in

Review Buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati Karya Oh Su Hyang

Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati – Dari 10 life skills yang penting untuk dikuasai, komunikasi menjadi salah satu yang perannya krusial. Bagaimana tidak, kita selalu berkomunikasi dengan orang lain setiap hari namun masalah komunikasi tetap saja muncul.

Misalnya merasa ragu untuk memulai obrolan dengan orang lain, merasa canggung saat berbicara dengan orang yang baru ditemui, atau merasa malas berkomunikasi karena takut tersinggung oleh ucapan orang lain.

Masalah seperti ini dirasakan oleh banyak orang dan disinilah letak keanehannya. Manusia selalu berkomunikasi setiap hari, entah dengan keluarga, teman, atau orang asing yang ditemui di warung makan. Namun, mengapa masalah komunikasi masih terus muncul?

Puluhan bahkan ratusan buku tentang komunikasi sudah diterbitkan dengan isi yang beragam, dari yang paling teoretis sampai yang paling praktis. Ada semuanya. Sayangnya, kebanyakan buku tentang komunikasi masih mengabaikan satu masalah besar dalam komunikasi, yaitu kesalahpahaman.

Hal ini disadari oleh Oh Su Hyang, seorang pakar komunikasi asal Korea Selatan yang telah menerbitkan banyak buku tiga di antaranya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Untuk membantu orang-orang memahami kesalahpahaman dalam berkomunikasi, Oh Su Hyang menulis buku berjudul Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati. Bulan April 2022 kemarin, buku ini terbit di Indonesia dan mendapatkan respon yang luar biasa.

Nah, penasaran apa saja yang dibahas Oh Su Hyang dalam buku barunya ini? Simak review lengkapnya di bawah ini.

Tentang Buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati

Penulis: Oh Su Hyang

Jumlah Halaman : 218

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Tanggal Terbit : 1 April 2022

Berat : 0.19 kg

ISBN : 9786230407918

Lebar : 14.0 cm

Bahasa : Indonesia

Pros & Cons

Pros
  • Peribahasa, jargon, diksi disesuaikan dengan yang sering dipakai di Indonesia.
  • Penjelasan teori komunikasi dan psikologi dalam buku ini ringan dan mudah dipahami.
  • Dilengkapi dengan situasi percakapan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembaca bisa merasa lebih relate.
  • Setiap sub bab ditulis secara ringkas hanya 3 sampai 7 halaman sehingga tidak sulit dipahami.
Cons
  • Ada beberapa sub bab yang penjelasannya dan contohnya diambil dari bahasa serta budaya Korea Selatan, jadi sebagian pembaca akan sulit memahaminya.

Kesalahpahaman adalah masalah yang besar dalam komunikasi manusia. Sebaik apapun kemampuan berbicara seseorang, pasti ada orang yang salah paham. Begitupun sebaliknya, salah paham bisa terjadi sebaik apapun seseorang mencoba mendengarkan.

Kesalahpahaman dapat membuat komunikasi atau percakapan terhambat, bahkan bisa berujung perselisihan jika tidak ada pihak yang mengalah. Di sisi lain, masalah ini ternyata bukan disebabkan oleh kesalahan satu pihak.

Oh Su Hyang menjelaskan bahwa kesalahpahaman terjadi karena faktor psikologis seseorang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk menangkap arti dari kata yang dia dengar.

Beberapa faktor psikologis yang dapat mempengaruhi komunikasi di antaranya adalah:

  1. Jendela Johari setiap orang berbeda-beda.
  2. Salah memahami hal yang dirasa sangat jelas (Invisible gorilla experiment).
  3. Terlalu mudah menilai orang lain (cognitive misleading effect).
  4. Hanya melihat apa yang ingin dilihat dan hanya percaya apa yang ingin dipercayai (confirmation bias).
  5. Membedakan lawan bicara sebagai teman atau musuh (amigdala dichotomy).
  6. Hanya tertarik pada orang yang memiliki kesamaan (law of similarity).
  7. Cenderung memandang segala sesuatu secara negatif ketika harga dirinya rendah (cause of inferiority complex).
  8. Cenderung berbohong untuk bertahan hidup (instinctive lie).

Tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari faktor psikologis saat berkomunikasi, sehingga kesalahpahaman menjadi hal yang wajar. Untuk itu, pemahaman tentang psikologi dan cara melakukan komunikasi yang berbeda sangat diperlukan untuk meminimalisir kesalahpahaman.

Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati adalah buku yang mengajarkan tentang cara menghindari kesalahpahaman ketika berkomunikasi, mengajak pembaca membuka pikiran dan memahami faktor psikologis tadi untuk mengubah cara berkomunikasi.

Buku ini juga mengulas beberapa kesalahan dasar yang sering membuat komunikasi berakhir tidak baik. Ada juga pembahasan tentang alasan yang menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi tidak bisa dihindari. Kemudian, buku ini memberikan panduan mengenai cara membuat komunikasi yang nyaman dan bebas dari kesalahpahaman.

Review Buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati

Buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati terdiri dari enam bab utama yang saling berhubungan tapi bisa dibaca secara acak. Artinya meski tidak dibaca berurutan, pembaca masih akan tetap memahami isinya. Keenam bab tersebut masing-masing membahas tentang:

  1. Alasan psikologis yang mempengaruhi suatu hubungan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi yang tidak bisa dihindari.
  2. Perilaku menyesatkan dalam berkomunikasi yang diabaikan oleh banyak orang.
  3. Cara melihat ke dalam pikiran sendiri dan mengetahui apa yang memicu kesalahpahaman.
  4. Cara melihat ke dalam pikiran orang lain dan belajar memahami sudut pandang orang lain.
  5. Cara mengembangkan kemampuan untuk mengambil pandangan holistik dan objektif dari berbagai situasi yang dihadapi sehari-hari.
  6. Panduan memahami hubungan manusia dan cara untuk memimpin suatu percakapan serta hubungan.

Setiap bab ditulis secara ringkas tidak lebih dari 7 halaman dan menggunakan bahasa yang ringan, sehingga mudah dipahami. Bahkan, tidak ada istilah yang sulit dipahami di dalamnya. Hal menarik lainnya, Oh Su Hyang menambahkan tips yang telah teruji secara ilmiah dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar, keenam bab dalam buku ini bisa diringkas menjadi empat topik utama, yaitu penyebab kesalahpahaman dalam berkomunikasi, introspeksi diri demi komunikasi yang lebih baik, menciptakan kesan baik di pikiran orang lain, dan memimpin percakapan dengan baik.

Apa yang menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi?

Oh Su Hyang memulai pembahasannya dengan menjelaskan beberapa alasan psikologis yang menjadi penyebab kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Alasan yang pertama dan yang paling penting adalah Jendela Johari. Ini adalah teori yang mengatakan bahwa hubungan seseorang sangat dipengaruhi oleh keadaan pikirannya. Keadaan pikiran ini diibaratkan sebagai jendela yang terbuka (open), tersembunyi (hidden), tidak terlihat (blind), dan tidak dikenal (unconscious).

Jendela terbuka adalah pikiran yang bisa dilihat oleh diri sendiri dan orang lain. Artinya, si pemilik pikiran tidak menyembunyikan perasaannya sama sekali, sehingga bisa dengan mudah dipahami oleh orang lain.

Jendela tersembunyi adalah pikiran yang hanya diketahui oleh pemiliknya saja sehingga cenderung menutup diri dari orang lain. Akibatnya, orang lain akan sulit memahami pikirannya.

Jendela tidak terlihat adalah pikiran yang tidak diketahui oleh pemiliknya tapi orang lain mengetahuinya. Dalam kondisi seperti ini, si pemilik cenderung tidak menyadari apa yang diketahui oleh orang lain sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Jendela tidak dikenal adalah pikiran yang tidak diketahui oleh pemiliknya dan orang lain. Dengan demikian, si pemilik cenderung dikuasai oleh alam bawah sadar atau feeling-nya sendiri.

Setiap orang dikuasai oleh jendelanya masing-masing, jadi sangat wajar jika muncul kesalahpahaman ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Alasan lain yang dapat menyebabkan kesalahpahaman adalah kecenderungan untuk menganggap orang lain memiliki pemikiran yang sama, meskipun pada kenyataannya justru sebaliknya. Lalu, ketika ada perbedaan pemikiran, kita merasa pemikiran orang lain tidak benar dan menolaknya.

Menurut Oh Su Hyang hal ini wajar terjadi karena menerima pemikiran yang berbeda sulit dilakukan, melelahkan sekaligus menyakitkan. Maka dari itu, secara naluri otak manusia membagi lawan bicara ke dalam dua kategori, yaitu “teman” dan “musuh”.

Jika kita merasa orang yang sedang diajak berbicara adalah teman, kita akan merasa senang. Sebaliknya, kita akan merasa tidak senang jika orang tersebut dianggap musuh.

Di sinilah kita harus belajar memahami bahwa kita tidak selalu memiliki pemikiran yang sama dengan lawan bicara. Tujuannya agar kita bisa menerima pemikiran orang lain dan mengurangi kesalahpahaman.

Selain itu, kita juga harus memahami bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan ketika berbicara, termasuk kita sendiri. Hanya saja, ada orang yang bisa mengakui kesalahannya dan meminta maaf, ada yang tidak.

Untuk meminimalisir kesalahpahaman dan kerugian yang mungkin timbul akibat kesalahan berbicara, kita harus mau mengakui kesalahan sendiri dan meminta maaf.

Misalnya, ketika sedang berbicara, kita kadang menggunakan jargon, istilah, atau diksi yang tidak umum. Kebiasaan seperti ini tidak akan menjadi masalah jika lawan bicara kita memiliki pengetahuan dan minat yang sama. Namun, bagaimana jika tidak? Tentunya lawan bicara kita akan kebingungan dan kesulitan memproses setiap kata yang kita ucapkan.

Kesalahpahaman bisa dicegah dengan meminta maaf dan mengubah gaya berbicara agar lebih mudah dimengerti oleh lawan bicara kita. Namun, untuk melakukannya, kita harus memiliki perbendaharaan kata yang luas.

Alasan selanjutnya datang dari kebiasaan berbicara yang kadang bisa disadari bisa juga tidak. Oh Su Hyang menjelaskan beberapa kebiasaan berbicara yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, diantaranya:

  1. Memasukkan tangan ke dalam saku akan membuat kita terlihat sombong di mata orang lain.
  2. Memainkan sesuatu saat berbicara akan membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.
  3. Menyilangkan lengan akan membuat kita terlihat keras kepala dan berpikiran negatif.
  4. Mengambil jarak yang terlalu jauh atau terlalu dekat.
  5. Ekspresi wajah yang datar dapat menunjukkan kita tidak tertarik dengan pembicaraan orang lain.
  6. Memotong pembicaraan orang lain.

Introspeksi diri demi menciptakan komunikasi yang lebih baik

Semua alasan psikologis di atas tidak bisa dilepaskan begitu saja, sehingga kesalahpahaman dalam berkomunikasi tidak menjadi kesalahan siapa pun. Akan tetapi, kita harus belajar untuk mengontrolnya agar bisa berkomunikasi dengan baik.

Caranya bisa dimulai dari melihat ke dalam pikiran kita sendiri dan menemukan apa saja masalah personal yang bisa diperbaiki. Mengapa begitu? Karena ada hal-hal mendasar yang sudah tertanam dalam diri kita yang dapat mengganggu proses komunikasi.

Pertama, sikap rendah hati. Sejak kecil kita diajarkan bahwa rendah hati adalah perbuatan baik yang sangat penting dalam hubungan sosial. Sayangnya, kita tidak diajarkan batasannya sehingga menjadi berlebihan dan menimbulkan kesalahpahaman.

Sikap rendah hati yang berlebihan dapat mengurangi nilai seseorang. Contohnya, di kantor kamu mendapatkan dari atasan untuk memegang proyek penting, namun tawaran tersebut tidak kamu ambil karena kamu terbiasa untuk bersikap rendah hati.

Sayangnya, atasanmu tidak akan menganggap kamu sebagai karyawan yang rendah hati. Baginya, kamu adalah karyawan yang tidak kompeten. Pada akhirnya, proyek tersebut dipercayakan pada karyawan lain.

Kedua, terlalu sering menggunakan kata “sepertinya” atau “saya pikir” dalam berbicara. Saking seringnya, bahkan kita bisa menempatkan dua kata tersebut pada tempat yang semestinya. Hal ini membuat kita terlihat tidak memiliki kepercayaan diri dan senang berbelit-belit.

Sebab, kata “sepertinya” atau “saya pikir” pada dasarnya digunakan untuk menyampaikan prediksi, asumsi, dan ketidakpastian. Sekarang bayangkan jika kamu menggunakan kata “sepertinya” secara sembarangan, apakah kamu akan terlihat meyakinkan di mata orang lain?

Ketiga, kita sering melemparkan tanggung jawab secara tidak langsung kepada lawan bicara melalui frasa “apa saja”. Contohnya ketika disuruh memilih strategi promosi di kantor, kamu mengatakan “apa saja boleh” atau sejenisnya.

Dengan mengatakan “apa saja”, secara tidak langsung kamu sedang lari dari tanggung jawab dan menyerahkannya kepada orang lain. Dengan demikian, kamu akan dianggap tidak dapat memegang tanggung jawab.

Keempat, kita juga sering memakai kata “salah” ketika berbicara, sehingga membuat lawan bicara benci pada kita. Biasanya, kebiasaan ini muncul ketika kita tidak setuju dengan pandangan orang lain. Kemudian berusaha membuat orang tersebut memiliki pandangan yang sama dengan cara menyalahkannya.

Menurut Oh Su Hyang, tujuan utama dari sebuah komunikasi atau percakapan adalah memahami pikiran orang lain dan berempati, bukan persuasi atau mempengaruhi.

Dengan kata lain, orang yang menyalahkan lawan bicara sama dengan tidak memiliki rasa empati dan tidak mau mencoba memahami pandangan atau pemikiran orang lain yang berbeda.

Kelima, kita sering menggunakan “bahasa negatif” seperti mengatakan “tidak, “bukan”, “jangan”, “tetapi”, “tidak bisa”, “tidak boleh”, “namun”, “bukan begitu”, “bukan saya”, “mustahil”, “ya, tapi” dalam percakapan sehari-hari.

Semua kata ini dapat menyakiti orang lain dan menunjukkan bahwa kita memiliki sifat yang negatif. Oh Su Hyang menggambarkannya sebagai orang yang melihat gelas dengan air setengah sebagai gelas yang “setengah kosong” bukan gelas yang “setengah penuh”.

Keenam, sebagian orang tidak dapat menolak permintaan orang lain agar terlihat baik. Dalam ilmu psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai “Good Boy Syndrome” yang sering ditekankan oleh orang tua dan masyarakat sejak kita masih kecil.

Kita dituntut menjadi orang yang baik atau penurut, sehingga secara tidak sadar selalu mengatakan “ya” pada permintaan orang lain. Akibatnya, kita terbiasa menekan keinginan diri sendiri dan lebih mementingkan kepentingan orang lain.

Pada akhirnya, kita sering merasa kesal ketika memenuhi permintaan orang lain dan tidak membantu dengan ikhlas. Jadi, sebaiknya mulai biasakan diri untuk menolak permintaan orang lain, ya.

Buat Grameds yang merasa sulit menolak permintaan orang lain, buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati mengajarkanmu beberapa langkah untuk membuat penolakan, lho.

Cara menciptakan “kesan baik” di pikiran orang lain

Tidak bisa tidak, kita harus menjadi orang baik untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Salah satu caranya adalah dengan menjadi teman “satu frekuensi” atau dalam buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati ini disebut dengan “The Law of Similarity”.

Oh Su Hyang mengajarkan bahwa kesamaan dapat membuat lawan bicara menyukai kita dan bersikap lebih ramah. Semakin banyak kesamaan antara kita dan lawan bicara, semakin lancar komunikasinya.

Kesamaan ini bisa berbagai macam, mulai dari minat, topik, makanan favorit, usia, kota asal, tempat tinggal, perilaku yang tidak disukai, hingga pekerjaan.

Cara lainnya adalah dengan tidak menyentuh “sisi sensitif” lawan bicara. Meskipun memang akan sedikit sulit untuk menemukan sisi sensitif tersebut. Namun tenang saja, di dalam buku ini Oh Su Hyang memberikan “7 indikator isu sensitif” untuk mengidentifikasi sisi sensitif lawan bicara.

Kemudian, jika ingin menasihati, sebaiknya lakukan secukupnya saja. Kadang-kadang kita ingin memberikan nasihat kepada lawan bicara untuk alasan yang baik. Namun, jika terlalu berlebihan, nasihat tersebut justru akan menyakiti lawan bicara kita.

Terakhir, selalu dengarkan dengan seksama apa yang orang lain katakan saat berkomunikasi. Hal ini akan membantu kita memahami topik pembicaraan dan memberikan respon yang lebih baik.

Kita harus bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami apa yang dia katakan. Lalu kita juga harus menerima pendapat orang lain apa adanya, tanpa prasangka negatif. Kemudian pahami perasaan dan psikologi orang lain, lalu ajukan pertanyaan untuk memastikannya.

Memimpin percakapan dengan baik

Di dalam bab keenam buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati, Oh Su Hyang menjelaskan tentang bagaimana memimpin percakapan dan hubungan dengan baik.

Cara yang pertama adalah memberikan kritik secara tepat. Ya kita memang sering memberikan kritik demi tujuan yang baik. Namun apakah kita benar-benar sedang mengkritik, bukan menghakimi?

Sebagai informasi, mengkritik dan menghakimi adalah dua hal berbeda yang sering tertukar.

Kritik, menurut Oh Su Hyang, adalah menilai atau mengklarifikasi benar salahnya suatu fenomena atau bisa juga menunjukkan apa yang salahnya. Sedangkan menghakimi adalah berbicara buruk tentang kesalahan atau kekurangan orang lain.

Kritik juga lebih fokus pada kata-kata dan tindakan yang salah, sementara menghakimi justru fokus pada karakter si pembuat kesalahan. Nah, sekarang coba ingat kembali, apakah kamu lebih sering mengkritik atau menghakimi?

Dalam berkomunikasi kita juga kadang-kadang membandingkan lawan bicara dengan orang lain. Biasanya ini dilakukan agar perkataan kita jadi lebih jelas dan meyakinkan, Ada juga yang menggunakannya untuk menegur lawan bicara, seperti yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya atau guru pada muridnya.

Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati mengajarkan kita untuk membuat perbandingan tentang hal-hal yang baik saja agar tidak menyakiti perasaan lawan bicara.

Kelebihan Dan Kekurangan Buku Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati

Beberapa teori, peribahasa, jargon, dan diksi diterjemahkan ke dalam budaya di Indonesia dengan bahasa yang ringan sehingga lebih mudah dimengerti. Selain itu, Oh Su Hyang juga memberikan situasi percakapan yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari agar pembaca bisa merasa lebih relate. 

Kemudian, setiap sub babnya ditulis secara ringkas, hanya 3 sampai 7 halaman saja sehingga pembaca tidak akan dibuat pusing saat membaca buku ini. Namun, ada satu kekurangan dari buku ini, yaitu penjelasan dan contoh beberapa sub bab menggunakan bahasa serta budaya Korea Selatan. Jadi, sebagian pembaca akan sulit memahaminya.

Overall, Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati adalah salah satu buku tentang komunikasi yang mengajak pembaca untuk mengevaluasi diri dan memahami kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat berkomunikasi.

Tak hanya itu, buku ini juga dapat mengajarkan bagaimana cara menciptakan komunikasi yang nyaman bagi pembaca sekaligus lawan bicara. Jadi, jangan ragu untuk membeli buku ini, Grameds dan kamu bisa membelinya di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Gilang Oktaviana Putra

Written by Nandy