in

Body Shaming: Jenis, Dampak, dan Cara Menghentikan

Freepik.com

Body Shaming – Isu mengenai body shaming tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Grameds. Beralasan bercanda, terkadang banyak orang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya telah melakukan body shaming yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental korban, lho!

Tapi sebenarnya apa sih body shaming itu? Dan bagaimana bentuknya, apakah akan memberikan dampak pada korban? Simak penjelasannya lebih lanjut, dengan membaca artikel ini hingga akhir, ya!

Apa itu Body Shaming?

Menurut laman resmi Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders atau ANAD, body shaming ialah segala sesuatu atau bentuk tindakan serta praktik di mana seseorang menghina bentuk maupun ukuran tubuh yang dimiliki oleh orang lain.

Body Shaming

[algolia_carousel]

Body shaming juga menjadi salah satu bentuk bullying atau perundungan yang dapat dilakukan oleh siapapun, bahkan orang-orang terdekat korban seperti teman, keluarga, saudara. Bahkan, orang yang paling jauh sekalipun bisa melakukan ini, karena tindakan body shaming dapat dilakukan melalui komentar negatif yang diberikan oleh netizen melalui media sosial.

Body shaming dianggap dapat terus terjadi selama masyarakat mengenal dan memercayai konsep cantik dan tampan dengan aspek-aspek tertentu seperti kulit yang berwarna putih, badan tinggi, hidung mancung, rambut yang lurus, tanpa jerawat, dan lain sebagainya. Kondisi inilah yang membuat banyak orang masih melakukan dan bahkan terdorong untuk melakukan body shaming.

Karena body shaming kerap dilakukan, akibatnya banyak orang berusaha untuk memenuhi standar kecantikan kebanyakan orang tanpa memedulikan efek serta risiko kesehatan yang akan dialami oleh seseorang.

Wujud dari body shaming bermacam-macam, ada yang secara terang-terangan mengritik dan mengomentari bentuk tubuh seseorang, ada pula yang membandingkan bentuk serta ukuran tubuh orang lain.

Body Shaming
istockphoto.com

Jenis Body Shaming

Body shaming erat kaitannya dengan ukuran serta bentuk tubuh seseorang. Komentar negatif mengenai aspek-aspek lain di tubuh seseorang pun tergolong sebagai body shaming. Bullying terkait body shaming pun memiliki beberapa jenis, berikut penjelasannya.

1. Berat badan

Kebanyakan orang mengalami body shaming karena berat badan. Seseorang kemungkinan akan merasa malu, ketika mereka memiliki bentuk tubuh yang dianggap terlalu besar atau bahkan terlalu kecil sehingga orang lain melakukan body shaming terhadap berat badannya. Perilaku melakukan body shaming pada seseorang dengan berat badan yang terlalu besar dinamakan fat shaming.

Menurut sebuah penelitian yang tercantum dalam Canadian Medical Association Journal, seseorang yang mengalami fat shaming biasanya akan memicu suatu perubahan fisiologis serta perilaku yang berkaitan dengan kesehatan metabolisme yang buruk hingga peningkatan berat badan.

Korban body shaming berat badan atau fat shaming juga kerap kali akan mengalami stres serta membuat hormon kortisolnya menjadi naik. Sehingga kontrol tubuh yang sebelumnya ia miliki akan menurun dan memunculkan risiko makan yang berlebihan. Selain itu, fat shaming pun memiliki potensi yang dapat menyebabkan korban merasakan kecemasan, harga diri rendah, depresi, gangguan makan, hingga menghindari olahraga.

Tidak hanya fat shaming, seseorang yang melakukan body shaming kepada seseorang dengan badan yang lebih kecil atau kurus dinamakan skinny shaming pun akan mengalami dampak serupa. Akan tetapi, seringkali skinny shaming justru dianggap sebagai pujian dan tidak disadari bahwa itu adalah body shaming.

2. Rambut tubuh

Jenis kedua dari body shaming ialah mengomentari rambut tubuh yang dimiliki seseorang secara negatif. Rambut tubuh yang dimaksud seperti di kaki, lengan, area pribadi, hingga ketiak.

Standar kecantikan yang dipercayai banyak orang akibat stigma bahwa perempuan seharusnya tidak memiliki banyak rambut di tangan atau kaki. Rambut tubuh tersebut dinilai membuat seorang perempuan tidak terlihat anggun dan seperti laki-laki. Namun, tentunya standar kecantikan dan stigma mengenai rambut tubuh tersebut salah, sebab memiliki rambut tubuh adalah hal yang normal.

Ternyata, body shaming pada rambut tubuh yang ditujukan ke perempuan berasal dari kebiasaan di zaman dahulu. Hal tersebut dijelaskan pada buku Encyclopedia of Body Adornment, bahwa pada zaman mesir kuno, tubuh seorang wanita yang mulus dan tidak memiliki rambut tubuh dianggap sebagai standar kecantikan perempuan.

Lalu, orang-orang Romawi dan Yunani pun beranggapan bahwa kulit yang bersih dari rambut tubuh melambangkan tubuh yang awet muda. Standar kecantikan tersebut kemudian tumbuh serta berkembang di masyarakat, hingga menimbulkan suatu stigma pada perempuan yang memiliki rambut tubuh.

Stigma tersebut jugalah yang membuat bisnis perontokkan rambut atau waxing lebih diminati perempuan dibandingkan laki-laki. Di sisi lain, rambut tubuh yang dimiliki oleh laki-laki atau perempuan justru memiliki manfaat meskipun dipandang tidak estetis.

Menurut laman Live Science, rambut tubuh membuat manusia mampu mendeteksi parasit lebih mudah. Rambut tubuh juga berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh yang memfasilitasi tubuh agar mampu menguapkan keringat.

Body Shaming

3. Model rambut

Tidak hanya mengomentari bentuk atau tubuh seseorang secara negatif saja, body shaming juga dapat berupa komentar terhadap model rambut seseorang secara negatif.

Padahal model rambut seseorang adalah pilihan pribadi yang tidak boleh dihina. Selain model rambut, tekstur pun menjadi incaran body shaming. Contohnya rambut yang ikal dan tidak lurus serta lain sebagainya.

4. Warna kulit

Standar kecantikan di Indonesia atau negara lainnya, membuat banyak perempuan maupun laki-laki memaksakan diri mengubah warna kulit aslinya. Hal ini dikarenakan seseorang yang memiliki warna kulit yang dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan dinilai tidak cantik.

Contohnya di Asia, warna kulit putih cerah dan mulus merupakan standar kecantikan kulit yang ideal. Sehingga, orang-orang Asia yang cenderung memiliki warna kulit gelap seringkali mengalami body shaming. Beragam komentar negatif seperti, “gosong banget”, “kelihatan dekil” dan lain sebagainya sering kali ditujukan pada orang-orang Asia berkulit hitam atau coklat.

Seperti halnya rambut tubuh, body shaming pada warna kulit pun telah menjadi suatu kebiasaan yang terjadi sejak zaman dahulu, menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Deborah Rodrigo Caldeira dalam Social Science Research Network, pada zaman dahulu orang-orang di Asia Tenggara menganggap bahwa warna kulit yang cerah merupakan penanda status sosial seseorang dan kulit cerah merupakan penanda seseorang memiliki keturunan bangsawan.

Kemudian menurut historis, orang yang memiliki warna kulit lebih gelap umumnya akan diasosiasikan sebagai tenaga kerja di pertanian, hal ini dikarenakan para pekerja sering kali melakukan aktivitas di bawah terik matahari dan berasal dari daerah yang miskin.

Selain itu, dampak dari kolonialisme orang negara Eropa yang kebanyakan memiliki kulit berwarna putih juga menimbulkan pandangan bahwa orang yang berkulit cerah berarti lebih baik.

[algolia_carousel page=2]

Pandangan-pandangan mengenai kulit putih tersebut terus berkembang hingga sekarang. Terlihat banyak produk kecantikan yang bahkan ditargetkan dan diiklankan untuk memutihkan dan mencerahkan kulit. Sehingga, banyak orang pula yang masih berkeinginan untuk merubah warna kulit menjadi lebih cerah, agar lebih cocok dengan standar kecantikan yang ada.

5. Wajah

Banyak orang menjadi korban body shaming karena bentuk wajahnya dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan yang ada seperti hidung mancung yang kecil, pipi tinggi tidak tembam, mata yang besar, hingga kulit mulus tanpa jerawat. Sehingga, beberapa orang mulai melakukan body shaming pada orang lain yang memiliki wajah dengan hidung pesek, memiliki jerawat, dan lain sebagainya.

Standar wajah cantik atau tampan pertama kali muncul pada zaman kolonialisme, di mana para penjajah yang berasal dari ras Kaukasia memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan ras yang mereka jajah dan dianggap lebih baik.

Akan tetapi bentuk wajah seseorang, sebenarnya dipengaruhi oleh genetik serta iklim. Sehingga bentuk wajah seseorang tentu tidak dapat disamakan. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal berjudul Public Library of Science (PLOS): Genetics, dijelaskan bahwa orang dengan ras Kaukasia memiliki hidung yang mancung agar mereka mampu beradaptasi dengan udara yang kering serta sangat dingin di tempat tinggalnya.

Sementara orang dalam keturunan Afrika Barat, Asia Timur, serta Asia Selatan memiliki bentuk hidung yang lebih besar dibandingkan orang yang berasal dari keturunan Eropa. Bentuk hidung dengan ukuran yang lebih besar milik orang-orang Afrika dan Asia ini berfungsi agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan yang lembap dan panas.

Sehingga, tidak ada bentuk wajah yang lebih baik maupun lebih buruk. Sebab, bentuk-bentuk wajah tersebut memiliki makna dan fungsi masing-masing. Sedangkan standar kecantikan mengenai bentuk wajah yang cantik, hanya standar kecantikan belaka yang tidak masuk akal.

Body Shaming
istockphoto.com

Dampak dan Cara Menghentikan Body Shaming

Body shaming merupakan perbuatan yang buruk dan tentu dapat berdampak negatif pada korban. Pelaku body shaming tentu tidak mengetahui dan mungkin acuh, bahwa komentar negatif yang ia berikan pada seseorang dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan mental seseorang.

Sebuah penelitian mengungkapkan, ketika seseorang merasa tidak puas dengan bentuk tubuh yang ia miliki, maka kualitas hidupnya pun akan menjadi lebih buruk. Hal ini dikarenakan seseorang mendapatkan dan merasakan tekanan psikologis yang dapat menyebabkan risiko perilaku makan hingga gangguan makan yang tidak sehat.

Selain itu, body shaming pun dapat memunculkan tiga dampak buruk pada kesehatan mental, yang meliputi depresi, gangguan makan, dan serangan panik hingga kecemasan. Berikut penjelasannya.

1. Depresi

Efek pertama yang dapat dialami oleh korban body shaming ialah depresi. Dampak depresi ini dapat dialami terutama oleh anak-anak muda. Ketika seseorang mengalami depresi, ia dapat merasakan putus asa bahkan hingga membenci bentuk tubuhnya sendiri.

Sebelum korban merasa depresi, pada awalnya tindakan body shaming dapat melukai harga diri seseorang. Ketika seseorang memiliki emosi negatif dan hal tersebut dibiarkan terus-menerus, maka tidak menutup kemungkinan bahwa korban dari body shaming kemungkinan akan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Sehingga, ketika seseorang mulai merasakan gejala atau orang sekitar mulai memiliki gejala depresi lebih baik untuk segera datang ke psikolog atau meminta pertolongan medis lainnya.

2. Gangguan makan

Salah satu jenis body shaming yang banyak dialami oleh korban adalah ketika seseorang mengomentari bentuk tubuh. Entah itu fat shaming maupun skinny shaming, keduanya dapat berdampak buruk pada korban.

Apabila korban terus-menerus mendengar komentar negatif dan menerima body shaming, maka korban dapat mengalami gangguan makan seperti anoreksia maupun bulimia. Gangguan makan tersebut, bisa muncul karena korban merasa bahwa ada yang salah dengan tubuhnya sehingga ia menerima body shaming.

Selain itu, body shaming yang dilakukan oleh seseorang,\ dapat mendorong korban secara psikologis enggan menjaga berat badan yang sehat. Entah itu menjadi terlalu gemuk hingga obesitas maupun terlalu kurus.

Ketika seseorang melakukan skinny shaming, korban bisa mengubah pola makannya dengan ekstrem dan makan berlebihan tanpa mempertimbangkan gizi maupun porsi yang baik.

Di sisi lain, ketika korban menerima fat shaming, maka korban dapat melakukan diet berlebihan hingga mengalami malnutrisi atau kurang gizi dan gangguan kesehatan lainnya.

3. Gangguan kecemasan hingga serangan panik

Dampak ketiga yang dapat disebabkan oleh body shaming ialah gangguan kecemasan hingga serangan panik. Korban yang mengalami body shaming secara terus menerus, maka akan merasa tidak percaya diri. Selain itu ia akan merasa kasihan pada diri sendiri, karena sering kali merasa kurang sempurna dengan standar kecantikan di masyarakat.

Tak jarang korban juga dapat memandang dirinya sebagai sosok yang tak berharga, tidak layak merasakan kebahagiaan serta tidak memiliki penghormatan hingga membuat korban menari dirinya dari lingkaran sosial serta lebih memilih untuk menyendiri.

Perasaan-perasaan yang muncul tersebut, harus segera ditangani, agar korban body shaming tidak mengalami gangguan kecemasan atau serangan panik.

Ketiga dampak yang disebabkan oleh body shaming tentu akan merugikan korban. Sehingga, tindakan body shaming harus segera dihentikan. Akan tetapi, bagaimana cara menghentikan body shaming?

Cara yang paling jitu adalah dengan mengubah pola pikir masyarakat. Bahwa standar kecantikan yang ada di masyarakat tidak masuk akal dan hanya buatan manusia saja. Setiap orang lahir dengan keunikan dan ciri khas masing-masing yang berbeda-beda.

Pelaku body shaming harus sadar, bahwa tidak ada individu yang sempurna termasuk dirinya sendiri. Sehingga kekurangan yang dimiliki oleh orang lain tidak berhak dan tidak pantas untuk mendapatkan hinaan atau cacian.

Cara kedua untuk menghentikan body shaming adalah dengan belajar menjadi sosok yang lebih baik. Cobalah untuk memahami perasaan orang lain, bahwa candaan mengenai fisik seseorang tidaklah lucu dan dapat melukai perasaan orang lain. Candaan mengenai body shaming sering kali mendapatkan normalisasi di masyarakat. Sebab komentar negatif mengenai tubuh seseorang seolah wajar, akan tetapi melakukan tindakan body shaming bukanlah hal yang baik dan dapat memicu dampak negatif pada korban.

Cara lain untuk menghentikan body shaming ialah dengan berhenti dari kesibukan mengomentari dan memikirkan orang lain. Fokuslah pada diri sendiri dan berhenti ikut campur urusan orang lain. Dengan begitu, komentar-komentar negatif terkait body shaming pun lambat laun akan berhenti.

Terakhir, body shaming dapat dihentikan dengan mencari topik lain. Dibandingkan terus fokus pada kekurangan atau citra seseorang yang tidak sesuai dengan pandangan dan pendapat pribadi, lebih baik mencari topik obrolan yang lebih seru dan tidak akan menyakiti siapapun.

Body Shaming

Itulah penjelasan mengenai pengertian body shaming, jenisnya, hingga dampak yang dapat dialami oleh korban body shaming.

Apabila Grameds tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai body shaming juga cara mengatasi dampak yang dapat terjadi akibat body shaming, Grameds dapat mengulik lebih dalam dengan membaca buku yang tersedia di gramedia.com.

Sebagai #SahabatTanpaBatas, Gramedia selalu menyediakan beragam buku original untuk Grameds. Jadi tunggu apa lagi? Segera beli dan dapatkan bukunya sekarang juga!

Penulis: Khansa

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda