in

Review Novel The Ballads of Songbirds and Snakes Karya Suzanne Collins

The Ballad of Songbirds and Snakes merupakan novel aksi-petualangan dystopian yang ditulis oleh Suzanne Collins. Novel ini adalah spin-off dan prekuel trilogi The Hunger Games yang sangat populer. Novel The Ballad of Songbirds and Snakes pertama kali dirilis pada tanggal 19 Mei 2020, oleh Scholastic. Buku ini pada awalnya dirilis secara virtual akibat pandemi Covid-19.

Seperti trilogi The Hunger Games, kisah The Ballad of Songbirds and Snakes juga akan diadaptasi menjadi sebuah film oleh Lionsgate. Film ini rencananya akan dirilis pada 17 November 2023 mendatang. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Novel versi terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada bulan Mei 2021, dengan judul “Balada Burung Penyanyi dan Ular.

Novel The Ballad of Songbirds and Snakes telah menerima berbagai ulasan yang secara umum positif dari para kritikus. Novel ini juga berhasil menarik hati banyak orang, terutama para pecinta trilogi The Hunger Games, sehingga pada akhirnya novel ini menjadi salah satu novel best seller. Berbeda dengan trilogi The Hunger Games yang mengisahkan perjuangan Katniss dan Peeta, novel ini akan mengisahkan tentang masa lalu Coriolanus Snow atau yang dikenal sebagai President Snow.

Novel ini mengisahkan tentang Coriolanus Snow yang masih berusia 18 tahun, dinobatkan sebagai mentor dalam ajang The Hunger Games ke-10. Keluarga Snow yang dulunya berjaya, saat itu menjadi jatuh miskin. Nasib keluarganya kini bergantung kepada kemampuan Coriolanus untuk menebar pesona dan mengalahkan siswa lain untuk menjadi mentor peserta yang akan menjadi pemenang di Hunger Games.

Keberuntungan sepertinya tak berpihak pada Coriolanus, karena ia malah mendapat peserta perempuan dari Distrik 12. Distrik 12 adalah distrik yang dipandang sebelah mata. Takdir Corioanus pun bergantung pada peserta itu. Segala keputusan yang diambil olehnya dapat menentukan kemenangan atau malah kekalahan, keberhasilan atau kegagalan.

Profil Suzanne Collins – Penulis Novel The Ballad of Songbirds and Snakes

Sumber foto: suzannecollinsbook.com

Suzanne Collins adalah wanita kelahiran 10 Agustus 1962, di Hartford, Connecticut. Ia lahir dari pasangan Jane Brady Collins dan Letnan Kolonel Michael John Collins. Suzanne Collins adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ketiga kakaknya bernama Kathryn, Andrew, dan Joan. Sebagai putri dari seorang perwira militer, Suzanne dan keluarganya terus berpindah-pindah tempat tinggal.

Suzanne Collins diketahui menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat bagian timur. Suzanne Collins merupakan lulusan dari Sekolah Seni Rupa Alabama di Birmingham pada tahun 1980 dalam jurusan Seni Teater. Suzanne kemudian menyelesaikan gelar sarjana seninya dari Indiana University Bloomington pada tahun 1985, dengan mengambil jurusan ganda di teater dan telekomunikasi. Pada tahun 1989, Suzanne Collins berhasil memperoleh gelar Master of Fine Arts dalam penulisan dramatis dari New York University Tisch School of the Arts.

Suzanne Collins memulai karir kepenulisannya pada tahun 1991. Ia mulai dengan menjadi penulis untuk acara televisi anak-anak. Suzanne sempat mengerjakan beberapa acara untuk Nickelodeon, seperti Clarissa Explains It All, The Mystery Files of Shelby Woo, Little Bear, Oswald, dan Wow! Wow! Wubbzy!. Suzanne juga penulis kepala untuk Scholastic Entertainment’s Clifford’s Puppy Days.

Suzanne menerima nominasi Writers Guild of America dalam animasi untuk ikut menulis spesial Natal yang diakui secara kritis, yaitu Santa, Baby! Setelah bertemu dengan James Proimos saat mengerjakan acara WB Anak-Anak Generasi O!, Suzanne Collins merasa terinspirasi untuk mulai menulis buku anak-anak sendiri. Inspirasinya untuk menulis buku Gregor the Overlander, yang menjadi buku pertamanya yang masuk ke dalam seri terlaris The New York Times The Underland Chronicles, berasal dari kisah Alice in Wonderland.

Antara tahun 2003 sampai 2007, Suzanne telah menulis lima buku dari Underland Chronicles: Gregor the Overlander, Gregor and the Prophecy of Bane, Gregor and the Curse of the Warmbloods, Gregor and the Marks of Secret, dan Gregor and the Code of Claw. Selama kurun waktu itu, Suzanne Collins juga menulis buku bergambar berima yang berjudul When Charlie McButton Lost Power (2005), yang diilustrasikan oleh Mike Lester. Pada bulan September 2008, Scholastic Press merilis The Hunger Games, yang menjadi buku pertama dari trilogi karya Suzanne Collins.

Trilogi The Hunger Games sebagian terinspirasi oleh mitos Yunani Theseus dan Minotaur. Inspirasi lainnya adalah dari karir ayahnya sendiri di Angkatan Udara, yang memberinya wawasan tentang kemiskinan, kelaparan, dan dampak perang. Buku kedua trilogi The Hunger Games, Catching Fire, dirilis pada September 2009. Buku ketiganya, Mockingjay, dirilis pada 24 Agustus 2010. Dalam waktu 14 bulan saja, 1,5 juta eksemplar dari dua buku pertama Hunger Games berhasil dicetak di Amerika Utara saja.

Sinopsis Novel The Ballad of Songbirds and Snakes

Ditetapkan di alam semesta The Hunger Games, novel ini mengikuti kisah Coriolanus Snow sewaktu masih muda, yang jauh dari presiden tidak berperasaan yang terlihat dalam trilogi The Hunger Games. Coriolanus Snow pernah menjadi anggota salah satu keluarga terkaya di Capitol. Namun, Coriolanus sekarang menjadi yatim piatu yang tinggal bersama nenek dan sepupunya, Tigris, di sebuah apartemen yang tidak mampu mereka beli. Bahkan, mereka juga tidak mampu membeli makanan atau pakaian yang layak.

Berdasarkan keunggulan akademiknya di Akademi, sekolah menengah paling bergengsi di Capitol, Coriolanus Snow dipilih untuk menjadi mentor penghargaan di Hunger Games ke-10 mendatang. Dia ditugaskan sebagai mentor seorang wanita dari Distrik 12 yang bernama Lucy Gray Baird. Lucy adalah anggota kelompok musisi keliling yang dikenal dengan nama Covey. Lucy terjebak di Distrik 12 setelah perang.

Lucy Gray memicu perhatian Capitol setelah bernyanyi saat menuai. Coriolanus memiliki tekad untuk membuat kesan yang baik, karena keberhasilannya dalam permainan ini menjadi peluang besar untuk menjamin hadiah uang yang dia butuhkan supaya ia bisa kuliah di Universitas. Coriolanus kemudian memutuskan untuk bertemu dengan Lucy Gray di stasiun kereta tempat para peserta tiba. Namun, secara tidak sengaja mereka berdua berakhir di Kebun Binatang Capitol. Dia dan Lucy Gray memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadakan pertunjukan dan mulai mendapatkan simpati dari warga Capitol.

Coriolanus mulai menyelundupkan makanan Lucy Gray dari Akademi, karena para peserta tidak diberi makan oleh Capitol. Mentor lainnya mengikuti, termasuk Sejanus Plinth, seorang anak laki-laki yang berasal dari Distrik 2. Pengaturan berakhir ketika salah satu mentor, Arachne Crane, dibunuh oleh anak didiknya sendiri. Clemensia, teman sekelas Coriolanus, putus asa dengan pembunuhan itu, lalu meninggalkan Coriolanus untuk menyelesaikan esai tentang cara-cara untuk meningkatkan pemirsa untuk permainan. Esai yang seharusnya mereka buat bersama.

Coriolanus kemudian menyajikan esai itu kepada Kepala Gamemaker Volumnia Gaul. Ia mengusulkan skema taruhan dan sponsor tribut untuk melibatkan orang-orang Capitol dalam hasil Olimpiade. Dr. Gaul menjatuhkan esai itu ke dalam tangki ular yang dimodifikasi secara genetik. Mereka menyerang Clemensia, dan kemudian dia diracuni. Hal ini membuktikan bahwa Coriolanus adalah satu-satunya penulis proyek, karena ular tidak mengenali aroma Clemensia di koran.

Selama tur Arena, bom yang tidak terdeteksi tiba-tiba meledak dan membunuh beberapa tribut dan mentor. Terlepas dari publisitas buruk yang dihasilkan, pertandingan pun dimulai. Banyak tribut yang cepat mati karena kelaparan, penyakit, atau cedera. Sementara Dr. Gaul memberlakukan proposal Coriolanus dalam Olimpiade. Sejanus, yang membenci Capitol dan Pertandingan, memasuki Arena pada malam hari dengan niat untuk mati sebagai martir. Namun, di bawah perintah Dr. Gaul, Coriolanus akhirnya mengeluarkannya.

Akhirnya, setelah beberapa hari dan pengenalan akan “mutasi” yang membunuh peserta lainnya, Lucy Gray menjadi pemenang dari permainan itu berkat racun tikus yang diberikan Coriolanus kepadanya. Pada pesta perayaan di Akademi, Coriolanus dihadapkan dengan bukti yang melibatkan dia dalam kecurangan dalam permainan, juga kejadian mencuri makanan dari Akademi. Untuk menghadapi hukuman dan penghinaan publik, Coriolanus dipaksa menjadi Peace Maker di Distrik 12.

Coriolanus bersatu kembali dengan Lucy Gray di Distrik 12, dan mereka mulai mengembangkan perasaan pada satu sama lain. Coriolanus menemukan bahwa Sejanus, yang sekarang menjadi sesama Peace Maker, berencana untuk membantu warga Distrik 12 melarikan diri ke Utara, yang dikabarkan berada di luar kendali Capitol. Mantan kekasih Lucy Gray, Billy Taupe, dan putri Walikota, Mayfair, mendengar percakapan antara Sejanus dan seorang pemberontak bernama Spruce. Mereka kemudian ditembak mati oleh Spruce dan Coriolanus untuk mencegah mereka membuka penyamaran.

Mayat mereka ditemukan oleh Covey setelah konser. Segera setelah itu, Spruce ditemukan dengan luka parah dan akhirnya meninggal. Sementara Sejanus ditangkap oleh Peace Maker dan digantung karena berkhianat. Ia meninggalkan Lucy Gray dan Coriolanus sebagai satu-satunya saksi pembunuhan yang tersisa. Lucy Gray memberi tahu Coriolanus bahwa dia akan melarikan diri ke Utara dan Coriolanus memutuskan untuk pergi bersamanya, meskipun dia telah ditawari tempat di sekolah pelatihan perwira yang ada di Distrik 2.

Dalam perjalanan mereka ke Utara, Coriolanus secara tidak sengaja menemukan senjata tersembunyi yang digunakan untuk menembak Billy Taupe dan Mayfair. Khawatir bahwa Lucy Gray akan berpikir dia berencana untuk melarikan diri, dan bahwa Lucy telah mengetahui bahwa dia lah yang bertanggung jawab atas kematian Sejanus, dia kemudian mencoba membunuhnya. Namun, Lucy menghilang. Coriolanus menembak ke segala arah, dan membiarkan keadaan menjadi tidak pasti apakah dia berhasil melarikan diri.

Setelah membuang senjata yang memberatkannya itu ke danau, Coriolanus kembali ke Distrik 12 dan dikirim kembali ke Capitol. Di sana Dr. Gaul menjelaskan bahwa dia telah mengirimnya ke Distrik 12 untuk membantunya mendapatkan lebih banyak pengalaman dan akhirnya berdamai dengan pandangannya tentang sifat manusia sebagai kekerasan yang inheren. Coriolanus diberikan tempat di universitas di bawah pengawasannya. Dia secara efektif diadopsi oleh ayah Sejanus, Strabo, yang tidak menyadari peran yang dia mainkan dalam kematian Sejanus.

Kelebihan Novel The Ballad of Songbirds and Snakes

Kualitas tulisan Suzanne Collins tentunya tidak perlu diragukan lagi. Kelebihan utama yang membuat pembaca kagum kepadanya, yaitu Suzanne selalu bisa membuat pembaca jatuh hati atau benci kepada karakter tokoh yang dibangunnya. Hal ini mengindikasi bahwa Suzanne berhasil membangun karakter tersebut dengan baik. Pembangunan karakter yang baik itu juga terjadi dalam novel ini, karakter utama dalam kisah ini mampu membuat pembaca gregetan, kesal, bahkan ada yang benci juga dengan tokohnya.

Format cerita novel The Ballad of Songbirds and Snakes ini memang berbeda dengan trilogi The Hunger Games, dan hal ini menjadi sebuah hal baru yang segar. Novel ini dapat dikatakan sebagai cerita biografi Coriolanus Snow. Melalui kisah ini, kita dapat melihat sisi lain dari President Snow yang kita kenal. Ini adalah sebuah balada yang cantik tentang Snow muda yang belum berubah menjadi President Snow yang kejam.

Berbicara tentang premis cerita ini, kisah yang membahas latar belakang mengapa seseorang bisa menjadi seorang yang jahat memang selalu mampu membuat penasaran. Begitu juga, novel ini dapat membuat pembaca penasaran akan kehidupan masa lalu Snow. Kisah ini tentunya sangat seru untuk diikuti hingga selesai.

Para pembaca juga memuji gaya penulisan Suzanne Collins yang dinilai sangat baik, sehingga ceritanya bisa sampai kepada pembaca. Novel ini sendiri dibagi menjadi 3 babak, dan setiap babak iti mampu menyuguhkan kesan tertentu yang membekas di benak pembaca. Bahkan, beberapa pembaca menyatakan bahwa kesan itu memengaruhi kehidupan mereka, seperti hingga terbawa mimpi. Berarti cakep banget, kan, delivery nya.

Bukan hanya mengisahkan tentang diri Corionalus Snow saja, novel ini juga menyajikan selingan kisah romantis antara Lucy dan Snow. Selingan kisah romansa mereka ini menjadi sesuatu yang manis dan menyegarkan cerita ini. Apalagi, kisah cinta mereka berawal dari hubungan antara mentor dan murid.

Novel The Ballad of Songbirds and Snakes versi terjemahan dalam Bahasa Indonesia juga dinilai sangat baik. Terjemahannya mudah untuk dimengerti, pemilihan katanya dinilai baik. Pembaca tidak mengalami kesulitan dalam membaca novel terjemahan ini.

Kekurangan Novel The Ballad of Songbirds and Snakes

Selain kelebihan, novel The Ballad of Songbirds and Snakes juga memiliki kekurangan. Kekurangan pada novel ini terletak pada konfliknya yang kompleks, sehingga membuat pembaca bingung akan konflik utamanya. Selain itu, pada babak terakhir, pembaca menemukan konflik yang penyelesaiannya terkesan nanggung.

Lalu, kisah kehidupan Snow ini dinilai kurang greget, karena aksi-aksi yang dilakukan tidak terlalu banyak. Pembaca merasa kurang mendapatkan kesan menegangkan dari pembentukan karakter Snow ini. Kemudian, ular beracun yang seharusnya menjadi peran penting dalam kisah ini dinilai seperti hiasan saja. Namun, hal ini terkait dengan ekspektasi masing-masing para pembaca.

Pesan Moral Novel The Ballad of Songbirds and Snakes

Melalui kisah ini, kita dapat mengetahui bahwa seseorang yang dianggap jahat di suatu cerita, dapat menjadi seorang yang baik di cerita lain. Seperti Snow yang terkenal jahat, tetapi ternyata dia tidak sepenuhnya jahat. Dia juga pernah melakukan kebaikan.

Sejatinya, manusia adalah baik. Diri seseorang pasti pada awalnya baik. Hanya saja, kehidupan yang mereka jalani akan memengaruhi sikap dan sifat mereka. Jadi, kita tidak bisa menghakimi seseorang bahwa mereka terlahir sebagai orang yang jahat. Apalagi, jika kita tidak mengenal orang itu.

Dendam bagaikan dua buah mata pisau. Ini mengindikasi bahwa dendam akan merusak atau menyakiti seluruh pihak yang terlibat. Seperti misalnya, anda menyimpan dan membalaskan dendam kepada seseorang. Hal itu tidak hanya menyakiti orang tersebut, tetapi menyakiti anda juga.

Bagi kalian para penggemar trilogi The Hunger Games, pastinya novel ini sangat direkomendasikan untuk anda baca. Sebab, novel The Ballad of Songbirds and Snakes ini memberikan anda pengetahuan baru akan sejarah masa lalu The Hunger Games. Yuk langsung saja dapatkan novel The Ballad of Songbirds and Snakes karya Suzanne Collins hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel