in

Review Novel Negeri Senja Beserta Biografi Seno Gumira Ajidarma

Informasi buku

  • Judul: Negeri Senja
  • Penulis: Seno Gumira Ajidarma
  • Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Genre: Roman
  • Edisi: Cetakan keempat November 2018
  • Harga &ISBN : 75,000, 9786024244101
  • Halaman: 242 hlm; 14 cm x 21 cm

Sinopsis

Novel roman Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma ini menceritakan mengenai catatan seorang musafir/pengembara lata yang tengah melakukan pengembaraan di sebuah negeri yang tidak bisa ditemukan di dalam peta, negeri ini ada dan tiada pada waktu yang bersamaan. Negeri ini adalah negeri yang miskin dan terdapat fenomena di mana waktu seolah tak bergerak, karena selalu berada di dalam waktu bagian senja, matahari terus tertahan di cakrawala, tak ada pagi, tak ada siang, tak ada malam, yang ada hanya sore yang senja. Sesuai dengan keadaanya, negeri ini ternyata dikenal dengan nama Negeri Senja.

Bagi sang Pengembara sendiri, Negeri Senja merupakan negeri yang paling indah yang pernah ia kunjungi karena si Pengembara memiliki hobi untuk selalu mencari pesona senja ke berbagai belahan dunia. Meski demikian, ternyata tak hanya pesona senja yang dapat ia temukan di Negeri Senja. Di balik keindahan senja di negeri itu, sang Pengembara menemukan drama manusia dalam permainan kekuasasaan dan politik, yakni intrik, penindasan dan pembantaian.

Di Negeri Senja ini, konon dan memang hanya konon negeri ini sudah berdiri semenjak 500 tahun dari semenjak sang Pengembara terdampar di negeri ini. Negeri Senjak sejak 200 tahun yang lalu hingga masa itu, dipimpin oleh Puan Tirana, seorang perempuan tunanetra yang memimpin negeri dengan kejam, di mana segala hal yang berbau pengetahuan serta kebebasan berpendapat dianggap sebagai hal yang sangat tabu untuk dilakukan.

Ironis sekali, di suatu negeri yang seakan tak pernah habis-habisnya cahaya senja yang teramat indah itu, tetapi kata cinta tak memiliki definisi, tak ada di pikiran para penduduknya, bahkan tak ada juga di dalam kamus bahasa antarbangsa.

Hal tersebut terjadi karena cinta, kasih, dan sayang sudah dihapuskan dari kamus bahasa Negeri Senja oleh Puan Tirana. Penghapusan ini, konon dan memang hanya konon karena dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa pengkhianatan cinta yang pernah dialami sang penguasa, Puan Tirana.

Naiknya Puan Tirana ke puncak kekuasaan diselimuti oleh berbagai misteri. Tak ada seorangpun saksi hidup yang dapat menceritakan mengenai bagaimana perempuan kejam itu dapat berkuasa. Saat para penduduk dilahirkan, Puan Tirana sudah menjadi penguasa Negeri Senja.

Di negeri tersebut, tidak ada sedikit pun catatan sejarah yang dapat dibaca. Dalam masa kepemimpinan Puan Tirana, banyak terjadi pemberontakan, penentangan, serta percobaan pembunuhan yang sering kali ditujukan kepadanya, Akan tetapi, dengan kemampuan Puan Tirana untuk membaca pikiran dari setiap orang yang terpapar sinar senja serta adanya pasukan khusus dan mata-mata yang dimilikinya, Puan Tirana mampu untuk menghancurkan semuanya.

Kesaktian Puan Tirana bahkan mampu membuatnya untuk memenjarakan arwah dari para pemberontak dan karena hal tersebut, seluruh penduduk Negeri Senja hanya bicara seperlunya. Untuk berpikirpun, para penduduk Negeri Senja melakukan batasan hanya di berbagai tempat yang gelap serta di berbagai lorong yang gelap dan pengap, di mana cahaya senja tak mampu menembus.

Para penduduk Negeri Senja berani untuk berpikir dan berbicara, tetapi itu hanya dilakukan untuk berbagai hal yang dirasa teramat sangat penting. Oleh karena hal tersebut, rakyat Negeri Senja telah menjadi terbiasa untuk hidup di dalam kegelapan serta selalu menghindari cahaya. Rupanya, hal tersebut memang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Puan Tirana, yakni rakyatnya akan selalu hidup di dalam kegelapan.

Sejumlah rakyat yang merasa sudah sangat tertindas oleh kekuasaan sang Tirana, bersama-sama menggalang kesatuan untuk menggerakkan perlawanan terhadap sang penguasa. Mereka menamakan dirinya sebagai Partai Hitam. Namun di tengah usaha pembunuhan Tirana dalam suatu pemberontakan yang dilakukan oleh kaum perlawanan itu, Tirana yang memiliki kekuatan seperti Tuhan membakar Negeri Senja hingga hanya tersisa Istana Pasir tempat Ia dan pengikutnya berada.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Menyaksikan seluruh peristiwa mengerikan ini, si Pengembara tak tahan karena selalu dihantui setiap hari sehingga memutuskan untuk meninggalkan Negeri Senja dengan segala rahasia di dalamnya dan meneruskan perjalanan yang memang menjadi tujuan hidupnya.

Review

Melalui buku ini, Seno Gumira Ajidarma mengisahkan mengenai perjalanan seorang pengembara yang memikul luka dan dengan alasan tersebut, ia berkelana. Dengan tak pernah sekalipun menyebutkan nama dari karakter utama cerita, Negeri Senja menyuguhkan cerita yang penuh dengan kalimat metafora yang menawan.

Menceritakan mengenai sebuah tempat dengan nama Negeri Senja, di mana senja kala seakan tersangkut di cakrawala dan tidak kunjung terbenam di tanah peraduannya. Negeri senja yang terlihat menawan dengan adanya terpaan dari cahaya temaran senja digambarkan dipimpin oleh seorang pemimpin buta yang kejam dengan nama Puan Tirana. Seluruh penduduk Neger Senja hidup di dalam kemiskinan, pun mayat yang bergelimpangan telah dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi di Negeri Senja.

Dipenuhi dengan berbagai intrik, upaya pembunuhan Puan Tirana, pemberontakan, pembantaian, serta hal berbau kebencian lainnya tertata rapi dalam baris-baris yang disusun dengan menawan oleh Seno Gumira Ajidarma.

Penduduk dari Negeri Senja digambarkan sebagai masyarakat yang jarang berkomunikasi dengan lisan, lebih kerap melakukan tukar pikiran dengan melalui tatapan atau kode kecuali memakai lisan, karena satu hal yang dijadikan pedoman oleh penduduk Negeri Senja adalah Puan Tirana memiliki kemampuan untuk membaca pikiran semua orang yang terpapar cahaya senja. Maka dari itu, masyarakat Negeri Senja cenderung tertutp dan lebih senang tinggal di dalam kegelapan di tengah sinar keemasan senja yang menerangi seluruh daerah dari Negeri Senja.

Sungguh gaya menulis dari seorang Seno Gumira Ajidarma benar-benar tergambar dengan baik dalam novel ini, di mana Seno Gumira Ajidarma kerap menggunakan kata “cinta” dan “senja” yang merupakan kata-kata kegemarannya. Bahkan, dalam salah satu bab di novel ini menceritakan mengenai hilangnya kata cinta di Negeri Senja.

Memang dapat diambil beberapa pesan moral serta kritikan terhadap pemerintahan. Meski demikian, sebagai penulis yang bijak, Seno Gumira Ajidarma tak melulu menyalahkan pemerintah selaras dengan apa yang ia yang digambarkan pada akhir cerita. Sang pengembara, kembali mengembara dan meninggalkan Negeri Senja untuk melanjutkan perjalanannya yang tanpa ujung.

Biografi penulis

wikipedia

Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum. lahir pada 19 Juni 1958. Dia adalah penulis sekaligus ilmuwan dalam bidang sastra Indonesia. Beberapa buku hasil karyanya adalah:

  • Atas Nama Malam
  • Wisanggeni—Sang Buronan
  • Sepotong Senja untuk Pacarku
  • Biola Tak Berdawai
  • Kitab Omong Kosong
  • Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
  • Negeri Senja.

Seno juga terkenal karena kepiawaiannya dalam menulis mengenai keadaan di Timor Timur pada zaman dulu. Tulisannya mengenai Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Parfum, Jazz, Insiden (roman), Ketika Jurnalisme Dibungkam, dan Sastra Harus Bicara (kumpulan esai)

Seno Gumira Ajidarma merupakan anak dari Prof. Dr. M.S.A Sastroamidjojo, seorang guru besar Fakultas MIPA dari Universitas Gadjah Mada. Meski demikian, berbeda dengan ayahnya, Seno Gumira Ajidarma memiliki pemikiran yang bertolak belakang dengan pemikiran ayahnya.

Setelah lulus SMP, Seno tak ingin melanjutkan sekolah. Beliau terpengaruh oleh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya Karl May pengarang asal Jerman, Seno pun memilih untuk mengembara dan mencari pengalaman. Layaknya di film-film: ceritanya seru, naik kuda, menyeberang sungai, menggunakan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya.

Selama tiga bulan, Seno melakukan pengembaraan di Jawa Barat, lalu ke Sumatra. Hingga akhirnya menjadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, Seno meminta uang kepada ibunya. Akan tetapi, ibunya malah mengirim tiket untuk pulang. Oleh karena itu, Seno akhirnya memutuskan untuk pulang dan meneruskan sekolah.

Ketika SMA, Seno dengan sengaja memilih SMA Santo Thomas yang diperbolehkan untuk tidak memakai seragam. Komunitas yang ia pilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman dari lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orang tuanya. Akan tetapi, komunitas anak-anak jalanan yang senang tawuran dan kebut-kebutan di Malioboro. Seno juga mengikuti teater Alam yang dipimpin oleh Azwar A.N, selama dua tahun.

Seno tertarik dengan berbagai puisi karya Remy Sylado yang ditemukannya di majalah Aktuil Bandung, Seno pun turut mengirimkan puisi-puisi karyanya untuk dimuat. Teman-teman Seno menyebutkan bahwa Seno adalah penyair kontemporer. Seno tertantang untuk mengirimkan hasil karya puisinya ke majalah sastra Horison. Lalu, Seno menulis cerpen dan esai mengenai teater.

Pada usia 19 tahun, Seno bekerja sebagai wartawan, menikah, dan pada tahun itu pula Seno masuk ke Institut Kesenian Jakarta dengan jurusan sinematografi.

Seno tertatik menjadi seniman karena terinspirasi oleh WS Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, dan gaya rambut yang diperbolehkan gondrong.

Hingga saat ini, Seno sudah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat dalam berbagai media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas pada tahun 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain:

  • Manusia Kamar (1988)
  • Penembak Misterius (1993)
  • Saksi Mata (l994)
  • Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995)
  • Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996)
  • Iblis Tidak Pernah Mati (1999)
  • Dunia Sukab (2001)
  • Sepotong Senja untuk Pacarku (2002)
  • Negeri Senja (2003)
  • Linguae (2007)
  • Aku Kesepian, Sayang, Datanglah Menjelang Kematian (2020)

Karya lainnya ada yang berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno memperolah Sea Write Award. Berkat karya cerpennya Saksi Mata, Seno mendapatkan Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Pada tahun 2008, Seno bersama dengan Linda Christanty dan Kris Budiman, didapuk untuk menjadi juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Kesibukan Seno sekarang selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta ialah membaca, menulis, memotret, dan jalan-jalan. Kini, Seno juga membuat komik. Baru saja Seno membuat pertunjukan teater. Seno juga menjadi Rektor di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2016 hingga tahun 2020 dan menjadi dosen tetap di Fakultas Film dan Televisi IKJ serta Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

Baca juga: