in

Review Novel The Fountains of Silence Karya Ruta Sepetys

Review Novel The Fountains of Silence yang merupakan sebuah novel fiksi sejarah yang ditulis oleh Ruta Sepetys. Novel ini menyajikan kisah tentang sejarah Spanyol yang jarang diketahui oleh masyarakat umum.

Review Novel The Fountains of Silence telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk ke dalam Bahasa Indonesia. Novel ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia pada bulan Desember 2019 oleh Elex Media Komputindo.

Berlatar di Madrid pada 1957, novel ini mengisahkan bagaimana kondisi di bawah kepemimpinan Jenderal Francisco Franco, sang diktator fasis. Spanyol ternyata menyembunyikan rahasia yang gelap. Namun, para pebisnis dan turis ekspatriat tidak mengetahui kenyataan, mereka tetap berdatangan untuk menikmati anggur dan musim panas.

review novel the fountains of silence

Seorang remaja asal Amerika, Daniel Matheson, memiliki keinginan untuk mengenal kampung halaman ibunya melalui lensa kamera. Fotografi dan takdir kemudian menuntunnya bertemu Ana Torres Moreno, gadis yang hidupnya dikekang dalam rasa takut pasca Perang Sipil Spanyol. Hotel Amerika yang mewah, peti mati kosong, bayi-bayi yang dicuri, impian menjadi matador, dan ancaman Garda Sipil. Sejumlah foto yang diambil oleh Daniel menimbulkan banyak pertanyaan berbahaya. Satu kali saja mengambil langkah yang salah, moncong senjata akan menempel di pelipismu.

Profil Ruta Sepetys – Penulis Novel The Fountains of Silence

review novel the fountains of silence
Twitter @RutaSepetys

Ruta Sepetys adalah wanita asal Lithuania-Amerika, kelahiran Michigan, 19 November 1967. Ruta Sepetys adalah seorang penulis fiksi sejarah. Sebagai seorang penulis, Ruta Sepetys merupakan penulis buku terlaris internasional nomor 1 versi New York Times dan pemenang Medali Carnegie. Ruta Sepetys adalah Rockefeller Foundation Bellagio Fellow dan penulis sastra dewasa muda Amerika pertama yang berbicara di Parlemen Eropa dan NATO.

Karya tulisnya telah diterbitkan di lebih dari enam puluh negara dan empat puluh bahasa. Karyanya juga ada yang sedang dalam pengembangan untuk film dan televisi. Ruta Sepetys adalah putri seorang pengungsi Lithuania. Dia mendapatkan gelar B.S. dalam Keuangan Internasional dari Hillsdale College. Saat di luar negeri, Ruta belajar di Centre d’études Européennes di Toulon, Prancis, dan di Sekolah Bisnis Pascasarjana ICN di Nancy, Prancis.

Setelah lulus, Ruta Sepetys pindah ke Los Angeles. Pada tahun 1994, ia meluncurkan Sepetys Entertainment Group, Inc., yakni sebuah perusahaan manajemen hiburan. Pada tahun 2002, Ruta Sepetys ditampilkan dalam edisi khusus “Women in Rock” majalah Rolling Stone sebagai seorang wanita yang didorong untuk membuat perbedaan. Ruta Sepetys juga merupakan anggota Dewan Penasihat untuk Sekolah Tinggi Hiburan dan Bisnis Musik Mike Curb di Universitas Belmont dan juga direktur Make a Noise Foundation, sebuah organisasi nirlaba nasional yang menggalang dana untuk pendidikan musik.

Ruta Sepetys menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2011. Sosok Ruta telah digambarkan sebagai “pencari cerita yang hilang” yang berharap untuk memberikan suara kepada mereka yang tidak dapat menceritakan kisah mereka. Beberapa karya Ruta Sepetys, yaitu Between Shades of Gray (2011), Out of the Easy (2013), Salt to the Sea (2016), The Fountains of Silence (2019), dan I Must Betray You (2022).

Pada Juni 2018, untuk merayakan peringatan 100 tahun kemerdekaan asli Lithuania, Jenderal Postmaster di Lithuania meluncurkan satu set perangko peringatan yang memberi penghormatan kepada orang-orang yang karyanya menciptakan dan memperkuat kesadaran akan Lithuania. Ruta Sepetys adalah salah satu dari mereka yang mendapatkan penghormatan tersebut. Pada 19 Juni 2017, Ruta Sepetys dianugerahi penghargaan sastra The Carnegie Medal dalam sebuah upacara di Royal Institute of British Architects di London.

Selain itu, Ruta Sepetys dianugerahi Knight’s Cross of the Order for Merits ke Lithuania. Ruta Sepetys diapresiasi atas kontribusinya pada pendidikan dan budaya dalam hubungannya dengan upaya globalnya untuk berbagi sejarah totalitarianisme di Baltik. Pada tahun 2015, Ruta Sepetys dianugerahi residensi Bellagio Center dari Rockefeller Foundation di Danau Como, Italia. Sebagai rekan Rockefeller Bellagio, Ruta Sepetys juga diundang untuk menghabiskan satu bulan di Bellagio Center Foundation untuk berinteraksi dengan para pemimpin, pembuat kebijakan, seniman, dan praktisi residen internasional lainnya.

Sinopsis dan Review Novel The Fountains of Silence

review novel the fountains of silence

Pros & Cons
Pros Cons
  • Novel fiksi sejarah ini dapat memberikan banyak informasi dan pengetahuan baru tentang sejarah.
  • Penokohan dalam buku ini sangat kuat.
  • Format penulisan novel ini juga unik dengan membagi novel ini ke dalam bab-bab yang sangat singkat.
  • Novel ini banyak memuat data dan fakta di dalamnya, hasil dari riset penulis selama bertahun-tahun.
  • Tempo alur cerita yang dinilai lambat.

Perang Saudara Spanyol (1936-1939) berawal sebagai pemberontakan militer melawan dibentuknya Republik Spanyol Kedua berdasarkan pemilihan demokratis dan berlanjut sebagai konflik bersenjata antara kaum Nasionalis dan kaum Republikan. Kaum Nasionalis dipimpin

Generalísimo Francisco Franco dan dibantu Hitler seta Mussolini. Kaum Republikan dipimpin pemerintahan demokrasi pada masa itu dan dibantu Meksiko, Uni Soviet, serta sukarelawan dari lebih dari lima puluh negara, dengan dukungan dari kaum akademis, kreatif, pekerja, buruh, dan sayap kiri.

Karena perpecahan di dalamnya, kaum Republikan tidak mampu menghentikan serangan kaum Nasionalis dan menyerah pada Maret 1939. Generalísimo Francisco Franco memimpin secara diktator selama tiga puluh enam tahun.

Mereka mengantre darah. Barisan wanita sedang menunggu dengan sabar di el matadero, rumah jagal, sambil diterangi matahari pagi bulan Juni. Kipas disentak hingga terbuka dan dikibaskan, melawan panasnya kota Madrid dan bau daging baru disembelih yang menguar dari rumah jagal.

Darah itu akan digunakan untuk morcilla, sosis darah. Takarannya harus diukur dengan hati-hati. Bila darahnya terlalu banyak, sosisnya tak akan padat. Bila terlalu sedikit, sosisnya akan hancur seperti tanah kering. Rafael mengelap pisau ke celemeknya, pikirannya melayang jauh dari morcilla. Dia perlahan berpaling dari antrean pelanggan lalu menengadah ke langit.

Di dalam pikirannya, hari itu adalah hari Minggu. Jarum jam menyentuh angka enam. Waktunya sudah tiba. Suara terompet dan alunan musik pasodoble bergulir di seantero arena. Rafael melangkah ke atas pasir, menuju ke tengah matahari.

Dia siap menghadapi rasa takut. Sang diktator Spanyol, Generalisimo Francisco Franco menempati tempat duduk di tengah arena matador. Mereka menjulukinya El Caudillo, pemimpin pasukan militer, pahlawan di mata keagungan Tuhan. Franco menunduk memperhatikan arena. Tatapan mereka beradu.

Kau tidak mengenalku, Generalisimo, tapi aku mengenalmu. Aku adalah Rafael Torres Moreno, dan hari ini, aku tidak takut. “Rafa!”, Mandor menepuk keras tengkuk basah Rafael. “Kau buta? Ada yang mengantre di sini. Berhentilah melamun. Darahnya, Rafa. Beri mereka darah. Rafa menganggukan kepalanya, kemudian berjalan menuju para pelanggan.

Bayangannya tentang arena matador lenyap seketika. Beri mereka darah. Ingatan tentang perang mengetuk otaknya. Suara kecil yang mengejek itu datang lagi, mencekik lamunannya menjadi mimpi buruk. Kau masih ingat, kan, Rafa? Dia masih ingat.

Siluetnya sangat jelas. Pria-pria berkulit mengkilap dengan jiwa-jiwa yang juga mengkilap Garda Sipil. Rafa diam-diam menjuluki mereka Pasukan Gagak. Mereka adalah pesuruh Generalisimo Franco dan mereka telah muncul di jalanan. “Kumohon. Jangan di sini,” bisik Rafael dari tempat persembunyiannya di bawah pepohonan.

Tangisan balita menggema di atas. Rafa melihat ke atas dan menemukan Julia di jendela yang terbuka. Ia sedang menggendong Ana, adik perempuan bungsu mereka. Suara ayah mereka membahana dari dalam. “Julia, tutup jendelanya! Kunci pintu dan tunggu ibumu. Di mana Rafa?”

“Di sini, Papa,” kata Rafael sambil menekuk kedua kaki kecilnya untuk bersembunyi. “Aku di sini.” Ayah Rafael muncul di pintu. Pasukan Gagak muncul di trotoar. Tembakan membahana. Kilatan meledak. Julia menjerit dari atas. Tubuh Rafa membeku. Tidak bernapas. Tidak ada udara. Tidak. Tidak. Tidak.

Mereka menarik tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. “Papa!” Terlambat. Rafa baru menyadari itu saat jeritan keluar dari tenggorokannya. Dia telah memberitahukan posisinya. Sepasang mata melirik. “Anak laki-lakinya ada di balik pohon. Tangkap dia.”

Rafa tersadar dan menyingkirkan memori menyakitkan itu, menyembunyikan suasana hatinya yang hancur di balik sebuah senyuman. “Buenos dias, Señora. Ada yang bisa kubantu?” dia bertanya kepada pelanggannya. “Darah.”

“Si, Senora”. Beri mereka darah. Selama lebih dari dua puluh tahun, Spanyol telah memberikan darah. Dan terkadang Rafa bertanya-tanya, apa lagi yang tersisa untuk diberikan?

Kelebihan Novel The Fountains of Silence

Bagi para penggemar history fiction, berdasarkan review novel The Fountains of Silence ini sangat direkomendasikan untuk Anda. Membaca novel The Fountains of Silence ini seperti membuka mata akan bagian lain dari Spanyol yang selama ini diketahui masyarakat umum. Tentunya, novel fiksi sejarah ini dapat memberikan banyak informasi dan pengetahuan baru tentang sejarah, terutama tentang Perang Saudara di Spanyol dan bagaimana kepemimpinan diktator Generalísimo Francisco Franco.

Tak seperti novel sejarah lain yang “gelap” dan mengisahkan pertumpahan darah, novel ini tidak banyak menyajikan peperangan, pemberontakan, kisah bersenjata, dan bentuk kekerasan lain. Novel ini lebih menekankan kepada kisah yang memengaruhi mental dan psikologis masyarakat Spanyol pada saat itu. Novel ini mengisahkan kehidupan setelah perang, kehidupan masyarakat yang dipenuhi teror dan ketakutan, mereka yang memiliki prinsip yang berbeda dengan Franco.

Penokohan dalam buku ini sangat kuat. Format penulisan novel ini juga unik, Ruta Sepetys membagi novel ini ke dalam bab-bab yang sangat singkat. Namun, berkat penokohan yang kuat, pembaca tidak merasa kebingungan untuk membedakan karakter yang satu dengan yang lain. Pembaca dapat merasa terikat dengan para karakter tersebut.

Ruta Sepetys juga dipuji, karena dapat menuliskan kisah ini dengan mengalir, dan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Novel ini juga menyelipkan kisah romansa yang manis dan elegan. Kemudian, Ruta Sepetys juga dipuji, karena ia melakukan riset selama delapan tahun, dengan menggali materi cerita dari banyak narasumber dan juga sumber buku.

Maka dari itu, buku ini banyak memuat data dan fakta di dalamnya. Meski begitu, kesan fiksi dalam kisah ini juga masih terasa. Selain itu, versi terjemahan novel ini dalam Bahasa Indonesia juga dinilai nyaman untuk dibaca.

Kekurangan Novel The Fountains of Silence

review novel the fountains of silence

Selain kelebihan, berdasarkan review novel The Fountains of Silence ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan pada novel ini terletak pada tempo alur cerita yang dinilai lambat. Hal ini cukup membuat sejumlah pembaca merasa jenuh, karena novel ini juga termasuk ke dalam bacaan yang berat, dengan memiliki total lebih dari 500 halaman.

Pesan Moral Novel The Fountains of Silence

review novel the fountains of silence

Melalui kisah The Fountains of Silence ini, kita dapat belajar bahwa pilihan hidup apapun yang kita ambil, pasti akan melibatkan pengorbanan. Termasuk pilihan kecil sekalipun. Misalnya, jika anda memilih untuk istirahat sejenak, itu berarti Anda mengorbankan waktu. Maka itu, Anda harus selalu berpikir matang sebelum membuat sebuah pilihan.

Melalui kisah ini, kita juga dapat belajar bahwa informasi merupakan suatu hal yang berkembang. Apa yang kita pikir kita mengetahuinya, pada realitanya dapat sangat berbeda dari kebenaran. Ketika mengetahui kebenaran, Anda harus mengatakannya keras-keras dan membantu yang lain melakukan hal yang sama. Sebab, kebenaran akan memutus rantai kebisuan.

Nah, itu dia Grameds ulasan novel The Fountains of Silence karya Ruta Sepetys. Bagi Anda yang penasaran akan kisah sejarah Spanyol, Anda bisa mendapatkan buku ini hanya di Gramedia.com

Rating: 4.31

Written by Gabriel