in

Resensi Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri, Masa Lalu dan Takdir

Mencintai diri sendiri. Tiga kata sederhana yang terdengar mudah, namun kenyataannya banyak dari masyarakat modern saat ini mengalami kesulitan dalam melakukan self-love. Mengapa begitu?

Berbagai tekanan yang paling mainstream dihadapi orang kebanyakan, bisa berasal dari lingkungan kerja baik perilaku dan juga beban pekerjaan, serta dari inner bahkan outer circle. Banyaknya tekanan yang terakumulasi dalam pikiran kita kadang menyebabkan stres dan juga membuat kita menjadi sering melupakan pentingnya mencintai diri.

Alih-alih mencintai diri kita cenderung menyalahkan diri sendiri dan berbagai pemikiran negatif tentang diri sendiri yang membuat kita membenci diri. Kalau sudah begitu, orang lain akan kesulitan menghargai kita saat kita sendiri tidak mampu menghargai diri sendiri.

Isu ini tentunya sudah menjadi hal yang besar sehingga ada begitu banyak buku motivasi yang mengulas isu serupa supaya menjadi bahan referensi masyarakat saat ini untuk lebih menyadari pentingnya kita mencintai diri sendiri.

Berbicara soal buku, rangkaian seri buku motivasi yang bisa menjadi rekomendasi Grameds untuk membaca dikala sedang susah maupun senang yakni seri Berdamai Dengan Diri Sendiri, Berdamai Dengan Masa Lalu dan Berdamai Dengan Takdir.

Ketiga buku tersebut merupakan keluaran Psikologi Corner Indonesia yang terkenal sering mengeluarkan seri buku motivasi yang laris di Indonesia. Banyak pembaca yang juga tertarik bahkan mengkoleksi keseluruhan serinya, ada pula yang memilih untuk membaca beberapa saja.

Selain ketiga buku tersebut, sebenarnya ada masih banyak lagi buku motivasi lain pada seri Berdamai ini yang juga mengangkat isu yang masih berkesinambungan. Buku lainnya seperti Berdamai Dengan Kegagalan karya Dewi Indra P, Berdamai dengan Emosi karya Asti Musman, Berdamai Dengan Rasa Malas karya Munita Yeni, Berdamai Dengan Kenyataan Hidup karya Dewi Indra dan masih banyak lagi.

Tentang Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri: Seni Menerima Diri Apa Adanya

Ada kalanya manusia merasakan segala keresahan diri saat memasuki usia dewasa dimana orang-orang yang berada di circle mulai beranjak meninggalkannya, baik untuk pekerjaan atau kehidupan pernikahan. Hal inilah yang juga dialami oleh Muthia Sayekti sebagai penulis buku Berdamai Dengan Diri Sendiri.

Buku yang termasuk dalam jenis pengembangan diri ini merupakan salah satu buku terlaris di antara seri Berdamai. Buku yang mulai di rilis pada 2017 ini, merupakan buku yang ditulis atas pengalaman pribadi Muthia Sayekti yang pernah mengalami krisis percaya diri.

Melalui buku ini seolah menjadi jembatan Muthia yang menyembuhkan dirinya sendiri dari kesedihannya. Buku dengan sampul buku putih dengan dua bidak catur berwarna hitam dan putih, seolah menjadi representasi diri manusia yang juga memiliki sisi hitam dan putih dalam dirinya.

Profil Penulis

Muthia Sayekti adalah seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di Klaten. Perempuan yang lahir di Semarang ini merupakan alumni Universitas Sebelas Maret Solo sebagai sarjana sastra inggris.

Selepas dari menempuh pendidikannya, Muthia bekerja menjadi pengajar di salah satu Instansi Swasta. Dari sinilah awal mula yang menjadi triger dimana dirinya merasakan keresahan yang dia rasakan.

Muthia sendiri mengaku pernah berada pada titik dimana dirinya merasa kecil dibandingkan kawan-kawan seperjuangannya yang perlahan menjauh dari inner circle Muthia. Dalam satu situasi, Muthia sempat merasakan bahwa hidupnya sudah berjalan dengan cukup baik.

Hingga pada suatu saat teman-teman yang dari dulu bersamanya, perlahan mulai pergi untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, bekerja di luar negeri hingga menikah. Tentu di usia mendekati 30 dimana itu adalah periode yang amat pelik utamanya bagi para perempuan seperti Muthia saat itu.

Dirinya sempat merasa selangkah di belakang teman-temannya, merasa jauh lebih tertinggal dari segala aspek. Namun, rupanya menuliskan seluruh pemikirannya mampu menjadi titik balik bagi hidup Muthia. Dia menyadari apa yang sempat dilupakan, rasa bersyukur atas diri sendiri.

Dari sana Muthia mulai menuliskan buku yang kini menjadi laris manis di kalangan pembaca buku motivasi, terutama orang-orang di antara usia krusial yakni 25-35 seperti yang dirasakan Muthia dahulu.

Sinopsis

Berdamai Dengan Diri Sendiri, merupakan buku motivasi mengenai pengembangan diri yang mengangkat isu yang paling relevan saat ini, quarter life crisis. Siapapun yang menuju usia matang dan mulai produktif di dunia kerja tentu akan melewati masa-masa penuh keresahan yang mirip.

Tidak hanya perempuan saja, namun laki-laki juga bisa. Segala keresahan yang ada dan mungkin pernah kamu rasakan bisa jadi sama dengan apa yang dituliskan Muthia pada bukunya ini. Buku ini membahas seputar bagaimana caranya kita sebagai individu mampu memahami serta berdamai dengan diri sendiri.

Berdamai disini maksudnya adalah menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada di dalam diri sendiri. Menerima kenyataan yang terjadi pada kita, dan mengubah cara pandang kita pada sisi yang jauh lebih positif.

Kadang karena banyaknya tekanan yang kita alami, kita menjadi lupa akan segala potensi dan hal positif yang kita miliki. Oleh karena itu, penting untuk mengalihkan fokus untuk merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri, seperti yang dilakukan Muthia Sayekti.

Penulis memaparkan cara untuk mengubah point of view kita yang seringkali salah, dan justru memicu munculnya tekanan pada diri sendiri. Dengan mengalihkan fokus pada hal-hal positif saja, akan membantu manusia menggali potensi yang selama ini mungkin terkubur di dalam diri masing-masing.

Terutama bagi mereka yang sedang berusaha bertahan di fase paling rumit menjadi dewasa, yakni quarter life crisis yang biasa dimulai sejak usia 25 tahun. Sejumlah tumpukan keresahan yang ‘wajar’ jika dibiarkan terlalu lama akan menjadi hal yang kurang baik juga.

Maka dari itu, Muthi Sayekti mengajak kita untuk terus mengingatkan diri, allih-alih terlalu tenggelam dalam keresahan soal pekerjaan, pencapaian dan status lebih baik fokus pada hal yang bisa kamu kembangkan untuk menjadi versi terbaik dirimu.

Kalau sudah begitu, maka kamu akan merasakan ketenangan serta kebahagiaan karena life goals mu satu persatu mulai tercapai. Daripada sibuk memikirkan hidup orang lain, lebih baik kamu fokus untuk mewujudkan mimpi-mimpi kamu, seperti Muthia Sayekti!

Tentang Buku Berdamai Dengan Masa Lalu

Ada hal-hal yang kadang menghambat kita untuk move on dan maju, salah satunya adalah beban di masa lalu. Buku Berdamai Dengan Masa Lalu ini merupakan novel motivasi karya Asti Musman.

Buku yang dicetak pertama kali pada 2019 ini merupakan rangkaian buku motivasi setebal 240 halaman, bertujuan untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih maju dan tidak terbayang-bayang oleh masa lalu.

Profil Penulis

Asti Musman merupakan nama pena dari penulis asli yang bernama Estiningdyah. Dirinya sendiri merupakan penulis kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 1968 lalu. Asti Musman alias Estiningdyah adalah Alumni dari Universitas Pertanian Udayana.

Kecintaannya dalam bidang literasi sebenarnya sudah sejak lama saat dirinya berada di bangku sekolah dasar. Selain itu dia juga pernah menjadi freelancer di Harian Nusa, Bali Post dan Bali News. Bahkan beberapa tulisannya pernah dimuat secara formal di koran besar, selain itu Asti Musman juga bekerja di Radio Top FM, Radio Menara, Radio Global FM dan masih banyak lagi.

Kini Asti Musman sudah menjadi ibu dua orang anak dengan pekerjaan utama sebagai Direktur Operasional Radio Global FM, sekaligus penulis buku motivasi. Kendati jauh dari background literasi, Asti Musman sudah menuliskan beberapa buku yang terkenal yakni Berdamai Dengan Emosi dan Sukses Negosiasi.

Sinopsis

Manusia kadang menyadari bahwa ada hal-hal yang harus dilanjutkan, untuk hidup yang jauh lebih baik. Bukannya tidak ingin move on dari luka di masa lalu, tapi kenyataannya begitu sulit untuk tidak berhenti menengok masa lalu.

Oleh karena itu, buku ini ditulis oleh Asti Musman sebagai pembuka jalan bagi mereka yang kesulitan berdamai dengan luka dan beban di masa lalu, yang bahkan masih sering menghantui hingga kini. Berdamai dengan masa lalu, bukan berarti kita perlu melupakan apa yang sudah terjadi.

Melainkan dengan cara menerima kenyataan akan hal yang sudah pernah terjadi. Sebab, dengan menerima manusia akan merasa jauh lebih baik.

Asti Musman menjelaskan pandangannya yang mampu merubah cara pandang kita tentang menyikapi masa lalu yang kurang baik. Bisa jadi masa lalu itu terlalu menyakitkan untuk diingat, bisa karena kegagalan di masa lalu yang masih membebani maupun pernah kehilangan seseorang yang berharga di masa lalu.

Apa saja bentuk kesedihan yang berhubungan dengan masa lalu, kita perlu ingat semua itu merupakan hal yang sudah terjadi dan kita sebagai manusia tidak akan pernah kembali memutar waktu.

Sehingga, alih-alih sibuk menyayangkan apa yang sudah terjadi, kita bisa menjadikan masa lalu sebagai pengalaman hidup dan dari pengalaman tersebut manusia mampu belajar serta memperbaiki supaya tidak melakukan kesalahan yang sama.

Hal ini berlaku untuk segala jenis permasalahan baik tentang relationship atau masalah lain yang sekiranya masih sering membuatmu merasa terbebani. Asti Musman mengajak kita semua untuk beranjak dari bayang-bayang masa lalu, supaya bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dengan menerima kenyataan, memahami bahwa kesalahan adalah suatu hal yang ‘lumrah’ dimana semua orang pernah melakukannya, dan menjadikannya pelajaran terbaik supaya manusia tidak jatuh ke lubang yang sama.

Tentang Buku Berdamai Dengan Takdir

Jika mendengar ungkapan takdir, apa hal pertama yang hadir di kepala? Mungkin itu adalah hal yang sudah terjadi yang tidak bisa dirubah oleh manusia. Pernyataan tersebut juga seringkali membuat manusia tertekan karena merasa memiliki takdir yang buruk, seolah membuat kita terlalu pasrah dan enggan untuk menjadi lebih baik.

Buku Berdamai Dengan Takdir merupakan salah satu buku seri motivasi karya Sony Adams yang mulai dirilis pada akhir tahun 2019 lalu. Buku keluaran Psikologi Corner ini merupakan satu dari banyak seri motivasi dan pengembangan diri.

Profil Penulis

Bagi para pembaca buku non fiksi Indonesia, mungkin nama Sony Adams mulai tidak asing lagi. Lelaki yang dikenal dari buku-buku non-fiksinya ini merupakan seorang penulis yang sudah aktif menulis buku motivasi sejak tahun 2018 lalu.

Berdamai Dengan Takdir merupakan satu dari sekian banyak buku yang telah ditulisnya. Karya Sony Adams lainnya seperti, The BooK of Your Lies (2018), Lantak: Tentang Luka, Tentang Rasa (2019), Penuh (2019), 30 Days Pursuit of Happiness (2019) dan Rusak Saja Buku Ini (2019) merupakan sebagian dari banyak karyanya yang laris manis terjual di kalangan para penyuka baca.

Sony dapat dikatakan sudah sangat handal dalam menuangkan opininya seputar kehidupan dan pengembangan diri, terbukti dari sejumlah buku motivasi yang ditulis olehnya. Dia sendiri juga acap kali menjadi narasumber pada podcast-podcast ternama di sebuah kanal music dan podcast, seperti yang sering diungganya dalam post instagram milik penulis.

Sinopsis

Berdamai Dengan Takdir adalah buku pengembangan diri yang membahas caranya mengubah sudut pandang kita terhadap takdir yang harus dihadapi. Takdir mungkin merupakan ketidakpastian yang akan selalu ada dan menjadi bagian dari misteri kehidupan.

Namun, satu hal yang pasti adalah kita selalu memiliki kesempatan yang sama dalam menentukan jalan mana yang akan dipilih untuk melanjutkan hidup, dan itu merupakan bagian dari takdir. Akan tetapi hal ini seharusnya tidak menjadi perhatian kita, melainkan manusia seharusnya lebih menitikberatkan fokus terhadap hal-hal yang jauh nyata seperti upaya meningkatkan kualitas diri.

Seperti yang dipaparkan Sony Adams dalam buku ini, manusia kebanyakan sibuk memikirkan takdir mereka yang kadang penuh penyesalan. Membuat kita menjadi sering tenggelam dalam pengandaian yang tidak akan ada habisnya.

Sony mengingatkan kita untuk mengalihkan fokus secara pada usaha dan prakteknya dalam melakukan pengembangan diri. Seperti mencoba melihat sisi baik dari segala hal yang telah dimiliki, menjadikan kekurangan menjadi daya tarik.

Apabila kita mampu merubah pola pikir kearah yang jauhh lebih positif dan memaknai sisi baik dari segala hal, maka akan kecil kemungkinanya untuk kita tenggelam dalam pemikiran yang hanya menghambat diri untuk maju.

Manusia tidak pernah tahu seperti apa sebenarnya garis takdir mereka, tapi dari ketidaktahuan tersebutnya membuat manusia mampu berpikir kreatif dan inovatif. Hal yang tidak pasti sekalipun seharusnya mampu menjadi motivasi kita untuk terus berusaha memperbaiki dan berdamai dengan takdir.

Lewat bukunya, Sony Adams mengajak kita untuk terus bersyukur dan mengambil sisi baiknya dari setiap perkara dalam hidup kita. Sebab kita tidak akan pernah tahu kapan takdir akan berubah.

Nilai Kehidupan dari Seri Buku Berdamai Dengan Diri Sendiri, Masa Lalu dan Takdir

Dari ketiga buku self improvement diatas, ada satu hal yang pasti kita ketahui bahwa mengenali diri adalah bagian terpenting yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan tiap individunya. Dengan mengenal kita akan memahami apa yang sebenarnya kita cari dan kita perlukan untuk menjadi lebih bahagia.

Selain itu, karena tujuannya untuk meningkatkan kualitas diri serta kehidupan, maka semua diawali dari diri sendiri. Jika bukan kita yang memulainya maka tidak akan pernah ada perubahan yang terjadi. Mulai dari keinginan untuk menjadi lebih baik hingga melakukan sejumlah upaya untuk mengupgrade kehidupan.

Untuk itu penting pula selalu menanamkan rasa syukur atas segala yang telah dimiliki dan juga mau berbesar hati menerima kenyataan yang terjadi, bahkan saat itu hal yang sangat sulit diterima sekalipun.

Kita harus percaya bahwa dalam setiap peristiwa selalu ada sisi hitam dan putihnya, yang baik kita ambil yang buruk kita jadikan pelajaran. Kalau kata orang tua, guru terbaik adalah pengalaman. Maka jangan sampai menunggu hal buruk datang dua kali, untuk melakukan introspeksi diri. Berdamailah dengan dirimu, masa lalumu dan juga takdirmu.

Sekian, semoga artikel ini cukup membantu Grameds ya! Dapatkan koleksi lainnya di Gramedia yuk!

Written by Nandy