Agama Islam

Surah Al Fil: Arab, Latin, Terjemahan, dan Kisahnya

Written by Rifda Arum

Surah Al Fil – Bagi kaum muslim, membaca Al-Quran dan memahami isinya adalah kewajiban yang telah digariskan dalam kitab suci itu sendiri. Bahkan terdapat juga disiplin ilmu agama Islam ini yang mempelajari akan bagaimana surah-surah Al-Quran dan hadits ditafsirkan, yakni dalam Ilmu Tafsir. Salah satu surah yang wajib dipahami ini adalah Surah Al Fil yang mana juga merupakan surah pendek sehingga mudah untuk diajarkan kepada anak-anak. Meskipun Surah Al Fil adalah surah pendek, tetapi isinya adalah mengenai bagaimana kebesaran Allah SWT.

Surah Al Fil sering juga disebut sebagai surah gajah, sebab dalam lima ayat tersebut menceritakan mengenai bagaimana pasukan gajah turut andil dalam menjaga Ka’bah dari serangan kaum Abrahah. Yap, hewan gajah yang memiliki tubuh besar dan kuat itu bahkan mengakui kebesaran Allah SWT. Lalu, bagaimana sih ayat dan terjemahan dari surah Al Fil ini? Bagaimana pula kisah di balik penciptaan surah Al Fil ini? Nah, supaya Grameds memahami akan hal-hal tersebut, yuk simak ulasan berikut!

https://www.pexels.com/

Ayat dan Terjemahan Al Fil

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

a lam tara kaifa fa’ala rabbuka bi`aṣ-ḥābil-fīl

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

a lam yaj’al kaidahum fī taḍlīl

  1. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

wa arsala ‘alaihim ṭairan abābīl

  1. dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ

tarmīhim biḥijāratim min sijjīl

  1. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

fa ja’alahum ka’aṣfim ma`kụl

  1. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Keutamaan Membaca Surah Al Fil

Berhubung surah Al Fil ini hanya memiliki lima ayat saja, maka dapat juga diajarkan kepada anak-anak supaya dapat dibaca ketika tengah menjalankan ibadah salat fardhu maupun salat sunnah. Nah, berikut adalah beberapa keutamaan membaca surah Al Fil:

  • Apabila tengah terlibat dalam sebuah pertikaian atau pertempuran, maka surah ini InsyaAllah dapat memberikan rasa takut dan was-was kepada musuh.
  • Menjauhkan dari tangan-tangan jahat, terutama jika dibaca ketika salat shubuh bersamaan dengan surah Al-Insyirah.
  • Apabila dibaca secara rutin, maka diri kita akan mendapatkan pertolongan terutama ketika tengah menghadapi permasalahan yang rumit.
  • Dimurahkan rezekinya oleh Allah SWT.
  • Apabila ditanamkan dalam diri anak sejak dini, maka akan memberikan kepercayaan kepada mereka bahwa pertolongan Allah SWT akan selalu dekat dalam melindungi umat-Nya dari niat-niat jahat.

Mempelajari Kisah Kaum Abrahah yang Menyerang Ka’bah

Surah Al Fil adalah surah yang menceritakan bagaimana bangsa Arab mengalahkan kaum Abrahah yang mana berkeinginan untuk menyerang Ka’bah. Bahkan pasukan gajah yang dibawa oleh kaum ini tiba-tiba menolak untuk dikendalikan ketika hendak menuju ke kota suci tersebut.

Kondisi Kehidupan Agama Bangsa Arab

Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana kisah kaum Abrahah yang menyerang Ka’bah tetapi para pasukan gajahnya menolak untuk dikendalikan, akan lebih baik jika Grameds memahami bagaimana kondisi kehidupan agama pada bangsa Arab yang mana sebagian besar masih menyembah berhala.

Pada kala itu, masyarakat Arab telah memeluk berbagai macam agama, yang paling terkenal adalah penyembahan terhadap berhala alias paganisme. Menurut Syalabi, penyembahan berhala ini bermula ketika orang-orang Arab pergi ke luar kota Mekah. Mereka mensucikan batu dan menyembahnya dimanapun mereka berada. Nah, lama-kelamaan dibuatlah patung batu yang kemudian disembah dan bahkan mereka berkeliling mengitarinya, dan di saat-saat tertentu mereka juga masih mengunjungi Ka’bah. Mereka turut memindahkan patung-patung batu tersebut di sekitaran Ka’bah yang jumlahnya sekitar 360 buah.

Namun, ada juga beberapa bangsa Arab yang tidak mengikuti paganisme ini, di antara mereka adalah Waraqah ibn Naufal dan Usman ibn Huwairits yang menganut agama Masehi. Agama Masehi ini dipeluk oleh para masyarakat Yaman, Najran, dan Syah. Sementara itu, agama Yahudi lebih banyak dipeluk oleh penduduk Yahudi yang merupakan imigran di Yaman dan Yasrib. Tidak hanya itu sama, ada jua agama Majusi (Mazdakisme) yakni agama bagi para orang-orang Persia.

Nah, para penganut agama Masehi ini masih saling berselisih satu sama lain, terutama ketika agama Yahudi telah masuk ke daerah Yaman. Semakin berkembangnya waktu, maka semakin banyak pula agama lain yang masuk, salah satunya adalah agama Nasrani yang disebarkan oleh orang-orang Habsyah dan Romawi.

Latar Belakang Penyerangan Pasukan Abrahah Terhadap Ka’bah

Pada masa pra-Islam di Yaman, terdapat perang antara Najasyi dengan Dzu Nuwas yang membuat kekalahan pada pasukan Dzu Nuwas. Akibat hal itu, daerah Yaman pun bergabung dalam salah satu provinsi Habasyah dengan mengangkat Abrahah sebagai gubernur di sana. Abrahah memiliki keinginan kuat untuk memulihkan kembali agama Nasrani dan mengembalikan kekuatannya di negeri Yaman.

Ibn Ishaq juga meriwayatkan bahwa ketika Abrahah al-Asyram al-Habsyi menguasai Yaman, Abrahah melihat banyak orang yang pergi ke daerah Mekkah untuk beribadah haji, tepatnya di Baitul Haram dan berziarah ke Ka’bah. Abrahah berpikir bagaimana cara untuk merampas lambang kesucian dari kota tersebut. Maka dari itu, dirinya pun berkeinginan untuk menghancurkan Ka’bah supaya orang-orang lebih tertarik menuju ke negerinya, tepatnya untuk membujuk mereka supaya berpindah ke agamanya. Itulah mengapa dirinya membangun sebuah gereja di Sana’a.

Lantas, Abrahah pun mulai membangun gereja megah dengan bangunan yang menjulang tinggi dan seluruh penjurunya dipenuhi dengan hiasan. Para masyarakat Arab menjulukinya sebagai al-Qullais karena ketinggiannya. Saking tingginya, orang-orang yang melihatkan sampai mengadahkan kepala sehingga pecinya hampir jatuh dari kepala. Namun setelah gereja itu dibangun, para masyarakat Arab sama sekali tidak berpaling ke Yaman dan mereka tetap berziarah ke Ka’bah. Bahkan, Abrahah juga melihat bahwa sebagian penduduk Yaman pun meninggalkan gereja yang dibangunnya dan memilih menuju pergi ke Mekkah.

Hingga akhirnya, muncullah perselisihan yang dimulai ketika bangsa Arab merasa marah karena ketika terdapat tempat ibadah lain yang hendak menyaingi Baitul Haram dan patung-patung berhala mereka. Untuk melampiaskan kemarahan tersebut, mereka sengaja menghinakan rumah Abrahah dan mengutus seorang laki-laki untuk membuat kerusakan di dalam gereja.

Penyerangan Pasukan Abrahah ke Mekah

Ketika para penjaga gereja melihat bahwa keadaan gereja telah dirusak oleh orang-orang Quraisy, maka mereka segera melaporkannya kepada Abrahah. Para penjaga gereja ini berkata “Sesungguhnya yang telah melakukan ini adalah beberapa orang Quraisy, mereka marah karena rumah mereka ditandingi dengan bangunan ini”. Menurut beberapa sumber, salah satunya dari Muqatil bin Sulaiman berkata bahwa beberapa pemuda Quraisy memasuki gereja dan membakar apapun di dalamnya, sehingga bangunan yang terbakar dengan cepat ambruk ke tanah.

Setelah mengetahui hal tersebut, tentu saja Abrahah marah hingga emosinya berkobar. Kemudian, dirinya bersumpah akan menghancurkan Ka’bah dan menuntut balas kepada para orang-orang Quraisy. Dirinya juga bersumpah bahwa tidak akan mati sebelum mereka berhasil menarik hati orang-orang Arab dari Ka’bah dan menghadapkan wajah mereka ke gerejanya.

Abrahah dengan segera mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Mekkah dan menghancurkan Ka’bah. Pasukannya ini terdiri atas pasukan infanteri dan kavaleri, termasuk juga para penunggang gajah. Bersama pasukannya, Abrahah menuju Mekkah untuk menghancurkan bangunan suci tersebut. Ketika mendengar bahwa pasukan Abrahah tengah bergerak untuk menyerang dan menghancurkan Ka’bah, para orang-orang Arab kaget. Oleh sebab itu, seorang bangsawan Yaman yang dijuluki Dzu Nafar bergegas meminta kaumnya untuk melarikan diri. Dirinya pun mengajak para penduduk Yaman dan bangsa Arab untuk memerangi Abrahah tetapi kalah. Sehingga dirinya harus ditawan dan disuruh menemani Abrahah dalam perjalanannya.

Selama perjalanan, sebenarnya pasukan Abrahah ini telah dihadang oleh kabilah-kabilah Arab tetapi para kabilah tersebut telah dikalahkan. Meskipun demikian, kekalahan tersebut tidak melemahkan semangat bangsa Arab untuk memerangi pasukan Abrahah. Banyak masyarakat Arab yang terdorong untuk bertindak patriotisme dengan tetap melindungi rumah dan agama mereka. Sayangnya, mereka semua kalah karena pasukan Abrahah jauh lebih kuat.

Abrahah semakin percaya diri tentunya untuk menyerang Ka’bah. Ketika pasukan Abrahah singgah di al-Mughammas, dirinya mengirim salah satu pasukannya untuk merampas harta penduduk Tihamah dan harta orang Mekkah lainnya. Di antara harta rampasan tersebut, ada 200 unta milik Abdul Muththalib ibn Hasyim. Perlu diketahui ya Grameds, bahwa pada masa itu, Abdul Muththalib adalah sosok yang bertugas memberikan air minum kepada para jamaah haji dan menjadi tokoh terhormat bagi kaumnya.

Setelah melalui berbagai perundingan secara baik-baik oleh pihak Abdul Muththalib, hasilnya masih sama yaitu Abrahah tetap hendak melangsungkan penyerangan terhadap Mekkah. Bahkan para pemuka Mekkah juga menawari Abrahah dengan sepertiga kekayaan Tihamah supaya dirinya mengurungkan niat untuk menghancurkan Ka’bah. Sayangnya, Abrahah enggan mendengarkan permintaan tersebut dan penduduk Mekkah merasa bingung dan sedih.

Abdul Muththalib pun menyarankan penduduk kota untuk pergi ke puncak gunung demi keselamatan mereka dan untuk menghindari aib kekalahan. Mereka melakukan pengungsian tersebut pada malam hari dan suasana kota menjadi gaduh dan kacau balau. Orang-orang berdesakan di pegunungan dan memenuhi jalan. Suara teriakan orang-orang bercampur dengan suara unta, kambing, dan jerit tangis perempuan serta anak-anak.

Sementara itu, Abdul Muththalib bersama beberapa pemuka Quraisy menuju Ka’bah untuk melindunginya. Secara bersama, mereka memegang pintu Ka’bah sambil berdoa, memohon pertolongan kepada Allah SWT agar menyelamatkan mereka dari serbuan pasukan Abrahah. Usai berdoa, mereka naik ke pegunungan dan menunggu apa yang hendak dilakukan oleh pasukan Abrahah terhadap Ka’bah.

Kisah Gajah yang Tunduk Kepada Allah SWT

Esok paginya, Abrahah telah bersiap diri untuk memasuki Mekkah termasuk dengan gajah beserta pasukannya. Gajah yang ditunggangi oleh Abrahah bernama Mahmud. Perlu diketahui bahwa penjaga gajah bernama Nufail bin Habib al-Khats’am adalah salah satu bagian dari kaum Arab yang sebelumnya telah diminta oleh Abdul Muththalib untuk membantunya. Nah, Nufail bin Habib pun datang berbisik di telinga-telinga gajah, “Merunduklah dan pulanglah ke tempat asal kalian, sebab kalian berada di rumah Allah SWT yang dimuliakan”. Lantas, gajah-gajah tersebut pun merunduk dan Nufail berlari menuju ke pegunungan untuk berlindung.

Pasukan Abrahah memukul para gajah tersebut supaya mereka berdiri, bahkan beberapa ada yang dipukuli dengan kapak pada bagian kepala, tetapi mereka tetap tidak mau berdiri. Kemudian, pasukan Abrahah pun mengarahkan gajah-gajah itu ke arah Yaman dan mereka bangkit berjalan. Namun, ketika pasukan Abrahah mengarahkannya ke Mekkah, gajah-gajah itu kembali diam.

Tiba-tiba, kehendak Allah SWT datang untuk menggagalkan penghancuran Ka’bah tersebut. Allah SWT mengirimkan sekawanan burung yang membawa batu-batu kecil di paruhnya dan melemparkannya ke arah pasukan Abrahah. Dalam sekejap mata, kepala dan tubuh para pasukan Abrahah tercabik-cabik dan mayatnya bergelimpangan di jalan. Abrahah tentu saja tidak luput dari serangan tersebut, tetapi tidak langsung meninggal dunia. Saat itulah, dirinya merasakan ketakutan yang luar biasa dan memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk kembali ke Yaman. Akhirnya, Abrahah dapat mencapai kota Shan’a secara sendirian dengan kondisi yang lemah.

Allah SWT telah melindungi rumah kaum Quraisy dan menjaga kehormatan mereka. Peristiwa menakjubkan itu semakin menambah keyakinan akan kesucian kota Mekkah dan lebih percaya diri untuk mempertahankan kota tersebut dari siapapun yang hendak menodai kesuciannya. Atas peristiwa tersebut juga menandai kelahiran dari Nabi Muhammad SAW. Ibn Qutaibah berkata bahwa para ahli telah sepakat bahwasanya Rasulullah SAW lahir pada tahun gajah.

Penafsiran Surah Al Fil Menurut Buya Hamka

Surah Al Fil yang menceritakan kekalahan pasukan Abrahah ketika hendak menghancurkan Ka’bah ini juga ditafsirkan oleh Buya Hamka. Dalam Tafsir al-Azhar, disebutkanlah bahwa Abrahah adalah wakil raja atau gubernur yang telah mendirikan sebuah gereja di Shan’a dengan diberi nama al-Qullais. Pembuatan gereja tersebut pun membuat Abrahah mengutus pada Najasyi untuk menyebarkan berita tersebut ke bangsa Arab. Bangsa Arab setelah mendengar berita tersebut tentu saja gelisah dan mereka pun mengutus salah satu orang untuk membuat kerusakan di gereja tersebut.

Berita perusakan gereja sampai juga di telinga Abrahah dan dirinya sangat murka. Abrahah bersumpah untuk pergi ke Mekkah dan menghancurkan Ka’bah. Setelah siap berangkat menuju Mekkah, dirinya beserta pasukan menaiki gajah. Gajah yang dinaiki oleh Abrahah bernama Mahmud.

“Apakah kamu tidak melihat apa yang diperbuat Tuhanmu terhadap pasukan bergajah?”, maka datanglah masa ketika gajah-gajah tersebut tidak mau berdiri, sekalipun dipukul kepalanya menggunakan tongkat yang ujungnya runcing. Lalu, ditariklah kendali terhadapnya ke negeri Yaman, barulah gajah-gajah itu segera berdiri dan berjalan. Namun, ketika diarahkan menuju ke Mekkah, gajah-gajah itu kembali duduk dan tidak mau bergerak.

“Bukankah dia telah menjadikan daya upaya mereka itu sia-sia yakni usaha yang begitu sombong dan besar, segala maksud hendaknya menghancurkan Ka’bah itu sia-sia belaka dan gagal. Lalu, Allah SWT mengirimkan ke atas mereka burung-burung yang berduyun-duyun datang dari laut, melempari mereka (pasukan Abrahah) dengan batu siksaan yang mengandung azab. Batu itu berasal dari api neraka yang membawa bibit penyakit cacar, lalu Dia jadikan mereka layaknya daun kayu yang dimakan ulat. Tubuh mereka terserang penyakit cacar dan seluruh tubuh akan ditumbuhi bisul yang panas, bahkan ada yang sampai tumbuh di mata.”

Nah, itulah ulasan mengenai surah Al Fil dan bagaimana kisah di balik penciptaannya yang melibatkan ketundukan gajah kepada Allah SWT. Apakah Grameds sudah hafal dengan surah Al Fil ini?

Sumber: 

HARAHAP, K. T. (2019). Pesan Moral Tarbawi Dalam Al-Qur’an Surat Al-Fîl Tentang Kisah Kehancuran Pasukan Abrahah Suatu Tinjauan Tafsir Tematik (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien