in

Review Novel Minimarket yang Merepotkan Karya Kim Ho-Yeon

Minimarket yang Merepotkan atau Uncanny Convenience Store merupakan sebuah novel fiksi karya Kim Ho-Yeon, penulis asal Korea Selatan. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Haru pada 19 November 2022.

Novel dengan total 400 halaman ini bergenre misteri dan penyembuhan, yang sangat cocok untuk dibaca semua kalangan. Ini adalah kisah tentang sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupmu. Dokgo merupakan seorang tunawisma yang mengalami hilang ingatan, sehingga ia hanya berkeliaran di Stasiun Seoul.

Suatu hari, Dokgo menemukan dompet seorang nenek yang ternyata merupakan seorang pengelola sebuah minimarket. Nenek itu melihat ketulusan Dokgo dan mempercayakannya untuk bekerja di minimarket tersebut. Di sana, Dokgo mulai berinteraksi dengan banyak orang yang menjadi pelanggan minimarket.

Tanpa disadari, interaksi tersebut berhasil mengubah jalan hidup Dokgo dan nenek pemilik minimarket itu. Ada seorang gadis tidak tahu tujuannya ingin menjadi apa di masa depan. Ada seorang ibu yang tidak bisa komunikasi dengan sang anak. Ada juga lelaki pegawai kantoran yang merasa rendah diri dan tidak diterima oleh istri dan putri kembarnya.

Dan masih banyak lagi orang yang bertemu dengan Dokgo. Namun, satu misteri paling besar masih belum terjawab, yaitu siapa sebenarnya Dokgo? Buku ini bukan hanya bercerita tentang bagaimana Dokgo membantu para teman kerja dan pengunjung minimarket, melainkan, seiring dengan berjalannya waktu, pertemuan-pertemuan itu mengungkap misteri di balik kehidupan Dokgo.

Orang seperti apakah Dokgo sebelum ia mengalami hilang ingatan? Mengapa ia berakhir tidak memiliki rumah dan hidup miskin di stasiun Seoul? Daripada penasaran, yuk langsung saja dapatkan novel ini sekarang hanya di Gramedia.com. Tapi, sebelum itu, baca ulasan novel ini hingga selesai ya!

Profil Kim Ho-Yeon – Penulis Novel Minimarket yang Merepotkan

Kim Ho-Yeon lahir di Seoul pada 1974. Ia merupakan lulusan dari jurusan Bahasa dan Sastra Korea di Universitas Korea. Kim Ho-Yeon pernah bekerja sebagai penulis skenario dan editor sebelum dirinya akhirnya menjadi penulis penuh waktu.

Salah satu skenario buatannya yang bertajuk “Zona Manusia Eksperimental” berhasil memenangkan hadiah utama di kontes Cerita Komik Bucheon yang pertama. Selain itu, novelnya yang berjudul Mangwon-dong Brothers yang terbit pada 2013, berhasil menang di Segye Literature Award for Excellence yang ke-9.

Hingga saat ini, Kim Ho-Yeon telah berhasil menerbitkan beberapa novel. Di antaranya, yaitu Rivals in Love (2015), Ghostwriters (2017), Fauster (2019), I Write Every Day, Write it Again, dan Write It to the End (2020), dan Minimarket yang Merepotkan (2022).

Sinopsis Novel Minimarket yang Merepotkan

Kisah ini diawali dengan latar belakang di sebuah kereta. Dikisahkan, seorang nenek kehilangan dompet pouch-nya dan kebingungan, karena ia tidak tahu di mana kira-kira ia kehilangan itu. Lalu, seseorang tiba-tiba menelponnya, dan mengatakan bahwa yang menemukan dompetnya adalah seorang tunawisma yang selalu berkeliaran di stasiun Seoul.

Dari pertemuan inilah kisah dalam buku ini dimulai. Cerita mengenai pertemuan seorang tunawisma dan orang-orang di sekitarnya, yang berhasil mengubah hidup mereka masing-masing. Minimarket yang Merepotkan ini berfokus pada Dokgo, sang tokoh utama yang merupakan seorang tunawisma gagap, dan canggung secara sosial.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Dokgo akhirnya bertemu dengan Ibu Yeom setelah ia menemukan dompet miliknya di Stasiun Seoul. Pada mulanya, Ibu Yeom sempat curiga dan berprasangka buruk kepada Dokgo. Hal ini tak mengherankan, karena Dokgo adalah tunawisma dan perawakannya mirip seekor beruang.

Namun, lama kelamaan, Ibu Yeom melihat keistimewaan dari segala tingkah dan sikap Dokgo. Saking takjubnya, Ibu Yeom menjuluki Dokgo sebagai tunawisma yang memiliki prinsip. Dari situ, perjalanan hidup Dokgo yang baru pun dimulai.

Dokgo akhirnya dipercaya untuk bekerja paruh waktu di minimarket milik Ibu Yeom. Di minimarket ini, Dokgo mulai belajar menjadi manusia. Dokgo bagaikan terlahir kembali ke dunia. Di minimarket itu, Dokgo mulai bertemu dengan banyak karakter orang yang memiliki cerita hidup berbeda-beda.

Pertemuan Dokgo dengan orang-orang itu tak hanya mampu mengubah prasangka buruk orang-orang itu kepada Dokgo, tetapi juga membuat Dokgo kembali mengingat masa lalunya yang sudah lama terkubur dalam ingatannya, akibat sakit demensia yang ia miliki. Dari seorang pegawai wanita yang sedang mempersiapkan ujian CPNS, seorang ibu-ibu tua yang keras kepala dan sombong, seorang laki-laki tukang mabuk, dan masih banyak lagi.

Namun, satu misteri paling besar masih belum terjawab, yaitu siapa sebenarnya Dokgo? Nah, biar nggak penasaran dengan akhir cerita dari novel ini, segera dapatkan bukunya di gramedia.com atau bisa dengan klik gambar buku di bawah ini.

 

Kelebihan dan Kekurangan Novel Minimarket yang Merepotkan

 

Pros & Cons

Pros
  • Novel ini merupakan healing fiction, yang menyajikan cerita fiksi yang mampu menyembuhkan dan memberikan dampak kepada para pembacanya.
  • Novel ini menyajikan alur cerita yang sangat menarik, di mana sebuah pertemuan mengubah keseluruhan hidup sang tokoh utama.
  • Cerita ini begitu hangat dengan menggunakan sudut pandang beberapa tokoh di masing-masing babnya.
  • Penulis banyak mengangkat isu yang umum ditemukan di masyarakat dalam novel ini.
  • Misteri yang disajikan dalam novel ini mampu membuat pembaca merasa penasaran akan kelanjutan kisahnya.
  • Latar yang dibangun oleh penulis ini sangat menyenangkan.
  • Seluruh cerita yang ada di dalam buku ini berhasil meninggalkan kesan sendiri di benak pembaca.
  • Kisah ini memuat banyak sekali pelajaran berharga.
  • Desain sampul minimalis dan judul novel ini menarik perhatian.
  • Terjemahan novel ini nyaman untuk dibaca.
  • Dalam novel ini bisa ditemukan banyak kutipan yang bagus dan menginspirasi.
Cons
  • Jalan cerita novel ini dinilai sangat mudah ditebak.

Kelebihan Novel Minimarket yang Merepotkan

Dari penjelasan di atas, Grameds mungkin ada yang bertanya tentang genre novel Minimarket yang Merepotkan ini, yang dikatakan sebagai misteri dan penyembuhan. Ya, benar bahwa novel ini merupakan healing fiction, yang menyajikan cerita fiksi yang mampu menyembuhkan dan memberikan dampak kepada para pembacanya.

Jika melihat dari sinopsis di atas, dapat diketahui bahwa novel ini menyajikan alur cerita yang sangat menarik, di mana sebuah pertemuan mengubah keseluruhan hidup sang tokoh utama. Cerita ini begitu hangat dengan menggunakan sudut pandang beberapa tokoh di masing-masing babnya, yang memperkenalkan segala permasalahan kehidupannya masing-masing. Lalu, di bab terakhir, diceritakan dari sudut pandang Dokgo, sang tokoh utama.

Penulis banyak mengangkat isu yang umum ditemukan di masyarakat dalam novel ini, seperti keraguan akan masa depan, hubungan antara ibu dengan anak, hubungan suami dengan istri dan anak-anak, tekanan sosial dalam pekerjaan, hingga standar kecantikan yang menjadi fokus utama di Negeri Ginseng itu.

Misteri yang disajikan dalam novel ini mampu membuat pembaca merasa penasaran akan kelanjutan kisahnya. Misteri-misteri ini membuat pembaca banyak bertanya-tanya akan bagaimana akhir cerita yang akan didapatkan, sehingga membuat novel ini page turner sekali.

Ditambah lagi, dengan latar yang dibangun oleh penulis ini sangat menyenangkan. Pembaca bisa merasakan suasana minimarket di malam hari yang dingin, sembari menikmati mie cangkir hangat, nasi kepal, dan minum teh jagung. Suasana yang hangat dan menenangkan.

Seluruh cerita yang ada di dalam buku ini berhasil meninggalkan kesan sendiri di benak pembaca. Ditambah lagi dengan karakter Dokgo yang digambarkan memiliki prinsip kuat dan tulus. Dengan banyaknya prasangka buruk terhadap Dokgo, ia tetap bisa menjadi dirinya sendiri dan menunjukkan sifat dan sikap terbaiknya.

Tentunya, kisah ini memuat banyak sekali pelajaran berharga. Pembaca dijamin tidak akan bosan untuk membaca setiap halamannya, dan malah bisa merasakan bahagia. Bahkan, pelajaran hidup dari novel ini mampu mengubah hidup pembaca, sama seperti Dokgo yang mengubah hidup orang-orang yang bertemu dengannya.

Melihat dari tampilan awal novel ini, tampilan sampulnya sangat minimalis. Ilustrasi nasi kotak yang ada nuga sangat menarik, dan tentunya memiliki makna mendalam yang akan ditemukan di dalam cerita ini.  Lalu, judul novel ini juga sangat menarik, Minimarket yang Merepotkan. Pasti pertanyaan yang ada di benak pembaca ketika melihat judulnya, kira-kira apa yang dimaksud merepotkan?

Lalu, walaupun novel ini adalah novel terjemahan, bahasa yang digunakan dinilai tepat, sehingga nyaman untuk dibaca. Selain itu, dalam novel ini juga Anda bisa menemukan banyak kutipan yang bagus dan tentunya menginspirasi. Secara lebih mendalam, novel ini juga menjadi pengingat bagi sejumlah pembaca tentang hal-hal dalam hidup.

Secara keseluruhan, novel Minimarket yang Merepotkan ini adalah novel yang nyaman dan menyenangkan untuk dibaca. Novel ini sangat direkomendasikan untuk anda yang menyukai Literatur Korea yang bertema keluarga.

Kekurangan Novel Minimarket yang Merepotkan

Selain memiliki kelebihan, novel Minimarket yang Merepotkan ini juga masih memiliki kekurangan. Kekurangan pada novel ini terletak pada jalan cerita yang dinilai sangat mudah ditebak. Namun, hal ini tidak mengurangi kehangatan dan keistimewaan cerita ini.

Pesan Moral Novel Minimarket yang Merepotkan

 

Dari novel Minimarket yang Merepotkan ini, kita kembali diingatkan bahwa kebahagiaan sejatinya sangat sederhana. Sesederhana ketika mendapat kebaikan, kita bisa membalas kebaikan tersebut. Sebab, kunci dari kebahagiaan adalah diri kita sendiri, dan ketika kita bisa mensyukuri segala hal yang kita terima dalam kehidupan kita.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa terkadang, rasa sedih diperlukan untuk menyadarkan kita. Menyadarkan kita untuk tidak memandang masa lalu lagi dan fokus kepada masa depan. Begitu juga dengan rasa rindu, yang mana bisa mendorong kita untuk menghargai apa yang ada dan berterima kasih atas itu.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa prasangka sejatinya tidak selalu buruk, karena kita harus selalu berhati-hati di dunia ini. Tapi jangan sampai prasangka yang kita tetapkan membatasi pemikiran kita. Jangan menghakimi orang lain secara negatif.

Cerita ini juga mengingatkan bahwa kehidupan adalah serangkaian penyelesaian masalah. Setiap hari adalah proses belajar. Dan dalam melaksanakan proses itu, percayalah bahwa akan selalu ada harapan dalam kemanusiaan.

Lalu, novel ini juga menekankan bahwa pada akhirnya, hidup adalah hubungan. Dan hubungan terbentuk dengan komunikasi. Komunikasi menjadi fondasi yang paling penting dalam segala bentuk hubungan. Maka itu, jangan sungkan dan gengsi untuk menyampaikan rasa sayang kepada orang terkasih.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel Minimarket yang Merepotkan karya Kim Ho-Yeon. Penasaran akan siapa saja yang ditemui Dokgo? Siapa sosok Dokgo yang sebenarnya? Yuk langsung saja dapatkan novel ini hanya di Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Rating: 4.31

Penulis: Gabriel

Written by Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya Nandy