in

Review Novel Magma Karya Geladis Afira

Novel Magma merupakan salah satu novel yang terbilang beruntung, karena novel ini pada mulanya diunggah di platform Wattpad. Kisah Magma ini mampu mencuri perhatian banyak orang, termasuk pihak penerbit yang akhirnya menerbitkan kisah ini menjadi sebuah novel. Novel Magma juga berhasil menjadi salah satu novel yang bisa kamu temukan di jajaran buku best seller.

Novel Magma ditulis oleh seorang gadis asal Indonesia bernama Geladis Afira. Pada awalnya, kisah Magma dipublikasi di akun Wattpad penulisnya sendiri, yang bernama @geladis_afira. Kisah Magma hingga saat ini, per bulan Juni 2022, telah dibaca sebanyak 29,8 juta kali di Wattpad. Kisah Magma juga pernah menjadi urutan pertama dalam ranking tertinggi kategori fiksi remaja di Wattpad, pada tanggal 15 Desember 2020.

Geladis Afira mulai menulis kisah Magma pada tanggal 16 September 2020. Novel Magma kemudian diterbitkan pada bulan Agustus 2021 oleh Snowball Publishing. Novel Magma merupakan novel bergenre fiksi remaja yang mengangkat kisah cinta remaja.

Novel ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Magma. Magma adalah sosok pria yang egois, galak, pemaksa, dingin, sombong, dan segala sikap lain yang terkait dengan kekuasaan. Pria itu telah resmi jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis bernama Glora. Namun, Glora ternyata merupakan pacar dari musuhnya.

Ketika di kantin, saat Magma sedang bertengkar dengan cowok bernama Eza, Glora datang melerai mereka. Magma yang melihat kedatangan Glora itu kemudian langsung jatuh cinta dan menantang Eza untuk bertanding. Taruhannya, siapa pun yang kalah, harus menuruti keinginan yang menang. Magma melakukan semuanya itu hanya untuk mendapatkan gadis itu.

Sinopsis Novel Magma

Istirahat pertama baru saja dimulai. Kebisingan mulai terjadi. Terdengar gemuruh langkah para siswa dan siswi SMA Batavia yang malah berbalik arah melawan kantin. Ternyata, lapangan upacara saat ini lebih menarik di mata mereka.

Magma, salah satu siswa SMA Batavia sedang berjalan gontai dengan tangan kanan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Ia melirik sekilas ke arah lapangan, di sana ada kerumunan anak-anak Batavia di sana. Terutama anggota OSIS. Baik cewek atau cowok menyoraki kata “terima” secara bersamaan.

Oleh karena itu menyangkut organisasi OSIS, Magma hanya mengangkat bahunya acuh. Bukan urusan penting baginya dan dia juga tak ingin tahu kehebohan yang terjadi. Palingan acara tembak-tembakkan anak OSIS dengan murid baru kelas 10 tahun ini. Hal ini sudah menjadi kebiasaan, yang mana salah satu anggota OSIS akan naksir pada junior kelas 10 yang mereka latih tadi, dan berakhir diajak pacaran.

Bagi Magma, hal itu benar-benar dianggap norak. Magma akhirnya pergi menuju ke kantin. Hal itu sempat menjadi sorotan para adik kelasnya beberapa saat. Namun, Magma mengabaikannya. Dia langsung melihat ke arah teman-temannya yang sedang makan bersama cewek-cewek kakak kelas 12.

Seorang cewek berpita biru tersenyum manis kepada Magma dan menyapanya. Magma tersenyum tipis dan membalas sapaan itu. la pun langsung duduk di sebelah cewek itu. Dengan sekali rangkulan saja, Magma langsung mencium pipinya sekilas.

Sekelebat delikan mata elang itu langsung menoleh ke belakang. Ada sejumlah orang cewek yang melotot kaget, tetapi kemudian terbata-bata mengalihkan pandangan mereka dan segera membayar pesanannya di kantin. Tampak sekali mereka pura-pura dalam bertingkah. Mereka gugup.

Itu berarti, tadi mereka kaget memang karena Magma tiba-tiba mencium Cindy yang ada di sebelahnya. Cindy hanya tertawa melihat Magma. la kemudian menyentuh pipi cowok itu agar kembali menatapnya. Lalu, Cindy berkata bahwa tidak apa, mungkin mereka kaget karena masih kelas 10.

Cindy memang sudah menjalin hubungan yang cukup dekat dengan Magma. Namun, Cindy kerap merasa lelah, karena Magma tidak memberikan kepastian. Magma menggantungkan hubungan mereka.

Apakah kamu tau rasanya saat kamu naksir Kakak kelas yang melatihmu selama masa PLS terlaksana, ternyata diam-diam mencuri pandang dan menyimpan rasa padamu? Kemudian di hari pertama kamu masuk sekolah, kakak kelas yang kamu taksir itu membawakanmu sebuah buket bunga dan bersimpuh di hadapanmu, lalu menyatakan cintanya! Glora Checillia, itu dia gadis beruntung yang menerima takdir ini.

Tiga hari setelah mengikuti kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), Glora memang sangat naksir kepada kakak kelasnya yang bernama Eza. Ia merupakan salah satu anggota OSIS di SMA Batavia. Eza juga adalah kapten futsal di sekolah itu.

Glora benar-benar tak percaya hal ini bisa terjadi kepadanya. Seluruh badannya terasa panas ketika kapten futsal ini menyatakan cinta begitu saja kepadanya. Ditambah lagi, semua itu dilakukan di depan umum. Patut diacungi jempol atas keberaniannya.

Para siswa yang menonton aksi romantis mereka menyoraki dengan kata “terima”. Glora menahan senyum tak percaya. Jantungnya tidak aman. Betapa merahnya wajah dia sekarang! Glora merasa sangat bahagia.

Bahkan, untuk menatap cowok ini saja, Glora merasa sangat malu! Dia gugup bukan main san tidak tahu harus bertindak bagaimana. Eza, cowok itu masih menunggu jawaban. Eza ikut tertawa melihat gadis itu salah tingkah. Hal itu sangat manis di matanya.

Astaga! Glora menyukai seseorang, dan seseorang itu mengutarakan perasaan yang sama kepadanya. Semulus itu nasib Glora. Glora benar-benar bersyukur. Terima kasih paling utama adalah untuk Arina sahabatnya, yang merupakan sepupu Eza juga. Glora memang kerap menanyakan kepadanya tentang Eza.

Mungkin, dia juga yang membocorkan semua itu kepada Eza. Maka dari itu, cowok ini menjadi percaya diri seperti sekarang untuk mengungkapkan cintanya kepada Glora. Eza kemudian mengangkat alis dengan senyuman manis yang terukir, sambil bertanya lagi bagaimana jawaban dari Glora.

Glora menarik senyumnya dengan salah tingkah. Apakah dia akan menolaknya? Mungkin semua orang akan tahu jawabannya. Glora menurunkan tangannya perlahan dan mengambil bunga itu. Eza menggoda Glora dan berkata pasti Glora akan menerimanya.

Mata Eza menyipit karena tertawa, ditambah dengan lesung pipi sebelah kanan. Glora tidak tahan untuk tidak terpesona. Eza memang sangat tampan. Glora kemudian tersenyum manis dan mengangguk.

Para siswa yang melihat itu pun langsung menyoraki mereka berdua dengan mengucapkan selamat, dan pastinya meminta pajak jadian. Eza kembali berdiri dan berkata kepada para anggota OSIS untuk menyuruh mereka ke kantin duluan, dan nanti Eza akan mentraktir mereka.

Mereka langsung pergi menuju kantin dengan perasaan girang. Tidak, kegirangan mereka semua tidak dapat mengalahkan rasa bahagia Eza saat ini. Mereka tidak tahu, bagaimana bahagianya Eza bisa diterima oleh adik kelasnya yang memang sudah tiga hari lalu ia incar. Eza menghela napas dengan kasar, pertanda ia tak kalah gugup.

Ia mendapati Glora masih tersenyum di hadapannya membuatnya ia sedikit salah tingkah. Astaga, Eza masih tidak percaya bahwa ia bisa mendapatkan cewek paling cantik di kelas 10 tahun ini. Eza malah bertanya kepada Glora apakah mereka sudah jadian.

Eza kemudian tertawa dan mengucapkan terima kasih. Tatapan Eza kemudian turun ke bawah, lalu ia mengambil tangan ceweknya itu dan mengangkatnya. Ia sekali lagi mengucapkan terima kasih, karena Glora mau menerima dia menjadi pacarnya. Kemudian punggung tangan Glora dicium begitu saja.

Glora membelalak. Pasokan udara semakin berkurang, hal itu membuatnya kesulitan bernapas. Baru beberapa menit jadian, Eza sudah bersikap manis saja kepadanya. Eza kemudian menarik tangan Glora dan mengajaknya menuju ke kantin. Glora pun hanya menurut.

Ia menatap tubuh Eza dari belakang. Dia masih tidak percaya bahwa dia sudah resmi menjadi pacar kapten futsal di hari pertamanya sekolah. Kantin yang semula biasa-biasa saja, sekarang menjadi berisik, karena kedatangan anak-anak OSIS yang girang ceria memasukinya.

Magma benci dengan organisasi itu. Sekarang, mereka malah saling tertawa di depan Magma dan teman- temannya. Magma bersama teman-temannya kemudian mencibir orang-orang yang tampak kegirangan itu. Mereka semua menganggap hal itu adalah norak.

Di sisi lain, para anggota OSIS masih girang merayakan kebahagiaan salah satu anggotanya itu. Mereka juga memberikan selamat kepada Glora, karena mampu mendapatkan Eza yang sangat sulit ditaklukkan itu. Sebab, di SMA Batavia, Eza adalah salah satu cowok yang paling diinginkan. Cowok satu lagi adalah Arnold, begitu kata salah satu anggota OSIS kepada Glora.

Glora sedikit tidak percaya, masa iya hanya mereka berdua cowok most wanted di SMA Batavia? Glora kemudian mengedarkan pandangannya untuk mengecek situasi. Ia pun melihat ada sejumlah cowok ganteng di salah satu sudut kantin. Di sana adalah kelompok Habeas, kelompok murid-murid berandal SMA Batavia.

Arnold dan Eza saat itu sedang memesan makanan untuk teman-temannya. Tiba-tiba saja, salah satu anggota Habeas muncul dan memotong antrian mereka. Memang sedari awal kedatangan anggota OSIS ke kantin, anggota Habeas sudah merencanakan untuk membuat masalah. Dan Arnold juga sudah mengetahui hal itu.

Arnold dan Eza sempat menegur Arash yang memotong antrian begitu saja. Anggota Habeas yang melihat hal itu pun lantas menghampiri Arash, termasuk juga Magma. Mereka malah mencibir Arnold dan Eza, serta menertawakan mereka.

Eza dan Arnold cukup naik pitam, tetapi mereka masih bisa menahan emosi dan ingat bahwa mereka adalah anggota OSIS. Sampai, salah satu anggota Habeas mencibir Eza yang baru saja menyatakan cintanya dengan membawa bunga. Ia pun mengatai bahwa cara Eza itu norak.

Eza tidak bisa menahan emosinya, karena mereka membawa-bawa kejadian yang tidak ada hubungannya. Mereka pun sempat beradu tubuh dan bertengkar. Tubuh Eza terjatuh karena dihantam oleh Magma. Ia kembali bangkit dan menatap Magma penuh kebencian, berencana akan membalasnya.

Namun, Glora menariknya Eza dan menyuruhnya untuk tidak membalas. Eza masih menatap Magma penuh kebencian dan dendam. Berbeda dengan Eza, Magma tidak membalas tatapan benci cowok itu. Dia malah melihat ke arah cewek yang sedang memegangi Eza sekarang.

Magma menganggap cewek itu cantik sekali. Bahkan raut panik cewek itu juga tidak memudarkan kecantikannya. Ia bertanya-tanya, apakah dia ini yang ditembak Eza tadi? Jika memang benar, berarti selera Eza bukan sembarangan.

Eza kemudian menegaskan kepada Magma bahwa masalah mereka belum selesai. Mendengar perkataan itu, Magma tersadar dari keterpesonaannya. Dia kembali melirik Eza dan bertanya, “Lo kapten futsal kan?”. Semuanya hening.

Magma kemudian lanjut menantang anak OSIS untuk main futsal melawan anak Habeas pulang sekolah nanti. Anggota Habeas cukup kaget mendengar hal itu. Magma kemudian melanjutkan, taruhannya adalah yang kalah harus menuruti keinginan yang menang. Napas Eza tidak terkontrol akibat emosi.

Namun, emosinya langsung reda saat mendengar keputusan Magma barusan. Baginya, keputusan Magma itu bodoh, karena dia menjebak dirinya sendiri, agar masuk ke dalam kuasa Eza nanti. Mereka berdua pun menyetujui pertandingan itu.

Tanpa ada yang mengetahui, Magma sempat mengedipkan sebelah mata pada Glora ketika hendak pergi. Magma juga tersenyum tipis. Tantangan itu ternyata dibuat untuk mendapatkan Glora. Magma menjamin, bisa mendapatkannya.

Kelebihan Novel Magma

Geladis Afira mengemas novel ini dengan baik, dengan penggunaan bahasa ala remaja, penggunaan diksi dengan menyertai slang yang kerap digunakan para remaja. Secara keseluruhan, sangat sesuai dengan genre novel Magma ini yang merupakan fiksi remaja.

Geladis Afira juga mampu menggambarkan segala waktu, suasana, dan tempat dengan sangat detail. Latarnya dituliskan dengan jelas, sehingga para pembaca dapat membayangkan tiap-tiap adegan dengan tepat.

Kisah Magma ini juga dinilai cukup ringan, karena tidak mengangkat konflik yang berat. Selain itu, kisah ini juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di sekolah, di dalam kehidupan para remaja.

Kekurangan Novel Magma

Dalam novel Magma ini, terdapat sejumlah adegan yang tidak patut untuk dicontoh. Seperti bermesraan berlebihan di area sekolah, bertengkar, dan lain sebagainya. Pembaca diharapkan bijaksana dalam memahami bahwa hal itu bukan hal yang normal dan patut untuk dilakukan di lingkungan sekolah.

Pesan Moral Novel Magma

Tidak ada yang membatasi atau melarang untuk saling jatuh cinta di lingkungan sekolah. Namun, ada baiknya tetap menjaga etika di lingkungan sekolah yang merupakan tempat belajar. Jangan bermesraan yang berlebihan di lingkungan sekolah.

Tidak benar jika menjadikan seseorang sebagai taruhan. Hal itu sama saja seperti memandang manusia sebagai sebuah objek. Jadi, hindari untuk melakukan perbuatan yang mempertaruhkan seseorang.

Bagi kalian yang penasaran akan kelanjutan kisah Magma, Glora, dan Eza, yuk segera dapatkan novel Magma karya Geladis Afira ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel