in

Review Buku Home Body Karya Rupi Kaur

Home Body adalah karya ketiga penulis puisi yang populer di media sosial, Rupi Kaur, yang berhasil diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Buku Home Body menyusul dua buku Rupi Kaur yang berjudul Milk and Honey: Susu dan Madu (2018) dan The Sun and Her Flowers: Matahari dan Bunga-Bunganya (2019). Home Body diterbitkan pertama kali pada tahun 2020, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada bulan Juni 2021 oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

Buku dengan 192 halaman ini mengangkat tema yang berkaitan dengan pertumbuhan. Melalui buku ini, Rupi Kaur mengajak pembaca untuk bergabung bersama dia menyusuri perjalanan melalui masa lalu, masa kini , dan potensi di masa depan. Home Body adalah kumpulan percakapan jujur dengan diri sendiri yang akan melengkapi anda. Karya yang diilustrasikan oleh Rupi Kaur ini menyajikan berbagai aspek kehidupan seperti cinta, kewanitaan, penerimaan, patah hati, keluarga, trauma, komunitas, feminitas, kehilangan, penyembuhan, migrasi, dan perubahan.

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Buku ketiga Rupi Kaur ini masuk ke dalam beberapa daftar buku paling di seluruh dunia, salah satunya dalam daftar yang dibuat oleh New York Times, buku Home Body berhasil mempertahankan posisi pertama selama beberapa minggu. Konten puisi yang dituliskan Rupi Kaur dalam buku ini dinilai mentah dan nyata, sehingga memfasilitasi pembaca untuk tetap terpikat ketika mereka terhubung dan mengidentifikasi diri mereka dengan tulisan dalam buku ini. Home Body merupakan karya yang sangat dinamis yang diisi dengan banyak lapisan. Buku ini terbagi menjadi 4 bagian, yaitu pikiran, hati, istirahat, dan terjaga.

Profil Rupi Kaur – Penulis Buku Home Body

Sumber gambar: parapuan.co

Rupi Kaur adalah wanita yang lahir dalam keluarga Sikh di Punjab, India, pada tanggal 4 Oktober 1992. Ketika ia berusia tiga tahun, dia beserta keluarganya berimigrasi ke Kanada untuk melarikan diri dari penganiayaan terhadap Sikh. Sang ayah telah pergi duluan sebelumnya, karena adanya kejahatan dan kebencian terhadap laki-laki Sikh. Maka itu, sang ayah tidak hadir langsung untuk menyaksikan kelahiran Rupi Kaur.

Rupi Kaur tinggal bersama orang tua dan tiga adik perempuannya di flat basement yang hanya memiliki satu kamar tidur, sehingga mereka tidur di ranjang yang sama. Keluarga Rupi Kaur akhirnya menetap di Brampton, Ontario, bersama komunitas diaspora Asia Selatan yang besar. Sementarsz ayah Rupi Kaur bekerja sebagai sopir truk. Saat ayahnya tinggal di Jepang, dia akan menulis puisi Punjabi untuk ibu Rupi Kaur, yang memiliki hobi melukis. Pada usianya yang ke-5 tahun, Rupi Kaur mulai menekuni hobi melukis seperti sang ibu.

Namun, dia ternyata dipaksa untuk melakukannya, karena Rupi Kaur diberi kuas dan dipaksa untuk menggambar. Sang ibu ingin menanamkan seni ini dalam dirinya, supaya bisa terasa sangat dekat dengan rumah. Namun, Rupi Kaur mengingat bahwa ia memandang puisi sebagai aspek yang berulang dari iman, spiritualitas, dan kehidupan sehari-harinya. Rupi Kaur umumnya sadar diri tentang identitasnya. Ibunya kadang-kadang jauh dari sirinya, karena keluarga dan budayanya.

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Juga, ia pernah mengalami pelecehan saat masa kecilnya, yang sering membuat dirinya merasa lemah. Hubungannya dengan orang tuanya, khususnya ibunya, menjadi bergejolak di masa remajanya, seperti argumen ekstensif atas kegiatan duniawi yang kemudian ditafsirkan Rupi Kaur sebagai akibat dari keinginan untuk melestarikan budaya asli mereka. Sebagai anak kecil, dia menyaksikan kerabat dan teman mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual, menonton orang tuanya menjadi sasaran rasisme, dan lain sebagainya. Lingkungan tempat dia tumbuh menyebabkan dia mengembangkan apa yang dia anggap mode bertahan hidup yang konstan.

Rupi Kaur pertama kali mulai menampilkan puisi karyanya pada tahun 2009. Walaupun dia menemukan puisi kata-kata yang diucapkan sangat alami, ia menggambarkan pertunjukan pertamanya sebagai pengalaman yang kurang menyenangkan. Dia gelisah dengan kertas di atas wajahnya, dan pergi sebelum penonton bertepuk tangan, karena ia merasa cemas. Puisinya pada awalnya menerima sambutan hangat, tetapi ia diberitahu bahwa dia terlalu agresif untuk tempat-tempat tertentu yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.

Rupi Kaur mulai menulis dalam upaya untuk mengartikulasikan trauma pribadinya, setelah baru saja meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Ketika ia di universitas, tulisannya menjadi lebih reflektif daripada sebelumnya. Tulisan sebelumnya membahas tentang anak laki-laki yang dia sukai dan perubahan politik yang ingin dia lihat di dunia. Tema puisi ini cukup berat, tetapi menurut pengakuannya sendiri, Rupi Kaur tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Namun, puisinya itu pada awalnya mengecam Pemerintah Kanada.

Rupi Kaur sering berkonflik dengan orang tuanya, karena pilihannya untuk mengejar puisi. Sepanjang sekolah menengah, Rupi Kaur membagikan tulisannya secara anonim. Dia mengambil nama belakang panggung Kaur, karena Kaur merupakan nama setiap wanita Sikh yang dibawa untuk memberantas sistem kasta di India. Dia juga berpikir nama itu sebagai bentuk memberdayakan, karena seorang Kaur muda bisa melihat namanya di toko buku. Sejak tahun 2013 dan seterusnya, dia mulai membagikan karyanya tanpa nama samaran di Tumblr, sebelum akhirnya pindah ke Instagram pada tahun 2014 di mana dia mulai menambahkan ilustrasi sederhana.

Sekitar waktu ini, ia mulai mengumpulkan pengikut dan juga penggemar. Puisi pertamanya yang diunggah di Instagram membahas tentang seorang istri yang mengatasi alkoholisme suaminya. Rupi Kaur menggambarkan pengalaman itu sebagai katarsis. Pada Maret 2015, sebagai bagian dari proyek fotografi universitasnya, Rupi Kaur mengunggah serangkaian foto ke Instagram yang menggambarkan dirinya dengan noda darah menstruasi di pakaian dan seprainya. Instagram menghapus gambar itu, sebagai tanggapan atas Rupi Kaur yang menulis kritik viral atas tindakan perusahaan.

Sebagai akibat dari insiden tersebut, puisi Rupi Kaur mendapatkan lebih banyak daya tarik dan koleksi debutnya yang awalnya diterbitkan sendiri, Milk and Honey (2014), yang berhasil dicetak ulang untuk kesuksesan komersial yang luas. Keberhasilan Milk and Honey terbukti mengkhawatirkan bagi Rupi Kaur ketika ia berjuang sepanjang penciptaan biku selanjutnya yang berjudul The Sun and Her Flowers (2017).

Rupi Kaur memiliki keinginan untuk mengurangi tekanan untuk kesuksesan komersial yang memengaruhi koleksi ketiganya, yaitu Home Body (2020). Home Body adalah respons parsial terhadap pandemi COVID-19. Buku ini dianggap sebagai bagian dari kelompok “Instapoetry”. Karya Rupi Kaur bersifat sederhana dan mengeksplorasi identitas, imigrasi, dan feminitas Asia Selatan, masa kecil, dan kehidupan pribadinya.

Sinopsis Buku Home Body

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Rupi Kaur terus-menerus merangkul pertumbuhan, dan dalam Home Body, dia menuntun pembaca melalui perjalanan reflektif dan intim mengunjungi masa lalu, masa kini, dan potensi diri di masa depan. Home Body adalah kumpulan percakapan mentah dan jujur dengan diri sendiri. Buku ini akan mengingatkan pembaca untuk mengisi penerimaan, cinta, keluarga, komunitas, dan merangkul perubahan.

Saya menyelam ke dalam sumur tubuh saya

Dan berakhir di dunia lain

Semua yang saya butuhkan sudah ada dalam diriku

Tidak perlu

Untuk melihat ke tempat lain

– home

Setelah merasa terputus sekian lama, kepala dan badanku akhirnya kembali bersama – home body

Kelebihan Buku Home Body

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Sebagai buku best seller, buku Home Body ini memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan pertama, tentunya dari gaya penulisan Rupi Kaur sendiri yang sangat sederhana. Gaya menulis puisi ini bagaikan sedang bercerita saha menggunakan kata-kata yang sederhana, tetapi mampu menyentuh. Kata-kata dipakai Rupi Kaur berhasil menghipnotis pembaca untuk membentuk imajinasi dalam kepala.

Ia dapat mengisahkan suatu cerita yang tidak pernah dialami pembaca, tetapi membuat pembaca merasa bahwa itu adalah hal personal bagi mereka. Cara penuturannya mampu membuat pembaca merasakan pilu, kesedihan, dan kelegaan dalam setiap lariknya. Contohnya, seperti apa hidup menjadi seorang perempuan yang keberadaan tubuh, pikiran, dan hatinya kerap diabaikan. Ia mampu membuat pembaca mengerti perasaannya sebagai seorang imigran di tanah negara maju.

Bagaimana rasanya menjadi seorang yang memiliki warna kulit yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya, sampai bagaimana rasanya sebagai seorang yang harus bekerja dua kali lipat lebih keras hanya untuk mendapat hal biasa yang bisa didapatkan oleh orang-orang berkulit putih. Tentunya, kumpulan puisi ini juga menyampaikan pesan moral yang dapat menjadi pembelajaran bagi banyak orang.

Selain itu, seperti yang telah dijelaskan di atas, kata-kata Rupi Kaur pastinya sangat quotable dan cocok untuk format Instagram, atau yang biasa disebut sebagai “Instapoetry”. Ini menjadi sebuah kelebihan, di mana pembaca dapat memegang sejumlah kutipan, bahkan membagikannya kepada orang lain. Secara keselueuhan buku Home Body ini lebih dari sekadar buku kumpulan puisi. Banyak orang yang menyebutnya sebagai buku yang dapat membantu diri sendiri dan menemani anda yang memiliki masalah yang sama.

Kekurangan Novel Home Body

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Selain kelebihan, buku Home Body ini juga memiliki kekurangan. Pembaca merasa puisi-puisi dalam buku ini terlalu singkat, sehingga menimbulkan kesan yang terburu-buru. Rupi Kaur memang mampu menyentuh melalui kata-kata sederhana dan singkat itu, tetapi beberapa pembaca merasa hal tersebut seperti kurang digali. Ini juga memberikan kesan bahwa sama saja dengan membaca puisi yang diunggahnya di Instagram. Namun, inu terkait dengan preferensi pembaca.

Pesan Moral Novel Home Body

https://www.gramedia.com/products/the-amazing-traveling-bukan-sekadar-jalan-jalan?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Melalui buku Home Body ini, kita dapat belajar untuk tidak mengulangi pengalaman buruk yang didapatkan oleh Rupi Kaur. Seperti kekerasan seksual, rasisme, tidak adil, dan lain sebagainya. Ini menjadi sebuah pengingat bagi kita semua untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama. Sebab, sejatinya kita semua adalah sama-sama manusia yang memiliki hak. Jadi, jangan membeda-bedakan oleh karena hal duniawi.

Melalui buku ini juga kita dapat belajar untuk tidak mengadopsi stigma bahwa perempuan lebih rendah derajatnya dibandingkan laki-laki. Hindari memandang perempuan sebagai objek. Perempuan dan laki-laki adalah sama, sederajat. Perempuan bisa sehebat dan lebih hebat dibanding laki-laki, perempuan bisa sama kuat dan lebih kuat daripada laki-laki.

Melalui buku ini juga, Rupi Kaur banyak menghubungkan soal produktivitas dengan cinta diri. Ia berusaha mengingatkan pembaca untuk tidak lupa istirahat di tengah dunia yang sibuk ini. Ada kalanya kita harus tetap produktif, tetapi ada kalanya juga kita harus mengistirahatkan diri. Ini sebagai bentuk atas mencintai dirimu sendiri, karena beristirahat berarti memberikan dirimu kesempatan untuk menikmati hidup ini.

Nah, itu dia Grameds ulasan buku Home Body karya Rupi Kaur. Bagi kalian yang penasaran akan puisi-puisi inspiratif karya Rupi Kaur, kalian bisa mendapatkan buku ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel