in

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli – Pernahkan sekali seumur hidupmu, kamu merasa sangat bersalah karena mengambil sebuah tindakan? Atau, pernahkah kamu merasa sangat bersalah karena kamu tidak mengambil sebuah tindakan? Atau, kamu juga pernah merasa sangat bimbang terhadap pilihan yang ada di depan mata?

Yang demikian itu bisa terjadi jika di dalam proses pengambilan keputusan, kamu terjebak oleh bias dan ilusi kognitif, yang dengan berbagai bentuk dan macamnya, dapat mengelabui pikiran jernih kamu dengan aspek-aspek yang tidak relevan dengan solusi dari masalah yang sedang dipikirkan.

Ini dapat dimaklumi bahwa hal-hal yang seperti itu adalah sifat alami manusia. Setiap manusia yang pernah hidup pasti pernah melakukan hal yang tidak benar. 

Namun, manusia berulang kali salah di tempat yang sama, bukanlah manusia yang belajar, bukanlah manusia yang berpikir. Maka dari itu, kita  sebagai manusia, seharusnya berusaha agar mencegah kesalahan yang sama, begitu pula menghindari kesalahan yang belum pernah kita alami dan mungkin akan terjadi di masa depan.

Beberapa orang percaya bahwa bertindak itu lebih baik daripada berdiam diri saja. Kadang kala ada waktunya harus berdiam saja karena mungkin meladeni orang bodoh dan tidak tahu dirinya bodoh itu akan membuang-buang waktu dan energi. 

Sehingga apapun yang dikatakan mau berdasar fakta sekalipun akan dianggap sebagai suatu hal yang tidak benar. Jadi lebih baik tidak usah melanjutkan perdebatan dengan seseorang yang memang tidak mau mendengar kebenaran.

Namun, terkadang pemikiran-pemikiran yang kita anggap rasional namun ternyata hanya sesat pikir belaka. Tahukah kamu terkadang ada beberapa sesat pikir yang sebenarnya telah kita sadari sebelumnya?

Namun, mengapa masih dilakukan? Yap, hal tersebut sengaja dilakukan untuk memanipulasi sifat dan juga motivasi yang ada dalam diri kita. 

Contohnya yang sering terjadi di sekitar kita, mungkin familiar dengan seseorang, bisa itu teman, keluarga, atau bahkan diri sendiri, membeli paket member gym padahal bukan seseorang yang menyukai olahraga. 

Akan menimbulkan pertanyaan yang bersifat menghakimi dan kita menjawabnya dengan alasan tidak mau rugi dan tidak sepenuhnya menyesal atas keputusan itu.

Skenario tersebut bisa dikategorikan salah satu sesat pikir, kenapa? Hal ini dikarenakan tidak adanya hubungan antara membayar iuran gym dengan rajin berolahraga. Uang yang sudah dibayarkan sudah hilang, tidak membuat kita otomatis menjadi rajin nge-gym juga. 

Ternyata, perasaan tidak mau dirugikan mempunyai efek yang sama loh dengan sahutan “ayo, kita olahraga. Janganlah malas!”. 

Namun, dimanipulasi menjadi “Ayo kita ke gym, kan sudah bayar”, karena kedua pemikiran itu sama-sama bertujuan mengajak kita untuk berolahraga. Kita berpikir dengan melakukan pengorbanan lebih banyak membuat kita berpikir akan lebih mudah untuk termotivasi.

Membicarakan tema terkait self improvement, dalam artikel ini akan membahas buku dengan judul The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli dimana isi buku tersebut menjelaskan tentang bagaimana dalam pengambilan keputusan yang dilakukan sehari-hari.

Mari kita simak artikel ini selengkapnya.

Tentang Buku

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Penulis: Rolf Dobelli

Tanggal Terbit: Oktober 2019

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: 358 Halaman

ISBN: 9786024244064

Pros & Cons

Pros Cons
  • Isi buku memiliki gaya bahasa yang tidak rumit
  • Penjelasan yang rinci memudahkan pembaca untuk mudah mengerti dalam mengikuti isi dalam buku.
  • Bahasa terjemahan mudah dimengerti.
  • Beberapa pembahasan mengkritisi hasil karya dari orang lain

Sinopsis

Ada beberapa bias dan ilusi pikiran yang dapat di dalam kehidupan keseharian manusia.  Yang pertama adalah Social Proof, yaitu suatu kecenderungan pada diri kita untuk bisa mempercayai dengan apapun yang masyarakat mayoritas katakan. Contohnya seperti ketika sebagian besar masyarakat memutuskan memilih golput dalam suatu pemilihan umum, maka mereka yakini bahwa golput tersebut adalah hal yang baik. Pernyataan ini sekilas mirip dengan dogma, kita akan langsung ikut mempercayai saja bahwa golput itu baik, tanpa mau mencari tahu dan meneliti apakah perbuatan tersebut sesungguhnya adalah hal yang baik.

Lalu ada, House money effect adalah suatu kecenderungan untuk menganggap remeh sesuatu yang didapatkan dengan mudah seperti hadiah kuis, sumbangan dermawan, dsb, sehingga merasa mudah untuk menghabiskan nya. Sangat sering di akhir merasakan bersalah atas perbuatan itu.

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Buku ini dimulai dengan pembahasan yaitu memahami yang menjadi cognitive error dalam keputusan sehari-hari. Kegagalan dalam berpikir jernih atau secara ilmiah sering dikenal dengan nama cognitive error.

Ini adalah sebuah penyimpangan sistematis dari logika, yaitu dari pemikiran dan perilaku yang optimal, rasional, dan masuk akal. Sistematis di sini bukan hanya kesalahan penilaian sekali, melainkan kesalahan yang berulang-ulang, mengulangi pola yang sama dari suatu generasi ke generasi lainnya.

Kita sering menemukan hambatan terhadap logika setiap harinya. Jika bisa mengenali dan belajar menghindari kesalahan terbesar dalam berpikir, baik dalam kehidupan pribadi, tempat kerja atau dalam pemerintahan, mungkin akan terjadi loncatan yang semakin baik dalam meraih kemakmuran dan keberhasilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemenangan dibuat lebih terlihat daripada kegagalan, sehingga secara sistematis melebih-lebihkan peluang untuk berhasil. Sebagai outsider, kita menyerah pada ilusi dan kita  keliru betapa sangat kecilnya kemungkinan kesuksesan  tersebut. Hal ini dikenal dengan survivorship bias. 

Sebagai contoh, misalnya ketika seseorang sedang tekun membagikan tulisan-tulisan inspiratif serta membagikannya, seseorang tersebut tidak berarti sukses karena terus membuatnya. 

Namun, pada waktu yang sama, cara yang terbaik dan tepat untuk mempunyai sebuah  kesempatan dan berhasil adalah dengan tidak berhenti dan harus tetap berpegang teguh untuk terus melakukannya.

Dibalik setiap penulis terkenal, bisa ditemukan lebih dari seratus penulis yang bukunya tidak pernah terjual. Di balik mereka, ada lebih dari ratusan orang yang tidak mendapatkan penerbit. 

Tak hanya itu, dibalik semua itu, adapun ratusan manuskrip buku yang telah menggunung dan tidak terselesaikan yang berujung hanya menjadi sebuah sampah.

Di balik orang-orang ini, terdapat lebih dari seratus orang yang bermimpi suatu hari menjadi penulis buku. Pada umumnya hanya mendengar penulis-penulis yang sukses, dan seringkali kita gagal menyadari dan memahami betapa kecil kemungkinan kesuksesan itu. 

Hal ini sering terjadi dalam cara berpikir sehari-hari. Dimana survivorship bias adalah salah satu contoh yang sering kita hadapi di kehidupan sehari-hari.

Kecenderungan orang akan memilih berdasarkan pada apa yang ada pada dirinya dan mereka akan membuat keputusan berdasarkan dari informasi yang mudah didapat. Absen jauh lebih sulit dideteksi daripada kehadiran. 

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa orang memiliki kecenderungan untuk lebih menekankan pada apa yang ada dan dimiliki dibandingkan dengan apa yang tidak ada atau tidak dimiliki.

Dari sinilah juga bisa menunjukkan bahwa kita sebenarnya mengalami masalah dalam memahami sesuatu yang tidak benar-benar ada. Hal ini disebut fitur positif.

Contoh sederhana misalnya menyadari jika ada perang, tapi tidak menghargai  tidak adanya perang selama masa damai. Atau misalnya bila sedang sehat, jarang berpikir sakit. Apa yang ada cenderung dilihat lebih besar dibandingkan apa saja yang tidak ada. 

Efek ini mempunyai konsekuensi bahwa kita jauh lebih terbuka pada nasihat positif daripada saran negatif, tidak peduli kemungkinan betapa bergunanya yang terakhir. 

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Hal yang paling menarik tentang efek fitur positif ini adalah bahwa suatu fenomena atau bias psikologis secara berlangsung berlaku untuk pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan availability bias, dimana orang membuat keputusan berdasarkan informasi yang mudah didapat dan bukan informasi yang benar. Misalnya seseorang mengatakan, merokok tidak akan berakibat buruk padamu, kakek saya merokok tiga pak sehari dan hidup lebih dari sembilan puluh tahun, orang menggunakan pernyataan seperti ini untuk membuktikan sesuatu. 

Namun, sebenarnya hal tersebut tidak membuktikan apapun. Availability bias berbicara tentang bagaimana menciptakan gambaran dunia dengan suatu contoh yang paling mudah muncul di pikiran. 

Ini sebenarnya agak aneh, karena tentu saja pada kenyataannya hal-hal tidak menjadi lebih sering terjadi hanya karena dapat memahaminya dengan lebih mudah.

Bila sesuatu dilakukan secara berulang dan cukup sering, hal itu tersimpan dalam garis terdepan pikiran kita. Itu bahkan tidak selalu benar. 

Dengan kata lain, orang cenderung akan lebih memilih informasi yang mudah untuk didapatkan dan membuat keputusannya itu berdasarkan informasi tersebut dibandingkan dengan informasi yang lebih relevan namun sulit didapatkan. 

Orang cenderung memilih informasi yang salah daripada tidak memiliki informasi. Disinilah availability bias terjadi.

Bias dari perbandingan sosial dan efeknya yang kontras dalam keputusan sehari-hari. Secara alami, orang merasa takut pada orang yang lebih baik daripada dirinya sendiri dalam beberapa hal. Ini disebut dengan social comparison bias. 

Jadi, adanya kecenderungan untuk menolak dalam memberikan bantuan kepada orang yang mungkin akan mengalahkan dirinya dalam beberapa bidang keahlian tertentu. 

Seperti misalnya anda membina individu yang lebih berbakat daripada diri anda. Dalam jangka pendek mungkin banyaknya orang-orang berbakat dapat membahayakan status anda, tetapi dalam jangka panjang bisa mendapatkan keuntungan dari kontribusi mereka. 

Orang lain akan menyusul pada tahap tertentu, maka belajarlah darinya. Dengan saling mendukung dan mengembangkan satu sama lain, maka kedepannya akan saling menguntungkan.

Bias ini bisa terjadi ketika seseorang memiliki cenderung untuk tidak menerima bantuan kepada orang-orang yang mungkin pada akhirnya bisa mengalahkan dirinya karena dirasa lebih unggul. 

Sejalan dengan bias perbandingan sosial ini, sering pula kita alami efek kontras yakni menilai sesuatu dan membandingkan dengan hal-hal lain yang tajam kontrasnya. 

Efek kontras berbicara ini bisa juga tentang pengambilan keputusan yang pada akhirnya akan dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan bukan karena hasil opsi saat ini. Kecenderungannya orang tersebut akan membandingkan sesuatu yang bernilai tinggi dan sesuatu yang bernilai rendah.

Selain itu, kecenderungan orang lebih menyukai cerita yang memikat dan menarik, dibandingkan penjelasan yang sesungguhnya. 

Review Buku The Art of Thinking Clearly Karya Rolf Dobelli

Biasanya pada aktivitas sehari-hari pernah merasakan kesulitan mengingat beberapa item dalam daftar belanja yang sudah dibuat sebelumnya. Namun, menariknya tidak mengalami kesulitan sama sekali mengingat detail rumit dan plot film yang dilihat minggu lalu.

Ini karena kita memerlukan informasi dalam membentuk sebuah cerita yang bermakna, sebelum masuk akal bagi kita. Sebaliknya, kita menolak detail  abstrak. Fenomena ini sangat tercermin di media loh, dimana fakta-fakta yang relevan dan sesuai menduduki posisi belakang untuk menjadi sebuah narasi yang menghibur. 

Faktanya orang cenderung lebih menyukai cerita yang eksotis dan menarik, atau deskripsi yang memikat. Oleh karena itu, kita seringkali mengabaikan penjelasan yang lebih memungkinkan dan masuk akal untuk sebuah peristiwa. Kecenderungan berpikir ini seperti inilah yang disebut dengan the story bias.

Pengambilan keputusan dapat begitu melelahkan, terutama ketika dihadapkan dengan banyaknya pilihan. Kita sering menghadapi pilihan tanpa batas,  umumnya dalam hal produk dan gaya hidup. Misalnya menentukan universitas terbaik, mungkin akan dihadapkan dengan beberapa pilihan. 

Bagi kebanyakan orang, hal ini sulit untuk dikelola. Membuat keputusan dapat menjadi begitu melelahkan. Siapapun yang pernah mengkonfigurasi laptop secara online atau melakukan perjalanan panjang seperti mengurus penerbangan, hotel, aktivitas liburan, memilih restoran, tentu akan memahami dan mengerti hal ini dengan baik.

Setelah membandingkan, mempertimbangkan dan memilih, kemudian anda akan terasa kelelahan. 

Hal ini disebut decision fatigue. Jadi untuk menghindari jebakan-jebakan dalam pengambilan keputusan, harus menyadari keputusan sempurna tidaklah mungkin. Paradox of choice menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan, makan membuat semakin tidak yakin. Sehingga bisa menyebabkan kepuasan setelahnya. 

Oleh karenanya berikanlah keputusan menurut kriteria, lalu wujudkan keputusan itu. Sadarilah bahwa akan lebih baik bila belajar mencintai pilihan yang baik, daripada berjuang untuk pilihan terbaik.

Mau tau apa saja pembahasan selengkapnya, anda bisa mendapatkan secara menyeluruh dengan mengakses Gramedia.com untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan detail dari buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli.

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam pembahasan ini akan dijabarkan beberapa kelebihan yang terdapat dalam buku The Art of Thinking Clearly. isi buku memiliki gaya bahasa yang tidak rumit, sehingga para pembaca bisa memahami dan mengerti isi keseluruhan bukunya. Lalu, penjelasan nya dibuat lebih rinci berdasarkan data dan fakta oleh penulis, sehingga keabsahan teori dan fakta dari isi buku ini tidak perlu diragukan lagi.

Selain itu, ada juga kekurangan yang ditampilkan dalam buku ini, beberapa pembahasan penulis menjustifikasi keaslian dari karya orang lain, dengan menganggap bahwa ada unsur plagiatism dalam karya tersebut.

Secara keseluruhan buku ini adalah salah satu buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Buku ini mendapat rating yang cukup tinggi 3,85 di goodreads, buku yang tidak boleh dilewatkan untuk dibaca.

Kesimpulan

The Art of  Thinking  Clearly mengungkapkan penting dalam pengambilan keputusan sehari-hari, baik untuk masalah personal maupun bisnis, dari perspektif psikologi, dan perilaku manusia. Dalam buku ini, pembaca akan memahami cognitive  error yang seringkali terjadi dalam keseharian dan belajar mengatasinya. 

Sehingga para pembaca dapat memilih dan mengambil keputusan dengan lebih jernih. Buku ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik di bidang psikologi. 

Kegagalan untuk berpikir secara jelas dan jernih inilah atau yang secara ilmiah sering disebut dengan cognitive error, seringkali menjadi kesalahan rutin sehari-hari. 

Sangatlah memprihatinkan ketika kesalahan itu terus berulang dan mengikuti pola yang sama. Buku ini memberikan banyak cerita dan pengalaman yang menjelaskan cognitive error yang umumnya dihadapi sehari-hari.

Kumpulan cerita dan pengalaman tentang cognitive error yang disajikan dalam buku ini, akan membantu para pembaca untuk melihat dengan lebih jelas dan jernih. Sehingga kamu dapat membuat keputusan lebih baik lagi kedepannya. 

Buku ini memang tidak memberikan langkah-langkah tentang pengambilan keputusan yang bebas dari kesalahan, tetapi buku ini bisa membantu anda mengenali cara berpikir yang keliru, baik dalam pekerjaan, urusan pribadi, dan atau kehidupan sehari-hari.

Sesat pikir atau kekeliruan bernalar timbul karena otak kita aslinya berkembang di dunia zaman dulu yang amat berbeda dengan dunia saat ini. Maka agar dapat berpikir jernih dan membuat keputusan lebih baik dalam dunia bisnis, kemasyarakatan, maupun kehidupan pribadi, kenalilah sembilah puluh sembilan sesat pikir itu.

Demikianlah review buku dari The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli. Semoga artikel ini dapat berguna, serta bisa menumbuhkan minat dalam membaca buku. 

Anda bisa mendapatkan dan mencari informasi buku best seller lainnya yang menarik, langsung saja anda mengakses Gramedia.com untuk mendapatkannya.

Written by Mega