerjaan seni secara kreatif yang menggunakan manusia dan kehidupannya sebagai objek sastra. Selain itu, dalam sastra juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Melalui pengertian-pengertian sastra yang disampaikan oleh beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah hasil karya manusia yang menceritakan mengenai kehidupan manusia dan disampaikan melalui bahasa.

Beli Buku di Gramedia

Jenis-Jenis Sastra

Menurut Faruk (2014), keberadaan sastra memiliki beragam jenis, bergantung dari sudut pandang apa yang kita gunakan untuk menilai karya sastra tersebut. Sebelumnya telah disebutkan bukan bahwa sebuah karya sastra itu merupakan karya fiktif yang mengandalkan imajinasi manusia.

Karya sastra dapat dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan zaman pembuatan karya sastra tersebut, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru.

1. Karya Sastra Lama

Karya sastra lama ini lahir dari masyarakat Indonesia secara turun-menurun. Dalam karya sastra lama ini biasanya berisi tentang nasihat, ajaran agama, hingga ajaran moral. Hal tersebut karena karya sastra lama diciptakan oleh nenek moyang dan disebarkan secara anonim.

Contoh karya sastra lama misalnya pantun, gurindam, dongeng, mitos, legenda, dan lain-lain.

2. Karya Sastra Baru

Sebuah karya sastra baru biasanya sudah berbeda dengan karya sastra lama dan tidak dipengaruhi oleh adat kebiasaan masyarakatnya. Karya sastra baru ini cenderung dipengaruhi oleh karya sastra Barat dan Eropa.

Dalam karya sastra baru memiliki banyak genre sesuai dengan realitas sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Contoh karya sastra baru adalah novel romantis, komik, dan lain-lain.

Beli Buku di Gramedia

Fungsi Karya Sastra

Karya sastra tidak hanya dapat dijadikan sebagai bahan bacaan ketika waktu senggang saja. Sebuah karya sastra mempunyai banyak fungsi yang secara tidak langsung dapat menampilkan kehidupan yang lain.

Menurut Kosasih (2012), sastra mempunyai beberapa fungsi yang digolongkan dalam lima besar, yakni sebagai berikut:

1. Fungsi Rekreatif

Karya sastra selalu dapat memberikan rasa senang, gembira, serta menghibur bagi beberapa orang yang menikmati isi bacaannya. Misalnya, melalui membaca sebuah cerita sastra, seseorang dapat melupakan sejenak masalah hidupnya.

2. Fungsi Didaktif

Karya sastra tidak hanya melulu membahas fiksi yang menghibur, tetapi juga dapat mendidik pembacanya mengenai mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Melalui membaca sebuah karya sastra, pembaca juga dapat memperoleh pengetahuan baru karena setiap karya sastra selalu membahas mengenai realitas sosial yang terjadi.

3. Fungsi Estetis

Fungsi estetis ini berarti sebuah karya sastra dapat memberikan nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai keindahan tersebut dapat dilihat dari kata-kata yang digunakan dalam tulisan karya sastra.

4. Fungsi Moralitas

Sebuah karya sastra pasti mengandung nilai moral yang tinggi dan diperuntukkan bagi pembacanya. Nilai-nilai moral tersebut dapat berupa keyakinan terhadap Tuhan, adil, menghargai sesama, tolong menolong, kasih sayang, dan lain-lain.

Contoh karya sastra Indonesia yang mengandung nilai moral tinggi adalah sastra yang berjudul “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli yang secara tidak langsung memberikan nilai moral mengenai cinta dan budaya masyarakat.

5. Fungsi Religiusitas

Karya sastra kerap kali memuat ajaran agama dan dapat dijadikan teladan bagi pembacanya. Bangsa Indonesia yang menganut Pancasila sebagai dasar negara, pada sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Maka dari itu, pastilah setiap karya sastra akan ada muatan ajaran agama karena karya sastra adalah hasil budaya masyarakat yang beragama.

Beli Buku di Gramedia

Periodisasi Sastra di Indonesia

Keberadaan sastra di Indonesia telah berkembang dari zaman ke zaman. Hal itu membuktikan bahwa sastra merupakan salah satu aspek penting yang “bermain” dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Periodisasi sastra ini adalah penggolongan sastra yang didasarkan pada waktu awal munculnya sastra dengan perkembangannya. Periodisasi sastra ini dapat dilihat dari adanya ciri-ciri sastra yang selalu dikaitkan dengan situasi sosial dan pandangan pengarang terhadap hal tersebut.

Telah disampaikan sebelumnya bahwa sastra selalu menggambarkan kehidupan manusia termasuk realitas sosial yang terjadi. Pandangan pengarang terhadap adanya realitas sosial tersebut menjadi objek karya kreatif sastra.

Nah, periodisasi sastra di Indonesia ini diklasifikasikan menurut perkembangan zaman oleh beberapa tokoh. Perhatikan ulasan mengenai periodisasi sastra berikut ya!

H.B Jassin

Menurut H.B Jassin, perkembangan sastra di Indonesia dibagi ada periode sastra Melayu Lama dan periode sastra Indonesia Modern.

1. Periode Sastra Melayu Lama

2. Periode Sastra Indonesia Modern

a) Angkatan Balai Pustaka

b) Angkatan Pujangga Baru

c) Angkatan ‘45

d) Angkatan ‘66

Usman Effendy

Beliau menggolongkan perkembangan sastra di Indonesia menjadi tiga babak, yakni sebagai berikut:

  1. Kesusastraan Lama
  2. Kesusastraan Baru
  3. Kesusastraan Modern

Sabaruddin Ahmad

Menurut Sabaruddin Ahmad, periodisasi perkembangan sastra di Indonesia dibagi menjadi 2 babak, yakni sebagai berikut:

1. Kesusastraan Lama (Dinamisme, Hinduisme, dan Islamisme)

2. Kesusastraan Baru

a) Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi

b) Masa Balai Pustaka

c) Masa Pujangga Baru

d) Masa Angkatan ‘45

Ajip Rosidi

Beliau menggolongkan periodisasi perkembangan sastra di Indonesia menjadi 2 babak, yakni sebagai berikut:

1. Masa Kelahiran Sastra

  • Periode awal abad XX-1933
  • Periode 1933-1942
  • Periode 1942-1945

2. Masa Perkembangan Sastra

  • Periode 1945-1953
  • Periode 1953-1960
  • Periode 1960-sekarang

Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, periodisasi perkembangan sastra di Indonesia terbagi menjadi beberapa golongan, yakni sebagai berikut:

1. Kesusastraan Melayu Lama

2. Kesusastraan Indonesia Modern

a) Zaman Kebangkitan Sastra: pada tahun 1920, 1933, 1942, dan 1945

b) Zaman Perkembangan Sastra: pada tahun 1945, 1950, hingga waktu sekarang

Simorangkir Simanjuntak

Beliau membagi perkembangan sastra di Indonesia menjadi beberapa babak, yakni sebagai berikut:

  1. Kesusastraan Masa Purba: sebelum munculnya pengaruh Hindu
  2. Kesusastraan Masa Hindu/Arab: mulai adanya pengaruh Hindu sampai pada kedatangan agama Islam ke Nusantara
  3. Kesusastraan Masa Islam
  4. Kesusastraan Masa Baru
  • Kesusastraan Masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
  • Masa Balai Pustaka
  • Masa Pujangga Baru
  • Kesusastraan Masa Mutakhir: pada tahun 1942-sekarang

Nah, itulah pembagian periode perkembangan sastra di Indonesia yang dicetuskan oleh beberapa tokoh. Dari uraian periodisasi perkembangan sastra tersebut, banyak disebutkan adanya Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, dan lain-lain.

Apa itu angkatan Balai Pustaka? Apa pula itu Angkatan Pujangga Baru?

Supaya Grameds lebih memahaminya, yuk simak penjelasan berikut!

Angkatan Pujangga Lama

Angkatan Pujangga Lama ini terjadi sebelum abad ke-20. Pada masa tersebut, karya sastra didominasi dengan syair, pantun, gurindam, hikayat, dan lain-lain. Bahkan hingga sekarang, masih terdapat beberapa upacara adat yang menggunakan pantun sebagai salah satu syaratnya.

Dalam sebuah hikayat biasanya dibacakan sebagai hiburan dan pelipur lara untuk membangkitkan semangat juang pembacanya. Hal itu karena sebuah hikayat umumnya mengisahkan mengenai kehebatan atau kepahlawanan seseorang.

Beli Buku di Gramedia

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pustaka ini berkembang pada tahun tahun 20-an. Biasanya, pengarang pada masa itu mempunyai keinginan luhur untuk memberikan pendidikan budi pekerti dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui sebuah bacaan.

Sebenarnya, pada masa ini, angkatan sastra banyak didirikan oleh orang-orang Belanda. Tujuan mereka bukan hanya ingin mengembangkan dan memajukan sastra Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan politik juga.

Karya sastra pada Angkatan Balai Pustaka biasanya menggunakan tema yang selaras dengan budaya kala itu, yakni mengenai kawin paksa. Peristiwa-peristiwa mengenai kawin paksa telah banyak dilakukan oleh masyarakat bahkan menjadi kebudayaan dalam suatu daerah tertentu.

Berikut adalah beberapa pengarang yang terkenal pada Angkatan Balai Pustaka, yakni:

  • Abdul Muis

Abdul Muis terkenal dengan novelnya yang berjudul Salah Asuhan pada tahun 1928. Karya sastra Salah Asuhan menceritakan mengenai perjodohan dan budaya setempat.

  • Marah Rusli

Marah Rusli terkenal akan novelnya yang berjudul Siti Nurbaya. Bahkan hingga saat ini, novel tersebut masih terkenal dan menjadi ikon perjodohan.

  • Nur Sutan Iskandar

Beliau menghasilkan banyak karya sastra, berupa novel sejarah, novel psikologi, novel adat, dan sebagainya.

Angkatan Pujangga Baru (1933-1942)

Bulan Juli 1933 merupakan tonggak berdirinya sastra angkatan Pujangga Baru dan saat itu juga terbitlah majalah dengan nama Pujangga Baru.

Pada angkatan Pujangga Baru ini, ciri khas yang paling menonjol adalah sebagian besar karya sastranya (baik itu prosa maupun puisi) mengandung suasana romantis. Tema yang digunakan pun tidak hanya melulu mengenai kawin paksa seperti sebelumnya, tetapi sudah berganti menjadi masalah kehidupan masyarakat modern.

Novel-novel yang populer pada masa itu ada banyak, misalnya:

  • Manusia Baru (Sanusi Pane), yang menceritakan mengenai masalah perubahan
  • Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana), yang menceritakan mengenai kedudukan wanita
  • Belenggu (Armijn Pane), yang menceritakan mengenai kedudukan suami istri dalam hubungan rumah tangga

Pada angkatan ini, juga terdapat dua kelompok sastrawan yang dibagi atas kelompok “Seni Untuk Seni’ dan kelompok “Seni Untuk Rakyat”.

  1. Kelompok “Seni Untuk Seni”

Kelompok ini dipelopori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah. Bahkan tokoh Tengku Amir Hamzah juga disebut sebagai seorang sastrawan raja penyair pujangga baru.

  1. Kelompok “Seni Untuk Rakyat”

Kelompok ini dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.

Beli Buku di Gramedia

Angkatan ‘45 (Angkatan Kemerdekaan)

Pada angkatan ‘45 ini terjadi pada 1942-1945, di mana pada masa tersebut telah bangkit dan terintegrasi sastra yang ada di Indonesia.

Karya sastra yang berkembang pada periode ini bersifat lebih realistis dibandingkan karya sastra angkatan sebelum-sebelumnya. Pada angkatan ‘45 ini diwarnai dengan adanya permasalahan sosial seperti korupsi, penyelewengan, ketidakadilan, hingga kemerosotan moral dan budaya dalam masyarakatnya.

Penulis populer pada angkatan ‘45 yakni Chairil Anwar, Idris Mochtar Lubis, Trisno Sumardjo, dan M. Balfas.

Angkatan 50-an

Pada masa ini, ditandai dengan terbitnya sebuah majalah sastra berjudul Kisah yang dipelopori oleh H.B Jassin. Majalah Kisah tersebut bertahan sampai tahun 1946 dan diteruskan dengan majalah sastra lain.

Ciri khas dari angkatan sastra tahun 1950-an ini adalah karya sastra yang mendominasi adalah cerita pendek dan kumpulan puisi. Dalam majalah Kisah pun juga banyak memuat mengenai cerpen dan puisi.

Beli Buku di Gramedia

Angkatan ‘66

Pada periode ini, ditandai dengan terbitnya sebuah majalah sastra bernama Horizon. Majalah Horizon ini menjadi majalah sastra satu-satunya yang terbit di Indonesia sehingga hampir seluruh halamannya berisi tulisan karya sastra.

Sastrawan pada kala itu menganggap bahwa majalah Horizon menjadi standar perkembangan sastra di Indonesia sekaligus menjadi sasaran tuntutan dalam adanya sebuah majalah sastra.

Lalu, pada awal tahun 1970-an, seorang sastrawan wanita, Marga T mengumumkan bahwa novelnya dimuat dalam koran Kompas. Hal itu turut menjadi jaminan bagi lakunya suatu penerbitan untuk menerbitkan sebuah karya sastra.

Angkatan ‘80-an

Pada masa ini, perkembangan karya sastra ditandai dengan banyaknya sastra yang menceritakan mengenai roman percintaan. Karya sastra tersebut disebarluaskan melalui majalah dan penerbitan umum.

Sastrawan yang paling menonjol pada kala itu adalah Mira W dan Marga T. Karya sastra mereka populer dengan bentuk fiksi romantis dengan tokoh utamanya adalah seorang wanita.

Pada tahun  1980-an ini juga, muncul sastra beraliran pop yang dipelopori oleh Hilman dengan serial sastranya berjudul Lupus.

Angkatan Reformasi hingga Sekarang

Pada masa ini, ditandai dengan munculnya banyak karya sastra seperti puisi, cerpen, maupun novel dengan berbagai genre dan tema. Tema yang paling sering digunakan adalah seputar reformasi, sesuai dengan realitas sosial yang terjadi kala itu di masyarakat.

Nah, itulah penjelasan mengenai pengertian hingga periodisasi perkembangan sastra di Indonesia. Apakah Grameds berniat untuk menciptakan genre baru untuk sastra di masa depan?

Jangan lupa untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia dengan terus menulis dan membaca karya sastra ya….

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

 

Beli Buku di Gramedia



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien