in

Review Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction Karya Murray Stein

Bagi kalian para penggemar boy group asal Korea Selatan bernama BTS, mungkin sudah tak asing ketika mendengar judul buku ini. Sebab, salah satu anggotanya yang bernama RM sempat terlihat sedang membawa buku Jung’s Map of The Soul ini. Selain itu, salah satu album dari BTS juga ada yang memiliki judul yang sama dengan buku ini. Diketahui juga, bahwa memang lagu-lagu di dalamnya memiliki makna yang sesuai dengan isi buku ini.

Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction ditulis oleh Murray Stein, penulis asal Amerika Serikat. Buku ini menjadi buku yang mengawali seri buku Map of the Soul lainnya. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1998, dan hingga saat ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa selain Inggris.

Buku ini akan membahas tentang pemikiran teori psikologi Carl Gustav Jung yang ditulislan oleh Murray Stein. Buku ini dibagi menjadi sembilan bab, yang mana pada kesembilan bab itu saling berkaitan, sesuai dengan teori dasar psikologi menurut Jung. Buku ini juga akan membahas tentang bagian paling penting dalam psikologi analitik.

Profil Murray Stein – Penulis Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction

Sumber foto: speakingofjung.com

Murray Stein menempuh perguruan tinggi di Yale University, New Haven, United States of America, dan dari situ ia lulus mendapatkan gelar Sarjana Seni dan Master of Divinity. Murray Stein juga pernah menempuh pendidikan tinggi di University of Chicago, dan dari sana ia berhasil mendapatkan gelar akademik tertinggi pada sejumlah besar bidang keilmuan, yaitu Doctor of Philosophy. Dari situ juga Murray Stein dikenal dengan sebutan Dr. Murray Stein.

Murray Stein merupakan seorang analis pelatihan di International School for Analytical Psychology yang berlokasi di Zurich, Swiss.

Murray Stein adalah salah satu anggota pendiri Inter-Regional Society of Jungian Analysts dan Chicago Society of Jungian Analysts. Dr. Murray Stein telah pernah menjabat sebagai presiden International Association for Analytical Psychology, yakni pada tahun 2001 hingga 2004, dan Presiden the International School of Analytical Psychology, yang berlokasi di Zurich, Swiss, pada tahun 2008 hingga 2012.

Dr. Murray Stein dikenal sebagai penulis yang berpusat pada teori Psikologi Jungian, yang dicetuskan oleh Carl Gustav Jung. Murray Stein pertama kali bertemu dengan Psikologi Jung saat musim semi tahun 1968. Ketika ia masih berusia dua puluh empat tahun dan sedang berkuliah di Yale Divinity School.

Melalui percakapan santai mengenai kecenderungan manusia untuk agresi, dan ada seseorang yang menyebut nama Carl Jung. Seseorang ini menyatakan pendapatnya bahwa teori Jung mengenai bayangan dan proyeksi mungkin berguna untuk merenungkan mengapa orang melindungi wilayah mereka dengan begitu aktif, bahkan dengan kekerasan, dan mengapa manusia sering kali menjadi agresif.

Dari situ, Murray Stein tertarik dengan teori Jung dan akhirnya membeli buku karya Carl Jung yang berjudul “Memories, Dreams, Reflection”. Saat itu, studi Murray hanya berfokus pada sejarah dan budaya, dengan minat pada perbandingan agama. Namun, sampai saat itu tidak ada sama sekali dalam psikologi sebagai bidang atau disiplin akademis. Maka itu, Murray semakin penasaran akan dunia psikologi.

Hasil dari membaca buku Memories, Dream, Reflection karya Carl Jung, Murray Stein percaya bahwa psikologi Jung adalah untuk dirinya. Alasan utamanya, yaitu karena teori Jungian menggabungkan pemikiran ilmiah dan perasaan religius, pikiran dan jiwa.

Pada musim gugur tahun 1969, Murray berlayar ke Eropa dengan istrinya. Selama empat tahun berikutnya, Murray belajar di Institut Jung di Zurich, Swiss, tempat di mana ia dilatih sebagai analis Jung. Empat tahun masa belajarnya di Zurich merupakan masa inkubasi yang mendalam bagi Murray. Pada saat itu, Murray memiliki pengalaman hidup dari kontak sadar langsung dengan alam bawah sadar.

Bagi Murray, pengalaman tersebut merupakan inti dari hidupnya sebagai seorang Jungian. Dari situ, kehidupan Murray Stein berpusat pada teori Jungian. Murray kemudian membagikan pengetahuannya tentang teori Jungian tersebut melalui tulisan dalam bentuk karya-karya bukunya.

Sejumlah besar buku yang ditulis Murray Stein mengangkat tema dasar teori Jungian, di antaranya adalah buku Jungian Analysis yang terbit pada tahun 1982, Jung’s Map of the Soul: An Introduction yang terbit pada tahun 1998, Map of the Soul: Persona yang terbit pada tahun 2019, dan karya terbarunya, Map of the Soul 7: Persona, Shadow & Ego in the World of BTS yang terbit pada tahun 2020.

Sinopsis Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction

Psike adalah suatu misteri yang mengundang para petualang untuk menemukan banyak pengetahuan, sekaligus menghantui para penakut dengan ancaman ketidakwarasan. Mempelajari jiwa manusia merupakan sebuah tonggak sejarah yang amat penting, karena seluruh dunia akan bergantung kepada sebuah utas. Utas yang merupakan psike manusia.

Penting bagi kita untuk mengenal Psike secara lebih dalam. Psike merupakan sebuah istilah inklusif yang meliputi wilayah kesadaran, alam bawah sadar personal, dan juga alam bawah sadar kolektif.

Permukaan (Ego-Kesadaran)

Ego memiliki dua fitur, yaitu kepribadian nomor 1 dan kepribadian nomor 2. Kepribadian nomor 1 ini merupakan selubung kultural yang dapat bertumbuh seiring berjalannya waktu. Itu adalah kepribadian yang terbentuk pada masa saat anak sudah mengenal dunia, kebiasaan, lingkungan budaya, pengalaman, dan pendidikan di sekolah. Sedangkan, kepribadian nomor 2 yang dimaksud adalah inti ego yang bersifat bawaan. Jadi, ini adalah ego yang murni berasal dari manusia tersebut.

Ruangan yang Berpenghuni (Kompleks-Kompleks Psikologi)

Manusia cenderung bertindak sesuai dengan hasrat dibandingkan pikiran. Manusia akan lebih mengedepankan perasaan atau paling tidak proses berpikir kerap dipengaruhi oleh bentuk emosi. Sebagian besar perhitungan rasional kita sebenarnya merupakan pelayan bagi hasrat dan ketakutan kita.

Untuk meneliti kompleks alam bawah sadar, Jung melakukan penelitian dengan melakukan eksperimen dengan manusia sebagai objeknya. Ia memakai Uji Asosiasi Kata, yaitu menyiapkan minimal 100 kata sampai 400 kata yang bisa ia ucapkan kepada objek penelitian itu. Contohnya kata itu seperti, kepala, jujur, tinta, menyerang, meja, jarum, lampu, roti, perang, dan lain sebagainya.

Dari contoh kata-kata itu, kemudian dianalisis perbedaan reaksi atau respon dari setiap orang merespon saat mendengar kata-kata yang dilontarkan itu. Secara singkat, kompleks merupakan konten-konten dalam bawah sadar manusia yang bertanggung jawab dalam menimbulkan usikan dalam kesadaran. Jadi, imaji perasaan yang akan timbul dari kata yang disebutkan itu dapat memberikan respon apa atau yang menjadi penyebab alasan itu timbul. Itu dia yang disebut sebagai kompleks.

Energi Psikis (Teori Libido)

Pada bab ini, Jung ternyata dahulu sempat berkolaborasi atau pendapatnya sama dengan Freud, yaitu seorang teori psikolog analitik terkemuka pada masa itu. Freud berpendapat bahwa setiap kegiatan yang dilakukan manusia didasari oleh naluri libido atau kehendak yang bersifat sensual. Sedangkan, Jung tidak sepenuhnya setuju. Jung mengemukakan bahwa ada saat dimana manusia tidak selalu bertindak sesuai libido atau dorongan seksual. Contohnya ketika berbicara tentang seni.

Batas-Batas Psike (Naluri, Arketipe, dan Alam Bawah Sadar Kolektif) Yang Diungkapkan dan Disembunyikan Terhadap Orang Lain (Persona dan Bayang-Bayang)

Kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki satu kepribadian, tetapi faktanya kepribadian itu terdiri atas sekelompok sub kepribadian. Bayang-bayang merupakan siluet diri yang mengikuti di belakang kita saat kita berjalan ke arah cahaya. Sedangkan, persona adalah kebalikannya.

Persona itu bagaikan topeng atau kepribadian yang kita tunjukkan kepada orang lain. Sebab, kita akan menunjukkan apa yang ingin orang lain lihat atau apa yang sekiranya akan diterima. Dalam bab ini, dijelaskan bahwa persona bagaikan moral. Sedangkan bayang-bayang atau shadow merupakan tindakan amoralnya. Keduanya itu saling berkebalikan.

Maka dari itu, bayang-bayang berada di bagian paling gelap dari diri kita. Sebab, shadow tidak sesuai dengan standar yang dinilai baik oleh masyarakat. Jika kita menunjukkan sisi bayang-bayang kita, kita akan dianggap amoral. Padahal, shadow tidak selalu berarti negatif.

Jalan Menuju Ruangan yang Lebih Dalam (Anima dan Animus)

Bagi laki-laki anima merupakan sosok feminin. Sebaliknya, bagi perempuan animus adalah bersifat maskulin. Anima merupakan imaji arketipal perempuan abadi yang ada dalam bawah sadar seorang pria. Anima menghubungkan ego-kesadaran dan alam bawah sadar kolektif, juga memiliki potensi untuk membuka jalan menuju diri.

Animus merupakan imaji arketipal laki-laki abadi yang ada dalam bawah sadar seorang perempuan, yang menghubungkan ego-kesadaran dengan alam bawah sadar kolektif, juga memiliki potensi untuk membuka jalan menuju diri.

Keutuhan dan Pusat Transenden Psike (Diri), Ketika Diri Mewujud (Individuasi)

Murray Stein menjelaskan bahwa hal yang membedakan teori psikologi Jung dengan teori psikologi analitik lainnya terletak pada pembahasan ini. Tidak seperti teori psikolog analitik lainnya, Jung memandang bahwa kehidupan dapat berkembang dari berbagai fase kehidupan atau yang dikenal sebagai usia. Tak hanya masa kecil saja yang menjadi penentu penting dalam perkembangan hidup seseorang.

Dalam bab ini, ia juga membahas mengenai transferens. Murray Stein menjelaskan bahwa Jung pernah menuliskan cerita tentang dirinya bersama pasiennya yang berumur 55 tahun. Pasien itu adalah seorang wanita yang tidak menikah. Pada tahun itu, perempuan yang lebih memilih hidup sendiri demi menitih karir dan tidak menikah cukup umum, meskipun pada tahun berikutnya, hal itu tidak diterima lagi.

Namun, itu bukan intinya. Wanita ini datang kepada Jung untuk mempertanyakan bagaimana sebaiknya ia hidup sebagai individu. Jung lalu menyarankan wanita itu untuk ikut terapi. Wanita tersebut dapat melukis untuk mengekspresikan dan meluapkan perkembangan perasaannya.

Lalu, ada tahap dimana wanita itu melukis gambar batu yang disambar oleh petir. Di dalam batu itu, terdapat dirinya yang terbebas. Sementara, makna dari gambar petir adalah sosok Jung sebagai dokternya. Maka itu, ia memberi nama fenomena itu sebagai transferens .

Transferens merupakan keadaan dimana pasien, yang dalam cerita ini adalah si wanita 55 tahun yang datang kepada Jung, dan pasien ini merasa si dokter adalah sosok yang maha tahu. Pasien ini bergantung padanya dan merasa bahwa hanya dokternya ini lah yang paling mengerti dirinya.

Tentang Waktu dan Keabadian (Sinkronisitas)

Jung pernah menerima Albert Einstein sebagai tamunya. Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan teori relativitas. Meskipun Jung tidak begitu mengerti konsep matematikanya, tetapi ia memiliki ketertarikan dengan teori relativitas. Pada akhirnya, Jung menghubungkannya teori relativitas dengan teori sinkronisitasnya, lalu membuat pembahasannya bersama W. Pauli yang dirangkum dalam sebuah buku.

Sinkronisitas dan Kausalitas

Jung berpendapat bahwa sesuatu terkadang tidak selalu berasal dari hubungan kausalitas atau sebab-akibat. Sebagai contoh, seorang suami yang bersifat kasar kepada pasangannya tak selalu dikarenakan oleh terpicu oleh pasangannya itu. Bisa saja sifat kasarnya diakibatkan oleh lingkungan masa kecilnya yang juga kasar, atau dia kerap menerima perlakuan kasar. Maka itu, ia kemudian dapat menunjukkan sifat yang sama kepada pasangannya. Hal ini disebut sebagai mother complex.

Kelebihan Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction

Murray Stein dinilai mampu untuk merangkum dan memaparkan peta jiwa manusia menurut Carl Gustav Jung ini dengan baik. Penjelasan yang diberikan oleh Murray Stein dinilai sangat lengkap. Oleh karena buku Jung’s Map of The Soul ini juga merupakan bahan belajar, pastinya pembaca dapat mendapatkan banyak pelajaran dari membaca buku ini.

Buku ini secara khusus akan menambah, mengubah, atau meluru

Meskipun buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction ini merupakan buku terjemahan, pemilihan kata-kata dan terjemahannya dinilai baik. Pembaca dapat membaca buku terjemahan ini dengan mengalir dan nyaman.

Kekurangan Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction

Beberapa pembaca menemukan bahwa buku Jung’s Map of the Soul yang merupakan buku pengantar ini isinya cukup padat dan dinilai sebagai bacaan yang sulit. Beberapa pembaca merasa kesulitan dalam membaca buku pengantar ini.

Ditambah lagi, memang pada dasarnya buku ini merupakan buku untuk bahan belajar, jadi mengandung banyak istilah ilmiah terkait psikologi. Bagi masyarakat yang awam akan bidang psikologi akan merasakan kesulitan dalam memahami isi buku ini. Beberapa pembaca bahkan harus membacanya secara berulang kali untuk memahami makna yang dituliskan.

Pesan Moral Buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction

Manusia terkadang terlalu fokus kepada segi fisik. Padahal, selain kerja organ yang terlihat atau fisik manusia, ada juga jiwa atau bisa disebut sebagai proses mental manusia yang bekerja tidak kalah rumit dan menakjubkan. Maka dari itu, kita juga harus memerhatikan segi jiwa atau mental kita.

Bayangan adalah bayangan diri kita sendiri yang meluncur di belakang kita saat kita berjalan menuju cahaya. Persona, kebalikannya, dinamai menurut istilah Romawi untuk topeng aktor. Itu adalah wajah yang kita kenakan untuk bertemu dengan dunia sosial di sekitar kita.

Sama seperti naluri burung yang bermigrasi dan membangun sarang tidak pernah dipelajari atau diperoleh secara individu, manusia membawa sertanya saat lahir rencana dasar sifatnya, dan bukan hanya sifat individunya tetapi juga sifat kolektifnya. Sistem warisan ini sesuai dengan situasi manusia yang telah ada sejak zaman purba: muda dan tua, kelahiran dan kematian, putra dan putri, ayah dan ibu, kawin, dan seterusnya. Hanya kesadaran individu yang mengalami hal-hal ini untuk pertama kalinya, tetapi bukan sistem tubuh dan ketidaksadaran.

Analisis mencoba mengungkap kompleks dan memaparkannya pada refleksi sadar ego. Intervensi ini bisa sedikit mengubah mereka. Dalam analisis seseorang belajar bagaimana kompleks berfungsi, apa yang memicu konstelasi mereka, dan apa yang dapat mencegah pengulangan tanpa akhir. Tanpa intervensi semacam itu dari ego, kompleks akan berperilaku seperti benda asing yang bergerak atau infeksi. Dalam cengkeraman kompleks, seseorang bisa merasa sangat tidak berdaya dan emosional di luar kendali.

Bagi kalian yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang teori peta jiwa menurut Jung, kalian bisa mendapatkan buku Jung’s Map of the Soul: An Introduction karya Murray Stein ini hanya di Gramedia.com.

.

Written by Gabriel