in

Review Novel Confessions Karya Minato Kanae

Novel Confessions adalah karya debut penulis asal Jepang, Minato Kanae. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2008 dan berhasil mencuri perhatian dunia. Novel Confessions ini menjadi salah satu karya Minato Kanae yang mendunia, karena novel bergenre psychological thriller ini mampu memberikan kejutan yang jarang ditemukan. Kisah ini juga telah diadaptasi menjadi film pada 2010.

Layaknya dalam bentuk novel, film Confessions juga sukses secara kritis dan komersial. Film Confessions berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan, seperti Film Terbaik di Penghargaan Akademi Jepang ke-34 dan Penghargaan Pita Biru ke-53. Kemudian film ini juga masuk ke dalam daftar pendek di Penghargaan Akademi ke-83 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Novel Confessions telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di seluruh dunia. Novel Confessions edisi bahasa Inggris diterbitkan pada Agustus 2014, dan dideskripsikan oleh seorang kritikus sebagai “Gadis yang Hilang dari Jepang.” Wall Street Journal jug memilih novel Confessions sebagai salah satu dari 10 misteri terbaik tahun 2014. Novel Confessions dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh penerbit Buku Kita pada bulan Agustus 2019. Novel dengan total 304 halaman ini berpusat pada kisah seorang guru yang bernama Yuko Moriguchi.

Murid-murid Yuko Moriguchi membunuh putri semata wayangnya. Kini, Yuko akan membalaskan dendamnya. Setelah membatalkan pertunangannya akibat kejadian yang tragis, Yuko Moriguchi tak memiliki alasan lain untuk hidup, kecuali anak tunggalnya yang bernama Manami. Manami baru berusia empat tahun. Kini, setelah kepergian Manami akibat kecelakaan yang terjadi di halaman sekolah menengah tempat ia mengajar, Yuko pun menyerah dan memutuskan untuk mengundurkan diri.

Namun, sebelum dia resmi keluar dari sekolah itu, Yuko memiliki satu subjek belajar terakhir untuk disampaikan. Dalam sesi mengajar itu, Yuko mengisahkan sebuah cerita yang menjungkirbalikkan semua yang pernah dipikirkan murid-muridnya mengenai dua teman mereka. Yuko menggerakkan sebuah rencana gila untuk membalas dendam.

Novel Confessions dikisahkan dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Kisah ini akan menyajikan misteri dan kejutan yang tak akan pernah anda duga. Novel Confessions mengeksplorasi batas hukuman, keputusasaan, dan cinta yang tragis, yang berpuncak pada konfrontasi mengerikan antara guru dan siswa, yang akan menempatkan penghuni seluruh sekolah dalam bahaya. Anda tidak akan pernah melihat ruang kelas dengan cara yang sama lagi setelah membaca kisah ini.

Profil Minato Kanae – Penulis Novel Confessions

Sumber gambar: asianwiki.com

Kanae Minato adalah wanita asal Jepang yang lahir pada tahun 1973. Nama Kanae Minato dikenal sebagai seorang penulis fiksi kriminal dan thriller. Kanae Minato adalah anggota dari Penulis Misteri Jepang dan Klub Penulis Misteri Honkaku Jepang. Kanae Minato mulai menulis di usia tiga puluhan. Novel pertamanya yang berjudul Confessions menjadi buku paling laris dan memenangkan Penghargaan Penjual Buku Jepang.

Di masa mudanya, Kanae Minato adalah penggemar berat novel misteri Maurice Leblanc, Miyuki Miyabe, Agatha Christie, Edogawa Ranpo, Keigo Higashino, dan Yukito Ayatsuji. Kanae Minato disebut sebagai “ratu iyamisu” oleh masyarakat Jepang. Iyamisu merupakan subgenre fiksi misteri yang berhubungan dengan episode mengerikan dan sisi gelap sifat manusia, yang mana akan membuat pembaca melontarkan “eww” ketika membaca novel iyamisu.

Istilah ini diciptakan pada tahun 2006 oleh kritikus misteri, Aoi Shimotsuki. Kemunculan iyamisu di Jepang juga mulai booming sekitar tahun 2012. Perwakilan genre iyamisu yang paling populer di Jepang adalah Kanae Minato, Mahokaru Numata, dan Yukiko Mari.

Nama Kanae Minato sebagai penulis telah diakui dalam kancah internasional. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang berhasil ia dapatkan. Beberapa penghargaan dalam negeri yang didapatkannya, yaitu Shosetsu Suiri New Writers Prize: “The Saint” (2007), Japanese Booksellers Award: Confessions (2009), dan Mystery Writers of Japan Award for Best Short Story: “Umi no Hoshi” (2012). Selain itu, penghargaan internasional yang diraihnya, yaitu Alex Award: Confessions (2015), Nominee for Strand Critics Award for Best First Novel: Confessions (2015), dan Nominee for Shirley Jackson Award for Best Novel: Confessions (2015).

Sinopsis Novel Confessions

Pros & Cons

Pros
  • Gaya penulisan Minato Kanae sendiri yang sangat deskriptif dan detail
  • Premis kisah ini yang mengangkat tentang penghakiman dan balas dendam
  • Minato Kanae menuliskan kisah yang menyeramkan ini dengan narasi yang tenang, konfliknya dibuat bertahap, hingga menimbulkan kesan yang diam-diam tapi menghanyutkan
  • Kisah ini mampu membawa pembaca merasakan berbagai emosi, seperti tegang, sedih, takut, kesal, marah, dan lain sebagainya.
  • Minato Kanae dinilai sangat baik dalam menyajikan misteri tersebut, karena ia dapat mengulurnya hingga akhir cerita
Cons
  • Confessions dibagi menjadi 5 bab yang setiap babnya menyajikan sudut pandang yang berbeda akan kejadian yang sama, Hal ini menjadi sebuah hal yang menarik, tetapi juga memberikan kesan repetitif

Yuko Moriguchi, seorang guru sekolah menengah pertama mengumumkan kepada murid-muridnya yang tidak sopan dan gaduh itu bahwa dia akan mengundurkan diri dari sekolah sebelum liburan musim semi. Dia menjelaskan alasannya mengundurkan diri, karena ayahnya dinyatakan positif mengidap HIV dari sang putri, Manami, yang berusia empat tahun itu sakit. Yuko biasa membawa putrinya itu ke sekolah bersamanya. Pada suatu hari, Manami ditemukan tenggelam di kolam renang sekolah.

Yuko menjelaskan bahwa dua murid di kelasnya, yang dia sebut “Siswa A” dan “Siswa B”, telah membunuh putrinya. Yuko telah menemukan dompet kelinci kecil di antara barang-barang Manami yang tidak seharusnya ada di sana. Hal ini membuatnya menanyai Shuya Watanabe, salah satu muridnya yang dia sebut sebagai siswa A. Shuya segera mengaku bahwa ia telah membunuh Manami, lalu mengejek Yuko dengan berkata bahwa dia “hanya bercanda”.

Setelah mengungkapkan identitas mereka, Yuko berpikir bahwa oleh karena para pembunuh anaknya itu adalah anak di bawah umur, mereka masih dilindungi oleh Undang-Undang Remaja 1947. Jadi, menyerahkan mereka ke polisi tidak akan membuat perbedaan. Sebagai seorang guru, Yuko percaya bahwa dia harus memberi mereka pelajaran dengan membuat mereka memperbaiki kesalahan mereka.

Yuko mengungkapkan bahwa dia menyuntikkan darah ayah Manami yang terkontaminasi HIV ke dalam karton susu milik dua siswa yang telah membunuh Manami. Naoki Shimomura yang disebut sebagai siswa B berubah menjadi pribadi yang tertutup, karena dia yakin dirinya telah tertular AIDS dari minum susu yang terkontaminasi. Ibu Naoki menyadari bahwa putranya terlibat dalam kematian Manami dan memutuskan untuk melakukan rencana pembunuhan seperti bunuh diri untuk membebaskan mereka berdua dari siksaan mereka.

Namun, yang terjadi adalah Naoki membunuh ibunya, dan polisi akhirnya menangkapnya. Sementara itu, Shuya menjelaskan bahwa ibunya melecehkannya sebelum pergi untuk mengejar karir ilmiahnya. Pengabaiannya mendorongnya untuk berkembang dalam sains, dari membuat penemuan kecil, sampai merekam pembunuhan dan pembedahannya terhadap hewan.

Penemuan publik pertama Shuya adalah dompet anti perampok listrik. Penemuannya ini membuatnya mendapatkan penghargaan sains, tetapi gagal menjadi berita utama, karena media menyoroti kasus “Pembunuhan Gila”. Shuya memiliki keinginan untuk meningkatkan dompet anti perampok, itu. Ia memutuskan untuk mencobanya pada seseorang, dan meminta Naoki untuk membantu. Mereka memutuskan untuk menguji dompet pada putri Yuko, tetapi ketika mereka melakukannya, gadis itu malah menjadi tak sadarkan diri.

Shuya sudah mengetahui bahwa Manami telah meninggal akibat penemuannya itu. Naoki yang marah melihat rencananya gagal malah melemparkan Manami ke kolam yang menjadi tempat dia tenggelam. Ini membuktikan bahwa Naoki adalah pembunuh yang sebenarnya. Teman sekelas Shuya yang bernama Mizuki Kitahara memberitahunya bahwa dia percaya Yuko telah berbohong tentang susu yang terkontaminasi, karena itu adalah metode penularan yang tidak masuk akal.

Pada suatu hari, Shuya mengunjungi universitas tempat ibunya bekerja. Ia berharap untuk bersatu kembali dengannya, tetapi menemukan ibunya itu telah menikah lagi. Ia percaya bahwa ibunya telah melupakannya. Ia merasa putus asa, maka itu Shuya menanam bom di sekolahnya, di mana upacara kelulusan akan diadakan dan dia akan memberikan pidato. Namun, Shuya merasa terkejut, karena bom yang ditanamnya itu tak kunjung meledak.

Shuya kemudian menerima telepon dari Yuko, yang mengatakan bahwa dia telah memindahkan bom ke kantor ibunya. Dia menjelaskan bahwa itu adalah balas dendam terakhirnya, yakni dengan membiarkan ibu Shuya mati dengan tangannya sendiri. Yuko juga mengatakan bahwa ketika balas dendamnya yang terakhir selesai, jalan penebusan Shuya telah dimulai. Yuko kemudian berkata sambil tertawa, “hanya bercanda”.

Kelebihan Novel Confessions

Sebagai novel yang sudah mendapatkan berbagai penghargaan kancah internasional, novel Confessions ini tentunya memiliki banyak kelebihan. Kelebihan yang pertama, yaitu dari gaya penulisan Minato Kanae sendiri yang sangat deskriptif dan detail. Gaya penulisan ini mampu membuat pembaca menjadi paham akan alasan yang mendasari suatu kejadian, dan bagaimana pola pikir para tokoh.?

Kemudian, kelebihan selanjutnya adalah premis kisah ini yang mengangkat tentang penghakiman dan balas dendam. Minato Kanae menuliskan kisah yang menyeramkan ini dengan narasi yang tenang, konfliknya dibuat bertahap, hingga menimbulkan kesan yang diam-diam tapi menghanyutkan. Ditambah lagi, penggunaan berbagai sudut pandang dari seluruh tokoh utama yang terlibat dalam konflik, semakin menambah kompleksitas kisah ini. Kisah ini mampu membawa pembaca merasakan berbagai emosi, seperti tegang, sedih, takut, kesal, marah, dan lain sebagainya.

Kemudian, Minato Kanae juga membangun karakter para tokoh secara realistis. Tokoh-tokoh dalam kisah ini tidak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Minato Kanae membangun karakter layaknya manusia biasa yang memiliki sisi baik dan sisi jahat. Ini menjadi sebuah kelebihan di mana Minato Kanae seperti mengungkap sisi gelap manusia.

Sebagai novel bergenre psychological thriller, tentunya novel Confessions ini menyajikan berbagai misteri. Minato Kanae dinilai sangat baik dalam menyajikan misteri tersebut, karena ia dapat mengulurnya hingga akhir cerita. Kemudian, setiap kejadian juga diungkap dengan rapi. Hal ini membuat para pembaca dapat terus merasa penasaran akan kelanjutan kisah ini. Ditambah lagi, Minato Kanae juga menyajikan berbagai twist yang tidak tertebak dan pastinya membuat pembaca terkejut.

Kekurangan Novel Confessions

Novel Confessions dibagi menjadi 5 bab yang setiap babnya menyajikan sudut pandang yang berbeda akan kejadian yang sama. Hal ini menjadi sebuah hal yang menarik, tetapi juga memberikan kesan repetitif, karena terus mengulang cerita yang sama. Beberapa pembaca menilai ini sebagai sebuah kekurangan, karena membuat mereka merasa jenuh.

Pesan Moral Novel Confessions

Melalui kisah Confessions ini, kita dapat mengetahui bahwa manusia cenderung bersikap subjektif jika menilai dirinya sendiri. Manusia memiliki kecenderungan untuk menganggap dirinya sebagai korban, tanpa memperhitungkan apa yang telah ia lakukan kepada orang lain. Ini adalah suatu hal yang buruk, karena ini berarti kita egois dan tidak objektif.

Melalui kisah ini, kita juga dapat mengetahui bahwa cinta yang bersifat posesif bukan merupakan cinta yang tulus. Apalagi posesif yang membawa salah satu pihak kepada kesengsaraan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai obsesi dibanding cinta.

Kisah ini juga mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Jangan melemparkan kesalahanmu atau kejahatanmu kepada orang lain. Terima konsekuensi atas perbuatanmu sendiri.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Confessions karya Minato Kanae. Penasaran akan nasib Yuko, Shuya, dan Naoki? Yuk langsung saja baca kisah lengkapnya dengan mendapatkan novel ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel