in

Review Buku 21 Lesson for the 21st Century: Pola Pikir Baru untuk Dunia yang Lebih Baik

Yuval Noah H: 21 Lessons For The 21St Century – Zaman sudah berkembang lebih cepat dari apa yang kita prediksi. Dari setiap masa, rupanya manusia juga mengembangkan pola pikir dengan begitu pesat dan luas. Jadi, tidak heran lagi apabila ada sebuah teknologi yang mampu membuat kita menghitung jumlah bintang di angkasa, menjejakan kaki di Mars, mengidentifikasi mikroorganisme yang tak kasat mata.

Semua hal tersebut, merupakan hal-hal yang tak pernah bisa dibayangkan oleh manusia di masa lampau. Namun, kita sering lupa, bahwa semua hal memiliki konsekuensinya masing-masing. Begitu pula dengan kemajuan teknologi, perkembangan industri yang pesat menimbulkan banyak dampak pada manusia dalam berbagai skala.

Mulai dari permasalahan pribadi seperti stres, dampak lingkungan seperti global warming, dan dampak lebih besar seperti munculnya terorisme, hingga perang. Jika kita telaah, sedikit banyak permasalahan yang muncul di manusia pada abad ke 21 ini terjadi karena dampak dari perbuatan manusia itu sendiri.

Yuval Noah H, sebagai seorang penulis telah banyak melakukan riset dan penelusuran untuk buku-bukunya, yang kebanyakan tentang manusia dan bagaimana mereka membentuk peradaban. Kini, Yuval kembali menuliskan buku terbarunya berjudul 21 Lesson for the 21st Century yang dirilis pada 2018.

Mengenal Profil Yuval Noah Harari

 

Yuval Noah Harariwikipedia

Yuval Noah Harari merupakan seorang sejarawan dari Israel yang telah lama berkutat dalam bidang penelitian seputar sejarah peradaban manusia. Lelaki 46 tahun ini juga sekaligus menjadi penulis buku fiksi yang sempat ramai beberapa tahun belakangan ini.

Setelah berhasil mendapatkan gelar doktornya di Universitas Oxford, Harari kemudian melanjutkan karirnya sebagai seorang profesor sejarah di Universitas Ibrani Yerusalem. Nama Harari semakin dikenal publik sejak dirinya berhasil menerbitkan buku pertamanya Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia.

Buku pertamanya dipublikasikan pada 2014 lalu. Buku ini secara unik mampu menyita perhatian banyak pembaca dari berbagai kalangan. Sapiens sendiri adalah rangkuman dari ide-ide yang telah diteliti dan kumpulkan selama bertahun-tahun.

Di dalamnya, terangkum tentang sejarah manusia yang disebut sebagai revolusi kognitif. Mulai dari kemunculan Homo sapiens yang pertama, di mana mereka mulai menyingkirkan keberadaan Neanderthal. Hingga revolusi besar yang terjadi sampai manusia saat ini. Semua keunikan ide dari buku tersebut sontak membuat publik semakin ini mempelajari seperti apa sejarah manusia.

Diluar kesuksesan buku Sapiensnya, Harari kemudian melanjutkan tulisan sejarahnya yang membahas bagaimana manusia mampu memprediksi masa depan. Bagaimana latar belakang manusia, hingga bisa mencetuskan ide cemerlang dan memajukan dunia. Buku keduanya ini berjudul Homo Deus dirilis pada 2015.

Resensi Buku “ 21 Lesson for the 21st Century” karya Yuval Noah H

Pros & Cons

Pros
  • Buku ini memiliki perspektif yang menarik, Penulis mampu melihat masalah dengan cara mengurutkan penyebabnya.
  • Dalam buku ini juga memiliki banyak contoh kasus dengan perbandingan nyata.
  • Penulis memberikan pemaparan data sebagai perbandingan masalah yang terjadi saat ini maupun dimasa lalu.
  • Bagi pecinta buku serupa, akan sangat menyukai penjelasan Harari yang detail dan sangat sesuai fakta. Buku ini juga sangat relevan menjadi bacaan pendamping untuk semua pembaca yang bergerak di berbagai bidang.
Cons
  • Sebagai seorang sejarawan, Harari memaparkan tulisannya dengan baik
  • Hanya saja penggunaan bahasanya akan terasa cukup berat bagi mereka yang tidak terbiasa membaca buku serupa. Buku ini merupakan buku yang ditulis berdasarkan analisis dan data yang nyata. Tapi besar pula kemungkinan jika beberapa pihak merasa tidak setuju dengan pendapat penulis, terkait solusi yang dinyatakan.
  • Cakupan ide yang luas, terkadang membuat sebagian orang akan merasa bosan di beberapa bagian buku.

Beberapa tahun terakhir ini kita sadar bahwa ada banyak sekali masalah-masalah yang diberitakan diberbagai media. Mulai dari isu lingkungan, politik, masalah kesehatan hingga isu sosial yang semakin banyak dikampanyekan di mana saja.

Banyak orang yang mulai menyadari mengapa di dunia ini terasa banyak sekali masalahnya. Segala problem menjadi semakin bercabang, belum lagi adanya banyak istilah-istilah yang membuat kita semakin mengkotak-kotakan masalah.

Filosofi: Bentuk Refleksi diri Natasha Rizky melalui buku “Kamu Tidak Istimewa”

Kurang dari satu dekade hidup manusia saja timbunan masalah yang kita dengar setiap hari terasa seperti labirin yang bersambung tiada habisnya. Faktor lain muncul dari adanya teknologi super cepat di mana setiap ada satu isu saja bisa segera menyebar dengan cepat. Banyaknya tekanan kehidupan juga semakin terasa pada manusia di masa kini. Mengapa begitu?

Buku Lesson for 21 Century ini merupakan buku yang akan menjawab segala keruwetan permasalahan yang hadir silih berganti di setiap kehidupan manusia. Buku tulisan Yuval Noah Harari ini akan menguraikan beberapa masalah dalam kelompok bab-bab, menjelaskan sebab dan akibatnya serta hal-hal yang bisa kita pelajari untuk bisa keluar dari masalah tersebut.

Lesson for 21 Century, secara keseluruhan mencangkup tiga poin utama yang disoroti. Pertama adalah sebuah perubahan besar yang terjadi didunia, sistem edukasi yang telah berubah, dan munculnya terorisme serta ketakutan manusia.

Perubahan Pesat di Dunia

Manusia memang tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada beberapa tahun kedepan, namun perubahan yang terjadi di setiap penjuru dunia semakin hari semakin sulit untuk di perkirakan.

Sebagai contoh manusia pada tahun 1000 tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Mereka tak pernah mengira bahwa akan ada banyak perubahan di jaman kerajaan, munculnya wabah dan masih banyak lagi. Namun, setidaknya sebagian besar orang masih mampu memprediksi bahwa masa depan masih bisa dicapai dengan bekerja sebagai petani. Atau kehidupan akan membaik jika para orang kaya menuntut ilmu.

Hal-hal yang masih bisa diperkirakan seperti inilah yang menjadi alasan mengapa orang tua dimasa lalu mengajarkan hal yang sama pada anak-anaknya. Secara turun temurun dilakukan dan masa depan terbukti bisa berjalan sesuai prediksi. Orang tua di masa lampau percaya bahwa apa yang mereka dapatkan semasa muda akan berguna jika diajarkan untuk generasi dibawah mereka.

Namun, itu semua tidak lagi berlaku di masa ini. Sebab, segala hal yang terjadi didunia mampu berubah dengan sangat cepat. Bahkan, selisih satu dekade saja bisa membuat tiap generasi memiliki pengalaman yang sangat berbeda.

Adanya perubahan besar didunia ini kemudian menimbulkan pertanyaan baru lagi. Apakah kita harus bergantung dengan teknologi sepanjang waktu?

Sistem Edukasi Mulai Berubah

Perubahan yang terjadi di dunia ini salah satunya adalah perubahan dalam bidang pendidikan. Bukan hanya secara sistem pengajaran dan ilmu yang diberikan saja, tapi ada perubahan yang lebih besar lagi terkait bidang ini.

Apabila dulu tidak semua daerah dapat menjangkau pendidikan, sekarang semua bisa mengenyam pendidikan. Orang-orang yang tinggal di daerah terpencil pada abad ke 18 akan cenderung susah mengakses informasi dari dunia luar. Oleh sebab itu, segala informasi yang dapat masuk ke daerah tersebut akan diserap sebanyak-banyaknya. Entah itu adalah berita, atau informasi yang lainnya akan cenderung diberikan tanpa filter.

Sedangkan saat ini sudah terlalu banyak informasi yang bisa diakses semua orang sehingga menimbulkan banyak masalah baru. misalnya adanya hoax terkait berita besar, yang mana akan membuat sebagian orang salah paham. Disisi lain informasi yang salah bahkan bisa bertahan lebih lama di kepala kita daripada yang benar.

Maka dari itu, sistem edukasi yang diajarkan di masa kini bukan lagi untuk menyerap informasi sebanyak mungkin, melainkan untuk mampu melakukan filter informasi. Mana informasi yang baik untuk kita, mana yang tidak.

Jika dulu informasi seputar ilmu pendidikan hanya mampu didapatkan di sekolah untuk orang-orang yang kaya, maka saat ini semua orang mampu mengakses ilmu pengetahuan meskipun diluar sekolah. Oleh sebab itu, sistem edukasi pun kini memiliki fungsi yang cenderung berbeda, di mana tujuannya untuk membuat generasi muda mampu memilih mana yang baik untuk mereka.

Sekolah di masa kini fokus memberikan pelatihan untuk kemampuan teknis siswanya, mulai dari penggunaan teknologi, AI, keahlian berbahasa dan lainya. Meski begitu, kita tidak pernah tahu apakah keahlian ini masih akan berguna di dunia pada 2050 atau 2100 nanti.

Lantas apa yang seharusnya diajarkan di sekolah? Pertanyaan seperti ini kemudian membuat para ahli dalam bidang pendidikan untuk kembali membentuk sistem edukasi yang menekankan pada keahlian yang lebih umum. Seperti komunikasi, berpikir kritis, melatih kreatifitas dan melakukan kolaborasi.

Terorisme dan Ketakutan

Masalah baru yang mulai muncul di dunia di era modern ini yakni munculnya terorisme. Manusia dapat dikuasai dengan rasa takut yang ditimbulkan dari terorisme. Di sisi yang lain terorisme memang memakan banyak korban jiwa di setiap negara, tapi jumlah yang ada bahkan tidak lebih banyak daripada bencana lain seperti kecelakaan kendaraan.

Di mana setiap tahunnya jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan kendaraan bisa jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah korban meninggal karena serangan terorisme. Namun, kenyataannya kita memiliki ketakutan yang lebih besar dibandingkan dengan kecelakaan.

Serangan terorisme dalam jumlah kecil saja sudah bisa menanamkan rasa takut pada setiap manusia di berbagai negara. Terorisme ini seperti sebuah serangga kecil yang mampu menghancurkan seisi dunia, sebab rasa takut yang ditimbulkan jauh lebih besar.

Rasa takut tadi akan mampu membuat sebuah negara cenderung membangkitkan agresi militer untuk melindungi rasa takut penduduknya. Disisi lain rasa takut akan terorisme membuat manusia saling menuding mana pihak-pihak yang salah, dan menimbulkan ketidakpercayaan diantara sesama manusia.

Menurut Yuval Noah Harari, situasi ini bisa dihadapi dengan cara yang lebih sederhana. Pemerintah bisa melakukan pemberantasan jaringan terorisme alih-alih menekankannya pada pihak militer. Kerja sama media untuk memberikan fakta yang wajar dan tidak berlebihan, di mana akan mampu mengurangi ketakutan yang muncul di masyarakat.

Disisi lain semua pihak yang menjadi warga negara harus bisa ikut berperan, supaya tidak mudah termakan oleh berita yang tidak benar. Sebab, teroris juga pandai memanipulasi pola pikir masyarakat.

Dalam buku ini, ada banyak masalah yang dibahas secara detail. Semua aspek kehidupan yang ada di dunia juga dijelaskan secara terperinci dan disertai solusi-solusi penangananya. Grameds, jika kamu penasaran bagaimana detail karya Harari ini, dapatkan bukunya disini yuk!

Pelajaran Berharga untuk Generasi Abad 21

Tinggal di era industri 4.0 memang segala hal terasa lebih baik. Era modern yang menawarkan berbagai kemudahan, praktis dan cepat, yang secara tidak langsung juga menjadi suatu siklus kehidupan yang lebih pasif bagi sebagian orang.

Adanya kemudahan akses ini membuat manusia menjadi nyaman, sampai lupa bahwa di luar zona nyaman itu sendiri ada banyak permasalahan yang lebih serius. Kita sadar banyak masalah yang muncul dari berbagai aspek kehidupan, manusia juga menjadi lebih sensitif akan isu-isu sosial. Tumpukan masalah inilah yang akhirnya sering membuat sebagian orang merasa lelah dan stres.

Kita mungkin lupa, dibalik kenyamanan yang ada saat ini dengan semua kecanggihan teknologi. Ada dampak-dampak negatif dan positif yang datang beriringan. Bagi mereka yang tidak siap dengan kemungkinan terburuknya, mungkin masa depan akan sangat sulit untuk diprediksi.

Setiap insan pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Untuk itu kita semua sebagai manusia harus bisa ikut andil dan bekerja sama, mencari jalan keluar dari setiap masalah yang ada.

Kesimpulan

Berdasarkan buku karya Yuval Noah Harari ini, ingin menyatakan bahwa banyaknya permasalahan yang timbul saat ini merupakan dampak dari modernisasi dunia yang semakin sulit untuk kita tebak. Bahkan dalam 20 hingga 50 tahun kedepan saja, besar kemungkinan ilmu yang kita pelajari saat ini menjadi tidak lagi relevan dimasa depan.

Buku ini mengingatkan kita bahwa perubahan yang terjadi di dunia berjalan semakin cepat. Maka wajar apabila manusia di era sekarang merasakan tantangan yang sangat berat. Oleh karena itu, penulis berharap dengan buku ini bisa membuat kita menyusun strategi yang lebih siap untuk menghadapi masa depan dalam jangka waktu panjang. Sebab dunia membutuhkan pola pikir yang baru, untuk kehidupan baru yang lebih baik di masa mendatang.

Secara keseluruhan buku ini mendapatkan banyak respon baik di kalangan pencinta buku. 21 Lesson for the 21st Century ini layak mendapatkan bintang 4,2 dari 5 untuk analisisnya yang detail dan sudut pandang yang menarik.

Jika kamu tertarik membaca buku fiksi seperti ini, kamu bisa mendapatkannya di Gramedia.com. Tidak hanya Lesson for 21 Century saja, buku lain karya Harari yang juga memasuki jajaran terlaris bisa kamu dapatkan di sini.

Membaca banyak buku dan artikel tidak akan pernah merugikan kalian, karena Grameds akan mendapatkan informasi dan pengetahuan #LebihDenganMembaca.

 

Sapiens

Sapiens merupakan buku yang membahas seputar perkembangan umat manusia yang ada di bumi. Menelusuri sejarah paling awal, terdapat bukti yang menyatakan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu ada enam spesies manusia yang tinggal di bumi. Namun, pada akhirnya, hanya ada satu spesies saja yang dikenal sebagai manusia saat ini, Homo Sapiens.

Buku pertama Yuval Noah Harari ini merupakan buku yang masih menduduki jejeran best seller hingga hari ini. Buku ini mengulas secara rinci tentang sejarah manusia itu sendiri hingga akhirnya hidup berkelompok dan membentuk peradaban. Tertarik membaca buku Sapiens? Dapatkan bukunya disini yuk!

Homo Deus

Jika Sapiens membahas tentang bagaimana awal mula perjalanan manusia secara individu, maka boleh dibilang Homo Deus adalah lanjutannya. Perjalanan manusia di Homo Deus disini jauh lebih beragam. Dimana manusia mulai mampu berpikir dan memprediksi apa yang akan terjadi.

Penulis bahkan melakukan riset dengan membandingkan apa yang terjadi dalam sejarah dan hasilnya pada abad ke 21. Tertarik membaca selengkapnya mengenai buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari.

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy