in

Review Novel Silent Demon Karya Fino Y. K.

Bagi anda para pecinta novel bergenre kriminal, mungkin sudah tidak asing lagi dengan novel yang satu ini. Novel Silent Demon adalah karya dari Fino Yurio K., seorang novelis dan jurnalis. Novel Silent Demon menjadi salah satu novel bergenre kriminal asal Indonesia, yang disandingkan dengan novel genre kriminal dari luar negeri. Novel ini diterbitkan pada bulan September 2021 oleh penerbit Elex Media Komputindo.

Novel Silent Demon mengangkat tentang penyelidikan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang detektif bernama Sugi. Detektif Sugi tidak mengira sama sekali kalau pembunuhan seorang wanita bule di stasiun MRT Jakarta mengarah kepada situasi yang sangat berbahaya. Ibu kota ternyata terancam oleh wabah virus yang mematikan. Bersama detektif Laura, detektif Sugi harus berkejaran dengan waktu untuk menangkap pelaku yang sulit ditangkap itu, atau malapetaka besar tak akan bisa dihindari.

Profil Fino Yurio K. – Penulis Novel Silent Demon

Fino Yurio K. saat ini bekerja sebagai seorang jurnalis. Pada saat-saat tertentu, Fino Yurio suka menghabiskan waktunya dengan menulis kisah fiksi. Novel pertama yang berhasil diterbitkannya berjudul “Radja Tempe di Eropa”. Novel debutannya ini diterbitkan pada tahun 2014. Bagi anda yang ingin mengenal sosok Fino Y. K. lebih dalam, anda bisa mengunjungi akun media sosialnya di @finoyurio atau @rona aksara.

Sinopsis Novel Silent Demon

Sugi sedang menghabiskan tetes terakhir espresso yang dipesannya. Suasana M Bloc Space mulai sepi, karena waktu menunjukkan hampir tengah malam. Sugi menghisap rokok kesebelasnya untuk hari ini. Ia kemudian memandang sekelilingnya dan memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama di tempat itu.

Sugi kemudian berniat untuk mampir ke tempat yang sedang hits di kalangan anak muda itu setelah dari kantor. Toh dia juga belum tua-tua amat, meskipun kantong matanya semakin tebal. Sugi memilih salah satu kafe yang berada di bagian pinggir, yang tidak sepi, tetapi juga tidak ramai. Ia mengambil tempat duduk di luar, di bagian pojokan supaya tidak terlalu mencolok.

Beberapa kursi diisi oleh anak muda yang nyaring, yang membahas topik yang tidak Sugi pahami. Dia kemudian mengusap kepalanya yang pusing, karena gadis itu mendadak kabur. Sugi lalu menghela napas panjang saat ponsel yang tergeletak di meja berbunyi, karena ada pesan WhatsApp masuk. Pesan itu menginstruksikan Sugi untuk segera ke MRT Senayan, karena ada bule perempuan yang tewas.

Sugi membaca pesan itu sekali lagi untuk memastikan bahwa calon kehebohan ini tidak salah. Adrenalinnya langsung terpacu. Dia sedikit terhuyung, tetapi Sugi langsung memakai jaket Fila miliknya yang lusuh itu dan menuju parkiran motor. Seorang remaja tanggung tertangkap mencopet dan sempat dipukuli massa hingga wajahnya bengkak.

Begitulah sebuah “tradisi” menggelisahkan yang ternyata bisa terjadi juga di stasiun yang super modern. Waktu itu, ada juga kejadian di mana terdapat penumpang mesum yang suka menggerayangi. Hanya itu saja yang dia ingat. Kerumunan orang menjejali TKP. Para penumpang MRT langsung dievakuasi, membuat pintu keluar sangat sesak.

Waktu yang sudah larut itu tak menyurutkan keingintahuan orang-orang untuk menjawab rasa penasarannya. Padahal, mereka masih punya kesibukan. Mulai penjual kopi keliling, orang yang sekadar lewat, bercampur aduk dengan polisi serta wartawan yang mulai berdatangan. Sugi memarkirkan motornya tepat di gerbang stasiun MRT Senayan, di samping deretan motor lain.

Apa boleh buat, tempat itu jadi lahan parkir darurat. Sugi langsung mengalungkan tanda identitas san mengarahkan langkahnya ke pintu masuk yang telah dijaga polisi. Ia bergegas menuruni tangga, ingin mengetahui apa yang kali ini menunggunya. Garis polisi sudah dipasang. Sugi menghitung ada belasan polisi yang sedang menggelar olah TKP.

Beberapa diantaranya memakai seragam puslabfor, memakai sarung tangan dan masker, serta membawa peralatan lengkap untuk menyisir seluruh lokasi, dengan harapan ada petunjuk sekecil apa pun. Seorang di antara mereka sibuk merekam tempat kejadian dengan kamera. la kemudian menghampiri AKP Rino, temannya di kantor. Temannya itu langsung mengetahui niat Sugi untuk melihat korban, lalu langsung mengarahkannya masuk ke dalam.

Di kursi bagian tengan salah satu gerbong MRT, tampak seorang perempuan berambut pirang yang sudah terkulai. Wanita itu memakai hoodie tipis berwarna putih yang dipadukan dengan celana jins biru, dan sepatu kets Adidas. Tangannya yang agak kurus tergolek lemas. Sugi mendekatinya, melihat wajahnya yang pucat itu tergolek ke samping, bibirnya menganga, dan matanya terbelalak.

Tidak ada tanda di tubuhnya yang mengindikasi luka, juga tidak terlihat bekas darah di tubuhnya. Pembunuhan itu tampak dilakukan dengan rapi dan terencana oleh siapa pun pelakunya. Usia perempuan itu diperkirakan masih muda, paling sekitar dua puluhan tahun. Perempuan itu memiliki bintik-bintik khas ras Kaukasia di sekitar hidungnya yang mancung. Bagian atas telinga kirinya ditindik. Bibirnya tipis, dan wajahnya simetris.

Rekan kerja Sugi yang bernama Rio kemudian memberitahunya, bahwa sesuai dengan paspor yang dibawanya, perempuan itu bernama Gillard Roberts. Perempuan itu naik dari stasiun Blok M. Rio dan Sugi kemudian menyingkir saat ada tim yang masuk dengan membawa pembungkus jenazah. Sugi menggigit bibirnya, pertanda ia sedang berpikir keras.

Rio dan Sugi masih berdiskusi tentang perempuan itu. Rio menemukan informasi bahwa perempuan itu berasal dari Inggris, dan dia merupakan seorang model di salah satu agensi di Inggris. Namun, ia belum mengetahui alasannya berkunjung ke Indonesia. Lalu, Rio menjelaskan kesaksian dari enam penumpang yang ada di sekitar perempuan itu, bahwa mereka melihat bule itu kejang-kejang, lalu tewas.

Sugi memperkirakan bahwa ada racun yang terlibat dalam kematian perempuan ini. Kemungkinan bunuh diri tidak bisa dikesampingkan. Namun, insting akan kemungkinan ada orang yang sengaja meracuninya sangat kuat. Sugi kemudian menyingkir ke seberang, menuju tempat para saksi mata. la menjumpai enam orang yang sedang duduk di lantai bersama dua polisi dan mulai menggali informasi dari mereka.

Sugi tidak mengira sama sekali kalau kasus pembunuhan ini akan mengarah kepada situasi yang sangat berbahaya. Ibu kota terancam oleh wabah virus yang mematikan. Bersama detektif Laura, Sugi harus berkejaran dengan waktu untuk menangkap pelaku yang sulit ditangkap itu, atau malapetaka besar tak akan bisa dihindari.

Kelebihan Novel Silent Demon

Ide cerita novel Silent Demon ini tidak kalah menarik dengan novel-novel bergenre kriminal dari luar negeri. Konflik yang diangkat dalam novel Silent Demon dapat dibilang cukup kompleks, karena Fino menyajikan berbagai kasus yang menyertai konflik utamanya. Mulai dari pencurian, pembunuhan, dan juga ancaman teror yang mematikan. Konflik yang terus-menerus terjadi ini membuat pembaca merasa penasaran akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Fino juga mampu mengemas konflik yang kompleks tersebut sedemikian rupa, sehingga mudah dimengerti oleh pembaca. Gaya bercerita Fino dinilai mengalir, dengan menuliskan alur yang cukup cepat, menggunakan bahasa yang lugas, dan penggambaran latar yang detail. Ditambah lagi, Fino juga menggunakan latar tempat yang nyata, yakni Kota Jakarta. Maka dari itu, para pembaca dapat lebih mudah membayangkan latar cerita novel ini.

Fino Yurio juga mengangkat berbagai isu yang terjadi di masyarakat melalui cerita ini. Fino menghadirkan isu pemerintahan, isu kesenjangan sosial, dan isu kesehatan, yaitu penyebaran wabah penyakit. Isu-isu yang diangkat ini merupakan isu yang akrab di telinga masyarakat, sehingga pembaca juga dapat memahami pesan tersirat yang disampaikan dengan baik.

Para pembaca juga menilai karakter para tokoh novel Silent Demon inu sangat realistis dan manusiawi. Karakter yang dibangun Fino sangat nyata dan tidak berlebihan. Fino juga mengisahkan latar belakang karakter di berbagai bagian cerita, dengan menyelipkannya di sela-sela fokus utama dalam penyelesaian kasus. Selingan cerita ini tentunya membuat pembaca dapat mengenal karakter tokoh secara lebih dalam, juga dinilai memberikan kesegaran di kala proses yang serius.

Fino melalui kisah ini menggambarkan sistem kerja Kepolisian dengan cukup rinci. Hal ini menjadi sebuah pengetahuan baru bagi para pembaca yang mungkin suka merasa penasaran akan bagaimana proses polisi mengusut sebuah kasus, terutama kasus yang besar. Fino menggunakan sudut pandang dari pihak detektif sebagai bagian dari kepolisian.

Penggunaan sudut pandang ini dinilai “adil”, di mana Fino seperti memberikan penjelasan kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang pernah kecewa dengan kinerja polisi, bahwa proses pengusutan kasus itu seperti itu. Jadi, masyarakat bisa mengetahui dari sudut pandang lain, dan diharapkan tidak menghakimi sesuai dengan yang terlihat dari luar saja.

Para pembaca juga menilai bahwa tampilan sampul novel Silent Demon ini sangat menarik, karena menggunakan ilustrasi Kota Jakarta yang mampu menjelaskan situasi latar kisah ini. Lalu, penggunaan warna yang memikat dan desain yang estetik juga semakin membuat novel ini mampu menarik perhatian orang yang melihatnya.

Kekurangan Novel Silent Demon

Sejumlah pembaca merasa bahwa Fino kurang mengeksplorasi sisi emosional karakter para tokoh dalam novel Silent Demon ini. Hal ini cukup disayangkan, karena pembaca melihat karakter-karakter kisah ini memiliki potensi untuk membuat pembaca lebih emosional dalam memahami kisah ini.

Beberapa pembaca juga merasa resolusi konflik kasus yang besar ini terbilang cukup cepat. Setelah klimaks cerita, alurnya seperti melompat terlalu jauh. Terdapat juga bagian yang seperti kurang dijelaskan, hanya tergambar melalui dialog antartokoh saja.

Pesan Moral Novel Silent Demon

Masa depan akan berpihak kepada mereka yang memiliki rencana dan melakukannya. Harapan tanpa usaha tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka dari itu, hendaknya kita selalu memiliki rencana akan apa yang ingin kita lakukan di masa depan, dan menerapkan rencana tersebut.

Setiap orang tidak memiliki kompas moral yang sama. Banyak dari masyarakat yang masih memukul rata, menghakimi suatu organisasi atau jabatan, oleh karena perbuatan sejumlah oknum. Dari kisah ini, dicontohkan bahwa memang terdapat sebagian oknum polisi yang tidak benar, tetapi banyak juga yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, kita harus menghindari men-generalisasi-kan suatu kelompok oleh karena perbuatan satu anggotanya.

Melalui kisah ini, kita juga dapat belajar untuk selalu waspada setiap waktu, di mana pun kita berada. Waspada dalam arti untuk memiliki kesadaran penuh pada saat ini. Begitu juga, kita hendaknya memiliki pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya dan cara menghindarinya.

Menegangkan, seru, dan menarik sekali ya kisah Silent Demon ini. Jadi, tunggu apa lagi? Mari segera dapatkan novel Silent Demon karya Fino Y. K. ini hanya di Gramedia.com.

Written by Gabriel