Agama Islam

Surat At-Tin: Ayat, Latin, Terjemahan, dan Keistimewaannya

Surat At-Tin
Written by Ananda

Surat At-Tin – Bagi umat Islam, Al-Quran merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup bagi semua umat Islam yang ada di dunia ini. Setiap surat yang ada di dalam Al-Quran memiliki makna yang sangat berarti bagi kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Salah satu surat Al-Quran yang memiliki makna yang mendalam adalah surat At-Tin.

Surat At-Tin adalah surat ke-95 di Alquran yang artinya adalah buah Tin. Surat At-Tin memiliki delapan ayat yang berisi tentang penjelasan manfaat dari buah Tin serta nilai manusia serta kemuliaan manusia karena agama yang mereka peluk. Selain itu, surat At-Tin juga menjelaskan bagaimana rendahnya manusia serta kehinaan manusia jika manusia meninggalkan agamanya.

Dalam surat At-Tin, Allah juga menjelaskan fungsi dari qasam atau sumpah sebagai alat untuk mengungkap kebenaran. Contohnya dalam surat At-Tin ditunjukan fungsi qasam Allah untuk mengungkapkan sumpah-Nya dengan memberikan argumentasi mengenai kebenaran dari ucapan tersebut.

Hal ini berfungsi sebagai bentuk pengagungan pada para nabi yang menerima wahyu. Selain itu, sumpah-Nya berfungsi sebagai argumentasi. Lalu, bagaimana bunyi surat At-Tin, arti dan pemaknaannya lebih lanjut? Simak penjelasannya pada artikel ini ya!

Surat At-Tin: Arab, Latin, dan Artinya

Surat At-Tin

pexels.com

Surat At-Tin adalah surat Makkiyah artinya surat ini diturunkan di Kota Mekkah dan diturunkan setelah surat Al Buruj. Surat At-Tin berisi mengenai teguran keras yang ditujukan pada umat manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling istimewa dan melampaui ciptaan-Nya yang lain.

Dalam surat At-Tin ini pula, Allah bersumpah atas empat hal di antaranya adalah 1) demi buah tin, 2) demi buah zaitun, 3) demi bukit Sinai, 4) demi kota Mekkah yang aman.

Dari keempat sumpah yang disebutkan dalam surat At-Tin tersebut, menjadi saksi akan penciptaan umat manusia yang diberi tugas sebagai khalifah di bumi.

Oleh karena itu, manusia perlu menjalani aktivitas sehari-hari dengan mengharapkan ridho dari Allah agar mendapatkan berkah. Surat At-Tin memiliki delapan ayat di dalamnya. Berikut ayat surat At-Tin, Arab, latin disertai terjemahannya.

وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ

wat-Tini waz-zaitụn

Artinya: Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,

وَطُورِ سِينِينَ

wa ṭụri sīnīn

Artinya: dan demi bukit Sinai,

وَهَٰذَا ٱلْبَلَدِ ٱلْأَمِينِ

wa hāżal-baladil-amīn

Artinya: dan demi kota (Mekah) yang aman,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm

Artinya: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik.

ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ

ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn

Artinya: Kemudian Kami kembalikan dia (manusia) ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn

Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka (orang beriman) pahala yang tidak ada putus-putusnya.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِٱلدِّينِ

fa mā yukażżibuka ba’du bid-dīn

Artinya: Maka apakah yang menyebabkan kamu (manusia) mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ

a laisallāhu bi`aḥkamil-ḥākimīn

Artinya: Bukankah Allah Al- Hakim yang paling adilnya?

Tafsir Kebahagiaan: Pesan Al-Quran Menyikapi Kesulitan

Makna dan Kandungan dalam Surat At-Tin

Surat At-Tin

pexels.com

Surat At-Tin yang merupakan surat ke 95 memiliki arti, yaitu buah tin. Nama surat ini diambil dari kata At-Tin yang ada pada ayat pertama surat ini yaitu, وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ yang artinya adalah demi buah tin.

Berdasarkan arti dari ayat surat At-Tin, maka dapat dimaknai bahwa melalui surat At-Tin ini Allah menurunkan firman-Nya serta bersumpah atas empat hal yaitu bersumpah atas buah tin, buah zaitun, bukit Sinai dan kota Mekah yang damai.

Menurut beberapa sumber tafsir, dikatakan bahwa keempat sumpah tersebut dimaknai sebagai tempat di mana Nabi serta Rasul memperjuangkan agama Allah dengan penuh kesabaran sekaligus ketawakalan. Oleh karena itu, manusia diharapkan dapat mengamalkan kesabaran serta ketawakalan yang serupa seperti halnya Nabi dan Rasul.

Pada ayat 4 dan ayat 6 surat At-Tin dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan bahkan menjadi makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan bahkan diberi akal pikiran.

Oleh karena itu, manusia perlu bersyukur karena telah diciptakan dengan sempurna sekaligus mampu berpikir serta memanfaatkan akal pikiran yang telah diberikan oleh Allah.

Makna dari surat At-Tin dapat dipahami sebagai sebuah pengingat serta peringatan yang ditujukan pada manusia, agar senantiasa menjaga iman dan selalu berusaha berbuat kebaikan selama hidup. Dengan begitu, manusia akan mendapatkan rahmat serta pahala jariyah.

Selain makna surat At-Tin di atas, berikut makna dan kandungan dalam surat At-Tin.

1. Keutamaan Nabi Sebagai Ulul Azmi

Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutuskan para Nabi Ulul Azmi, yaitu:

  • Tempat yang ada buah tin dan buah zaitun yaitu di Baitul Maqdis tempat Nabi Isa AS diutus.
  • Bukit Sinai tempat Allah berbincang secara langsung dengan Nabi Musa AS.
  • Kota Mekkah yang aman, tempat diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Sumpah dengan ketiga hal tersebut menunjukan kemuliaan para Nabi utusan Allah yang menjadi Ulul Azmi.

2. Diciptakan Dengan Sempurna Kemudian Masuk Ke Neraka

Setelah Allah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya Nabi tersebut, kemudian disebutkan al muqsam alaih atau isi sumpah Allah.

Pada ayat pertama, dapat dimaknai bahwa manusia telah diciptakan dalam bentuk yang sempurna dan sebaik-baiknya makhluk. Menurut tafsiran dari Mujahid, Abul Aliyah, Al Hasan Al Bashri, Ibnu Zaid, manusia yang telah diciptakan dengan sempurna tersebut lalu akan dimasukan ke neraka.

Manusia akan masuk ke neraka karena manusia tersebut tidak patuh dan taat pada Allah serta enggan mengikuti ajaran Rasul.

Sementara itu, tafsir Alquran Al Azim, menjelaskan bahwa tidak semua manusia masuk neraka, ada pula manusia yang selamat dari siksaan neraka. Mereka adalah orang-orang beriman serta orang yang beramal shalih.

Ibnu Abbas dan Ikrimah menafsirkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang kuat ketika masa muda, kemudian Allah akan kembalikan manusia dalam keadaan lemah di masa tuanya.

Tafsir di atas adalah tafsir surat At-Tin ayat keempat yang artinya adalah “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia ke dalam bentuk yang sebaik-baiknya” dari ayat tersebut ada empat pendapat yang berbeda.

Di antara keempat pendapat tersebut adalah tafsir ayat dari Ikrimah yang menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya seperti di masa mudanya dalam keadaan kuat serta memiliki semangat untuk beramal.

Maksudnya, di masa tua atau ketika manusia telah memasuki usia tua biasanya manusia akan kehilangan semangat untuk beramal. Di masa kecil dan masa tua manusia kesulitan untuk beramal, berbeda ketika manusia masih muda yang menjadi waktu terbaik bagi manusia untuk melakukan amal shalih.

Apabila seorang manusia kesulitan beramal di masa tuanya, padahal pada masa mudanya suka melakukan amal shalih, maka Allah tetap mencatat keadaan manusia tersebut seperti di waktu muda.

Sama seperti ketika manusia mengalami sakit atau ketika seseorang melakukan safar. Hal ini dijelaskan pada hadits dari Abu Musa, Rasul bersabda yang artinya adalah:

“Jika ada seorang hamba yang sedang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya semisal keadaan ketika dia beramal saat ia bermukim atau sehat.” (HR. Bukhari)

Apabila seorang muslim dapat mengisi usia mudanya untuk beramal, maka mintalah perlindungan pada Allah dari usia tua seperti doa yang telah dicontohkan oleh Rasul sebagai berikut.

Allahumma inni a’udzu bika minal kasl wa a’udzu bika minal jubn, wa a’udzu bika minal harom, wa a’udzu bika minal bukhl

Artinya: Ya Allah aku meminta perlindungan kepada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari lemahnya hati. Aku juga meminta perlindungan kepada-Mu dari usia tua yang sulit untuk beramal dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari sifat kikir atau pelit.

Tafsir Al  Quran Kontemporer Juz Amma Jilid I (Al-Fatihah, An Nas s/d Ad-Dhuha)

3. Allah Adalah Hakim yang Paling Adil

Ayat terakhir surat At-Tin, syeikh As Saidi berkata, “Apa yang dapat menyebabkan manusia hingga ia mengingkari hari pembalasan pada amalan. Padahal telah banyak ditunjukan bukti dari beberapa ayat Allah dengan bukti-bukti yang yakin.

Ada pula bukti dengan berbagai macam nikmat yang telah Allah berikan, sehingga jangan sampai kita mengingkarinya. “Bukanlah Allah adalah hakim yang paling adil?”

Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan seorang manusia begitu saja tanpa diberikan perintah maupun tanpa larangan. Tidak mungkin pula, Allah membiarkan manusia tanpa diberikan pahala atau tanpa diberikan hukuman. (tafsir As- Saidi).

4. Bentuk dari Rasa Syukur

Selain berisi tentang peringatan, surat At-Tin juga menjelaskan tentang perintah untuk selalu bersyukur pada Allah yang telah menciptakan makhluk seperti manusia beserta alam semesta dengan sempurna pula. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa bersyukur pada Allah.

Cara bersyukur pada Allah adalah dengan menerima apa saja yang diberikan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan bersyukur ialah tidak mengeluh atas segala hal yang terjadi dalam hidup, baik itu rasa senang atau kesulitan.

5. Mengajarkan Manusia Cara Mengontrol Diri

Surat At-Tin juga memiliki keutamaan yaitu mengajarkan manusia agar mengontrol diri, sehingga manusia dapat terhindar dari segala perbuatan keji dan mungkar.

Surat At-Tin juga memberikan pelajaran pada umat manusia agar selalu menjaga takwa, imam dan selalu beramal saleh. Dalam agama Islam, kontrol diri diistilahkan sebagai mujahadah an nafs.

Kontrol diri sama seperti pengendalian diri untuk menghadapi hawa nafsu, emosi dan hal lainnya yang akan memiliki dampak buruk bagi kehidupan manusia.

6. Pahala yang Tidak Akan Terputus

Keutamaan kedua dari surat At-Tin adalah mengajarkan manusia bahwa siapa saja yang melakukan kebaikan setiap hari, sejak ia kecil hingga ajal menjemput, maka ia akan mendapatkan pahala yang tidak akan terputus.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang artinya “apabila seorang hamba sakit atau bersabar, maka akan dicatat baginya semisal keadaan ketika ia melakukan amal atau ketika ia bermukim dalam keadaan sehat.”

Dalam agama Islam, ada tiga hal yang membuat pahala seseorang tidak akan terputus meskipun orang tersebut telah meninggal dunia, yaitu:

a. Sedekah jariyah

Sedekah merupakan pemberian dari seorang muslim dan diberikan pada orang yang berhak menerima, pemberian tersebut diberikan secara ikhlas, sukarela serta tidak dibatasi oleh waktu maupun jumlah tertentu dengan mengharapkan ridha Allah.

Sedangkan sedekah jariyah merupakan pemberian yang dapat memberikan manfaat secara terus menerus dan tidak putus, contohnya seperti buku, wakaf tanah, lembaga pendidikan dan lain sebagainya.

Karena manfaat yang didapatkan oleh seseorang tidak terputus, maka pahala yang akan didapatkan oleh orang yang memberi sesuatu pun tidak akan pernah putus.

b. Ilmu yang bermanfaat

Seorang mukmin yang memberikan atau mengajarkan suatu ilmu pada orang lain, maka ia akan mendapatkan amalan yang tidak terputus, walaupun orang tersebut telah meninggal dunia.

Apabila seseorang mengajarkan ilmu pada orang lain, kemudian orang tersebut mengamalkannya, maka amalan orang yang mengajarkan ilmu tersebut akan terus mengalir dan tidak akan pernah terputus.

c. Doa anak sholeh

Pahala jariyah dapat diperoleh dari doa anak sholeh yang ditujukan pada kedua orang tuanya. Doa tersebut adalah wujud kebaktian yang masih dapat dilakukan oleh seorang anak pada orang tuanya yang sudah meninggal dunia dan akan terus memberikan kebaikan pada orang tua.

Doa seorang anak sholeh akan terus memberikan kebaikan serta manfaat bagi kedua orang tuanya, kebaikan tersebut dapat terus dirasakan oleh kedua orang tua, walaupun amalan lain dari kedua orang tua yang telah meninggal dunia sudah terputus.

Keutamaan Surat At-Tin

Surat At-Tin

pexels.com

Dari tafsir makna surat At-Tin yang telah dijelaskan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa surat At-Tin bukan hanya sekedar surat yang memberikan peringatan pada manusia. Surat At-Tin juga mengajarkan manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan, selain itu, surat At-Tin juga memiliki keutamaan yang dapat diambil sebagai bahan pelajaran bagi manusia. Berikut keutamaan dari surat At-Tin.

  1. Keutamaan Nabi sebagai Ulul Azmi yang disebutkan dalam surat At-Tin yaitu Nabi Isa, Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW.
  2. Buah tin dan buah zaitun merupakan dua buah yang memiliki banyak manfaat serta dianjurkan untuk menanam kedua buah tersebut.
  3. Kota Mekkah merupakan kota yang paling mulia serta kota yang memiliki rasa aman bagi orang-orang di dalamnya.
  4. Allah SWT memberikan kemuliaan pada manusia dengan menciptakan manusia dalam bentuk paling baik dari makhluk lainnya.
  5. Allah SWT telah memuliakan seorang muslim ketika dipanjangkan umurnya. Ketika manusia berada pada usia senja, maka amalan dari muslim tersebut tetap dicatat seperti ketika ia masih muda. Allah SWT juga terus memberikan kebaikan serta menjauhkan manusia dari kejelekan maupun kemungkaran.
  6. Hanya Allah SWT semata lah yang memberikan taufik.

Selain keenam keutamaan tersebut, ada pula fadilah serta manfaat ketika seseorang membaca surat At-Tin.

  • Pertama, surat At-Tin termasuk dalam surat Al Muafshshal yang diberikan pada Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad memiliki keutamaan serta keistimewaan dibandingkan dengan nabi pendahulunya.
  • Kedua, orang yang membaca surat At-Tin, maka ia akan memperoleh surga dari Allah.
  • Ketiga, surat At-Tin dapat dijadikan sebagai doa maupun wasilah agar makanan akan menjadi lebih baik.

Surat At-Tin

Itulah penjelasan tentang surat At-Tin lengkap dengan ayat dalam bahasa Arab, latin sekaligus latinnya. Apabila Grameds tertarik untuk mempelajari tafsir alquran dari surat-surat yang lain, maka Grameds dapat menggali informasinya dengan membaca buku.

Sebagai #SahabatTanpaBatas, gramedia.com tentu saja menyediakan buku ilmu tafsir untuk Grameds yang ingin mempelajari tafsir surat Alquran atau membaca kitab-kitab tafsir Alquran. Jangan ragu untuk membeli buku-bukunya di gramedia.com karena dijamin bukunya original dan lengkap. Jadi tunggu apa lagi? Segera beli dan dapatkan bukunya sekarang juga ya! Kamu bisa mendapatkan informasi #LebihDenganMembaca bersama Gramedia.

BACA JUGA:

  1. Pengertian Al-Qaur’an dan Hadits Beserta Sejarahnya
  2. 10 Manfaat Membaca Al-Quran, Banyak Fadhilahnya! 
  3. Surah-Surah Pendek untuk Dibaca Ketika Salat 
  4. Surat Al-Insyirah 1-8 Beserta Keutamaan dan Cara Mengamalkannya 
  5. Surah Al-Lahab: Ayat, Terjemahan, Keutamaan, dan Kisahnya 
  6. Keutamaan Membaca Surah Al-Ghasyiyah


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien