Bahasa Indonesia

Penjelasan Pengertian Kalimat Resensi Dan Contohnya

kalimat resensi
Written by Lala Nilawanti

Apakah Grameds masih kesulitan membuat kalimat resensi buku? Resensi adalah salah satu jenis teks yang akan sering kita jumpai di dunia akademi ataupun sebagai penikmat karya seperti buku, film, musik, pasti Grameds tidak asing dengan resensi. Bentuk resensi yang mungkin banyak Grameds temukan adalah resensi buku, sedangkan resensi film atau musik biasanya disebut kritik film atau kritik musik yang jika dituliskan juga hampir serupa dengan struktur resensi buku. 

Lalu bagaimana kalimat yang ada didalam teks resensi dan apa bedanya dengan teks lainnya? Grameds bisa simak artikel ini sampai selesai, mulai dari mengenal apa itu resensi secara mendasar, bentuk- bentuk kalimat resensi dan contohnya:

Pengertian Resensi

Resensi adalah sebuah karya tulis yang dibuat berdasarkan penilaian, pengamatan, meninjau, dan melihat kembali suatu karya yang dikonsumsi banyak orang. Dalam praktiknya, resensi biasanya dibuat untuk menilai buku, film, musik, atau karya seni lainnya yang dinikmati banyak orang kehadirannya. Buku adalah salah satu bentuk karya yang tidak bisa dilepaskan dari resensi. Karena berkaitan dengan orang banyak, maka kehadiran resensi buku juga memiliki tujuan. 

Resensi dibuat untuk menunjukan kepada calon pembaca tentang isi karya buku tersebut berdasarkan opini penulis resensi. Resensi buku akan sangat mempengaruhi \peredaran atau penerimaan buku terhadap pembaca meskipun resensi bersifat subjektif yang bisa saja berbeda penilaian setiap orang terhadap buku. Tujuan resensi buku dibuat adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi tentang buku tertentu kepada pembaca akan kehadirannya
  2. Dapat memberikan pertimbangan kepada calon penikmat karya untuk membaca isi buku tersebut
  3. Menjawab pertanyaan- pertanyaan tentang buku yang muncul di benak pembaca yang belum sempat membacanya sampai selesai
  4. Memberikan informasi- informasi yang bisa pembaca jadikan penilaian apakah buku tersebut layak jadi bacaan favorit atau dibaca sampai selesai
  5. Dapat berguna sebagai promosi buku kepada pembaca karena berisi komentar pembaca buku atas kesalahan membaca dan memahami isi buku tersebut

Mengapa kita perlu menulis resensi? Berdasarkan tujuan penulisan resensi di atas Grameds bisa menjawab pertanyaan tersebut bahwa sebuah resensi memang bisa sebegitu pengaruhnya pada buku, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Jika diperhatikan resensi sebenarnya hampir serupa dengan esai atau opini yang berisi pandangan subjektif penulis tentang fenomena tertentu, dalam hal ini berarti penulis membahas sebuah buku sebagai bahan pembicaraan. Dalam menulis resensi juga membutuhkan ketepatan penggunaan bahasa dengan menyusun kalimat yang baik agar bisa menghasilkan resensi buku yang berkualitas.

Grameds mungkin sering menemukan resensi dan review, nah apa perbedaan resensi dan review buku? dalam praktiknya kedua sebutan tersebut hampir sama diartikan sebagai teks yang mengulas buku dari kekurangan, kelebihan, dan informasi tentang karya tersebut. Dalam beberapa kondisi sebutannya mungkin saja berbeda, seperti di beberapa media cetak seperti Koran atau majalah lebih sering menggunakan sebutan resensi yang berkesan lebih serius, sedangkan di media online ada beberapa yang menggunakan sebutan review yang berkesan lebih ringan membahas buku tersebut. 

Nah, agar Grameds tidak kebingungan tentang resensi buku, maka Grameds bisa mengenalnya dari gaya bahasanya, yakni penggunakan kata, diksi dan penyusunannya menjadi sebuah kalimat resensi yang tepat untuk buku tertentu. Secara umum kalimat resensi tidak memiliki struktur berbeda dengan kalimat- kalimat pada teks lainnya. Namun perbedaannya berada pada konteks atau ide pokok yang ada di dalam kalimat tersebut. 

Pengertian Kalimat Resensi

Kalimat resensi adalah bentuk kalimat yang berisi tentang ulasan buku dengan tujuan menggambarkan apakah buku tersebut layak dibaca atau tidaknya. Kalimat resensi memiliki ide pokok menilai, menganalisis, mengamati, dan mengaitkan dengan karya atau buku- buku sebelumnya yang masih berkatan atau berbicara topic yang sejenis. Kalimat dalam teks resensi bersifat subjektif berdasarkan komentar penulis yang bisa berisi kritik atau apresiasi positif pada buku tersebut. 

Dalam praktiknya, kalimat resensi menunjukkan kelebihan dan kekurangan buku untuk menunjukan kepada calon pembaca apakah buku tersebut layak dibaca dan bagaimana kehadiran buku tersebut menyapa pembaca. Dalam menulis kalimat dalam teks resensi buku Grameds perlu menguasai materi yang akan dibicarakan berkaitan dengan buku. Hal tersebut diperlukan agar penilaian pada buku tersebut logis dan juga bisa diterima oleh banyak orang, meskipun resensi sendiri bersifat subjektif yang sah- sah saja setiap orang memiliki pandangan atau penilaian yang berbeda- beda. 

Itulah sebabnya bentuk kalimat yang digunakan dalam resensi buku antara penulis yang satu dengan lainnya bisa saja memiliki penilaian atau pandangan yang berbeda. Buku seperti layaknya karya seni lainnya bisa memiliki pengalaman yang berbeda- beda terhadap penikmatnya. Jadi wajar saja resensi bisa muncul beragam hanya dari satu karya satu buku saja. Perlu digarisbawahi, resensi juga berisi kalimat- kalimat yang bersifat objektif berdasarkan informasi atau data akurat yang berkaitan dengan buku tersebut untuk memperkuat opini penulis dalam penilaian kekurangan dan kelebihan buku tersebut. 

Kalimat resensi juga tergambarkan dari unsur- unsur yang ada dalam tulisan resensi seperti berikut ini:

  1. Judul Resensi yang berbeda dengan judul buku
  2. Identitas Buku yang berisi judul buku, tahun terbit dan tahun cetaknya, nama pengarang, tebal halaman buku, nomor edisi buku, penerbit, harga buku, sampai ukuran buku jika diperlukan. Identitas ini dapat menjadi gambar untuk pembaca bagaimana kondisi fisik buku. 
  3. Intisari Buku yang berisi sinopsi atau isi buku secara keseluruhan untuk gambaran pembaca tentang isi buku tersebut. Melalui synopsis ini penulis resensi juga bisa membuat pembaca penasaran dengan buku dan melanjutkan membaca resensi sampai selesai dan memutuskan untuk membaca buku tersebut. 
  4. Biografi Pengarang biasanya ditulis secara mengalir dalam teks resensi sebagai data pendukung atas penilaian karya buku sehingga biografi pengarang pun ditampilkan secara ringkas. 
  5. Kelebihan dan Kekurangan Buku bisa ditulis secara terpisah atau ditulis berdasarkan topic yang sedang dibahas  untuk menampilkan kelebihan dan kekurang buku tersebut.
  6. Kesimpulan berisi gambaran secara umum resensi tersebut dengan cara menyimpulkan fenomena yang dibahas dengan hasil analisis atau penilaian penulis. 

Contoh Kalimat- kalimat Resensi Buku

Berikut ini contoh resensi buku yang ditulis oleh Rusdi Mathari yang berjudul Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi Dari Madura yang merupakan buku fiksi. Resensi ini menunjukan kalimat- kalimat yang mengulas isi buku, mulai dari cerita dalam buku, menilai bagian yang menarik dalam buku dan kekurangan yang ada di dalam buku ini, berikut resensinya: 

Tidak Lebih Pintar dari Orang Sinting

Judul : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura

Penulis : Rusdi Mathari

Cetakan : September 2016

Penerbit : Buku Mojok

Tebal : xviii+226 hlm.; 13×20 cm

ISBN : 978-602-1318-40-9

Pintar atau bodoh sudah seperti julukan yang melekat pada seseorang. Predikat pintar atau bodoh adalah subjektivitas seseorang yang tampak seperti objektivitas dengan fakta yang sebenarnya bisa dibantah. Orang-orang berlomba-lomba disebut pintar dengan segala cara yang terkesan dipaksakan. Memiliki jabatan yang tinggi berarti pintar, memiliki kekayaan yang berlebih berarti pintar,  sekolah tinggi berarti pintar. Dengan semua itu, yang ‘pintar’ dengan mudah menJudge yang lain dengan predikat ‘bodoh’. ‘Pintar’ seolah menghadirkan sesuatu yang paling benar dan sempurna, sehingga patut dijadikan contoh yang menciptakan mayoritas dan menyalahkan yang minoritas. 

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya adalah antologi artikel Rusdi Mathari yang dimuat di situs web Mojok.co sebagai serial Ramadan dua tahun berturut-turut, yakni 2015 dan 2016. Artikelnya disampaikan dalam bentuk cerita pendek yang realis, dengan latar belakang masyarakat muslim Indonesia dengan budaya beragamanya saat ini.  

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Rusdi Mathari menghadirkan tokoh Cak Dlahom, Mat Piti, Romlah, dan Bunanali meskipun tokoh tersebut bukanlah rekaan mandiri dari Rusdi. Nama-nama tokoh tersebut diambil dalam cerita-cerita humor surabayan. Kurang lebih seperti tokoh Mukidi, yang belakangan kembali populer. Kemiripan gaya Rusdi dengan Dhalom-nya dan Cak Nun dengan Markesot-nya disebabkan oleh strategi yang sama-sama dikutip dari gaya bertutur humor-humor berfragmen pendek. Nama Dhalom  sendiri diambil dari diksi Jawa Timur yang kira-kira artinya ‘agak bodoh’.

Kata “bodoh” menjadi refleksi Cak Dhalom mengenai pengetahuan manusia atas agama dan Tuhan. Penulis menekankan pula persoalan “bodoh” tersebut lewat judul yang dipilih untuk diterakan pada buku ini.

Serial Cak Dhalom mengisahkan kejadian sehari-hari disebuah desa di Madura. Sentra kisah ialah Dhalom, duda tua yang hidup sendiri di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Dhalom kerap menjadi komentator atau penyulut perbincangan mengenai substansi ibadah, yang membuat para tetangganya merenungkan ulang pemahaman mereka atas agama Islam. 

Selain pokok-pokok obrolan itu sendiri, keseharian Cak Dhalom dan para tetangganya juga dijalin menjadi kisah bersambung. Kisah yang mengalir dalam perkembangannya turut memunculkan tokoh-tokoh baru. Latar penulisan buku ini di dua kali ramadan, yang mana bulan ramadhan juga menjadi situasi dalam serial ini, membuat buku ini dibagi dalam dua bab: Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua.    

Percaya pada Orang Sinting   

Masyarakat desa Ndusel yakin dan tak yakin Cak Dhalom adalah orang yang tak waras, tapi mereka menganggap keberadaan Cak Dhalom sebagai pembeda.  Sebagai penyeimbang. Cak Dlahom orang yang dianggap sinting yang kadang mengharu biru. Kadang mereka rindukan, kadang mereka tidak suka. Setiap omongannya seperti melawan arus pendapat orang-orang kampung. Dia hadir dalam cerita sebagai orang yang tak silau pada dunia dan malah menghinakan dirinya sedemikian rupa. Membiarkan orang-orang menganggapnya tak waras. Membiarkan siapa saja meremehkannya.

Rusdi Mathari memulai cerita dengan hal-hal aneh yang dilakukan Cak Dlahom. Masyarakat kampung menganggap apa yang dilakukan Cak Dlahom adalah sesuatu yang tidak wajar, sehingga mereka tidak jarang meneriaki Cak Dlahom dengan diksi ‘gila’, ‘sinting’, ‘tidak waras’. Tetapi setelah mereka mengetahui alasan mengapa Cak Dlahom melakukan hal tersebut, mereka tertunduk, merenung ternyata apa yang dilakukan Cak Dlahom lebih mulia dari apa yang sebenarnya mereka pahami selama ini.

banner-promo-gramedia-ilana-tan

Cak Dlahom pernah tidur di kandang kambing pak Lurah dan membawa anjing tidur bersamanya. Anjing dan kambing-kambing itu dipeluknya bergantian, sambil diajak berbicara. Masyarakat menuduh Cak Dlahom menebarkan najis. Disinilah Cak Dlahom mengaku anjing. Cak Dlahom tidak berani memberi cap kepada orang lain seperti kebanyakan mereka yang menyukainya. Puncak keberaniannya hanyalah meremehkan dirinya sendiri. Cak Dlahom juga pernah telanjang bulat dibilang serambi imam di masjid. Kelakuannya ini membuat gempar masyarakat ternyata dia hanya ingin bersedekah kepada nyamuk yang dianggap juga makhluk Allah yang perlu kita sejahterakan. 

Keanehan cak Dlahom tidak berhenti berhenti disitu saja. Dia telah menjadi perhatian masyarakat kampung. Tiba-tiba dia tidak mau berbicara sama sekali. Alasanya adalah Sejak balita sudah diajar  bicara dan terus berbicara sampai sekarang. Sudah terlalu banyak berbicara. Mulut ini mengajarkan orang tentang kebajikan dan ketidakbajikan, tapi sebetulnya hanya mengharap orang-orang memujiku sebagai orang yang bijaksana.

Sebagai orang yang alim mulut menasehati orang, tapi perbuatan dan tingkah laku jauh dari yang dinasehatkan. Mulut memberitahu dan mengajarkan sesuatu hanya agar dianggap berilmu luas. Mulut sering berkata-kata yang menyakiti orang lain. Bahkan mendengarkan suaraku saja sebagian orang takut. Sering merasa telah berkata sesuai hati nurani, tapi sebetulnya hanya merancang agar orang lain bisa kagumi dan tidak remehkan.

Kata-kata dirancang sehalus mungkin, tapi dimaksudkan untuk mengiris perasaan orang lain. Mulut berkata-kata agar orang percaya dan bisa dipercaya. Berbicara menyenangkan orang agar  dianggap dan dinilai sebagai orang yang menyenangkan. Orang yang asyik, meskipun  berdusta. Hanya berbasa-basi. Mulut, hati, dan perbuatan tak pernah  sesuai.(hal. 190)

Mat Piti, salah satu tokoh yang sering berinteraksi dengan Cak Dlahom dan keanehannya justru meminta menjadi lebih gila dari Cak Dlahom. Keluguan dan kejujuran Cak Dhalom dirasa Mat Piti, membuat hidup Cak Dlahom damai. Dullah, mantan imam masjid dan Gus Mut keponakannya justru meminta berguru pada Cak Dlahom. Cak Dhalom tentu menolak, mengapa mereka meminta berguru pada orang sinting sepertinya. 

  Obrolan Cak Dlahom dan orang yang diajaknya bicara, berkesan mbulet, berputar-putar, beruntun, dan pada akhirnya sulit dikenali siapa bilang apa. Sama seperti tokoh-tokoh aneh dan nyeleneh dalam cerita-cerita Putu Wijaya:caranya yang berbeda dalam memandang dunia. Dalam buku ini ada pengakuan Cak Dlahom adalah orang sinting, dia anjing, Cuma wayang, tapi ada saat dia mengaku bisa melihat Tuhan. Dalam pengantar buku ini Mahfud Ikhwan berpesan untuk tidak percaya pada tokoh ini, Rusdi mathari telah memperdaya pikiran kita melalui tokoh Cak Dhalom yang sinting tetapi lebih pintar dari orang yang waras.  

Karya Rudy ini mampu menghadirkan sensasi nyata karena keterlibatan secara langsung dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari saat bulan puasa. Melalui buku ini kita bisa mengenali penyakit-penyakit kita hari ini,bagaimana kebiasaan beribadah yang ternyata salah, justru semakin menjauhkan kita pada Allah. Pesan yang disampaikan Cak Dlahom dalam cerita ini dapat kita gunakan untuk mempersiapkan bulan ramadhan yang sebentar lagi akan kita jumpai. Atau sekedar bernostalgia dengan ramadhan lalu, bagaimana kita merasa sombong dan percaya diri menjalankan ibadah yang kita anggap benar dan sempurna itu. 

Beli Buku di Gramedia

Nah, itulah penjelasan tentang kalimat resensi dan contohnya. Apakah Grameds sudah bisa membuat kalimat resensi tersebut? Melalui resensi tersebut Grameds bisa mengekspresikan komentar terhadap suatu karya, baik buku, film, musik, atau bentuk karya lainnya dengan baik secara intelektual. Jadi tidak ada salahnya Grameds mengasah kemampuan dalam menulis kalimat resensi.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien