Ekonomi

Pengertian Ekonomi Biru: Cara Membangun Hingga Manfaatnya

Ekonomi Biru 1
Written by Nandy

Pengertian ekonomi biru – Jika kita lihat ternyata Indonesia adalah negara maritim. Istilah negara maritim ini mengacu pada sebuah negara yang memiliki luas wilayah perairan yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah daratan. Saat ini, mungkin istilah maritim bukanlah suatu hal baru bagi Anda. Namun, bagaimana dengan ekonomi maritim atau ekonomi biru? Mungkin dari Anda belum begitu tahu akan istilah tersebut.

Meskipun pada dasarnya ekonomi biru adalah istilah yang mungkin pernah Anda dengan, tetapi tak semua orang benar-benar bisa tahu apa itu ekonomi biru. Lantas, sebenarnya apa sih ekonomi biru itu?

Nah, untuk menjawab rasa ketidaktahuan Anda, tentunya penjelasan akan ekonomi biru yang ada di dalam artikel ini bisa membantu Anda.

Pengertian Ekonomi Biru

Ekonomi Biru 1pexels

Hal pertama yang akan kita bahas bersama adalah pengertian ekonomi biru. Istilah ekonomi biru sebenarnya sudah muncul sejak beberapa puluh tahun lalu, tetapi untuk saat ini mungkin istilah tersebut masih terdengar begitu asing bagi beberapa orang.

Secara mudahnya ekonomi biru adalah tentang kegiatan yang bisa menghasilkan suatu laba yang akan dimiliki maupun dilakukan oleh penduduk setempat dan tak terbatas oleh sumber daya alamnya saja. Misalnya adalah ekonomi biru tak hanya terbatas pada sektor perikanan dan budidaya air saja namun juga bisa dikembangkan menjadi segi pariwisata, transportasi hingga pertambangan.

Namun untuk penekannya bukan pada skala investasi besar atau eksternal. Akan tetapi lebih bersifat lokal dengan tujuan agar bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Meski begitu perlu diketahui jika ekonomi biru bukan berarti sebagai ekonomi local.

Itu artinya bisa melakukan ekspor, pengembangan yang baik, basis teknologi namun tetap harus dilakukan dan dilanjutkan ke masyarakat setempat. Setiap negara memiliki arti yang berbeda-beda dan ada beberapa negara yang tidak berkelanjutan maupun memiliki wilayah kelautan namun tidak biru.

Selain itu ekonomi biru juga bisa didefinisikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang berlangsung pada wilayah kelautan. Kegiatan ekonomi biru sendiri saat ini juga sudah banyak dilakukan oleh negara kepulauan maupun negara yang memiliki luas lautan yang cukup besar.

Sedangkan jika merujuk pada UU Nomor 27 Tahun 2007 Mengenai Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Menurut UU, arti dari ekonomi biru yaitu kegiatan ekonomi yang terjadi di wilayah pesisir pantai atau pulau-pulau kecil.

Lalu menurut Bank Dunia, ekonomi biru merupakan pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan yang bisa digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut. Ekonomi biru juga mencakup cukup banyak sector di dalamnya.

Mulai dari perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi air, pengelolaan limbah, dan mitigasi perubahan iklim. Jika beberapa sektor tersebut bisa dikelola dengan konsep berkelanjutan, maka setiap sektor tersebut tentunya akan bisa membantu mewujudkan negara yang lebih sejahtera.

 

Cara Membangun Ekonomi Biru Setelah Pandemi Covid-19

Ekonomi Biru 1pexels

Seperti yang kita ketahui jika nyaris tak ada aspek ekonomi yang mampu bertahan pada krisis Covid-19. Banyak gangguan yang terjadi sector besar seperti maskapai penerbangan, restoran dan olahraga yang banyak dibahas mengalami dampak Covide-19. Selain itu ekonomi biru juga berpengaruh terhadap Covid-19.

Hal ini terbukti dari adanya kegiatan logistik maritim yang telah mengalami penurunan sebesar 30 persen akibat Covid-19. Aktivitas penangkapan ikan di area Cina dan Afrika Barat juga mengalami penurunan cukup drastis yaitu 80 persen akibat adanya lockdown dan berkurangnya permintaan untuk produk seafood.

Semua negara yang memiliki ketergantungan pada sektor kelautan dan pariwisata pesisir setidaknya telah menutup perbatasan mereka. Pada tingkat nasional Covid-19 mampu menimbulkan kerugian sebesar 7,4 miliar dolar AS bagi industri pariwisata hingga memberikan ancaman yang cukup nyata pada 75 juta lapangan pekerjaan.

Namun seiring berjalannya waktu telah ada paket stimulus Covid-19 yang dirancang untuk bisa memulihkan industri dengan basis lahan serta masyarakat juga bisa mencari cara untuk melakukan proses transisi ke mekanisme operasional yang lebih hijau. Namun metode operasional yang lebih biru masih belum dipertimbangkan. Padahal jika kita lihat kembali banyak peluang besar yang tersedia di wilayah laut dan kawasan pesisir.

Ada beberapa cara untuk membangun kembali ekonomi biru yang terkena dampak Covid-19 agar bisa bangkit kembali. Nah berikut ini adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk menjadikan ekonomi biru bangkit secara berkelanjutan.

1. Menjadikan Pariwisata Biru Menjadi Lebih Biru

Tak bisa dimungkiri jika sebelum pandemi Covid-19, pariwisata laut secara global diperkirakan mampu memiliki nilai 390 miliar dolar AS serta memberikan dukungan yang cukup signifikan terhadap PDB negara. Jutaan orang bergantung terhadap pariwisata laut serta memiliki kepentingan terhadap kesehatan laut tak bisa diabaikan selama pandemi.

Dana pemulihan bisa mencegah terjadinya pekerja dirumahkan dengan proses membuka lapangan kerja untuk bisa memulihkan ekosistem pesisir seperti terumbu karang dan hutan mangruf mengingat tingginya imbal hasil dari ekosistem pesisir untuk pariwisata biru.

Penciptaan program lapangan kerja dengan basis alam serupa juga telah dikembangkan selama Great Depression. Misalnya seperti Civilian Conservation Corps dalam Dana Stimulus AS juga bisa menyediakan lapangan kerja seperti melakukan renovasi pada hotel yang tak dihuni agar bisa meningkatkan standar berkelanjutan.

Misalnya adalah penyediaan keran air minum sebagai bentuk pengurangan sampah plastik serta sistem pengelolaan air dan proses pelatihan staf untuk diversifikasi keahlian yang mereka miliki.

2. Mengurangi Emisi Dari Sektor Logistik

Logistik maritim mampu mengangkut sekitar 90 persen dari kargo di seluruh dunia. Lalu lintas lautan menjadi salah satu penghasil terbesar emisi karbon serta polutan udara lainnya. Organisasi Maritim Internasional telah memberikan sebuah mandat untuk tindakan pengurangan emisi logistik sekitar 50 persen pada tahun 2050.

Penurunan frekuensi aktivitas logistik pada masa pandemi Covid-19 memberikan peluang yang begitu berharga, sehingga mampu mencapai target yang telah ditentukan. Dimana kapal yang tak sedang dalam pengoprasian bisa ditingkat agar lebih efien dalam penggunaan bahan bakar hingga menghasilkan emisi lebih sedikit.

Galangan kapal yang cenderung sepi juga bisa membantu proses pembaharuan alat yang digunakan untuk mendapatkan dukungan politik guna memenuhi permintaan pada masa yang akan datang dengan kapal yang tidak menghasilkan emisi.

Hal tersebut terlihat memiliki peluang besar di Asia, sebab Cina, Korea Selatan dan Jepang mewakili setidaknya lebih dari 95 persen industri pembuatan kapal di dunia berdasarkan perhitungan tonase. Semua bantuan yang memang secara khusus dialokasikan untuk mempercepat pengembangan dekarbonisasi industri logistik juga harus bisa mencakup peluang untuk melistriki pelabuhan serta ketersediaan bahan bakar yang tidak menghasilkan emisi.

3. Hindari Penangkapan Ikan Terlalu Besar Pasca Covid-19

Berbeda dengan jenis investasi lainnya, sumber daya laut justru semakin meningkat cukup signifikan selama masa sulit. Misalnya, pada saat Perang Dunia II, banyak kapal penangkap ikan harus berhenti beroperasi.

Dimana tindakan tersebut mampu menjadikan populasi ikan seperti ikan Kod turut meningkat secara drastis. Selain itu, pada masa pandemi Covid-19 juga memberikan banyak manfaat pada sektor perikanan. Ketika manusia bisa menahan keinginan dalam kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan ternyata juga memberikan dampak positif yang cukup signifikan.

Bahkan, manusia juga harus mulai menggunakan ilmu perikanan dalam proses perancangan protokol penangkapan ikan dengan lebih cerdas agar bisa lebih memaksimalkan manfaat jangka panjang dari keuntungan yang  mulai muncul pada saat pandemi Covid-19.

4. Memberikan Dukungan Kepada Pelaut

Kapal tentunya menjadi salah satu lingkungan kerja yang terbilang mendapatkan tantangan besar pada saat pandemi Covid-19. Dimana para pelaut yang lebih rentan seperti bekerja di industri logistik dan perikanan akan memiliki peran penting bagi masyarakat.

Misalnya seperti pegawai toko swalayan dan pengemudi yang melakukan pengiriman barang pada ekonomi biru. Salah satu bentuk upaya yang bisa dilakukan untuk mengaktifkan beberapa sektor tersebut adalah dengan melakukan rapid test dan swab test bagi para awak kapal dan idenya para pelaut akan bisa pulang ke tempat tinggal dengan lebih aman dan layak setelah melakukan profesi melaut selama satu bulan.

Awak kapal juga harus diberikan akses ke saluran komunikasi yang lebih aman untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka yang ada di rumah. Dalam industri perikanan, komunikasi yang lebih baik ternyata akan bisa memberikan manfaat cukup besar guna memerangi perbudakan di laut.

5. Mempertahankan Keberadaan Tanaman Laut

Jika lihat untuk saat ini hanya ada sekitar 7,4 persen dari lautan yang mampu terlindungi. Keberadaan dari taman laut akan memberikan banyak manfaat bagi keanekaragaman hayati laut serta mampu membantu peningkatan populasi ikan ternak yang selanjutnya juga akan memberikan manfaat tambahan lain seperti meningkatkan sektor perikanan regional, menciptakan lapangan kerja dalam sektor pariwisata serta bisa meningkatkan potensi menyerap lebih besar emisi karbon.

Namun, beberapa pihak untuk saat ini memberikan saran untuk membuka taman laut bagi industri penangkapan ikan karena Covid-19. Hal ini menang bukanlah pilihan yang terbilang cukup bijak.

Pasalnya, taman laut merupakan bentuk investasi jangka panjang yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa mengembangkan dan bahkan bisa dengan mudah dirusak dalam waktu yang cukup singkat. Tak hanya mengubah masa depan nelayan, tetapi penutupan taman laut juga bisa menjadi salah satu pukulan besar bagi wisata biru secara berkelanjutan.

6. Memanfaatkan Laut Guna Pemenuhan Kebutuhan Pangan Dunia

Para ilmuwan memperkirakan jika pemenuhan gizi bagi 845 penduduk di dunia akan terancam ketika stok makanan laut menjadi menurun. Dimana tantangan akan semakin berat ketika pandemi Covid-19 mulai ada.

Misalnya adalah adanya gangguan terhadap perdagangan makanan laut dan jaringan kerja. Kita bisa mengurangi dampak Covid-19 terhadap sistem keamanan pangan dengan memanfaatkan dana stimulus yang digunakan untuk proses pengembangan akuakultur atau pertanian laut yang diharapkan bisa memenuhi gizi bagi masyarakat setempat dari kelompok rentan sambal meminimalkan dampak pada lingkungan.

Investasi seperti ini bisa mengambil contoh pada sektor pertanian yang dirasa begitu ramah lingkungan serta mampu meningkatkan status gizi.

7. Lakukan Digitalisasi Lautan

Salah satu cara untuk bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi biru akan dampak pandemi Covid-19 adalah dengan melakukan investasi stimulus untuk teknologi kelautan. Cara ini diklaim mampu membantu kita dalam proses pemantauan serta lebih memahami lautan dengan metode yang lebih efisien serta lebih efektif.

Misalnya adalah program pengamat perikanan yang bisa membantu industri kelautan dalam melakukan proses pengumpulan data yang sangat diperlukan agar bisa meningkatkan hasil tangkapan, penegakan hukum serta melindungi spesies yang masuk ke dalam kelompok terancam punah sementara ketika dihentikan karena Covid-19.

Sistem pemantauan elektronik dengan basis kecerdasan buatan diklaim mampu memberikan kontribusi pada proses pengumpulan data. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan berbagai macam peluang lain.

Misalnya seperti meningkatkan interpretasi data satelit dengan dukungan pembelajaran mesin dan dron yang canggih untuk bisa membatasi kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di daerah yang mana masuk ke dalam wilayah patroli laut konvensional telah dikurangi karena adanya pandemi Covid-19 hingga menghubungkan nelayan melalui praktik berkelanjutan dengan konsumen dengan memanfaatkan aplikasi ketika restoran dan pasar dalam kondisi ditutup.

Manfaat Melakukan Pengembangan Ekonomi Biru

Ekonomi Biru 1pixabay

Setelah tahu bagaimana cara membangun kembali ekonomi biru setelah masa pandemi Covid-19. Tentunya ada beberapa manfaat yang akan dicapai dari tindakan pengembangan ekonomi biru.

Manfaat melakukan pengembangan ekonomi biru adalah kelestarian keanekaragaman hayati laut dan ekosistem laut dan pesisir serta mata pencaharian bisa berlangsung secara berkelanjutan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Tak bisa dipungkiri jika Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk bisa melakukan pemulihan ekonomi biru pasca masa pandemi Covid-19. Tak hanya itu saja, dorongan transisi dari upaya ekstraktif juga bisa memberikan nilai tambah serta produktivitas.

Ekonomi biru akan menjadi sebuah ruang untuk menciptakan berbagai macam inovasi serta kreativitas baru. Baik itu pada sector yang sudah ada maupun sector yang masih dalam tahap pengembangan.

Oleh karena itu keberadaan dari ekonomi biru bisa menjadi roda penggerak peningkatan kesejahteraan yang semakin inklusif. Transisi Indonesia ke ekonomi biru juga diharapkan mampu menjadi model pengembangan industri berbasis kelautan secara berkelanjutan serta bisa mengurangi ketergantungan ekonomi pada sektor ekstraktif.

Penyusunan Kerangka Pembangunan Ekonomi biru diharapkan juga bisa memberikan dukungan pendekatan yang lebih terintegrasi serta lebih komprehensif hingga menjadikan ekonomi biru lebih meningkat yang meliputi berbagai macam sector serta lintas perilaku.

Oleh karena itu pengembangan ekonomi biru membutuhkan sinergi antar actor dan sector agar bisa menangani berbagai macam peluang serta tantangan untuk mencapai keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut serta pesisir untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan dan lebih inklusif.

Nah, itulah rangkungan tentang ekonomi biru. Dari penjelasan di atas kita jadi tahu jika keberadaan ekonomi biru memang sangat diperlukan. Apalagi pasca Covid-19, tentunya diperlukan upaya khusus guna meningkatkan ekonomi biru.

Dari semua pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa ekonomi biru sangat membantu perekonomian suatu negara termasuk negara Indonesia. Setelah membaca artikel ini sampai selesai, semoga saja semua materi di atas bermanfaat sekaligus menambah wawasan grameds.

Jika ingin mencari berbagai macam buku tentang ekonomi, maka kamu bisa mendapatkannya di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Hendrik Nuryanto

Sumber:

https://www.bappenas.go.id/id/berita/bappenas-luncurkan-blue-economy-development-framework-for-indonesias-economic-transformation-NNTgJ

https://www.gramedia.com/literasi/ekonomi-maritim/#Upaya_Pengembangan_Ekonomi_Maritim

https://wri-indonesia.org/id/blog/8-cara-membangun-ekonomi-kelautan-yang-lebih-kuat-setelah-covid-19



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien