in

Review Buku Tentang Semua yang Ada di Bumi Karya Aesteuticc

Gramedia.com

Kesedihan atau rasa sakit adalah emosi yang ditandai dengan perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan rasa tidak berdaya. Ketika orang sedih, mereka sering kali menjadi lebih pendiam, tidak terlalu gelisah, dan menyendiri.

Kesedihan juga dapat dianggap sebagai suasana hati yang rendah sementara, sedangkan depresi sering ditandai dengan perubahan suasana hati yang terus-menerus dan parah, kadang-kadang disertai dengan penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Menangis adalah salah satu tanda kesedihan.

Kesedihan adalah kebalikan dari kegembiraan atau kebahagiaan, dan sama dengan kesedihan atau penderitaan. Kesedihan, bersama dengan kebahagiaan, kemarahan, kejutan, ketakutan, dan jijik, juga merupakan salah satu dari “enam emosi dasar” yang dijelaskan oleh Paul Ekman.

Kesedihan juga dapat diartikan sebagai perasaan atau rasa tidak mampu mengatasi masalah yang ada dan dialami. Kesedihan jangka panjang tidak sehat. Yakni, mata bengkak dan pusing saat menangis.

Kesedihan yang dialami manusia di bumi tentunya memiliki berbagai macam faktor, salah satunya adalah patah hati karena putus cinta. Sebagian besar manusia tentunya pernah merasakan jatuh cinta dan juga putus cinta. Dalam hal ini putus cinta membuat manusia merasa sedih, kesepian, dan bisa menderita.

Namun, setiap manusia bereaksi terhadap putus cinta secara berbeda, dan beberapa orang bereaksi secara normal atau bahkan berpikir bahwa putus cinta itu baik-baik saja dan mereka akan menemukan pasangan yang lebih baru dan lebih baik lagi. Beberapa orang bereaksi berlebihan sampai mereka mengetahui bahwa pasangan mereka bersama atau memilih orang lain dan bunuh diri.

Oleh karena itu, tidak heran jika remaja yang berpisah mengalami kesedihan dan kekecewaan yang mendalam dan terlibat dalam perilaku negatif seperti absen sekolah, dikurung di kamar, stres, depresi, merokok, minum minuman keras, dan bahkan dalam beberapa kasus, bunuh diri.

Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita lebih cenderung menangis atau mengungkapkan perasaan mereka melalui tulisan daripada pria. Secara umum, pria cenderung lebih tertutup tentang cinta daripada wanita yang selalu berbicara dengan teman dan kenalannya.

Anak laki-laki dengan teman sebayanya biasanya berbicara tentang hobi, bukan cinta dan perasaan. Dalam hal cinta, pria lebih banyak diam. Demikian pula, pria cenderung menyimpan perasaannya sendiri daripada menceritakan kisahnya saat sedang putus cinta.

Berbicara mengenai kesedihan dalam hal cinta, pada kesempatan kali ini Gramedia akan membuat¬†review/ulasan singkat mengenai buku dengan judul “Tentang Semua yang Ada di Bumi” karya dari Aestuticc. Untuk lebih jelasnya, mari simak ulasan berikut.

Profil Penulis

Jadi siapa orang di balik @aesteuticc? Ternyata pendirinya adalah Benaya Tiarno (@benayatiarno). Benaya adalah seorang anak muda, ia lahir tahun 2000, masih menempuh pendidikan Sistem Informasi di Universitas Katolik Semarang.

Ia adalah seseorang dibalik akun Aestuticc. Hobi menulis yang ia miliki awalnya hanya untuk iseng dan bersantai saja. Namun, hasil melebihi dugaannya @aesteuticc saat ini memiliki 953.000 pengikut di Instagram.

Benaya pada awalnya berpikir bahwa banyak anak muda yang begitu bingung sehingga mereka mudah marah hati dan pikiran, dan cenderung berpikir bahwa mereka adalah pecundang dan tidak berharga, jadi Benaya mencoba membuat halaman dengan latar belakang ini. Ia membuatnya di jejaring sosial Instagram menggunakan kata-kata pendek untuk memenangkan hati banyak orang yang bingung, dan berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.

Dalam keadaan yang ada, kelahiran @aesteuticc sendiri akan memberikan kenyamanan dengan adanya motivasi singkat bagi remaja yang malu dengan cinta dan pencapaian yang tidak sempurna. Benaya berharap akun ini bisa terus berkembang. @aesteuticc menemani agar anak muda/remaja bisa lebih termotivasi untuk menjalani hidup daripada gagal dan putus asa.

Detail Buku

Buku yang memiliki judul “Tentang Semua yang Ada di Bumi” ini merupakan karya dari Aestuticc. Buku ini terbit pada 9 Desember 2019 dan diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia. Buku yang memiliki berat 0.35 kg ini memiliki jumlah halaman sebanyak 144 halaman di dalamnya. Lebar buku ini 13 cm dan juga memiliki panjang 18 cm. Bahasa Indonesia menjadi media untuk menyampaikan pesan yang terkandung di dalam buku ini. Jika kalian ingin membelinya, buku ini dihargai sebesar Rp63.200,00. Tentunya kalian dapat membelinya di Gramedia.

Sinopsis Buku

beli sekarang

Buku yang berjudul “Tentang Semua yang Ada di Bumi” karya Aesteuticc ini secara umum berbeda dengan buku-buku lainnya karena menyuguhkan nuansa yang menarik bagi pembacanya. Isi setiap halamannya memiliki makna yang dalam meski dibalut dengan kalimat sederhana.

Dari halaman pertama, pembaca disuguhkan dengan gambar seorang wanita membaca buku “Tentang Semua yang Ada di Bumi”, dan setiap halaman adalah gambar yang indah dengan ungkapan-ungkapan sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kebanyakan orang di seluruh dunia. Setiap kalimat disajikan dengan cara yang sangat menarik, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca.

Buku ini seolah-olah dirancang agar para pembaca yang menyukai buku non-fiksi dan sering melihat ke belakang dalam kesepian. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, dan ada banyak ungkapan di beberapa halaman yang menggairahkan pembaca, seperti pernyataan bahwa hidup memiliki aturan dan bahwa apa pun yang terjadi pasti memiliki makna dan tujuan.

Pada bagian belakang buku terdapat kalimat-kalimat yang menjadi bagian penting dari buku ini. Kalimat tersebut seperti ini, “Manusia sungguh makhluk yang lucu. Bisa merasa takut kehilangan pada yang belum benar-benar miliknya.” Buku ini benar-benar berkaitan dengan kehidupan semua manusia di bumi.

Isi Buku

Buku ini lebih berkesan bagi mereka yang akan sedang mengalami putus cinta. Buku ini ditulis dalam bentuk kutipan-kutipan dengan ilustrasi yang lucu. Poin dari buku ini seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sinopsis yaitu, “Manusia sungguh makhluk yang lucu. Bisa merasa takut kehilangan pada yang belum benar-benar miliknya.” Ini cenderung merujuk pada seseorang yang terlalu memikirkan hubungan yang gagal.

Buku ini cocok untuk mereka yang lebih memilih merasakan kegalauan saat putus cinta daripada balas dendam. Buku ini menegaskan perasaan yang telah lama dikesampingkan dan tampaknya menjadi sedikit lebih damai.

Kelebihan Buku

Dari sampul buku ini asyik untuk dilihat dan dibaca, pembaca dibuat takjub dengan keindahan gambar dan tulisan tangan meskipun dengan metode dan latar belakang yang sederhana. Seluruh sampul menggunakan warna cokelat susu. Kertas yang digunakan dalam buku ini berwarna putih hangat, memberikan kesan yang indah dan menyenangkan.

Gambar yang disajikan atau ditampilkan pada setiap halaman menyenangkan mata pembaca karena warna dan gambar yang sesuai dengan saran pada setiap halaman. Warna teks yang dipilih juga sangat cocok dengan warna kertas dalam buku ini, warna teks yang ditampilkan adalah coklat tua dan terdapat font bacaan yang jelas. Bahasanya sangat mudah dipahami. Kata-kata yang digunakan juga mudah dipahami, sehingga pembaca dapat memahami nasihat yang coba disampaikan penulis kepada pembaca.

Kelemahan Buku

Buku ini sebenarnya sangat bagus karena memiliki desain modern dan memiliki beberapa nuansa yang menarik. Namun, karena tidak banyak kalimat dalam satu halaman, saya rasa kecepatan membacanya sangat cepat. Namun, buku ini juga tidak bisa menenangkan semua pembaca. Hal ini karena pembaca memiliki emosi yang berbeda ketika mengingat masa lalu.

Sebagian besar dari apa yang tertulis dalam buku ini dapat disebut sebagai curahan patah hati seseorang, tetapi itu bahkan bukan buku motivasi. Mungkin maksudnya untuk menggambarkan perasaan patah hati, tapi bukannya memberikan obat penenang, malah cenderung memperkuat emosi negatif saat mengingat kepahitan masa lalu pembaca.

Kesimpulan

Dari buku ini akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa sekuat apa pun kita, kita tetaplah manusia. Sedih itu wajar, menangisi seseorang, mencintai orang yang salah, dan sampai pada titik terlemahmu karena patah hati. Semua ini adalah bukti bahwa kita hanyalah manusia. Meskipun demikian, orang masih percaya bahwa cara terbaik untuk mengatasi patah hati adalah dengan bangkit, memotivasi diri sendiri, dan menjadi lebih baik. Jangan sedih apalagi mencari pembenaran atas perasaan kita menyalahkan diri sendiri dan menyesali berakhirnya hubungan.

Grameds, demikianlah¬†review¬†buku “Tentang Semua yang Ada di Bumi” karya Aesteuticc. Untuk kalian yang sedang merasa patah hati karena putus cinta dan masih ingin menikmati patah hati yang kalian rasakan, kalian bisa mencoba untuk membeli dan membaca buku ini.

Kalian juga dapat membeli buku yang lain di Gramedia. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas memberikan banyak pilihan buku yang sesuai dengan selera kalian. Yuk Grameds, beli bukunya sekarang juga!

Written by Ricky Atthariq