Technology

Mengenal Tahap Pelaksanaan Metode Waterfall

Written by Fandy

Tahap Pelaksanaan Metode Waterfall – Halo Sobat Grameds, tahukah kalian jika dalam pembuatan suatu karya ilmiah pasti memerlukan metodologi atau metode penelitian? Ternyata, hal tersebut juga berlaku dalam pembuatan suatu software (perangkat lunak).

Pelu kalian ketahui jika terdapat berbagai metode yang digunakan untuk membuat perangkat lunak. Salah satunya adalah metode waterfall. Metode tersebut cukup dikenal dikarenakan cukup mudah untuk diterapkan.

Waterfall merupakan salah satu metode pengembangan perangkat lunak yang lebih dikenal dengan nama Software Development Life Cycle (SDLC). Metode tersebut dinamakan demikian dikarenakan model pengembangannya dapat dianalogikan seperti halnya air terjun, yaitu setiap tahapnya dikerjakan secara berurutan dari atas ke bawah.

Metode ini merupakan pendekatan dari SDLC paling awal yang dipakai untuk mengembangkan perangkat lunak. Jika dilihat dari sejarahnya, metode waterfall pertama kali dipopulerkan oleh Herbert D. Benington di Symposium on Advanced Programming Method for Digital Computers pada 29 Juni 1956. Dia mempresentasikan mengenai pengembangan perangkat lunak untuk Semi Automatic Ground Environment (SAGE).

Mengutip penjelasan dari Arif (2019), seseorang yang menggunakan metode ini supaya berhasil dengan baik harus memahami berbagai persyaratan sebelum melakukan proses pengembangan.

Ilustrasi (Matthew (WMF)/Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported license).

Syarat utama pemakaian metode waterfall adalah terdapat kesepakatan antara stakeholders (pemangku kepentingan) dengan pelanggannya di awal proyek. Setelah itu, barulah perencanaan dilaksanakan secara berurutan dengan cara mengadopsi berbagai fase di dalamnya.

Lebih lanjut, Hutahaean (2015) menambahkan jika metode ini cocok dipakai jika suatu tim telah berada di titik yang dinamakan dengan well understood project. Artinya, terdapat kesepahaman mengenai suatu proyek, sehingga memudahkan penerimaan sistem perangkat lunak. Begitu juga halnya dengan pemrosesan nantinya akan menjadi lebih cepat dan efisien.

Metode tersebut juga akan cocok dipakai untuk suatu proyek dengan kriteria, yaitu memiliki risiko kecil, tidak memerlukan perubahan secara terus-menerus, gambaran produk sudah jelas, dan proyek didukung oleh tim yang mempunyai kompetensi cukup dalam melaksanakan proyek.

Lantas, apa saja kelebihan dari metode waterfall itu hingga begitu populer dipakai oleh software engineer (SE)?

Artikel kali ini akan menguraikan mengenai berbagai tahapan, kelebihan, dan kekurangan dari metode waterfall ini. Simak artikel ini hingga tuntas, khususnya bagi kalian yang sedang ingin mengembangkan perangkat lunak untuk kebutuhan bisnis.

Metode waterfall merupakan model pengembangan software yang jika dianalogikan seperti air terjun, dikarenakan setiap tahapnya dikerjakan secara berurutan dari atas ke bawah.

Baca Juga: Software: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya.

Tahap Metode Waterfall

Metode waterfall dikategorikan menjadi lima tahapan, yaitu:

1. Requirement Analysis

Pada tahap ini, seorang pengembang harus mengetahui keseluruhan informasi terkait kebutuhan pengguna terhadap perangkat lunak. Sebagai contoh, fungsi perangkat lunak yang diinginkan oleh para pengguna dan batasan dari perangkat lunak.

Informasi tersebut umumnya diperoleh melalui survei, wawancara, dan diskusi. Selanjutnya, informasi itu dianalisis dan diolah, sehingga pengembang memperoleh berbagai data yang cukup lengkap terkait detail kebutuhan pengguna terhadap perangkat lunak yang nantinya akan dikembangkan.

2. Design

Tahap berikutnya dalam metode ini adalah desain. Secara umum, tahap tersebut meliputi kepentingan desain teknis seperti lapisan data, bahasa pemrograman, layanan, dan sebagainya. Spesifikasi desain umumnya akan dibuat untuk menguraikan logika bisnis yang nantinya akan diimplementasikan secara teknis.

Hal tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai sesuatu yang harus dikerjakan dan tampilan dari suatu sistem yang diinginkan, sehingga membantu keperluan hardware (perangkat keras) dan sistem supaya lebih spesifik, serta mendefinisikan arsitektur sistem yang akan disusun secara menyeluruh.

3. Implementation and Unit Testing

Tahap implementation and unit testing adalah tahap pemrograman. Jadi proses penulisan coding (koding) ada di dalam tahap ini. Pembuatan perangkat lunak nantinya akan dibagi menjadi modul-modul kecil yang akan dikombinasikan pada tahap berikutnya.

Pada fase ini juga dilaksanakan pemeriksaan mengenai fungsionalitas modul yang telah dibuat, sudahkah memenuhi kriteria yang diharapkan atau belum.

4. Testing

Pada tahap ini akan dilaksanakan penggabungan berbagai modul yang telah dibuat sebelumnya dan mengintegrasikannya dalam suatu sistem secara keseluruhan.

Setelah proses integrasi selesai, nantinya akan dilaksanakan pemeriksaan dan pengujian sistem secara menyeluruh untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kesalahan dan kegagalan dalam perangkat lunak.

5. Operation and Maintenance

Operation and maintenance adalah tahap terakhir dari metode waterfall. Pada tahap ini, perangkat lunak yang sudah terbentuk akan dijalankan dan dioperasikan oleh penggunanya. Selain itu, dilakukan juga pemeliharaan berupa perbaikan implementasi unit sistem, perbaikan kesalahan, dan peningkatan sistem sesuai dengan kebutuhan.

Ada lima tahap dalam metode waterfall, yaitu requirement analysis, design, implementation, testing, dan maintenance.

Baca Juga: Konsep, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis, dan Contoh Software dalam Komputer.

Kelebihan Metode Waterfall

Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh metode waterfall antara lain:

1. Workflow yang Jelas

Metode waterfall memiliki rangkaian alur kerja sistem yang terukur dan jelas. Setiap tim mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan keahlian masing-masing yang dimiliki. Selain itu, pekerjaan juga dapat diselesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Hasil Dokumentasi yang Baik

Waterfall merupakan salah satu pendekatan yang bersifat metodis, dikarenakan seluruh informasi akan tercatat dengan baik dan terdistribusi kepada setiap anggota tim secara akurat dan cepat. Dengan adanya catatan itu, pekerjaan dari setiap tim akan menjadi lebih mudah, serta mengikuti setiap arahan sesuai dengan catatan tersebut.

3. Menghemat Biaya

Kelebihan berikutnya dari metode ini adalah menghemat biaya dari segi resource yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan para klien tidak dapat ikut campur dalam urusan tim pengembang aplikasi.

Berbeda halnya dengan metode Agile, klien dapat memberikan berbagai feedback (masukan) kepada tim pengembang mengenai perubahan maupun penambahan fitur, yang nantinya mengakibatkan perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih besar.

4. Dipakai untuk Pengembangan Perangkat Lunak Berskala Besar

Selain dapat dipakai untuk proyek berskala kecil dan menengah, metode ini juga dianggap cocok untuk melaksanakan pembuatan perangkat lunak dengan skala besar, yang melibatkan banyak sumber daya manusia (SDM) dan prosedur kerja yang kompleks. Namun kembali lagi, semuanya disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan proyek yang akan diambil.

Beberapa kelebihan dari metode waterfall, yaitu workflow yang jelas, hasil dokumentasi yang baik, menghemat biaya, dan dipakai untuk pengembangan perangkat lunak berskala besar.

Baca Juga: Sejarah Komputer dari Generasi Pertama sampai Saat Ini.

Kelemahan Metode Waterfall

Beberapa kelemahan yang dimiliki oleh metode waterfall antara lain:

1. Memerlukan Tim yang Solid

Untuk memakai metode waterfall, dibutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan yang ada. Setiap tim harus memiliki kerja sama dan koordinasi yang baik supaya terbentuk tim yang solid. Jika salah satu tim tidak dapat melaksanakan tugasnya, nantinya akan memengaruhi alur kerja tim yang lain.

2. Masih Kurang Fleksibilitas

Semua tim harus bekerja sesuai dengan petunjuk dan arahan yang telah diputuskan sejak awal. Selain itu, klien tidak dapat mengeluarkan pendapat dan masukan kepada tim pengembang di setiap tahap. Klien hanya dapat memberikan masukan pada tahap awal perancangan sistem perangkat lunak saja.

3. Tidak Dapat Melihat Gambaran Sistem dengan Jelas

Dengan adanya model waterfall, klien tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas. Hal tersebut berbeda halnya dengan model agile yang memungkinkan sistem dapat terlihat dengan baik, meskipun masih dalam proses pengembangan.

4. Membutuhkan Waktu yang Lebih Lama

Proses pengerjaan dengan memakai metode waterfall dapat dikatakan cukup lama jika dibandingkan dengan model SDLC yang lain. Pasalnya, tahap pengerjaan aplikasi dilakukan satu per satu, tanpa bisa dilompati.

Sebagai contoh, tim pengembang tidak akan bisa melaksanakan proses koding jika tim desain belum memperlihatkan tampilan desain dari aplikasi. Hal tersebut mengakibatkan adanya waktu kosong bagi pengembang dikarenakan harus menunggu anggota tim untuk menyelesaikan setiap tahap. Pada akhirnya, hal itu membuat waktu yang diperlukan menjadi lebih lama.

Beberapa kelemahan dari metode waterfall, yaitu memerlukan tim yang solid, masih kurang fleksibilitas, tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas, dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Era Digital dan Dampak Perkembangan Teknologi yang Pesat!

Bagaimana? Apakah metode waterfall terlihat menarik dengan segala kelebihan dan keefisienan yang ditawarkan untuk diterapkan dalam pengembangan proyek information and technology (IT)?

Penutup

Metode waterfall merupakan model pengembangan software yang jika dianalogikan seperti air terjun, dikarenakan setiap tahapnya dikerjakan secara berurutan dari atas ke bawah. Metode tersebut cocok dipakai untuk suatu proyek dengan kriteria, yaitu memiliki risiko kecil, tidak memerlukan perubahan secara terus-menerus, gambaran produk sudah jelas, dan proyek didukung oleh tim yang mempunyai kompetensi cukup dalam melaksanakan proyek.

Beberapa kelebihan dari metode waterfall, yaitu workflow yang jelas, hasil dokumentasi yang baik, menghemat biaya, dan dipakai untuk pengembangan perangkat lunak berskala besar. Sementara itu, kelemahan dari metode waterfall, yaitu memerlukan tim yang solid, masih kurang fleksibilitas, tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas, dan membutuhkan waktu yang lebih lama.


Itulah artikel terkait “Tahap Pelaksanaan Metode Waterfall” yang dapat kalian gunakan sebagai referensi dan bahan bacaan untuk kalian. Bagikan juga tulisan ini di akun media sosial supaya teman-teman kalian juga bisa mendapatkan manfaat yang sama.

Untuk mendapatkan lebih banyak informasi, Grameds juga bisa membaca buku yang tersedia di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan dan pengetahuan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca. Semoga bermanfaat!

Rekomendasi Buku dan E-Book terkait Software

1. Belajar Coding itu Penting di Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri sudah merambah seluruh aspek kehidupan. Untuk menghadapi tantangan ini, tentu kita sebagai generasi milenial tidak bisa hanya duduk dan belajar melalui teks dan buku. Itu sudah menjadi bahan pokok, yang kemudian harus diimbangi dengan pemahaman teknologi masa kini. Hal ini dilakukan tentu untuk membuat data pribadi sebagai manusia unggul yang tidak tergilas oleh zaman.

Perkembangan teknologi yang kian hari kian pesat membuat kita harus belajar banyak hal. Revolusi industri juga seolah-olah menuntut kita untuk memiliki beragam skill di bidang teknologi agar kita tidak ketinggalan jika ada pembaruan-pembaruan.

Saat ini, sebagian besar kebutuhan manusia ada di genggaman. Bagi kita, harusnya ini menjadi pasar yang sangat empuk untuk melibatkan diri di dalamnya. Namun, bagaimana mungkin kita bisa melibatkan diri jika kita tidak memahami teknologi?

Salah satu hal yang bisa kita pelajari seiring berkembangnya teknologi adalah ilmu coding. Ilmu coding bisa memengaruhi munculnya aplikasi-aplikasi hebat dan kekinian. Aplikasi-aplikasi tersebut dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Untuk itu, hadirnya buku Belajar Coding itu Penting di Era Revolusi Industri 4.0 ini akan mengupas mengenai pentingnya coding di dalam revolusi industri 4.0. Selain itu, di dalam buku ini juga akan dipaparkan menu-menu coding yang bisa saja dipelajari dengan mudah oleh generasi masa kini.

2. Tune Up PC dengan 25 Software Gratis dari Microsoft

Tahukah kalian bahwa Microsoft meluncurkan software-software gratis yang dapat digunakan secara bebas? Buku ini mengupas 25 software gratis dari Microsoft untuk mengoptimalkan personal computer (PC), yaitu:

  • Tweak UI, yaitu software untuk melakukan tune up di PC.
  • Snip It, yaitu software untuk mengambil teks dari situs atau dari desktop untuk dikirim via surel dengan cepat.
  • Calculator plus, yaitu software untuk membantu menghitung rumus-rumus yang lebih kompleks dan rumit.
  • Windows live writer, yaitu software yang paling menyenangkan untuk nge-blog.
  • Paint.Net, yaitu software untuk mengedit foto-foto digital dan membuat kreasi-kreasi bitmap tanpa batas.
  • Image resizer, yaitu aplikasi kecil untuk membantu mengubah ukuran foto hanya dengan mengklik kanan mouse.
  • Folder share, yaitu software untuk mempermudah berbagi folder.
  • Masih banyak lagi yang lainnya.

Penjelasan mengenai software-software dalam buku ini bisa kalian manfaatkan sepuas hati untuk menjadikan PC lebih canggih, bermanfaat, dan menyenangkan!

3. Mengenal Software for Beginners

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama berisikan tentang sejarah software, definisi software, penggolongan software, serta perkembangan (generasi) software dan penggunaannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Bagian kedua berbicara tentang penggolongan software, mulai dari sistem operasi, software perkantoran, software design grafis, software internet, sampai ke software pemograman.

Bagian ketiga bercerita tentang keberadaannya di komputer atau laptop kita, mulai dari bagaimana “dia” bisa ada di komputer atau laptop kita sampai mengetahui kegunaan dari keberadaan “mereka”. Bagian keempat berisikan tentang cara menggunakan “mereka” secara sederhana pastinya (standar untuk pemula). Sementara itu, bagian kelima akan memberikan beberapa tip and trik untuk mengotak atik software-softwareya.

Setiap bagian di dalam buku ini diberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu, diberikan juga gambar-gambar untuk setiap penjelasan yang diberikan, sehingga para pembaca dapat membayangkan dan langsung mempraktikkan semua yang telah mereka baca.

Sebagai penutup, penulis juga mengajak para pembaca untuk memahami sejarah software dan perkembangannya dengan harapan para pembaca dapat memaksimalkan software yang mereka miliki dan telah dijelaskan dalam buku ini.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan metode waterfall?

Metode waterfall merupakan model pengembangan software yang jika dianalogikan seperti air terjun, dikarenakan setiap tahapnya dikerjakan secara berurutan dari atas ke bawah.

Apa saja proyek yang cocok menggunakan metode waterfall?

Metode waterfall cocok dipakai untuk suatu proyek dengan kriteria, yaitu memiliki risiko kecil, tidak memerlukan perubahan secara terus-menerus, gambaran produk sudah jelas, dan proyek didukung oleh tim yang mempunyai kompetensi cukup dalam melaksanakan proyek.

Ada berapa tahap dalam metode waterfall?

Ada lima tahap dalam metode waterfall, yaitu requirement analysis, design, implementation, testing, dan maintenance.

Apa saja kelebihan dari metode waterfall?

Beberapa kelebihan dari metode waterfall antara lain:

  • Workflow yang jelas.
  • Hasil dokumentasi yang baik.
  • Menghemat biaya.
  • Dipakai untuk pengembangan perangkat lunak berskala besar.

Apa saja kekurangan dari metode waterfall?

  • Memerlukan tim yang solid.
  • Masih kurang fleksibilitas.
  • Tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas.
  • Membutuhkan waktu yang lebih lama.

Sumber

  • Arif, M. F. (2019). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi. Pasuruan: CV. Penerbit Qiara Media.
  • Hutahaean, J. (2015). Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Deepublish.
  • Marisa, F. (2017). Web Programming. Yogyakarta: Deepublish.
  • Rosa, A.S.; Shalahudin, M. (2015). Rekayasa Perangkat Lunak Terstruktur dan Berorientasi Objek. Bandung: Informatika.

Penulis: Fandy Aprianto Rohman.

About the author

Fandy

Perkenalkan nama saya Fandy dan saya sangat suka dengan sejarah. Selain itu, saya juga senang menulis dengan berbagai tema, terutama sejarah. Menghasilkan tulisan tema sejarah membuat saya sangat senang karena bisa menambah wawasan sekaligus bisa memberikan informasi sejarah kepada pembaca.