in

Review Novel Wuthering Heights – Emily Bronte

Review Novel Wuthering Heights – Berbicara tentang suatu cerita yang ada di dalam sebuah keluarga memang sangat kompleks, selalu ada banyak cerita didalamnya, mulai dari cinta, kasih sayang bahagia, hingga merasakan kenyamanan. Semua perasaan itu menggambarkan bahwa setiap cerita atau perjalanan suatu keluarga lebih sering terlihat mulus atau baik-baik saja, sehingga terjadinya perpecahan dalam sebuah keluarga kecil kemungkinannya akan terjadi.

Dari perasaan-perasaan yang diinginkan tersebut memungkinkan muncul suatu hal atau banyak hal yang diinginkan juga, seperti memberikan perhatian, memberikan rasa adil, dan masih banyak lagi. Dengan adanya berbagai macam perasaan dan tindakan yang terlihat mulus di dalam sebuah keluarga menandakan bahwa setiap anggota selalu berkeinginan untuk menciptakan keluarga yang harmonis.

Namun, tak selamanya cerita yang ada di dalam sebuah keluarga selalu menghadirkan cerita-cerita yang mulus atau terlihat baik saja, perasaan-perasaan yang muncul bukan hanya rasa, bahagia, kasih sayang, cinta, dan nyaman saja, tetapi bisa juga memunculkan rasa benci, cemburu, hingga memunculkan rasa dendam terhadap anggota keluarga. Munculnya perasaan-perasaan tidak baik dalam sebuah keluarga memungkinkan untuk timbul tindakan-tindakan yang tidak baik juga di dalam sebuah keluarga. Dalam hal ini, tindakan-tindakan yang tidak baik berupa mengganggu, menindas, dan masih banyak lagi.

Bahkan, dari perasaan-perasaan tidak baik itu bisa memunculkan perilaku-perilaku yang tidak baik juga. Perilaku-perilaku tidak baik yang muncul bukan hanya memberikan dampaknya terhadap keluarga, tetapi juga terhadap lingkungan masyarakatnya. Apabila sudah terjadi seperti itu, maka anggota keluarga tersebut tak menutup kemungkinan akan dibenci oleh masyarakat yang ada disekitarnya. Perasaan-perasaan dan perilaku yang tidak baik tidak muncul begitu saja, tetapi bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah rasa tidak suka, bahkan benci terhadap salah satu anggota keluarga.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa cerita yang ada di dalam sebuah keluarga tak bisa dilihat dari satu sisi saja, harus dilihat dari sudut pandang perasaan-perasaan dan tingkah laku yang baik dan tidak baik. Semakin banyak hal baik yang dilakukan dalam sebuah keluarga, maka kemungkinan besar hubungan suatu keluarga akan berjalan harmonis, sehingga pertikaian dalam hubungan keluarga dapat dihindari. Hampir setiap orang mengharapkan terciptanya sebuah keluarga yang harmonis, tetapi terkadang semua harapan atau keinginan tersebut harus sirna karena munculnya hal-hal yang tidak diharapkan.

Sebuah keluarga yang memiliki permasalahan antara anggota keluarga lainnya secara kompleks ternyada hadi di dalam sebuah novel yang berjudul Wuthering Height yang ditulis oleh Emily Bronte. Novel yang berlatar belakang Inggris ini memiliki cerita yang sangat kompleks, mulai dari konflik dalam sebuah keluarga, hingga kisa cita yang dirasakan oleh anggota keluarga. Cerita yang sangat kompleks itu akan membuat perasaan pembaca bercampur aduk. Setiap tokoh dalam novel ini memiliki konfliknya masing-masing yang akan membuat pembaca ikut merasakan setiap konflik yang ada.

Tidak hanya itu saja, seseorang yang membaca novel Wuthering Height karya Emily Bronte sampai dengan selesai, akan sadar bahwa konflik yang ada di dalam keluarga tak semudah dan semulus yang diharapkan oleh banyak orang. Kita juga dibuat bertanya-tanya apakah rasa cinta seseorang yang dikecewakan bisa berubah menjadi rasa benci dan muncul perilaku untuk balas dendam?

Sinopsis Novel Wuthering Heights

Novel ini mengisahkan tentang seorang pria yang ingin membalaskan dendamnya karena telah mendapatkan berbagai macam perilaku yang tidak menyenangkan dan pria itu bernama Heathcliff. Cerita di dalam novel bermula pada seorang pria yang bernama Heathcliff yang merupakan seseorang gelandangan mulai ditemukan oleh seorang pria yang bernama Mr. Earnshaw. Anak gelandangan itu, ditemukan di kota Liverpool, Inggris. Setelah ditemukan oleh Mr. Earnshaw, anak gelandangan yang bernama Heathcliff mulai di bawa ke rumahnya yang ada di Wuthering Heights.

Setelah membawa anak gelandangan itu ke rumahnya, ternyata banyak anggota keluarga dari Mr. Earnshaw yang tidak setuju. Hal ini dikarenakan asal-usul anak gelandangan yang telah ditelantarkan itu tidak jelas. Meskipun banyak anggota keluarga yang tidak setuju, Mr. Earnshaw tetap sangat ingin untuk membesarkan anak yang bernama Heathcliff di dalam rumahnya. Tak hanya itu saja, Mr. Earnshaw juga menganggap Heathcliff sudah seperti anaknya sendiri.

Ternyata, Mr. Earnshaw memiliki rasa iba terhadap anak yang ditemukan di kota Liverpool tersebut, sehingga mulai menganakemaskan Heathcliff. Dari sikap dan perilaku Mr. Earnshaw terhadap Heathcliff yang sangat baik membuat sang putra tertuanya yang bernama Hindley timbul rasa cemburu. Hindley yang dipenuhi rasa cemburunya dan sebagai anak yang lebih tua, mulai mengganggu dan menyakiti Heathcliff. Tidak hanya secara fisik saja, tetapi Heathcliff juga disakiti secara verbal.

Heathcliff yang menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari kakak tertuanya itu, tak pernah membalasnya. Meskipun tidak pernah membalasnya, tetapi Heathcliff mulai memanfaatkan kasih sayang buta dari seseorang yang mengajaknya untuk tinggal di rumah itu, Mr. Earnshaw agar bisa membalaskan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh kakaknya, Hindley. Mulai dari sinilah, hubungan Mr. Earnshaw sebagai ayah mulai tidak akur dengan puternya, Hindley. Hindley yang tadinya hanya cemburu pada sikap dan perilaku baik yang diberikan ayahnya kepada Heathcliff, mulai muncul rasa benci yang sangat mendalam kepada Heatchcliff.

Heathcliff dan Hindley pun mulai sering bertengkar dengan hebat yang membuat Mr. Earnshaw mulai merasa resah dan terganggu. Hingga pada suatu waktu, Mr. Earnshaw mengirim Hindley untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota.

Mr. Earnshaw memiliki seorang putri yang bernama Catherine. Pada awal kedatangan Heathcliff, Catherine sama seperti kakaknya yang memiliki rasa tidak suka terhadap Heathcliff. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, rasa benci yang dimiliki oleh Catherine mulai memudar dan mulai akrab dengan seorang anak yang diangkat oleh Mr. Earnshaw, yaitu Heathcliff.

Meskipun, Heathcliff dan Catherine mulai akrab dan berteman dekat, tetapi mereka berdua memiliki sifat yang tidak baik, seperti kasar, manipulatif, dan pembangkang. Sifat tidak baik yang dimiliki oleh mereka berdua, ternyata mulai berubah menjadi kenakalan-kenakalan yang bisa dibilang sangat mengganggu. Bahkan, kenakalan-kenakalan yang mereka lakukan membuat seluruh masyarakat atau penghuni Wuthering Heights marah dan kecewa, sehingga mereka para penghuni Wuthering Heights mulai kehilangan kesabaran.

Semakin lama sering menghabiskan waktu bersama, Catherine mulai memunculkan rasa cinta sayang terhadap Heathcliff. Begitu juga, dengan Heathcliff yang semakin lama semakin memuja Catherine. Hingga pada akhirnya mereka berdua tumbuh sebagai sepasang remaja yang terkenal karena sering membuat keributan. Bahkan, keributan yang mereka lakukan semakin lama semakin meresahkan.

Hingga pada suatu waktu, hubungan Catherine dan Heathcliff dengan Mr. Earnshaw mulai renggang dan cenderung memburuk. Hubungan yang mulai memburuk ini disebabkan karena Mr. Earnshaw termakan hasutan pengurus rumah tangga, Joseph. Mr. Earnshaw yang terhasut itu mulai berubah menjadi pria tua yang temperamental, hingga mulai menyesali kondisi keluarganya yang penuh dengan pertengkaran. Penyesalan yang dipendam oleh Mr. Earnshaw membuat dirinya sakit-sakitan dan sampai menghembuskan napas terakhirnya, Mr. Earnshaw masih menyesali atas kondisi keluarganya.

Mendengar kabar bahwa sang ayah sudah meninggal dunia, Hindley sebagai putra tertua mulai kembali ke kediaman di Wuthering Heights. Ia kembali ke rumahnya karena ingin mengambil alih tanggung jawab keluarga setelah sang ayah meninggal dunia. Hindley kembali ke Wuthering Heights tidak sendirian, ia membawa perempuan yang sudah dinikahinya tanpa diketahui oleh keluarga Earnshaw. Gadis yang telah dinikahi oleh Hindley bernama Frances.

Meskipun sudah lama tidak tinggal di rumah keluarga Earnshaw, Hindley masih menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap Heathcliff. Dari rasa benci dan dendam itulah, kemudian sesampainya di rumah Earnshaw, Hindley mengusir Heathcliff. Bukan hanya diusir saja, tetapi Heathcliff juga diposisikan sebagai buruh-buruh yang ada di Wuthering Heights. Heathcliff yang telah diusir dan statusnya telah berubah tak mempermasalahkannya. Bahkan, Heathcliff tidak marah dan menahan semua perlakuan buruk yang telah diberikan oleh Hindley kepada dirinya. Hal ini dikarenakan, Heathcliff percaya bahwa masih ada Catherine disampingnya.

Pada suatu waktu, Heathcliff dan Catherine tertangkap basah sedang megintip-ngintip rumah keluarg Linton. Mereka tertangkap basah oleh pekerja Thrushcross Grange. Namun, sangat disayangkan ketika mereka berlari agar tak tertangkap oleh para pekerja, Catherine terluka dan Heathcliff berhasil kabur. Kemudian, luka yang diterima oleh Catherine mulai dirawat di  Thrushcross Grange hingga sembuh. Setelah sembuh dari luka yang telah dialaminya, Catherine kembali ke Wuthering Heights dengan perilaku yang berbeda, ia tampak terlihat rupawan dan anggun. Heathcliff yang melihat perubahan perilaku Catherine mulai merasa rendah diri.

Ketika Edgar Linton dan Isabella Linton datang untuk menjenguk kondisi Catherine, rasa rendah diri Heathcliff semakin menjadi-jadi. Bahkan, ia juga mulai membenci dua bersaudara tersebut karena telah mengubah perilaku dari Catherine. Heathcliff pun cemburu karena Edgar Linton mulai mendekati Catherine, sehingga sejak saat itu Heathcliff dan Edgar Linton mulai bersaing demi mendapatkan hati dan perhatian dari Catherine.

Hingga pada suatu waktu, Heathcliff mulai bertengkar dengan Catherine karena ia sangat cemburu kepada Catherine mulai dekat dengan Edgar Linton dan Isabella Linton. Setelah itu, Heathcliff tak sengaja mendengar sebuah kabar bahwa Catherine sudah menerima pinangan Edgar Linton. Padahal Catherine lebih mencintai Heathcliff yang merupakan temannya sejak masa remaja. Catherine menerima pinangan Edgar Linton karena derajat yang dimilikinya lebih tinggi daripada Heathcliff, kemudian Heathcliff merasa sakit hati mendengar itu semua dan ia pergi dari Wuthering Heights. Catherine pun menikah dengan Edgar Linton dan mereka berdua pindah ke Thrushcross Grange.

Setelah hidup bersama dengan Catherine, Edgar Linton mulai mengetahui sifat asli dari istrinya itu. Perbedaan di antara mereka berdua sering terjadi, bahkan emosi Catherine terus meledak-ledak. Akan tetapi, Edgar Linton yang memiliki sifat pasif dapat menenangkan sang istri, sehingga pertengkaran mereka berdua tak pernah terjadi.

Namun, ketika Heathcliff datang kembali ke daerah Thrushcross Grange sebagai pria yang terhormat dan sukses membuat semua cerita keluarga Edgar Linton menjadi berubah. Heathcliff kembali ke wilayah tersebut dengan membawa dendam yang telah dipendam sejak ia masih kecil. Ia berniat membalaskan semua dendamnya kepada setiap orang yang telah membuat hidupnya hancur, mulai dari Hindley, Edgar Linton, Isabella Linton, hingga Catherine.

Seiring berjalannya waktu, Heathcliff mulai menguasai Wuthering dan Thrushcross Grange. Kemarahan Heatchcliff semakin menjadi-jadi setelah mendengar kabar bahwa Catherine meninggal dunia. Sejak saat itu, ia telah berkeinginan untuk memberikan siksaan kepada mereka yang telah merebut Catherine dari dirinya. Apakah Heatchcliff berhasil memberikan siksaan kepada mereka yang merebut Catherine?

Kelebihan Novel Wuthering Heights

Berbicara tentang kelebihan atau keunggulan yang ada di dalam novel Wuthering Heights ini terletak pada bagian tema, tokoh, dan penokohan yang ditulis secara apik oleh penulis. Tema yang diangkat merupakan tema yang berbeda daripada tema-tema novel pada umumnya. Penulis mampu mengangkat tema dendam yang ada di dalam tokoh utama yang berkarakter protagonis. Sementara itu, tokoh dan penokohan dalam novel ini akan membuat pembaca terkejut karena penulis menghadirkan tokoh protagonis sebagai tokoh utama dalam novel yang berlatar Inggris.

Kelebihan lainnya dari novel Wuthering Heights, pembaca akan mengetahui perubahan tingkah laku dan sifat yang ada di dalam anggota keluarga. Perubahan sifat dan tingkah laku itu disebabkan karena adanya konflik yang terjadi di dalam sebuah keluarga. Konflik-konflik di dalam Novel Wuthering Heights akan mencampuradukkan perasaan para pembaca dan seolah-olah merasakan apa yang dirasakan oleh setiap tokoh. Bahkan, seolah-olah ingin masuk ke dalam cerita novel ini untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Terlebih lagi, novel Wuthering Heights ini menggunakan latar tempat di Inggris, sehingga ketika membacanya, kita akan mengetahui beberapa hal tentang kehidupan masyarakat Inggris pada masa itu. Dengan mengetahui beberapa kebiasaan dari masyarakat Inggris, maka wawasan kita tentang Inggris akan sedikit bertambah. Jadi, jangan pernah ragu untuk membaca novel yang ditulis oleh Emily Bronte dengan judul Wuthering Heights.

Kekurangan Novel Wuthering Heights

Berbicara tentang kelebihan pasti ada kekurangan, di dalam novel Wuthering Heights kekurangan itu terletak pada terlalu banyak menonjolkan pertikaian atau banyak konflik yang dihadirkan oleh penulis, sehingga pembaca bingung harus melihat sisi baik tokoh utama dari mana. Tidak hanya itu, alur dari novel yang ditulis Emily Bronte ini terlalu membingungkan pembaca, sehingga beberapa cerita terasa kurang menyentuh perasaan pembaca. Meskipun, terdapat beberapa kekurangan, tetapi tidak akan mengurangi inti cerita dan makna-makna yang terkandung di dalam novel Wuthering Heights.

Kesimpulan dari Novel Wuthering Heights

Memang pada kenyataannya setiap hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga lainnya tak selamanya harmonis. Ketidakharmonisan dalam sebuah keluarga biasanya disebabkan karena adanya rasa cemburu yang cenderung benci terhadap salah satu atau beberapa anggota keluarga. Maka dari itu, sudah seharusnya setiap kepala keluarga harus bisa melihat kondisi keluarganya agar tidak terjadi pertengkaran atau bahkan perpecahan yang tidak diinginkan.

Sudah seharusnya bagi kepala keluarga untuk selalu mendengar anggota keluarga lainnya ketika ingin mengambil sebuah keputusan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi risiko terjadi pertikaian dalam sebuah keluarga. Melalui novel yang berjudul Wuthering Heights karya Emily Bronte ini kita menjadi sadar bahwa kebencian yang sudah ditanam akibat perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu atau beberapa anggota keluarga bisa memunculkan rasa dendam yang sangat dalam.

Oleh sebab itu, setelah pembaca membaca novel Wuthering Heights akan tersadar bahwa setiap anggota keluarga harus saling memberikan rasa cinta dan kasih sayang agar tidak memunculkan rasa dendam di masa yang akan datang. Jadi, Grameds, segera beli novel ini di gramedia.com

Written by Restu