in

Review Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan adalah novel yang ditulis oleh Damar Shashangka, penulis ternama asal Indonesia. Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan diterbitkan pertama kali pada tahun 2015 oleh penerbit Kaurama. Novel ini menjadi novel yang mengawali serial novel Sabda Palon. Buku dengan total 466 halaman ini mengisahkan tentang sejarah Kerajaan Majapahit.

Dikisahkan pada sekitar tahun 1445 Masehi, atas permintaan Bhre Kertabumi, Syekh Ibrahim Al-Akbar berlayar dari Champa menuju Jawa, diiringi oleh Sayyid Ali Murtadlo beserta tiga belas santrinya. Mengingat pertumbuhan kaum muslim yang pesat di pesisir Jawa, Syekh yang merupakan keturunan Samarqand itu dipilih untuk menjadi petinggi agama Islam di Kerajaan Majapahit. Namun, kapal Syekh Ibrahim diterjang badai sampai terdampar di pantai Kamboja. Mereka kemudian ditangkap oleh prajurit-prajurit Kamboja lalu dipenjara oleh rajanya.

Kabar tentang nasib rombongan Champa itu akhirnya sampai ke Jawa. Dipimpin oleh Raden Arya Bangah, tujuh jung tempur Majapahit yang lengkap dengan manjanik dan meriam, langsung meluncur ke Kamboja untuk membebaskan pasukan Syekh. Pertempuran sengit pun terjadi di Prey Nokor. Pada masa itu, dengan kemampuan mata batinnya, dua punakawan Bhre Kertabumi, yakni Sabda Palon dan Naya Genggong, melihat bahwa trah Majapahit akan lumpuh.

Selama lima ratus tahun lamanya, awan hitam akan menutupi Nusantara. Diiringi dengan datangnya para pembawa keyakinan baru yang akan mengakhiri kekuasaan Majapahit. Untuk menjaga keutuhan Nusantara, Sabda Palon kemudian menasehati Kertabumi supaya mengambil selir dari Kepulauan Wandhan. Keturunan dari selir itu akan membangkitkan kejayaan trah Majapahit selama dua ratus tahun kemudian.

Raja muda itu pun menerima nasehat itu dan kawin dengan Bondrit Cmara, seorang emban dari Wandhan. Dewi Amarawati, sang putri Champa permaisuri Kertabumi, merasa cemburu tidak tertanggungkan. Maka dari itu, dia kemudian berencana untuk membunuh Bondrit Cmara beserta janin yang sedang dikandungnya.

Melalui narasi yang memukau di hampir seluruh babak, novel ini tidak hanya mampu menyatukan kepingan cerita sejarah masa akhir kejayaan Majapahit yang tersebar dan terpendam, tetapi juga akan menyihir anda untuk memasuki Nusantara pada masa silam. Tidak mudah untuk membawa pembaca dari abad 21 untuk menyelam kembali ke abad 15. Masa yang didominasi kemegahan pura, aroma dupa, dan gadis-gadis yang masih telanjang dada. Namun, Damar Shashangka mampu menuliskan sejarah itu dengan mengagumkan.

Profil Damar Shashangka – Penulis Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Sumber foto: Damar Shashangka Publishing

Damar Shashangka adalah pria yang lahir di Malang, pada 8 April 1980. Damar Shashangka lahir dari keluarga Kejawen, yang membuatnya memiliki ketertarikan kepada bidang spiritualitas dan mistisme sejak ia masih kecil. Ketika ia masih berusia belasan tahun, Damar memperoleh sebuah visi bahwa suatu saat dirinya akan menulis banyak buku mengenai sejarah dan ajaran-ajaran kuno Nusantara.

Visi itu benar-benar terjadi. Nama Damae Shashangka kini dikenal sebagai penulis novel sejarah yang sangat produktif. Namanya mulai dikenal di dunia sastra sejarah Indonesia setelah merilis novel berseri debutnya yang berjudul Sabda Palon. Seri novel ini mendapatkan banyak pujian dan menjadi sebuah referensi berharga mengenai sejarah Nusantara beserta ajaran-ajaran kunonya.

Selain aktif menulis novel sejarah, Damar juga aktif menerjemahkan dan mengulas naskah kuno Jawa. Beberapa di antaranya, yaitu Darmagandhul, Gatholoco (Rahasia Ilmu Sejati dan Asmaragama), Ilmu Jawa Kuno (Sanghyang Tattwajñ?na Nirmala Nawaruci), dan Induk Ilmu Kejawen (Wirid Hidayat Jati). Lelaki yang fasih menulis dan berbicara tentang spiritualitas Kêjawen, Islam, dan ?iwa Buddha ini dapat dihubungi secara personal melalui akun Facebook bernama Damar Shashangka, akun Twitter @DamarShashangka, atau blog damar-shashangka.blogspot.com.

Sinopsis Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Kisa sejarah ini berlatar pada tahun 1445 Masehi, tepat menjelang keruntuhan Keraton Majapahit. Pada masa itu, perkembangan agama Islam di daerah kekuasaan Majapahit sangat pesat. Hal ini membuat pemerintah Majapahit memiliki ide untuk membuat menteri yang bertugas khusus untuk mengurus agama Islam. Sebelumnya, Majapahit sendiri telah memiliki menteri khusus untuk mengurus agama Budha dan Hindu.

Bhre Kertabumi, keluarga Keraton Keling, atas usulan sang istri, Dewi Amarawati, mengutus Syekh Ibrahim Al-Akbar untuk mengurus agama Islam di Majapahit. Dewi Amarawati adalah putri Champa dan adik dari Syekh Ibrahim Al-Akbar. Secara otomatis, Syekh Ibrahim yang merupakan keturunan Rasulullah SAW mempunyai hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit.

Agama Islam memang sudah berkembang di seluruh Nusantara juga. Perkembangan agama Islam di Nusantara dapat dibilang tidak maksimal, karena tak ada pemuka agama yang dekat dengan penguasa. Beberapa ulama yang merupakan keturunan Rasulullah SAW sudah sejak lama hidup di tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Salah satu di antaranya adalah Syekh Jamaluddin Syah Jalal, ayah Syekh Ibrahim. Kepergian sang ayah ke tanah Jawa yang sudah lama membuat Syekh Ibrahim ingin segera menyusul juga ke tanah Jawa.

Oleh karena adanya permintaan dari Kerajaan Majapahit juga, Syekh Ibrahim akhirnya tertarik untuk turut menyebarkan agama rasul di tanah Jawa, sekaligus mencari kabar sang ayah di sana. Syekh Ibrahim ditemani oleh Sayyid Ali Murtadlo dan tiga belas santri pilihannya untuk pergi dari Kerajaan Champa menuju Kerajaan Majapahit. Pasukan Syekh Ibrahim berangkat menggunakan jung, menyusuri lautan yang luas untuk memenuhi undangan dari Bhre Kertabumi.

Sayangnya, pada suatu hari di tengah laut, badai besar tiba-tiba menerjang jung rombongan Syekh Ibrahim, sehingga menyebabkan jung itu rusak dan akhirnya tenggelam. Badai besar yang menerpa mereka membuat jung pasukan Syekh Ibrahim terdampar di Kamboja. Terdamparnya rombongan Syekh Ibrahim di Kamboja dapat dikatakan sebagai kabar buruk. Terutama saat Syekh Ibrahim membawa sejumlah tiga belas santri yang merupakan orang Champa.

Perlu diketahui bahwa hubungan Kerajaan Champa dan Kamboja saat itu tidak terlalu baik. Saat keberadaan pasukan Syekh Ibrahim diketahui oleh pasukan Kamboja, pasukan Syekh Ibrahim segera ditahan oleh Kerajaan Kamboja. Nasib Syekh Ibrahim dan pasukannya mungkin tak akan selamat dari Kerajaan Kamboja. Namun, kehadiran Panglima Samdech Ram mengubah nasib mereka.

Samdech Ram merupakan salah satu panglima pasukan Kamboja yang berhutang budi atas kebaikan pasukan Syekh Ibrahim saat Panglima Samdech Ram terkena sihir yang tidak diketahui asalnya. Atas bantuan Panglima Samdech Ram, Syekh Ibrahim bisa mengirim tiga orang santrinya yang bisa berbahasa Sansekerta untuk pergi duluan ke Kerajaan Majapahit dan meminta bantuan. Tiga orang santri itu membawa surat dari Syekh Ibrahim untuk Raden Bhre Kertabumi, penguasa Keraton Keling di Trowulan. Mereka bertiga berusaha untuk segera sampai ke tanah Jawa dengan menggunakan jung.

Memang pada saat itu, perjalanan paling cepat dapat dilalui jika menaiki jung di lautan, yang juga bergantung pada arah dan kekuatan angin. Saat surat itu telah sampai di tangan Bhre Kertabumi, ia langsung menyiapkan armada besar dan pasukan untuk menjemput Syekh Ibrahim beserta pasukannya. Jika pasukan Syekh Ibrahim tidak dibebaskan oleh pihak Kamboja, Majapahit tidak akan segan mengadakan pertumpahan darah yang akan terjadi di Kamboja.

Gertakan Majapahit dan penaklukan pelabuhan Prey Nokor oleh pasukan Majapahit membuat Kamboja gempar. Panglima Samdech Ram memiliki rencananya sendiri untuk mengusahakan supaya rombongan Syekh Ibrahim bisa kembali ke Majapahit. Setelah pasukan Syekh Ibrahim berhasil diselamatkan, Majapahit ingin menarik pasukannya dari Kamboja. Syekh Ibrahim belum sempat melanjutkan perjuangannya untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, karena ia mengalami sakit sejak masih berada di jung dalam perjalanan menuju Majapahit.

Sesampainya di Pelabuhan Tuban, Syekh Ibrahim masih tetap sakit dan akhirnya meninggal dunia. Syekh Ibrahim kemudian dimakamkan di sana. Perjuangan Syekh Ibrahim dilanjutkan oleh sang anak, Sayyid Ali Murtadlo. Sayyid Ali Murtadlo bersama santri-santri yang tersisa pergi ke Trowulan untuk memenuhi undangan Raden Bhre Kertabumi yang sebelumnya diberikan kepada sang ayah.

Kelebihan Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan ini benar-benar mengisahkan tentang sejarah Nusantara yang jarang diketahui oleh masyarakat umum. Dari penjelasannya, pembaca dapat melihat bahwa Damar Shashangka melakukan riset mendalam dengan tekun dan serius demi bisa menulis novel ini. Sebab, Damar sangat menekankan kepada silsilah tokoh-tokoh di dalamnya dengan sangat detail. Ia juga mampu menjelaskan dengan baik bahwa tokoh-tokoh di dalam kisah ini saling berikatan satu dengan lainnya.

Novel ini dapat memberi pengajaran bagi kita untuk mengenal asal usul bangsa kita yang sekarang sudah banyak terlupakan atau ditutupi keburukannya. Kisah ini berhasil membawa pembaca ikut masuk ke masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit. Kisah novel ini dapat membuat pembaca memandang leluhur dengan cara yang berbeda. Tentunya, kisah ini juga dapat membuat pembaca lebih menjadi bangga menjadi bagian dari Nusantara.

Secara keseluruhan, Samar Shashangka mampu menyajikan kisah sejarah Nusantara ini menjadi kisah yang menarik untuk diikuti. Damar mampu mengubah pikiran bahwa kisah-kisah Nusantara kuno hanya sebuah mitologi belaka, sehingga banyak yang tidak percaya. Bagi mereka yang percaya pun, mitologi itu biasanya dikaji secara literatur, sehingga pesan-pesan menjadi tersirat dan belum terkaji kebenarannya. Padahal kisah Nusantara kuno mengandung banyak pesan moral, ajaran spiritual, dan falsafah hidup.

Anda bisa menemukan segala pesan yang tersembunyi dari kisah sejarah Nusantara yang jarang diketahui ini, terangkum dalam kisah ini.

Kekurangan Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Kekurangan novel ini terletak pada adanya beberapa bagian cerita yang dituliskan berulang kali. Hal ini membuat bagian cerita ini menjadi repetitif dan membuat pembaca merasa bosan. Contohnya, tentang sayembara yang diadakan oleh Adipati Menak Sembuyu mengenai sakitnya Ratna Dewi Sekardhadhu. Bagian cerita tersebut diungkapkan berulang kali di beberapa bagian.

Pesan Moral Novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan

Melalui novel ini, kita dapat belajar untuk berpegang teguh pada keimanan yang kita miliki. Lalu, menyebarkan pengajaran yang baik ke masyarakat sekitar kita, melalui perbuatan yang baik. Kemudian, Syekh Ibrahim juga memberikan pesan untuk menghormati pemimpin yang telah dipercaya mendapatkan kekuasaan.

Bagi para pemimpin juga, hendaknya meneguhkan hati untuk tetap rendah hati, bersikap sederhana, dan melaksanakan tanggung jawab dengan baik. Sebelum menjadi pemimpin, pastikan dirimu mengerti bagaimana hidup sebagai kaum yang kekurangan. Supaya kamu bisa bersikap adil kepada semua rakyatmu. Sebelum kamu bisa menjadi orang seperti itu, hindari memiliki keinginan untuk menjadi pemerintah.

Sekian ulasan novel Sabda Palon: Kisah Nusantara yang Disembunyikan karya Damar Shashangka. Bagi kalian yang penasaran akan kisah sejarah Nusantara yang tersembunyi, kalian bisa mendapatkan novel ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel