Sejarah

Menilik Sejarah Lawang Sewu yang Wajib Kamu Ketahui

Sejarah Lawang Sewu
Written by Ananda

Sejarah Lawang Sewu – Gedung yang berdiri kokoh dan megah di simpang lima kota Semarang itu masih menjadi jantung kota Semarang hingga kini. Lawang Sewu menjadi saksi bisu sejarah dan kehidupan lintas waktu, perkembangan budaya serta perubahan zaman. Di antara hiruk pikuk peradaban kota yang semakin maju, Lawang Sewu masih berdiri statis sebagai kebanggaan masyarakatnya di setiap generasi.

Kehadirannya yang berada di jantung kota seolah menjadi poros yang akan selalu diikuti orang-orang yang membawa cerita masing-masing. Jauh-dekat jarak pun sering kali tak menjadi masalah bagi mereka yang sangat ingin menyaksikan salah satu peninggalan sejarah besar bangsa ini.

Bahkan dengan sendirinya, Lawang Sewu telah memiliki pesona yang membuat banyak orang untuk tidak bisa tak menoleh ke arahnya. Kokohnya tembok putih Lawang sewu yang menawan dari depan hingga bangunan paling belakang, ukiran arsitektur dengan sentuhan gaya Hindia Baru sudah cukup membuat takjub.

Sejarah Lawang Sewu yang panjang juga memberikan sentuhan magis dan juga mistis, semakin memperkuat keindahan bangunan ini sebagai tempat bersejarah paling wajib dikunjungi.

Lawang Sewu mungkin bukan menjadi satu-satunya bangunan bersejarah kota Semarang, tapi setidaknya disana terdapat banyak cerita yang mempengaruhi sejarah perkeretaapian di Indonesia. Lantas bagaimana dengan desas-desus cerita mistis yang juga dipercayai masyarakatnya? Mungkin memang benar jika tak hanya sejarah indah saja yang ada disana. Oleh karena itu, mengenal sejarah Lawang Sewu mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu.

Mengenal Lawang Sewu

Sejarah Lawang Sewu

pexels.com

Etimologi

Nama Lawang Sewu yang merupakan bahasa jawa berarti ‘seribu pintu’. Nama tersebut juga sebuah julukan supaya masyarakat lebih mudah menyebutkannya. Dalam bahasa Belanda Lawang Sewu juga disebut dengan Het administratiegebouw van de Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij. Gedung tersebut sebenarnya merupakan gedung perkantoran milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Saat ini bangungan ini menjadi aset miliki PT Kereta Api Indonesia (KAI), yang menjadi museum serta galeri untuk mengenang sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Tata Letak

Disebut Lawang Sewu juga karena jumlah pintu yang ada di gedung ini sebanyak 429 buah, beserta jendela tinggi sebanyak 1000. Gedung yang memiliki 3 lantai ini tepatnya beralamat di Jalan Pemuda, di tengah Kota Semarang. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tahun 1904 dan selesai pada 1919. Namun, gedung ini sudah mulai dibuka untuk digunakan pada sekitar tahun 1907.

Secara keseluruhan, Lawang Sewu ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari dua bangunan utama. Setiap bangunan memiliki dua gedung A dan B, serta C dan D. Gedung A merupakan bangunan yang menghadap ke Tugu Muda dan memiliki dua menara kembar. Bangunan pertama ini juga kebanyakan menggunakan kaca patri besar, tangga utama di bagian tengah serta jalur menuju lorong bawah tanah.

Tepat di belakang gedung A, merupakan gedung B yang memiliki 3 lantai. Pada lantai 1 dan 2 sering digunakan untuk bagian perkantoran, sedangkan lantai 3 berfungsi sebagai loteng.

Sejarah

Sama halnya dengan tempat bersejarah lainnya, Lawang Sewu juga merupakan bangunan tua yang menjadi saksi bisu perubahan zaman serta peradaban di sekitarnya. Untuk membicarakan sejarah Lawang Sewu, mungkin kita harus kembali pada tahun 1864 saat program pemerintahan Belanda ingin membuat jalur kereta api pertama kali di Indonesia.

Pada saat itu, untuk menempuh perjalanan antar kota membutuhkan waktu yang cukup lama. oleh karena itu, pemerintah Belanda memutuskan membangun jalur kereta api untuk menghubungkan Semarang-Solo-Yogyakarta dan juga Kedungjati hingga Ambarawa.

NIS menghubungkan Stasiun Samarang dan stasiun Tanggung yang dimulai pada 1864-1867. Pada awalnya, pembuatan jalur kereta api ini bertujuan untuk mengangkut hasil tani dan perkebunan dari Kraton Solo dan Kraton Yogyakarta ke pelabuhan Semarang. Dengan adanya perkembangan teknologi ini, membuat pihak NIS menjadi sukses besar dan semakin banyaknya pegawai membuat mereka memutuskan membangung kantor baru.

Kantor yang akan mereka gunakan untuk semua urusan administrasi tersebut berada di Jalan Pemuda di kota Semarang. Sehingga pada 1904, proses pembangunan gedung kantor itu pun dimulai dengan menunjuk J.F. Klinkhamer dan B.J. Queendag sebagai koordinator perencanaan, serta memilih Cosman Citroen sebagai arsitek untuk gedung tersebut.

Melalui proses pembangunan bertahap, gedung Lawang Sewu akhirnya selesai dibangun pada 1918. Gedung ini menjadi kantor Pusat Perusahaan Kereta Api swasta milik NIS, namun ketika Belanda mundur dan pemerintahan diambil alih oleh Jepang pada 1942.

Sehingga pada 1942-1945 gedung Lawang Sewu menjadi Kantor Ryuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Pihak Jepang tak hanya menggunakan Lawang Sewu sebagai kantor transportasi, tapi juga menggunakan ruang bawah tanah sebagai penjara untuk eksekusi mati. Kemudian pada 1945, tepatnya bulan Oktober pemerintah Belanda ingin merebut kembali wilayah Semarang, sehingga menimbulkan perang yang berhasil membuat pihak Jepang mundur.

Setelah perang akhirnya gedung ini berubah lagi kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Namun, kemudian kantor DKARI harus berpindah ke bekas kantor de Zustermaatschappijen karena Lawang Sewu akan menjadi markas tentara Belanda pada 1946.

Tahun 1994, gedung Lawang Sewu akhirnya kembali diserahkan PT Kereta Api Indonesia yang kemudian dilakukan restorasi pada tahun 2009. Semua dinding di cat ulang, ruangan dibersihkan dan renovasi pada beberapa bagian gedung, semata-mata karena gedung ini telah menjadi salah satu cagar budaya Indonesia.

Oleh sebab itu, 2011 lalu, Ibu Negara Ani Yudhoyono kembali meresmikan gedung yang kini berstatus sebagai museum yang menjadi tempat pariwisata domestik dan mancanegara. Kini di Lawang Sewu tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah perkembangan transportasi kereta api Indonesia, tapi juga menjadi gedung museum kereta api yang menyimpan banyak cerita serta perjuangan para pendahulu kita.

Sejarah Lawang Sewu

Fakta Menarik dari Lawang Sewu

Sejarah Lawang Sewu

pexels.com

Ternyata, Lawang Sewu juga memiliki beberapa fakta menarik, antara lain:

1. Desain Bangunan Berdasarkan Kondisi Iklim

Seperti yang kita tahu bahwa gedung Lawang Sewu ini memiliki kharisma yang unik, dimana semua orang yang melihatnya pasti ingin menoleh ke arahnya. Tentu, hal tersebut bukan tanpa alasan. Lawang Sewu tampak mewah dengan desain bangunan khas rupanya merupakan hasil dari pemikiran yang cukup lama dan detail.

Awalnya, seorang arsitek bernama P.de Rieu menjadi pembuat rancangan gedung untuk perkantoran NIS ini, tetapi akhirnya desain tersebut dirasa kurang baik sehingga mereka mengganti arsitek. Hasil kerja sama Jacob K.Klinkhamer, B.J Oedang, dan arsitek mudah G.C.Citroen membuahkan sebuah rancangan besar yang menawan.

Gedung Lawang Sewu ini rupanya dibangun untuk menyesuaikan kebutuhan pekerja dengan iklim yang ada di Indonesia yang tropis dan cenderung lembab. Oleh karena itu, gedung ini memiliki jendela yang lebar-lebar dan banyak supaya sirkulasi udara disana baik. Serta pintu yang banyak dan saling menghubungkan ruangan satu sama lain untuk mempermudah gerak pekerja menuju ruangan lain.

Sama halnya dengan gaya bangunan kolonial khas hindia belanda, Lawang Sewu juga memiliki tipe atap double gevel sebagai solusi untuk sirkulasi udara yang jauh lebih baik. Selain itu arsitek Lawang Sewu menganut gaya Romanesque Revival yang khas dengan sisi lengkung di setiap sudutnya. Belum lagi menara kembar yang juga menjadi khas bangunan Eropa juga menjadi ikonik Lawang Sewu.

2. Denah Ruang Menyesuaikan Kebutuhan

Dibalik gedung-gedung megah Lawang Sewu juga memuat semua kebutuhan para pegawai setempat. Yang mana setiap ruangan dalam gedung memiliki masing-masing fungsinya. Seperti bangunan untuk perkantoran dengan pintu-pintu saling terhubung, supaya para pegawai mudah melakukan mobilisasi kerja.

Ruang aula besar yang berfungsi sebagai gedung pertemuan, rapat dan berbagai jenis acara. Menara kembar yang menjadi tempat menampung air. Ketika memasuki gedung Lawang Sewu kamu mungkin bisa melihat bahwa lantai 1 menjadi museum yang berisi tentang dokumentasi dan juga sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain itu, pada lantai Kemudian pada lantai dua berisi aula, dan ruang rekreasi dan olahraga di lantai 3.

3. Mengandung Nilai Seni

Ketika memasuki bangunan tua Lawang Sewu kamu mungkin akan terpesona dengan gaya menarik bangunan yang juga memiliki nilai-nilai seni. Seperti kaca patri yang diletakan tepat di atas tangga utama, memiliki nilai filosofis.

Ornamen empat kaca patri tersebut memiliki nilai dan harapan yang berbeda. Kaca patri pertama melambangkan keindahan tanah jawa yang penuh dengan sumber daya alam. Mulai dari flora, fauna hingga hasil buminya, kemakmuran tersebut digambarkan dengan indah dengan sedikit sentuhan gaya Eropa.

Kaca patri kedua merupakan refleksi kisah tentang Semarang dan Batavia kala itu, dimana kedua kota besar ini menjadi pusat kegiatan maritim. Kemudian pada kaca patri berikutnya merupakan lambang roda terbang dan gambar Dewi Fortuna dan Venus sebagai simbol keberuntungan dan cinta.

Pada bidang lengkung yang berada di atas balkon juga terpahat karya seni dari tembikar oleh H.A Koopman. Ada pula kubah kecil di atas menara air yang berlapis tembaga yang dirancang oleh L. Zijl.

4. Kisah Urban Legend di Lawang Sewu

Tak dapat dipungkiri, Lawang Sewu juga tidak jauh dari kata mistis. Apalagi bangunan tersebut pernah kosong dan mangkrak untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya dilakukan renovasi ulang. Mendengar nama Lawang Sewu kadang juga membuat kita penasaran tapi juga takut karena ada banyak kisah-kisah mistis yang menjadi urban legend dan terkenal dalam masyarakat.

Sepeninggal NIS dari Lawang Sewu, gedung tersebut digunakan oleh pihak Jepang sebagai kantor dan juga penjara di bagian bawah tanahnya. Dibalik kemegahan gedung ini, Jepang juga kerap melakukan eksekusi terhadap para tahanannya, dan membuang mayat mereka ke lubang pembuangan.

Oleh karena itu, tidak heran apabila Lawang Sewu juga meninggalkan kisah duka dan pilu didalamnya. Bahwa mungkin ada lebih banyak peristiwa lain yang tak terungkap kisahnya, menjadikan gedung belakang dan bagian bawah tanahnya menyisakan cerita kurang menyenangkan.

Banyak yang percaya bahwa ada banyak penampakan dan hal-hal mistis yang terjadi di bawah Lawang Sewu. Sehingga, pengunjung pun tak diperbolehkan masuk ke beberapa bagian gedung Lawang Sewu demi alasan keamanan dan kenyamanan.

5. Perang Lima Hari

Perpindahan kepemilikan gedung Lawang Sewu sebagai kantor NIS kepada Jepang terjadi pada tahun 1942. Setelah dimiliki oleh pihak Jepang, pada tahun 1945 para pemuda Semarang memutuskan untuk memperebutkan Lawang Sewu. Sehingga pada 15-19 Oktober, selama lima hari berturut-turut Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) bertempur dengan tentara Jepang di depan Gedung.

Pihak tentara Jepang yang berjumlah sekitar 500.000 orang berada di dalam dan sekitar gedung, sedangkan pihak AMKA berada di seberang jalan yakni Wilhelminaplein atau sekarang dikenal sebagai daerah Tugu Muda. Pasukan AMKA yang kalah jumlah bertahan selama lima hari meskipun pada akhirnya tetap kalah.

Perang yang menyisakan kekalahan dan kesedihan membuat banyak pejuang gugur. Pemuda pemberani dipindahkan untuk dimakamkan di Giri Tunggal, karena sebelumnya hanya di taman Tugu Muda.

6. Menjadi Tempat Spot Foto Terbaik

Tak dapat dipungkiri, keindahan bangunan tua Lawang Sewu tetap memukau untuk menjadi latar foto terbaik. Desain bangunannya yang unik dan bergaya Hindia Belanda, membuat setiap sudut Lawang Sewu tampak menawan. Mulai dari bagunan depan yang menunjukan bangunan kok layaknya istana, lorong-lorong dinamis yang khas, hingga taman depan lawang sewu juga sering menjadi spot foto, bahkan tempat untuk pre-wedding.

Terlebih lagi nuansa Lawang Sewu menuju senja dengan lampu-lampu temaram oranye membuat mood foto semakin aesthetic lagi. Bahkan Lawang Sewu kadang juga menjadi tempat penyelenggaraan acara dengan nuansa semi outdoor.

Sejarah Lawang Sewu

7. Lawang Sewu Sebagai Tempat Wisata Wajib di Kunjungi di Semarang

Jika membahas mengenai Kota Semarang, Lawang Sewu tentu menjadi salah satu tempat ikonik kota tersebut. Sama dengan tempat wisata wajib di Semarang, Lawang Sewu ikut menjadi salah satu tempat bersejarah yang berpengaruh bagi Kota Semarang. Jadi, tidak heran apabila mengunjungi Kota Semarang, semua wisatawan akan setidaknya sekali berkunjung ke Lawang Sewu. Menyaksikan peninggalan sejarah bangsa yang tak boleh dilewatkan.

Tempat Ikonik di Semarang Selain Lawang Sewu

Selain Lawang Sewu beberapa tempat ikonik lainnya juga menjadi harta Kota Semarang yang tidak boleh kamu lewatkan. Sebut saja Kota Lama Semarang yang menjadi kawasan cantik khas Hindia Belanda sama dengan Lawang Sewu.

Kota Lama ini dulunya menjadi suatu kawasan perdagangan yang digunakan masyarakat Semarang sejak abad 19 hingga abad 20. Di daerah ini juga terdapat benteng Vijhoek dengan jalan utamanya yang diberi nama Heerenstraat.

Tak hanya peninggalan Belanda saja, Kota Semarang juga memiliki Sam Poo Kong yang ikonik di jalan Simongan, Bongsari. Sebagai salah satu klenteng terbesar di Semarang, Sam Poo Kong juga merupakan peninggalan seorang Laksamana Tiongkok yang beragama Islam Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo.

Tidak hanya tiga tempat bersejarah itu saja, tapi Semarang juga memiliki lebih banyak tempat wisata menarik seperti Masjid Agung dan juga berbagai tempat lainnya yang cocok untuk hangout. Apabila kamu memiliki rencana berkunjung ke Kota Semarang ini, kamu bisa mencari berbagai rekomendasi tempat nongkrong, tempat bersejarah yang wajib dikunjungi, bahkan wisata kuliner khas Semarang. Semua rekomendasinya bisa kamu dapatkan di buku ini!

Sejarah Lawang Sewu

Kesimpulan

Sejarah perkeretaapian di Indonesia mungkin masih jarang diketahui. Sebab Indonesia sendiri memiliki banyak sejarah yang panjang, apalagi jika ingin membahas pada setiap daerahnya.

Oleh karena itu, belajar sejarah secara umum saja tidak cukup membuat kita memahami begitu besarnya bangsa ini, dan begitu banyak hal yg telah dilaluinya. Lawang sewu yang menjadi saksi bisu dari panjangnya sejarah Kota Semarang, juga menjadi bukti adanya perkembangan dalam sebuah peradaban.

Dari sejarah Lawang Sewu, kita belajar bahwa semua kemajuan teknologi dan kemudahan yang kita rasakan di hari ini bukan hanya hasil dari percobaan ribuan kali saja. Melainkan juga jerih payah para pendahulu kita yang berjuang dalam pembangunan, perebutan kekuasaan hingga pengorbanan.

Pada akhirnya, saat waktu telah berlalu maka harga dari sebuah pencapaian hanya bisa dimengerti dengan belajar sejarah. Dari sana kita mampu memperbaiki hal-hal yang dilewatkan di masa lalu.

Demikian pembahasan tentang sejarah Lawang Sewu beserta fakta-fakta menariknya. Semoga semua pembahasan di atas dapat menambah wawasan kamu.

Jika ingin mencari berbagai macam buku tentang Semarang, maka kamu bisa mendapatkannya di gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Inka

BACA JUGA:

  1. 10 Bangunan Sejarah Indonesia yang Wajib Grameds Kunjungi
  2. 10 Tempat Bersejarah di Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi 
  3. Sejarah Candi Borobudur: Warisan Dunia Peninggalan Dinasti Syailendra 
  4. Sejarah Candi Prambanan dan Awal Mulanya Dibuat dan Diciptakan
  5. 15 Daftar Peninggalan Kerajaan Hindu yang Tersebar di Nusantara 


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien