in

Review Novel Himpunan Karya Citra Saras

Novel Himpunan Citra Saras – Istilah “fan fiction” bukan sesuatu yang akrab di telinga banyak orang, meskipun sekarang sudah banyak karya fan fiction tersebar di internet. Karya yang menurut Rebecca Tushnet (dalam Baharani, 2022) merupakan jenis tulisan kreatif yang terinspirasi dari budaya populer seperti acara televisi, lagu, drama, dsb ini nyatanya punya tempat tersendiri di kalangan penggemarnya.

Salah satu cabang fan fiction yang digandrungi banyak orang adalah “real-person fiction” atau RPF. Ini adalah karya fiksi yang diciptakan oleh penggemar berdasarkan pada orang terkenal seperti selebriti, penyanyi, dan sebagainya yang diidolakan oleh si penulis.

Novel Himpunan milik Citra Saras termasuk karya RPF yang mendapatkan kesuksesan setelah dibaca lebih dari 20,6 juta kali di Wattpad. Dari platform menulis itu, Himpunan lalu dijadikan buku setebal 620 halaman.

Citra Saras Paramitha, Penulis Novel Himpunan

Citra Saras Paramitha adalah wanita kelahiran Jawa Tengah 27 tahun yang lalu, tepatnya pada 3 September 1995. Sejak kecil, Citra sudah diajarkan untuk rajin menulis dan membaca oleh orang tuanya.

Maka tidak heran jika dia senang “melahap” buku apa saja, mulai dari teenlit, buku puisi, fiksi umum, novel, hingga buku-buku self development.

Karier menulisnya dimulai dari sebuah diary pribadi sebelum akhirnya pindah ke platform menulis Wattpad setelah mendapatkan dukungan dari temannya. Di platform oranye inilah novel berjudul Himpunan lahir.

Penulis lulusan jurusan Administrasi Bisnis Universitas Padjadjaran ini sekarang bekerja sebagai Project Director di sebuah perusahaan rintisan asal Bandung. kamu bisa menyapa penulis melalui media sosial instagram @citrasaras atau LinkedIn.

Sinopsis Novel Himpunan

Judul buku : Himpunan

Penulis : Citra Saras

Jumlah Halaman : 620

Tanggal terbit : 31 Desember 2018

Penerbit : Sunset Road

ISBN : 9786239115128

Harga : Rp119.000 (Soft Cover)

Blurb:

MEMO:

Kepada Dimas dan Naya selaku ketua Himpunan dan wakil ketua Himpunan Kabinet Irregular, diharapkan segera ke ruang jurusan begitu menerima memo ini untuk membahas mengenai kepengurusan Himpunan selama setahun ke depan.

Tertanda,

Ketua Prodi

P.S. Saya tahu selain hebat dalam mengurus Himpunan, kalian juga hebat dalam beradu pendapat. Tolong sebelum ke ruang jurusan jangan bertengkar dan coba untuk mengerti satu sama lain. 

Sinopsis:

Novel Himpunan menceritakan Dimas, seorang mahasiswa yang ingin menjadi ketua himpunan pada periode baru. Namun dia kesulitan saat menentukan siapa yang akan jadi wakilnya.

Kemudian suatu hari, Dimas diskusi bersama kakak tingkatnya untuk memilih Naya sebagai wakilnya nanti. Meskipun Dimas dan Naya adalah teman satu angkatan, namun realitanya hubungan mereka tidak terlalu dekat.

Setelah disetujui oleh kakak tingkatnya, Dimas berniat untuk menjadikan Naya sebagai wakilnya dan menemui Naya untuk menyatakan niatnya. Naya yang memang tidak terlalu akrab dengan Dimas, terkejut setelah mendengar cerita Dimas. Menurut Naya, masih banyak orang yang kompeten dan layak untuk menjadi wakil ketua himpunan mendampingi Dimas.

Sebaliknya, teman-teman Naya mendukung keputusan Dimas dan memberikan banyak masukan kepada Naya, hingga dia setuju untuk menjadi wakil ketua di himpunan. Setelah mendapatkan kabar dari Naya, Dimas pergi ke kos Naya untuk mendiskusikan rencana kerja selama satu tahun ke depan.

Hari demi hari berlalu, pemilihan umum untuk menentukan pasangan ketua dan wakil ketua himpunan akhirnya tiba. Pasangan Dimas dan Naya sukses menjawab semua pertanyaan dengan baik, yang membuat mereka terpilih menjadi ketua dan wakil ketua himpunan satu tahun ke depan.

Setelah resmi menjabat ketua dan wakil ketua, Dimas dan Naya langsung mengajak teman-teman mereka untuk menjadi pengurus himpunan. Naya kemudian memberi nama himpunan periode baru itu dengan nama “irregular” karena jumlah anggota laki-lakinya lebih banyak daripada anggota perempuan.

Dimas dan Naya menghabiskan banyak waktu bersama berkat jabatan baru mereka, hingga akhirnya mereka meresmikan peraturan baru yang menyatakan bahwa tidak boleh ada anggota himpunan yang berpacaran dengan sesama anggota hingga masa bakti mereka berakhir.

Lantas, apakah Dimas dan Naya benar-benar tidak mempunyai rasa satu sama lain selama satu tahun bersama di himpunan? Bagaimana keseruan aktivitas Dimas, Naya, dan semua anggota himpunan saat menjalankan rencana yang sudah mereka susun sebelumnya?

Review Himpunan: Roman di balik himpunan mahasiswa kampus

 

Pros & Cons

Pros
  • Alurnya sangat runtut, jadi meskipun halamannya banyak, pembaca tidak akan merasa pusing mengikuti ceritanya.
  • alurnya runtut dan tidak bikin pusing
  • Judul tiap chapter dibuat seperti kop surat, kreatif dan keren.
  • Penulis menceritakan setiap tokoh dengan porsi yang seimbang. Dimas, Naya, dan anggota himpunan lainnya dikenalkan secara detail sehingga tidak menimbulkan pertanyaan bagi pembaca.
  • Buku ini bisa menjadi gambaran tentang lingkungan organisasi kampus bagi pembaca yang masih duduk di sekolah menengah atau belum pernah ikut organisasi.
  • Bagi para alumni atau demisioner, novel ini bisa mengingatkan tentang keseruan saat aktif berorganisasi.
  • Penulis juga menggambarkan kehidupan perkuliahan secara detail, mulai dari sisi positif hingga sisi negatifnya.
  • Kisah cinta dalam novel ini porsinya pas, realistis, dan natural sehingga tidak terasa dramatik apalagi alay. 
Cons
  • Gaya bercanda tokoh-tokohnya lebih mirip orang Jakarta, padahal setting-nya di Bandung. Selain itu, nuansa-nuansa Sunda nya kurang begitu kental.
  • Memasuki beberapa bab akhir, cerita jadi bertele-tele dan kepanjangan. Bahkan ada beberapa dialog yang sebaiknya dihilangkan agar pesan yang ingin disampaikan bisa ditangkap pembaca dengan mudah.
  • Jumlah typo yang lumayan banyak, bahkan lebih dari 10. Mayoritas adalah kelebihan huruf dan kurang huruf dalam penulisan kata. Misalnya, “mengangguk” ditulis “menganguk” dan sebagainya.

Himpunan adalah karya real-person fiction yang terinspirasi dari sebuah grup musik asal Korea Selatan, NCT. Sebagai karya RPF, Himpunan awalnya hanya dinikmati oleh fans NCT dan komunitas penggemar K-POP. Setelah diangkat menjadi buku, nyatanya cerita Dimas, Naya dan teman-temannya sangat bisa dinikmati oleh siapa saja.

Kemampuan Citra Saras dalam menulis cerita yang runtut menjadi alasan utamanya. Sebab tanpa kemampuan ini, sulit rasanya memahami cerita dari novel setebal 620 halaman, apalagi setiap tokoh dikenalkan secara detail.

Di sisi lain, penulis sangat mampu menggambarkan karakter-karakter di dalam novel ini sesuai dengan karakter aslinya. Seperti Dimas yang terinspirasi dari sosok Doyoung, digambarkan sebagai tokoh yang tegas dengan kemampuan memimpin yang baik. Tak hanya itu, dialog dan candaan antar tokoh dibuat semirip mungkin dengan gaya bercanda personil NCT.

Sayangnya meski latar cerita bertempat di Bandung, namun vibes dan cara bercanda nya kental dengan nuansa Jakarta. Apalagi banyak dialog yang menggunakan bahasa Indonesia-Inggris dibanding bahasa Sunda. Hasilnya, nuansa sunda nya kurang terasa.

Walaupun pembaca masih bisa mengetahui latar ceritanya dari sapaan Akang, Teteh dan dari dialog beberapa tokoh yang memang asli Bandung.

Untungnya persahabatan antara tokoh-tokohnya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari, seperti curhat, ikut nebeng, atau saling bercanda seperti kekasih padahal hanya sahabatan. Hal ini secara tidak langsung bisa menutupi kekurangan dalam menggambarkan latar cerita tadi.

Khusus untuk interaksi antara Dimas dan Naya, penulis menonjolkan kisah romantis yang pace-nya cukup lambat. Kamu bisa merasakan kebingungan Dimas dan Naya dengan perasaannya sendiri. Secara umum, kisah cinta yang dibangun dengan perlahan seperti ini terasa lebih nyata dibanding yang tiba-tiba bertemu lalu jatuh cinta seperti cerita di FTV.

Satu hal yang yang menarik,novel ini tidak hanya menceritakan perjalanan cinta Dimas dan Naya yang merupakan tokoh utamanya. Penulis sengaja memasukkan cerita suka-duka mahasiswa, khususnya yang aktif dalam kepengurusan organisasi kemahasiswaan atau jurusan.

Dengan menyimak suka-duka anak kuliahan ini, pembaca menjadi tahu bagaimana sebenarnya kehidupan mahasiswa yang aktif berorganisasi. Bagaimana mereka membagi waktu dan pikiran antara kuliah, ujian, kehidupan pribadi, dan tanggung jawab yang harus diselesaikan di organisasi.

Jadi buat kamu yang memang masih berstatus mahasiswa dan aktif di organisasi, novel ini akan terasa relate banget. Namun pembaca umum pun bisa ikut menikmati seluruh ceritanya. Apalagi penulis pandai menceritakan lika-liku kehidupan mahasiswa secara detail. Ini menjadi bukti bahwa Citra Saras memang aktif dan menikmati kehidupan kuliah sambil berorganisasi.

Jangan heran jika kamu menemukan banyak sekali tokoh yang muncul dan mengambil peran dalam perjalanan Dimas-Naya memimpin himpunan “irregular”. Ini juga yang menjadi alasan novel Himpunan punya 620 halaman.

Dari segi bahasa, Citra Saras tak banyak menggunakan kata-kata yang njelimet dan bikin bingung. Dia lebih memilih memakai diksi yang biasa kita pakai saat berbicara dengan teman sehingga lebih mudah dibaca plus terasa menyenangkan.

Contohnya bisa dilihat dari salah satu dialog yang ada di halaman 243:

“Emang lo suka liat orang buang sampah sembarangan? Gue sih nggak, risih gue liat orang buang sampah sembarangan. Padahal tempat sampah udah ada, kalau nggak ada kan bisa dipegang dulu, atau masukin saku kek, masukin tas kek, nggak dibuang gitu aja, ngotor-ngotorin.”

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar orang berbicara seperti ini. Memakai kata “gue”, “lo”, atau “kek”. Singkatnya, kamu tak perlu mikir keras untuk memahami maksud yang disampaikan si tokoh.

Lebih jauh lagi masih soal bahasa dialog bahasa Inggris dalam novel ini terasa natural, mengalir begitu saja. Misalnya seperti ucapan Naya saat menceritakan kegalauan hatinya di halaman 72:

Being ignored by one guy, didn’t mean you will be ignored by the rest of the guys in this universe. Lo cuma belum ketemu orang yang tepat aja, Kak. Santai, you’re still in your early twenties. You gotta take your time.

Alih bahasa antara Inggris dan Indonesia dalam kalimat di atas terasa pas dan untuk menulis seperti ini, seorang penulis harus memiliki kemampuan speaking  yang mumpuni. Dalam artian, dia sendiri memang sering berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Selain mengajak pembaca menikmati cerita kehidupan mahasiswa selama di lingkungan kampus, novel Himpunan mengajarkan banyak hal kepada pembacanya. Terutama tentang bersosialisasi di masyarakat.

Misalnya, ketika ada konflik dalam rapat program kerja himpunan “irregular”, penulis memunculkan perbedaan pendapat dari beberapa anggota dan ada juga yang merasa kurang setuju. Untuk menyelesaikan konflik ini, penulis menunjukkan kemampuan memimpin Dimas dan Naya sehingga musyawarah berjalan lebih kondusif hingga mencapai mufakat.

Kemudian dari Naya, kamu bisa belajar menjadi orang yang percaya diri serta tahu dengan kelebihan diri sendiri. Naya termasuk orang yang senang mendengar pujian tentang dirinya karena dia percaya diri dan tahu bahwa yang dipuji merupakan kelebihannya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan orang yang seringkali merasa malu saat dipuji.

Meskipun terkadang sulit untuk mengetahui kelebihan yang kita miliki, namun kita masih bisa mencari tahu dengan bantuan orang lain lewat pujian. Sisanya tinggal memaksimalkan kelebihan tersebut.

Masih lewat Naya, penulis mengajarkan pada kita untuk hidup dengan ikhlas dan menerima setiap kehendak Tuhan. Selama hidup, kita tentu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Tapi jika ternyata hasil yang kita dapatkan tak sesuai harapan, menurut Naya “ya udah. Nggak boleh marah ya, harus ikhlas.” Artinya, apa yang memang sudah ditakdirkan untuk kita, tak akan pernah tertukar dengan orang lain.

Khusus buat kamu yang sedang aktif berorganisasi, novel ini mengajarkan kamu untuk bisa bertanggung jawab penuh dalam bidang akademik maupun organisasi. Karena seperti kata Dimas, “Apa yang harus diselesaikan sebelum libur (tugas organisasi), gue mohon segera selesaikan. Tapi jangan lupa buat tetep fokus juga sama UAS, gue nggak mau satupun dari kalian menomorduakan UAS sampe IPK kalian turun.”

Dimas mengingatkan bahwa ikut aktif berorganisasi memang bagus, namun balik lagi, tujuan utama kuliah adalah agar kamu mendapatkan ilmu untuk bekal di masa depan. Jadi siapapun mahasiswa yang memilih untuk berorganisasi harus bertanggung jawab dan bisa membuat skala prioritas yang tepat.

Novel Himpunan ini semakin terasa relate karena penulis menambahkan sedikit “bumbu” kesedihan ketika masa bakti kepengurusan himpunan “irregular” yang dipimpin oleh Dimas dan Naya selesai.

Pertemuan dan perpisahan memang banyak terjadi ketika seseorang menginjak usia remaja hingga usia 20-an. Kita bertemu dengan teman di SMP dan SMA, menghabiskan waktu selama 3 tahun bersama untuk kemudian berpisah demi mengejar cita-cita.

Begitupun saat di kampus, kita dipertemukan dengan teman baru, baik di kelas maupun di himpunan yang ada akhirnya akan berujung dengan perpisahan. Dimas dan Naya, contohnya, mereka tidak akan selalu menjadi ketua dan wakil ketua himpunan. Setelah masa bakti habis, mereka kembali fokus pada kehidupan pribadi.

Cerita tentang perpisahan ini dapat menyadarkan pembaca bahwa ada banyak hal dalam hidup yang sifatnya sementara saja. Meski begitu, kita bisa membuatnya menjadi abadi dengan menciptakan momen-momen indah bersama.

Novel Himpunan sangat cocok buat kamu yang memang ingin bergabung dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan di kampus. Paling tidak, kamu akan mendapatkan insight bagaimana kehidupan di organisasi.

Khususnya dalam menjalankan program kerja karena Citra Saras menuliskan setiap program kerja himpunan dengan detail dan jelas.

Sementara itu, buat kamu yang sedang aktif di himpunan, novel ini akan mengingatkanmu bahwa setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Setelah itu, kamu akan merasa bahwa himpunan adalah tempat yang tempat untuk mengembangkan diri.

Terakhir, buat kamu yang sudah menyelesaikan kehidupan mahasiswa, novel Himpunan dapat mengobati rasa rindu kamu pada masa-masa perkuliahan. Mulai dari percintaan, ujian, hingga skripsian.

Last but not least, secara keseluruhan beberapa bab akhir dari novel Himpunan agak kepanjangan karena ada bagian yang sebenarnya bisa dihilangkan. Alhasil ceritanya jadi bertele-tele.

Di bagian ini, penulis berniat membawa nuansa nostalgic karena satu per satu tokohnya diceritakan dan pembaca digiring ke vibes perpisahan. Sayangnya, perpisahan itu justru tak pernah terjadi. Karena itu, kamu bisa merasa bosan hingga akhirnya skimming di bagian-bagian akhir biar cepat selesainya.

Itulah penjelasan tentang review novel Himpunan karya Citra Saras. Dari semua penjelasan di atas, cerita yang dihadirkan oleh penulis melekat dengan kehidupan kebanyakan orang. Lalu, apakah kamu tertarik untuk membeli novel ini?

Kamu bisa mendapatkan novel ini di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Gilang Oktaviana Putra

 

Written by Nandy