in

Review Novel Metropop Three Sisters Karya Seplia

Review novel Metropop Three Sisters – Setiap orang pasti punya pilihan atau satu keputusan yang tidak bisa dan tidak akan diubah lagi meski menerima banyak komentar dari orang lain. Pilihannya bisa dalam hal apapun, yang jelas sifatnya sudah final. Titik.

Kamu bisa mengatakan “Aku hanya ingin bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan yang aku miliki” atau “Aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang kuanggap sempurna” atau “Aku akan hidup mandiri setelah lulus kuliah, jauh dari orang tua” dan sebagainya.

Tapi ingat di balik setiap pilihan itu, ada resiko yang harus kamu tanggung. Misalnya, kalau kamu hanya mau kerja sesuai dengan jurusan kuliah, ada kemungkinan kamu menganggur cukup lama.

Kalau kamu hanya mau menikah dengan laki-laki yang menurutmu sempurna, waktu yang kamu lalui untuk bertemu dengannya mungkin sangat lama. Begitupun kalau kamu memilih hidup mandiri setelah lulus kuliah, mungkin kamu akan melalui masa-masa sulit seperti kurang uang atau sakit parah sendiri.

Pertanyaannya, apakah kamu siap dengan resiko yang ada di balik pilihan yang kamu buat? Novel Metropop Three Sisters yang ditulis oleh Seplia menggambarkan dengan baik bagaimana perjuangan menghadapi pilihan yang sudah dibuat.

Lia Seplia, Penulis Three Sisters

https://www.instagram.com/liaseplia/

Lia Seplia adalah penulis kelahiran Padang, 28 September 1991. Lia memulai karir menulisnya dengan menerbitkan novel Replay pada tahun 2015. Novel ini mengangkat tema perselingkuhan, suicide, dan ironi cinta segitiga.

Satu tahun kemudian, Lia menunjukkan bahwa dirinya termasuk penulis Indonesia yang produktif. Ya, di tahun 2016 dia menulis novel Insecure yang mengangkat kisah yang kelam, keluarga, dan persahabatan. Di tahun yang sama, Lia juga menulis dua novel berbentuk e-book yaitu Only We Know, dan Pernah Satu Arah.

Novel Three Sisters yang akan diulas pada artikel ini merupakan novel fisik ketiga Lia yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2017. Setelah itu, Lia semakin rajin menerbitkan buku dalam genre favoritnya, yaitu Metropop. Beberapa judul buku dari Lia yang sudah terbit di antaranya adalah:

Bingkai Kenangan di tahun 2018. Novel yang menceritakan tentang Alzheimer, kisah cinta anak SMA, persahabatan, dan tentang meraih mimpi. Lalu ada Kelly On The Move (2018) tentang Kelly yang belum bisa lepas dari luka lama dan hobi stalking mantannya.

Selang dua tahun kemudian, Lia kembali menerbitkan dua buah novel yaitu Start Again (2020) tentang memulai kembali sebuah hubungan dengan orang yang sempat hadir dalam hidup. Lalu satu lagi ada Lika-liku Luka yang menceritakan perjuangan dua orang sahabat untuk menyembuhkan lukanya masing-masing.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Pada tahun 2022 ini, Seplia juga menerbitkan dua judul Novel yaitu, Tukar Tambah Nasib dan Saat-Saat Jauh. Kamu bisa menyapa Lia lewat Twitter @LiaSeplia, Instagram @LiaSeplia, Blog liaseplia.tumblr.com, atau email di liaseplia@gmail.com.

Sinopsis Novel Three Sisters

Judul Buku : Three Sisters
Penulis : Seplia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 266 halaman
ISBN : 978-602-03-4010-4
Harga : Rp62.000 (Softcover)

Blurb:

Bagi Rera, jodoh adalah hal krusial. Dia memiliki standar yang tinggi sehingga belum menikah di umurnya yang sudah matang. Bagi Gina, menikah adalah penjara. Dia baru mengetahui hal itu setelah hidupnya dihabiskan dengan mengurus keluarganya. Bagi Yumi, belum memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah adalah hal menyedihkan. Dia makin tertekan karena mertuanya gencar menanyakan hal tersebut. Tiga saudari ini menginginkan kehidupan yang berbeda, bahkan rela melepas apa yang mereka miliki. Namun, mereka tak menyadari bahwa kehidupan mereka mungkin diinginkan oleh orang lain.

Sinopsis:

Novel Metropop Three Sisters mengisahkan cerita Rera, Gina, dan Yumi, tiga saudari dengan masalah sulit dalam hidupnya masing-masing yang berhubungan dengan cinta dan pernikahan.

Rera si sulung, masih menyandang status jomblo meski usianya sudah menginjak 32 tahun. Tak sedikit orang yang menyebutnya “perawan tua” karena status jomblo ini. Namun bukan berarti Rera tidak berusaha sama sekali.

Justru dia sudah menuruti keinginan orang tuanya untuk ikut kencan buta dengan calon yang mereka pilih sendiri. Rera juga buka tidak mau menikah, hanya saja baginya menikah merupakan sesuatu yang penting sekaligus sakral.

Karena itu Rera sangat pemilih kalau berurusan dengan jodoh. Lia adalah seorang wanita yang ingin menikah dengan pria yang memenuhi kriterianya. Sayangnya, sekian tahun sendiri, dia masih belum bisa menemukan pria yang tepat.

Setiap kali Rera akan menjalani sebuah hubungan, selalu ada hal-hal kecil tidak dia sukai dari pria yang menjadi calon pasangannya. Bahkan ketika dia dikenalkan pada beberapa pria yang belum menikah, hatinya masih belum bisa memilih.

Sampai suatu hari, Rera berniat membuat rumah untuk dirinya sendiri dan bertemu dengan seorang arsitek bernama Xian. Bagi Rera, Xian adalah pria yang aneh, unik, sekaligus menggemaskan. Pria itu bahkan bisa datang begitu saja ke rumah Rera untuk ikut makan atau minum.

Di sisi lain, Rera mulai khawatir melihat keluarga dua adiknya yang ditimpa masalah rumit. Gina, adik pertamanya yang sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak, ingin bercerai karena merasa dikekang oleh status pernikahannya.

Gale, suami Gina, terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan menyerahkan tugas mengurus anak-anak padanya. Gina yang pada dasarnya seorang wanita karir, akhirnya mencapai titik jenuhnya. Dia merasa bosan dengan kehidupan rumah tangganya.

Di tengah kebosanannya ini, dia justru–dengan berani–menerima ajakan kencan dari pria lain dan membuatnya merasakan kebahagiaan yang dicarinya. Kebahagiaan semu yang justru membuat rumah tangganya diguncang prahara.

Sementara itu, Yumi–adik kedua Rera–yang sudah menikah dan tinggal bersama mertuanya harus merasakan stress dan tekanan karena masih belum memiliki keturunan. Selama 3 tahun, Yumi dan Ozi suaminya, terus bersabar menunggu kehadiran buah hati di tengah keluarga mereka.

Selama 3 tahun itu, Yumi harus menghadapi mertuanya yang sangat mendambakan kehadiran cucu. Mertuanya tak pernah berhenti menekan Yumi dan menyuruhnya memeriksakan diri ke dokter, bahkan ke tukang pijat!

Yang lebih parahnya lagi, mertuanya tidak memperlakukan Yumi seperti menantu kesayangan karena belum bisa memberikan cucu. Yumi yang merasa tertekan dan stres dengan kehidupan rumah tangganya, kemudian meminta cerai dari suaminya.

Tiga wanita bersaudara dengan tiga masalah yang berbeda ini saling bercermin pada kehidupan satu sama lain. Rera menyalahkan sikap egois Gina yang ingin meninggalkan keluarganya, padahal dirinya bahkan sulit mendapatkan calon suami.

Setali tiga uang, Yumi merasa kesal melihat kelakuan Gina yang tidak bisa mensyukuri kehadiran anak-anaknya di rumah. Sementara itu, Gina membela diri dengan berdalih bahwa Rera dan Yumi tidak mengerti dirinya karena mereka belum pernah merasakan masalah yang sedang dia hadapi.

Review Three Sisters: Masalah Perempuan Indonesia dalam Satu Keluarga

Pros & Cons

Pros
  • Novel ini mengulas tiga masalah wanita Indonesia yang berbeda dalam 266 halaman dan setiap masalah disajikan dengan porsi yang pas. Jadi pembaca bisa merasa “kenyang” setelah membacanya.
  • Secara tidak langsung memberikan edukasi pada pembaca tentang mencari calon suami yang tepat, tentang menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak, dan tentang kesabaran menjalani takdir yang tidak sesuai dengan keinginan.
  • Bagi pembaca yang senang mengoleksi buku bercover cantik, Three Sisters bisa jadi pilihan karena cover-nya memang cantik!
  • Penulis menggambarkan setiap karakter dengan baik dan pas, tidak berlebihan dan tidak terlalu sempurna jadi cerita terasa nyata.
Cons
  • Masih ada typo dan kesalahan penulisan nama di beberapa bagian.

Novel Metropop adalah buku yang berhasil mengangkat masalah wanita Indonesia jaman sekarang. Khususnya tentang jodoh, tentang kehidupan pernikahan yang katanya menyenangkan namun dapat mengekang bak penjara, dan tentang keturunan.

Lia, sapaan akrab penulis Three Sisters, mampu menyatukan masalah yang dekat dengan kehidupan wanita Indonesia menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan.

Oleh sebab itu, novel ini cocok dibaca oleh Grameds yang sudah berusia matang namun belum mau menikah. Melalui cerita Rera, kamu bisa melihat bagaimana seorang wanita yang mempunyai segalanya–karir cemerlang, orang tua penyayang, dan hidup berkecukupan–”dibuat” resah oleh tuntutan mendapatkan pasangan dari lingkungan di sekitarnya.

Teman-teman Rera, tak pernah lelah mempertanyakan status jomblonya yang sudah menahun. Beberapa diantaranya bahkan membuat asumsi sendiri dan dengan berani menjuluki Rera sebagai “perawan tua”.

Beruntung, Rera mempunyai orang tua penyabar meskipun sangat ingin melihat anak sulungnya menikah. Mereka pun sudah berupaya dengan mencarikan jodoh bagi Rera. Mulai dari memperkenalkannya dengan anak rekan-rekan mereka, hingga membiarkan anak sulungnya memilih pria yang idamannya sendiri.

Dari Rera, Grameds bisa belajar bahwa pilihan untuk menikah dengan pasangan yang ideal berarti harus siap menunggu untuk waktu yang tidak pasti. Sebab memilih jodoh tidak selalu mudah seperti kata orang lain dan terkadang bisa menjadi sangat rumit, meskipun sudah berkali-kali berusaha.

Selanjutnya, dari kehidupan rumah tangga Gina, penulis menunjukkan bahwa menikah bukan hanya tentang hidup bahagia bersama pasangan. Lebih dari itu, ada kebebasan yang harus dikorbankan, terlebih setelah kehadiran buah hati.

Gina, seorang wanita karir yang harus mengurus dua anaknya, merasa lelah dengan kehidupannya. Dia merasa kosong dan hampa hingga membuat pernikahannya berada di ujung tanduk perceraian.

Gina mempunyai suami yang mencintainya dan dua buah hati yang lucu. Hidupnya adalah penggambaran dari kehidupan yang sempurna bagi banyak orang. Namun bagi Gina, hidupnya sangat menyebalkan. Dia bahkan sengaja menghabiskan waktu lebih lama di kantor hanya untuk mengurangi waktunya di rumah, meskipun di akhir pekan.

Gina menganggap rumahnya sebagai penjara, tempat yang mengekang kebebasannya. Suami yang mencintainya, bagi Gina hanya seorang laki-laki yang senang menyuruh-nyuruhnya. Anak-anaknya yang lucu, menurutnya hanya anak bandel dan tidak pandai. Gina bahkan pernah memarahi anaknya karena tidak bisa mengeja kata dengan tepat.

Berada di lingkungan yang mendukung keinginannya, lambat laun Gina mulai terpengaruh. Dalam pikirannya mulai terbesit untuk melepaskan status pernikahan demi kembali merasakan kehidupan “bebas” seperti teman-temannya.

Dari Gina, Grameds bisa melihat bahwa pilihan menikah dan mempunyai anak datang bersama dengan resiko yang besar: mencurahkan hidup untuk keluarganya. Penulis berhasil menunjukkan sisi lain dari pernikahan yang mungkin tidak terpikirkan oleh banyak orang.

Tak hanya itu, penulis juga menunjukkan bahwa menjadi orang tua tidak pernah mudah, khususnya untuk seorang wanita karir seperti Gina. Setiap dari kita memerlukan waktu untuk diri sendiri agar bisa menjadi manusia yang kuat dan mampu bertahan menghadapi semua masalah dalam hidup.

Sedangkan melalui kehidupan si bungsu Yumi, penulis mengajak pembaca untuk menelusuri kehidupan yang indah sekaligus menyakitkan. Bagaimana tidak? Kisah cinta Yumi dan suaminya sangat menggemaskan, lho Grameds.

Mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Meskipun ibu Oz tidak menyetujui pilihan anaknya. Namun cinta membuat mereka berdua mampu berdiri tegak dan saling menguatkan.

Tak hanya itu, Ozi digambarkan oleh penulis sebagai sosok suami idaman. Dia berani membela Yumi di hadapan ibunya sendiri, sekalipun harus “bertengkar”. Ozi tidak pernah lelah menemani istrinya mengusahakan yang terbaik demi mendapatkan keturunan. Ozi juga yang meminta maaf atas perlakuan ibunya kepada Yumi.

Pasangan Yumi dan Ozi membawa peringatan bahwa pilihan tinggal bersama mertua setelah menikah bisa jadi sangat melelahkan. Terutama jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan mertua.

Dari Yumi, kamu juga bisa mengetahui bahwa tidak semua mertua mengerti kondisi rumah tangga anaknya dan mau mendukungnya. Penulis mewujudkannya dalam tokoh mertua Yumi yang menyebalkan dan egois. Di saat seperti ini, kehadiran pasangan menjadi dukungan terbesar. Maka dari itu, carilah pasangan yang mau dan mampu membelamu setiap saat.

Dalam novel ini, tidak terlalu fokus menunjukkan karakter setiap tokohnya. Sebaliknya, Seplia justru fokus menunjukkan setiap masalah yang dialami oleh Rera, Gina, dan Yumi serta bagaimana tiga bersaudara ini melalui masalahnya masing-masing.

Kemampuan penulis menuliskan tiga masalah secara bergantian dari tiga sudut pandang yang berbeda patut diacungi jempol karena tidak terasa membingungkan sama sekali. Setiap pergantian sudut pandang, penulis mengajak kamu untuk berpindah secara halus dan memahami konfliknya. Seplia seperti sengaja menyelesaikan cerita secara teratur dengan memberikan porsi untuk masalah Rera, Gina, dan Yumi.

Selain itu, kamu juga akan dibuat merasakan apa yang dirasakan oleh Rera, Gina, dan Yumi. Ketika membaca cerita Rera, kamu bisa ikut merasakan dijodoh-jodohkan dan menghadapi julukan “perawan tua” dari orang lain.

Saat membaca cerita Gina, kamu akan diajak untuk memahami perasaan jenuh dan bosan dengan keluarganya. Begitupun saat membaca cerita Yumi, kamu akan ikut merasa kesal pada ibu mertuanya.

Lewat novel metropop Three Sisters, Seplia seperti memberikan fakta-fakta kehidupan wanita dewasa tentang berumah tangga dan membangun keluarga. Lebih jauh lagi, Seplia menyiratkan pesan untuk selalu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, baik atau buruk. Sebab, bisa jadi hidup yang sedang kamu jalani sekarang menjadi idaman orang lain.

Buku ini membuat kamu menyadari bahwa sebagai manusia kamu pasti akan merasa lelah dan jenuh dengan keadaanmu. Bahkan kamu mungkin akan mempertanyakan kehidupanmu sendiri.

Namun, begitulah hidup. Semua manusia akan merasakan ups and downs nya masing-masing. Bedanya ada yang larut dalam keadaan dan ada yang bangkit lalu menjalani kehidupan sambil berusaha menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.

Tentu saja tidak semua cerita berakhir bahagia, tapi paling tidak melalui novel ini Seplia mengingatkan bahwa ada keindahan yang menunggumu sampai padanya. Dan apapun yang kamu miliki dalam hidupmu sekarang adalah yang terbaik untukmu. Kamu mungkin hanya belum menyadarinya saja.

Rating: 4/5

Penulis: Gilang Oktaviana Putra

 

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy