in

Resensi Novel Mariposa karya Luluk HF

Mariposa merupakan novel fiksi bergenrekan romance-comedy yang ditulis oleh Hidayatul Fajriyah atau yang kerap dikenal dengan Luluk HF. Perempuan kelahiran 1995 ini adalah seorang penulis asal Indonesia yang aktif mengunggah hasil karya tulisnya di Wattpad. 

Sebenarnya, karya tulis yang telah dibuat oleh Luluk bukan hanya Mariposa, tetapi novel tersebut merupakan salah satu karya tulisnya yang paling dilirik dan diminati oleh masyarakat, khususnya remaja perempuan. Hal itu terbukti bahwa Mariposa telah berhasil menembus rekor dengan pembaca terbanyak di Wattpad, yaitu lebih dari 100 juta pembaca.

Di suatu kesempatan, sang penulis pernah bercerita mengenai proses perjalanan Mariposa yang awalnya sekadar cerita di Wattpad sampai menjadi sebuah buku atau novel. Pada mulanya ia hanya mengunggah cerita Mariposa di aplikasi Wattpad pada Maret tahun 2017 yang mana saat itu aplikasi tersebut tengah booming.

Ketika itu pun, cerita Mariposa kurang lebih baru mencapai 400.000 pembaca, tetapi sebuah penerbit sudah menawarkan untuk menerbitkan Mariposa. Hingga akhirnya, Mariposa berhasil diterbitkan menjadi sebuah novel pada tahun 2018. Menakjubkannya, sampai saat ini penjualan novel Mariposa sudah lebih dari 17.800 eksemplar.

Hebatnya lagi, sebenarnya Mariposa sudah dilirik oleh 15 penerbit besar. Malahan, saat cerita tersebut belum terbit, Mariposa sudah diminta oleh 5 production house untuk diangkat menjadi sebuah layar lebar atau film. Kemudian, novel ini pun berhasil dialihwahanakan ke dalam bentuk film oleh rumah produksi Falcon Pictures dan Starvision Plus pada tahun 2020 lalu.

Pada dasarnya, novel setebal 482 halaman ini, memiliki cerita yang cukup simpel dan ringan, tetapi kuncinya terletak di kedua tokoh utama, yakni Acha dengan sikap yang super manja dan keras kepala, serta Iqbal dengan karakter yang dingin dan super cuek. Hal itu pula yang menjadi salah satu daya pikat masyarakat, khususnya remaja perempuan yang cenderung menyukai cerita romance comedy seperti Mariposa ini.

Adapun sang penulis mengambil kata Mariposa dari bahasa Spanyol yang artinya “kupu-kupu”. Filosofi kupu-kupu, yaitu apabila semakin dikejar, ia akan semakin menjauh. Akan tetapi, bila dibiarkan, ia akan mendekat. Kiranya seperti itulah gambaran karakter dari salah satu tokoh utama pria dalam novel ini.

Sinopsis Novel Mariposa

MARIPOSA
MARIPOSA

tombol beli buku

Novel Mariposa mengisahkan seorang gadis cantik bernama Natasha Kay Loovi atau kerap disapa Acha yang memperjuangkan cintanya terhadap seorang laki-laki berhati beku dan super dingin–bagaikan es–dengan kehidupannya yang serba monoton, bernama Iqbal. Mereka berdua adalah siswa yang sangat pintar di sekolah.

Bagi Acha, di kamus kehidupannya itu tidak ada kata ‘menyerah’, terutama untuk meluluhkan sikap dingin Iqbal dan dinding pertahanan hati Iqbal yang tidak pernah disinggahi oleh perempuan manapun. Segala penolakan dan sikap acuh tak acuh yang sering Iqbal lakukan, tidak akan membuat Acha mundur untuk mendapatkan hatinya.

Bagaimana Acha bisa menyukai laki-laki berhati beku seperti Iqbal?

Kisah itu berawal saat pertemuan tidak sengaja antara Acha dan Iqbal di sebuah camp Olimpiade yang mana ketika Acha melihat Iqbal untuk pertama kalinya, ia pun langsung terpesona akan sosok Iqbal. Saat itu, Acha tidak satu sekolah dengan Iqbal, malahan yang satu sekolah dengan Iqbal adalah Amanda, yakni teman baik masa kecil Acha.

Di salah satu kafe, Acha bertemu dengan Iqbal untuk yang kedua kalinya secara tidak sengaja. Di situ, tujuan utama Acha hanya satu, yaitu meminta nomor telepon Iqbal. Akan tetapi, hal itu pun tidaklah berhasil. Acha bertekad untuk pindah dari SMA Triabuna ke sekolah di mana Iqbal dan Amanda bersekolah, yaitu SMA Arwana.

Setelah itu, Acha kembali melanjutkan rencananya yang gagal, dengan nekatnya Acha menghalangi Iqbal sebelum masuk ke dalam kelas. Akan tetapi, lagi dan lagi hal itu tidak jua berhasil. Hal lain yang Acha lakukan adalah menyatakan perasaannya secara langsung kepada Iqbal, tetapi saat itu Iqbal menyangka bahwa gadis itu sedang sakit, bahkan tidak waras.

banner-promo-gramedia

Hingga akhirnya, Acha mendapatkan nomor telepon Iqbal dari kedua sahabat Iqbal, yaitu Rian dan Glenn. Namun, hal itu tidaklah gratis sebab Acha membayarnya dengan sekotak pulpen dan 7 buah mistar atau penggaris.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Acha dan Iqbal adalah murid yang pandai. Acha dan Iqbal pun dikirim untuk menjadi perwakilan sekolah dalam Olimpiade Sains tingkat Nasional. Acha dan Iqbal tidaklah berdua, mereka juga satu tim dengan Juna yang mana nanti selama kurang lebih tiga bulan, mereka akan dibimbing oleh Pak Bambang.

Selama tiga bulan itulah intensitas pertemuan antara Acha dan Iqbal akan semakin sering dan selama itu pula, Acha tidak pernah absen untuk bertanya pada Iqbal bahwa apakah dirinya sudah menyukai Acha. Namun, Iqbal selalu menjawab, “Tidak”.

Di suatu pagi hari, Acha memberikan kue coklat keju kepada Iqbal sehingga ia datang lebih pagi dan bergegas menuju kelas Iqbal. Akan tetapi, dengan sangat terkejutnya, Acha melihat Iqbal sudah datang dan ada seorang gadis yang tengah duduk di samping Iqbal. Gadis itu ternyata adik kelas yang turut serta dalam tim Olimpiade Fisika, Tesya namanya. Tesya sedang menanyakan terkait soal yang tidak dipahaminya kepada Iqbal sebab Iqbal merupakan juara dari Olimpiade Fisika tingkat Nasional.

Saat itu, Acha bergegas masuk dan memecahkan suasana antara Iqbal dan Tesya dengan memberikan sekotak kue coklat keju tersebut pada Iqbal dan menatap adik kelas itu dengan tatapan yang tidak biasa. Acha tidak tinggal diam, ia mengatakan pada Tesya untuk menjaga jarak kepada Iqbal, tetapi Iqbal justru tidak membela Acha sehingga Acha pergi dengan hati yang teriris.

Ketika jam istirahat, Acha masih tampak murung dan sedih, kemudian Amanda mengajaknya ke kantin sebab barangkali suasana ramainya kantin dapat menghibur Acha. Namun, bukannya menghibur, justru ada suatu pemandangan yang membuat rasa geram Acha semakin meningkat. Tampak di hadapannya, Iqbal, Glen, dan Rian sedang bersama adik kelas yang tadi, Tesya.

Acha dengan segala emosinya bergegas menghampiri meja mereka dan menyuruh Tesya untuk pindah sebab Acha menganggap bahwa tempat itu hanya boleh ditempati olehnya. Akan tetapi, Iqbal malah menyuruh Tesya untuk jangan berpindah di hadapannya. Acha pun semakin murka, mengencangkan suaranya, dan berkata pada Tesya untuk segera pindah serta pergi dari hadapannya.

Seketika, suasana kantin menjadi hening dan semua orang tertuju ke mereka. Iqbal meletakkan dengan kuat sendok serta garpunya hingga terdengar bunyi yang amat nyaring. Iqbal justru memaki-maki Acha hingga menangis, dan nahasnya Iqbal mengatakan bahwa Acha adalah perempuan murahan. Saat itu juga, Acha berlari ke taman di belakang sekolah sembari menangis.

Lantas, Akankah Iqbal mengejar Acha ke taman belakang sekolah? Atau justru membiarkannya? Akankah Iqbal terus bersikap dingin dan acuh tak acuh kepada Acha?

Ikuti perjuangan kisah cinta Acha dalam merobohkan kerasnya hati Iqbal, tentunya di novel Mariposa

EL
EL

tombol beli buku

Bercerita tentang seorang pengusaha muda yang sangat sukses bernama Mario Adipati Haling. Di umurnya yang mendekati angka tiga puluh, sosok Mario belum pernah merasakan kisah percintaan di dalam hidupnya. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan gadis remaja yang memiliki sifat ajaib dan kepribadian penuh misteri, Dafychi Guanni Freedy.

Mario melihat Dafychi seperti seorang Tuan Putri yang selalu ingin ia kabulkan permintaannya. Sedangkan, Dafychi memandang Mario seperti kulkas dan bank berjalan yang siap memberikannya apa saja.

Novel ini menghadirkan kisah percintaan lucu, romantis, kekeluargaan, dan persahabatan yang akan menghibur hati semua pembaca.

Penokohan dalam Novel Mariposa

1. Natasha Kay Loovi

Natasha atau yang kerap disapa Acha, seorang siswi baru di SMA Arwana. Acha adalah gadis cantik, periang, penuh dengan keceriaan, dan sangat pintar dalam bidang akademik, terlebih pada pelajaran Kimia. Hal itu terbukti bahwa dalam berbagai Olimpiade Sains yang kerap diselenggarakan, ia yang menjadi perwakilan sekolahnya.

Akan tetapi, kepintaran Acha dalam akademik berbanding terbalik dengan hal percintaannya sebab dirinya harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan sang pujaan hati dan cinta pertamanya itu, yakni Iqbal.

2. Iqbal Guanna Freedy

Iqbal Guanna Freedy atau Iqbal, salah satu siswa di SMA Arwana dan teman satu camp olimpiade bersama Acha. Iqbal berparas tampan dan mempunyai otak yang cerdas dalam bidang akademik, terlebih bidang Fisika.

Sifat yang dimiliki Iqbal tentu berbeda dengan Acha. Iqbal mempunyai sifat yang sangat amat dingin bagaikan es batu, acuh tak acuh, dan enggan berbicara banyak alias irit. Akan tetapi, di balik itu semua, Iqbal adalah laki-laki yang sangat peduli akan sekitarnya.

3. Juna

Juna adalah laki-laki berusia 17 tahun dan merupakan Ketua Osis di SMA Arwana. Juna sebenarnya menyukai Acha, tetapi hal itu tidak dirasakan oleh Acha. Bisa dikatakan, cinta Juna bertepuk sebelah tangan.

Juna adalah siswa yang pintar, tampan, bijaksana setiap kali mengatasi masalah yang terjadi antarsiswa SMA Arwana, dan mampu menahan serta mengendalikan perasaan atau emosionalnya. Tak hanya itu, ia juga disegani di sekolah sebab dirinya kerap memberikan sikap yang baik dan mampu memberikan nasihat pada teman-temannya.

banner-promo-gramedia

4. Amanda

Amanda adalah sahabat baik dari Acha dan super posesif. Hal itu dilakukannya sebab ia tidak mau melihat Acha sedih atau tersakiti. Ia selalu yang memberikan support kepada Acha kapanpun dan di manapun. Seperti halnya, saat Acha ditolak ribuan kali oleh Iqbal, Amanda terus memberikan dukungan agar Acha tidak terus-menerus sedih. Amanda ini merupakan kekasih dari Rian, sahabat baik Iqbal.

5. Rian

Arian atau Rian, salah satu sahabat baik Iqbal. Rian adalah kekasih dari Amanda, yakni sahabat baik Acha. Ia adalah sahabat Iqbal sejak kecil, seperti Glen. Ia, Iqbal, dan Glen mempunyai geng yang bernama “Geng Multinasional”. Hal itu sebab negara tempat kelahiran mereka bertiga berbeda dan hanya Rian yang lahir di Indonesia.

6. Glen

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Glen juga merupakan sahabat dari Iqbal dan Rian. Tempat kelahiran Glen di Kairo, Mesir. Glen terlahir dari keluarga yang kaya, bahkan ia rela memberikan uang yang tidak sedikit untuk membeli cireng Mba Wati–salah satu penjual di kantin SMA Arwana–dan tidak mengharapkan kembalian sedikitpun. Hal itu juga karena dia sangat menyukai cireng Mbak Wati.

Ia gemar memungut pulpen yang tertinggal di dalam kelas, setelah jam sekolah berakhir. Entah mengapa, dirinya sering disebut cinlok alias cinta lokasi dengan teman sekelasnya, yaitu Siti, dan kerap dijuluki sebagai Raja Semut. Uniknya, pikiran Glen hanya dipenuhi oleh cireng dan pulpen.

12 Cerita Glen Anggara
12 Cerita Glen Anggara

tombol beli buku

Glen Anggara, anak tunggal dari keluarga kaya raya yang memiliki kepintaran di bawah rata-rata. Glen menyukai kebebasan dan hanya ingin melakukan semua hal yang membuatnya bahagia. Sikap absurd dan menyebalkannya selalu membuat orang naik darah.

Suatu hari, Glen bertemu dengan seorang gadis cantik berwajah pucat bernama Shena. Gadis itu tiba-tiba meminta Glen untuk menjadi pacarnya. Tentu saja Glen langsung menolak, Glen menganggap bahwa Shena aneh dan gila.

Namun, di pertemuan kedua mereka. Glen tidak sengaja menemukan secarik kertas milik Shena yang bertuliskan dua belas keinginan sebelum senja terbenam. Sebenarnya apa sajakah kedua belas keinginan tersebut? Apa yang dilakukan oleh Glen setelah membaca dua belas keinginan milik gadis yang dianggapnya aneh dan gila itu? Ikuti kisah Glen di dalam novel 12 Cerita Glen Anggara

Keunggulan Novel Mariposa

Novel Mariposa merupakan salah satu bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Hal itu dapat terlihat bahwa penulis menggunakan pilihan kata atau diksi yang cenderung ringan sehingga sesuai dengan target pasarnya yang sebagian besar dari kalangan remaja.

Bisa dikatakan, pilihan kata yang dituangkan ke dalam cerita oleh Luluk–selaku penulis–adalah diksi yang populer di kehidupan para remaja. Dengan demikian, akan menciptakan relasi secara tidak langsung antara pembaca dan isi cerita yang telah ditulis oleh sang penulis.

Adapun pemilihan kata atau diksi populer yang dituangkan ke dalam novel Mariposa, seperti bentuk sapaan gue dan lo, atau semacamnya. Hal itu terbukti bahwa memang masyarakat Indonesia, khususnya remaja yang tinggal di perkotaan, cenderung menggunakan bahasa sapaan seperti itu.

Selain itu, Mariposa bisa dikatakan sebagai novel teenlit yang telah berkembang jauh apabila dibandingkan dengan novel-novel teenlit di era 2000-an sebelumnya. Mariposa menciptakan variasi baru yang mana karakter dari tokoh utama, yakni Iqbal dan Acha sebagai sosok yang pandai dan berprestasi. Hal ini juga menjadi sebuah bentuk harapan agar para remaja yang membaca novel Mariposa ini dapat mengambil sisi positif tersebut.

Lazimnya, novel teenlit akan menggambar terkait salah satu tokoh utama yang mempunyai karakter dominan atau menonjol bertemu dengan tokoh utama lain dengan karakter yang lemah. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan oleh sang penulis dalam novel Mariposa sebab kedua tokoh utama mempunyai karakter yang saling dominan dan kuat.

Kemudian, Luluk selaku penulis cerita Mariposa menangkis konsepsi bahwa perempuan itu harus menunggu. Akan tetapi, di novel ini yang melakukan tindakan untuk pertama kalinya adalah tokoh utama perempuan, yakni Acha. Acha mempunyai keberanian yang terbilang luar biasa dalam menyatakan ketertarikannya kepada tokoh utama pria, yakni Iqbal.

banner-promo-gramedia

Acha mempunyai sikap agresif yang telah ditunjukkannya sejak awal. Bisa dikatakan mungkin tidak ada sosok Acha di kehidupan nyata. Kalaupun ada, akan membuat teman-teman yang ada di sekitarnya menjadi malu sebab sikap agresifnya itu. Akan tetapi, hal itulah yang menjadikan cerita Mariposa ini ‘hidup’.

Layaknya perempuan kebanyakan, tokoh Acha dalam novel ini juga membutuhkan suatu bentuk penegasan dari Iqbal, sang pujaan hatinya. Acha secara terbuka menyatakan perasaannya, tetapi Iqbal selalu bersikap acuh tak acuh pada Acha. Penulis merepresentasikan sosok Acha sebagai gadis remaja yang tidak ada lelahnya dalam meruntuhkan kerasnya tembok pertahanan dari Iqbal.

Adapun konflik yang digambarkan juga masih terbilang ringan, yaitu terkait perasaan remaja yang membutuhkan penegasan dari pasangannya atau sang pujaan hati. Lalu, penyelesaian konflik dari kedua tokoh utama pun, terbilang apik.

Hal itu digambarkan oleh penulis, yakni adanya ruang bagi para tokoh untuk mengutarakan terkait yang mereka rasakan, kemudian mencari penyelesaian dan jalan keluar atas konflik tersebut, serta saling berdamai. Dalam hal ini penulis juga membagi pesan tersirat agar para remaja dapat mempunyai jalan pikir demikian, yakni apabila ada masalah, jangan lari, melainkan diselesaikan secara baik-baik.

Dengan kata lain, penyelesaian konflik yang disuguhkan dalam novel Mariposa sangat manusiawi dan sangat bagus bila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat remaja.

Kelemahan Novel Mariposa

Kelemahan dalam novel Mariposa terletak pada porsi antara narasi dan dialog yang cenderung seimbang. Hal tersebut yang menjadikan karakter dari tokoh dalam novel ini tidak tergambarkan secara mendalam. Narasi yang minim tidak merepresentasikan secara dalam akan karakter dari tiap-tiap tokoh sehingga masih terbilang ‘buram’.

Kemudian, masih terdapat beberapa penggunaan kata yang tidak baku, seperti kata tau seharusnya “tahu”, lalu kata liat seharusnya menjadi “lihat”. Namun, mungkin hal itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan konteks tuturan yang kerap digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Kesimpulan dan Amanat Novel Mariposa

Dalam sebuah novel, tentu ada amanat yang hendak disampaikan oleh penulis, baik itu yang disampaikan secara tersurat maupun tersirat.

Dalam novel Mariposa tentu banyak amanat yang hendak disuguhkan oleh Luluk selaku penulis, khususnya bagi para remaja. Hal itu di antaranya memiliki semangat juang dan bersungguh-sungguh dalam berusaha untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan, serta jangan patah semangat bila hal itu belum tergapai jua.

Kemudian, seperti pada tokoh Acha, ia memiliki sikap percaya diri tinggi, cerdas, dan ambisius sehingga sikap yang seperti itu membuat dirinya tidak mudah menyerah dalam menggapai apa yang diimpikan.

Hal-hal demikian sangat diharapkan agar dapat dijadikan panutan positif bagi para remaja yang membaca novel Mariposa ini.

Itulah Resensi Novel Mariposa karya Luluk HF. Bagi Grameds yang tertarik dan ingin memperluas pengetahuan terkait bidang apapun atau ingin mencari novel dengan berbagai genre, tentu kalian bisa temukan, beli, dan baca bukunya di Gramedia.com dan Gramedia Digital karena Gramedia senantiasa menjadi #SahabatTanpaBatas bagi kalian yang ingin menimba ilmu.

Penulis: Tasya Talitha Nur Aurellia

Sumber: dari berbagai sumber

Teenlit: Life Begins With Spices
Teenlit: Life Begins With Spices

tombol beli buku

Alya sangat membenci sambal. Lidahnya tidak bisa menerima sensasi pedas dan panas yang terdapat pada sambal, terlebih perutnya. Meskipun ketidaksukaannya ini selalu membuatnya jadi bahan bercanda teman-temannya, Alya tidak peduli.

Ternyata sambal pula yang membawa Alya harus berurusan dengan Kenzo, si berandal sekolah. Awalnya, Alya tidak ingin dekat-dekat dengan cowok berandal tukang tawuran yang nilai-nilainya jeblok itu. Namun, akhirnya gigitan pedas mulai memberi sensasi ketika perlahan Alya mengenal keunikan Kenzo. Mengapa bisa demikian? Cari tahu kisah Alya dan Kenzo di novel Life Begins with Spices.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Tasya Talitha