in

Review Novel Daddy Angry Karya Karimatul Jannah

Bagi para penggemar cerita Wattpad, mungkin sudah tak asing lagi dengan judul cerita “Daddy Angry”. Kisah Daddy Angry pertama kali dipublikasi di Wattpad pada tanggal 4 April 2021. Kisah Daddy Angry dipublikasi di akun Wattpad penulisnya sendiri, Karimatul Jannah, yang nama penggunanya PelangiMimpi7.

Karimatul Jannah merupakan penulis asal Aceh, Indonesia, yang dikenal produktif menulis dan mengunggah karyanya di platform Wattpad. Hingga saat ini, ia sudah mengunggah sejumlah 5 cerita di akun Wattpadnya yang memiliki 28 ribu pengikut. Tiga dari lima karya tulis Karimatul Jannah bahkan telah berhasil diterbitkan menjadi novel, yaitu karyanya yang berjudul Daddy Angry, Hujan Terakhir, dan Saya Ayam Saya Diam.

Kisah Daddy Angry ini dapat dikatakan populer, karena hingga saat ini, per bulan Juni 2022 telah dibaca sebanyak 6 juta kali di Wattpad. Melihat dari angka yang fantastis ini, tidak heran jika pada akhirnya kisah ini diterbitkan menjadi sebuah novel pada bulan Februari 2022 oleh Alamat Andromeda Publishing. Selain itu, heran juga jika anda mendapatkan buku ini berada pada jajaran buku best seller.

Novel Daddy Angry yang memiliki total 400 halaman ini mengisahkan tentang tentang seorang pria yang bernama Anangga Elang Perkasa. Elang selalu membenci anak-anak, karena ia menganggap bahwa anak kecil adalah makhluk paling mengganggu. Di pikirannya, anak kecil itu berisik, suka ngompol, cerewet, suka buang air besar sembarangan, bahkan tak jarang juga bisa menghancurkan barang-barang.

Nahasnya, pada suatu hari, pria itu malah menemukan bayi yang kira-kira baru berusia dua tahun di pinggir jalan. Elang memang membenci anak kecil, tetapi bukan berarti dia tidak punya rasa iba untuk membawa anak malang itu bersamanya. Mungkin kejadian ini menandakan bahwa karma masih ada.

Sebab, setelah anak itu hadir di hidupnya, kehidupan Elang menjadi berbeda. Sangat berbeda. Apa yang akan dilakukan Elang? Apakah dia akan merawat anak itu dan menganggapnya seperti anaknya sendiri?

Gimana, sudah penasaran kah Grameds? Boleh langsung saja cari tahu kisah selengkapnya dengan mendapatkan novel Daddy Angry ini di Gramedia.com. Namun, sebelum itu, baca artikel ini sampai selesai ya!

Sinopsis Novel Daddy Angry

Membutuhkan waktu kurang lebih dua jam bagi pria berjaket hitam itu untuk memukul mundur komplotan yang mencegatnya di jalan. Pria itu bernama Anangga Elang Perkasa, nama bagaikan doa yang dipanjatkan di kala hujan. Elang menjadi sosok yang kuat, sekokoh nama yang dia punya sekarang. Selain tampan, Elang juga sadar bahwa dirinya begitu ditakuti.

Buktinya, anak geng sebelah saja langsung kabur setelah Elang pukul beberapa kali. Pria itu bersenandung kecil sembari melangkah menuju motor yang dia parkir di dekat trotoar. Gerimis mulai turun menjadi hujan deras saat dia mulai memasang helm di kepala. Sayangnya, gerakannya sontak terhenti ketika ia mendengar suara aneh yang berhasil membuat keningnya berkerut.

Semakin lama, semakin kencang juga volume suara itu. Maka itu, rasa penasaran Elang semakin besar. Mau tidak mau Elang pun turun untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang mulai menggebu. Sebab, jika dia tidak begitu, Elang tidak akan bisa tidur tenang.

Elang sempat bergidik ngeri ketika ia tiba di bawah pohon. Matanya kemudian reflek memandang ke segala arah untuk mencari suara yang kini sudah tidak terdengar lagi. Lalu, tiba-tiba ada sebuah tangan kecil menarik celananya dengan pelan. Elang meneguk ludahnya dan perlahan menunduk ke bawah untuk melihat lebih jelas makhluk apa yang sedang mengganggunya.

Seorang anak kecil memanggil Elang dengan sebutan “Papa”. Oleh karena Elang kaget, ia teriak cukup kencang mengatai anak itu tuyul, bersamaan dengan gemuruh langit malam yang sedang menangis. Hujan masih deras, anak yang dipanggil tuyul itu pun menangis hebat. Anak kecil itu terus memeluk kaki Elang sambil memanggilnya papa, seperti meminta perlindungan.

Elang ingin berlari, tetapi ia takut si anak itu malah terseret bersamanya. Akhirnya, ia jongkok untuk melototi anak laki-laki itu. Ia kemudian menanyakan kepada anak kecil itu, apakah dia tuyul? Habis membobol bank di mana? Ia juga malah meminta uang kepada anak itu.

Bukannya menjawab, anak itu malah menangis semakin kencang, sama halnya dengan Elang yang juga mendadak kalut. Apalagi saat beberapa orang lewat dan menatapnya seperti ia baru saja melakukan kesalahan besar. Kemudian, ada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di dekat trotoar menasehati Elang untuk bertanggung jawab atas anaknya itu dan jangan menelantarkan anak manusia seperti itu.

Elang langsung melotot, karena tidak percaya dengan perkataan wanita itu yang juga menatapnya seolah sedang menghakimi. Elang kemudian menjawab bahwa anak itu bukan anaknya, dan dia juga tidak tau anak itu anak siapa. Namun, bukannya percaya, wanita paruh baya itu malah berkata bahwa Elang sama saja dengan kebanyakan anak muda zaman sekarang, tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.

Elang ingin menyangkal perkataan wanita itu lagi, tetapi langsung dipotong dengan suruhan untuk membawa anak itu pulang. Sebab, cuaca sedang hujan deras dan wanita itu cukup khawatir anak itu akan sakit. Namun, Elang sekali lagi menegaskan bahwa anak itu bukan anaknya. Lagi-lagi, anak itu malah memanggil Elang dengan sebutan papa berulang kali, yang semakin meyakinkan orang di sekitar bahwa anak itu merupakan anaknya.

Elang menghela nafasnya secara pelan, lalu melirik anak kecil itu yang sedang menatapnya berkaca-kaca. Sementara, ibu-ibu tadi sudah pergi sambil mengomel panjang lebar. Elang menenangkan dirinya sendiri dan mengingatkannya untuk bersabar. Ia juga berencana untuk menyerahkan anak itu esok hari ke kantor Polisi.

Elang memang selalu membenci anak-anak, karena ia menganggap bahwa anak kecil adalah makhluk paling mengganggu. Di pikirannya, anak kecil itu berisik, suka ngompol, cerewet, suka buang air besar sembarangan, bahkan tak jarang juga bisa menghancurkan barang-barang.

Namun, kebenciannya terhadap anak kecil itu bukan berarti dia tidak punya rasa iba untuk membawa anak malang itu bersamanya. Sambil menunggu pagi hari tiba, Elang mampir ke rumah pacarnya yang bernama Yuna. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya, karena takut dituduh keluarganya yang bukan-bukan. Sebab, ia sangat mengetahui mama dan ayahnya suka overthinking dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.

Jadilah di sini lah dia sekarang, di depan rumah mbak pacarnya yang cantik dan dibucinin Elang setengah mati. Beruntungnya lagi, Yuna ditinggal bersama asisten rumah tangga saja, orang tua Yuna saat itu sedang dinas di luar kota. Elang kemudian mengancam anak itu untuk jangan berisik. Elang kemudian menggendong anak laki-laki itu dengan susah payah sambil menekan bel rumah Yuna.

Tidak butuh waktu lama bagi Elang untuk menunggu pintu rumah itu terbuka, dan disusul dengan kehadiran seorang gadis berpiyama hijau muda. Gadis itu menguap lebar seraya menatap Elang dengan mata yang sayu. Ia kemudian membelalakkan matanya ketika mendapati seorang anak dalam gendongan pacarnya. Gadis itu langsung menanyakan siapa anak kecil itu.

Elang kemudian menjawab dengan gagap bahwa ia bisa menjelaskannya, sambil meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia kemudian mulai menjelaskan bahwa dia menemukan anak itu di jalanan. Namun, Yuna langsung memotong penjelasan itu dan menanyakan kebenarannya. Elang meyakinkan pacarnya itu, tetapi mata Yuna semakin memicing seperti menandakan dia tidak percaya kepada Elang.

Secara tiba-tiba anak itu memanggil Elang lagi dengan sebutan papa. Elang terkejut dan lekas membekap mulutnya, sambil mengancam anak itu untuk tetap diam. Pandangan mata Elang berubah saat ia menoleh kepada Yuna. Elang kemudian menjelaskan lagi bahwa ia takut disangka yang bukan-bukan jika membawa anak ini pulang ke rumahnya, dan meminta izin untuk menitipkan anak itu untuk semalam saja.

Yuna geming dengan mata yang berkaca-kaca memandang Elang dengan tidak percaya. Ia malah langsung mengatakan bahwa dia tidak menyangka Elang tega melakukan ini kepadanya. Elang kebingungan. Gadis itu malah langsung menodong Elang dengan berkata bahwa anak itu pasti dari pacar Elang yang lain, pantas saja Elang tidak memiliki waktu untuknya belakangan ini.

Dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa Yuna kecewa, kontras dengan Elang yang bingung bukan main. Elang sekali lagi mengatakan bahwa dia bisa menjelaskan. Namun, Yuna langsung menangkis perkataan itu dengan bukti bahwa ia mendengar anak itu memanggil Elang dengan sebutan papa. Sekali lagi, anak itu memanggil Elang dengan sebutan papa dengan polosnya.

Sungguh, kalau saja menjahit mulut orang tidak dosa, maka anak itu akan menjadi korban Elang yang pertama. Anak itu kemudian berkata, “Yapal”. Yuna yang mendengar jelas perkataan anak itu mengangkat salah satu sudut bibirnya dan mengumpat kepada Elang bahwa dia membohonginya, dan jangan berpikir bahwa Yuna adalah orang yang bodoh.

Sebetulnya, Elang bukan orang yang dapat menahan emosi, saat itu juga wajahnya sudah berubah menjadi merah. Namun, karena ia mencintai Yuna setengah mati, sebisa mungkin ia menahan gejolak api dalam kepalanya. Anak laki-laki di gendongan Elang kemudian menguap lebar sambil memeluk leher pria itu. Kemudian, anak itu menelungkupkan kepala di atas bahunya.

Melihat hal itu, Yuna langsung menyuruh Elang untuk pulang, karena anaknya sudah ngantuk. Yuna kemudian menutup pintu rumahnya. Elang berteriak keras sambil memukul pintu yang sudah ditutup Yuna itu dengan salah satu tangannya. Pria itu mengerang frustasi sambil melirik anak yang sudah menelungkupkan kepala di atas bahunya.

Elang ingin mengumpat juga dan membuang anak itu ke tong sampah yang ada di dekatnya sekarang juga. Sayangnya, wajah tak berdosa dan mata yang sudah terpejam itu lagi-lagi berhasil membuatnya iba. Elang hanya berharap anak ganteng itu tidak membawa sial baginya.

Kelebihan Novel Daddy Angry

Sebagai salah satu novel best seller, tentunya novel Daddy Angry ini memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan yang pertama adalah dari ide cerita ini yang sangat kreatif. Karimatul Jannah menyajikan premis cerita yang jarang ditemukan pada kisah-kisah lain. Premis cerita yang mengisahkan seorang remaja yang mengangkat anak yang ditemukan di jalanan.

Ide cerita ini sangat menarik. Begitu juga dengan eksekusinya. Karimatul Jannah menuliskan kisah Daddy Angry ini dengan bahasa non-formal, bahasa sehari-hari ala remaja, yang tentunya sesuai dengan karakter para tokohnya yang juga masih remaja.

Kisah yang anti mainstream ini memiliki makna yang mendalam di baliknya. Sebab, kisah Daddy Angry ini mengangkat isu anak yang ditelantarkan, konflik keluarga, dan juga kemanusiaan. Hal ini membuat kisah ini memiliki sejumlah pesan moral yang dapat dipelajari oleh para pembaca.

Kekurangan Novel Daddy Angry

Dalam novel Daddy Angry ini, terdapat sejumlah adegan yang tidak patut dicontoh, karena mengandung kekerasan. Dalam novel ini juga ada beberapa kata-kata kasar. Hal ini membuat novel ini sebaiknya dibaca oleh mereka yang berusia di atas 17 tahun. Selain itu, pembaca diharapkan memiliki kebijaksanaan dalam memahami kisah ini.

Pesan Moral Novel Daddy Angry

Setiap perbuatan pasti memiliki konsekuensi. Kita sebagai seseorang yang melakukan perbuatan tersebut, harus siap untuk menerima setiap konsekuensi atas hal yang kita lakukan. Maka dari itu, kita hendaknya selalu berpikir sebelum bertindak, supaya menghindari penyesalan.

Setiap orang memiliki hak untuk menjelaskan dirinya. Untuk menjelaskan latar belakang dari perbuatan yang dilakukannya. Sebab, setiap orang bertindak dengan alasan yang berbeda-beda. Apa yang kita lihat dan maknai, belum tentu benar dan sama dengan alasan dibalik hal yang kita lihat.

Jangan menutup diri dan memaksakan bahwa yang dilihat oleh mata kita adalah hal yang benar. Jangan menutup diri untuk tidak ingin mendengar penjelasan orang lain. Jika tidak percaya akan suatu hal, coba untuk minta orang tersebut membuktikan alasannya. Jika sudah, baru anda boleh menilainya menurut pandangan anda sendiri.

Bagi anda yang penasaran dengan kelanjutan kisah Elang bersama dengan anak kecil misterius yang ditemukannya itu, yuk segera dapatkan novel Daddy Angry karya Karimatul Jannah ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel