Tokoh

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia dan Sejarahnya

pendiri permainan sepak bola
Written by Nandy

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia – Siapa yang tidak mengenal sepak bola? Olahraga yang jadi favorit mayoritas kaum adam ini telah memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Gegap gempita dapat Anda rasakan jika turnamen besar seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions Eropa, bahkan Liga Indonesia. Tentu menarik membahas sepak bola. Namun tidak ada salahnya donk kalau Anda perlu kenalan lebih dulu dengan pendiri sepak bola di Indonesia.

Sepak Bola di Indonesia

Belum ditemukan literatur yang menyebutkan kapan tepatnya sepak bola mulai masuk di Indonesia. Namun, referensi paling banyak menyebutkan bahwa permainan sepak bola mulai masuk ke Nusantara setelah permainan tersebut diciptakan di negara asalnya, yakni China.

Pada abad ke-2 atau 3 sebelum masehi, tepatnya pada masa kekuasaan Dinasti Han, masyarakat di sana melakukan permainan dengan menggiring bola yang terbuat dari kulit. Setelah digiring, bola tersebut ditendang ke jaring kecil. Permainan yang sama juga dilakukan di Jepang dengan nama Kemari.

Permainan ini kemdian menyebar ke seluruh dunia dengan peraturan-peraturan yang telah disesuaikan dengan jaman dan kebutuhan. Sampai lahirlah sepak bola yang kita kenal seperti saat ini.

Sepak bola di Indonesia mulai dipertandingkan secara terorganisir sejak jaman penjajahan pemerintah Hindia Belanda. Saat itu, banyak pertandingan sepak bola antar wilayah di masing-masing kota, terlebih di Pulau Jawa. Bukan hanya pertandingan, melainkan sudah dalam bentuk kompetisi.

Organisasi yang menaungi sepak bola pada jaman itu bernama Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Kemudian pada tahun 1927, organisasi ini berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Organisasi ini tentunya berdiri sebelum terbentuknya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kita kenal hingga saat ini.

Pada tahun 1930, para tokoh organisasi sepak bola di tanah air berkumpul untuk membahas pendirian sebuah organisasi sepak bola nasional yang memiliki idealisme sesuai dengan cita-cita rakyat Indonesia. Perlu diketahui, permainan sepak bola di jaman tersebut dapat dijadikan sebagai momen untuk menyusun perlawanan terhadap pemerintahan Belanda.

Organisas yang turut dalam perkumpulan tersebut berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ) dari Jakarta, Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) dari Bandung, Persatuan Sepak Bola Mataram Yogyakarta (PSM) dari Jogjakarta, Vortendlandsche Voetbal Bond Solo (VVB), Madionsche Voetbal Bond (MVB) dari Madiun, Indonesische Voetbal Magelang (IVBM), hingga Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) dari Surabaya.

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Sebelum kita membahas lebih jauh, perlu sekali membedakan antara pencetus olahraga sepak bola Indonesia pertama dan pendiri badan sepak bola nasional se-Indonesia. Pencetus sepak bola Indonesia belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali membawa ke Indonesia. Sementara pendirian organisasi sepak bola PSSI dapat diketahui dengan mudah.

Mungkin Anda terfikir bahwa pendiri sepak bola Indonesia adalah seorang atlet. Bukan, Grameds. Pendiri sepak bola Indonesia merupakan seorang insinyur berlatar belakang pendidikan teknik.

Ialah Ir. Soeratin Sosrosoegondo yang mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai pendiri sepak bola Indonesia. Pria kelahiran Jogjakarta ini menempuh studi di Koningen Wilhelmina School di Jakarta kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya hingga ke Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman pada tahun 1920. Ia kemudian menyelesaikan gelar insinyurnya di bidang Teknik Sipil pada tahun 1920.

Perjuangan Ir. Soeratin Sosrosoegondo

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Sumber: kompas.com

Paa tahun 1928, selepas lulus dari Jerman, Soeratin memutuskan untuk pulang ke tanah air. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan yang bernama Sizten en Lausada yang pusatnya di Jogjakarta.

Di perusahaan berbendera Belanda tersebut, Soeratin merupakan satu-satunya orang Indonesia yang menduduki posisi jajaran petinggi (sejajar dengan komisaris) di sana. Selama bekerja di sana, ia terlibat dalam beberapa proyek seperti pembangunan gedung dan jembatan di Bandung dan Tegal.

Tak lama berselang, jiwa nasionalisme yang ada di dalam dada Soeratin bergejolak melihat kolonialisme Belanda yang semakin menjadi-jadi. Hal ini menggelorakan semangatnya untuk mempersatukan para pemuda di Indonesia membangun upaya perlawanan bersama-sama.

Ia pun memilih untuk resign dari pekerjaan mapannya tersebut. Ia rela meninggalkan jabatan terhormat tersebut untuk berjuang membela bangsanya. Keputusan ini tentu tidak mudah, Grameds. Sebab Sizten en Lausada merupakan salah satu perusahaan yang terkemuka.

Soeratin pun aktif di ranah pergerakan. Di sisi lain, ia memiliki hobi bermain sepak bola. Maka ia ingin memulai pergerakan melalui sepak bola. Olahraga ini ia jadikan media pemersatu pemuda di tanah air.

Ia pun berangkat menemui beberapa tokoh sepak bola dari berbagai kota yang ada di Pulau Jawa. Ia lakukan komunikasi dengan mereka secara sembunyi-sembunyi agar tidak disergap oleh Polisi Belanda (PID). Ia berangkat ke Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Magelang, Madiun, dan Surabaya untuk menemui para tokoh sepak bola di sana.

Gayung pun bersambut. Para tokoh tersebut sepakat untuk menjadikan sepak bola sebagai media pemersatu pemuda Indonesia. Sebuah organisasi nasional yang mewadahi olahraga sepak bola akan dibentuk.

Di Hotel Binnenhof di kawasan Kramatjati, Jakarta, Soeratin mematangkan rencana pembentukan organsasi tersebut. Disebutkan, Soeri yang merupakan ketua dari Ketua Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ) membantu Soeratin mematangkan konsep-konsepnya.

Pembentukan Organisasi

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Sumber: kompas.com

Pendirian organisasi tersebut bertepatan pada tanggal 19 April 1930 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh sepak bola yang tersebar di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Magelang, Madiun, dan Surabaya. Saat itu, organisasi ini diberi nama Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia atau disingkat dengan PSSI.

Masih di kongres yang sama, Soeratin ditunjuk menjadi Ketua PSSI yang pertama. Ia memegang kepemimpinan PSSI mulai dari tahun 1930 hingga 1940. Ia selalu terpilih dalam sebelas kali pemilihan ketua umum. Sejak tahun 1931, PSSI secara rutin menyelenggarakan kompetisi sepak bola secara nasional. Saat itu, tim yang terdiri dari orang-orang Indonesia asli diberi instuksi secara lisan agar tidak kala melawan tim Belanda.

Kemudian pada kongres PSSI di Solo, nama sepak raga diubah menjadi sepak bola. Organisasi pun berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Untuk singkatannya tetap PSSI.

Selama Soeratin menjabat menjadi ketua PSSI, tim nasional Indonesia mampu berlaga di pentas Piala Dunia 1938. Namun sangat disayangkan karena saat itu FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia hanya mengakui NIVU sebagai pengurus sepak bola Indonesia sehingga atas nama Hindia Belanda. Meski demikian, timnas Indonesia tercata sebagai negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia.

Perlawanan Soeratin

Perlawanan yang dilakukan oleh Soeratin melalui gerakan sepak bola Indonesia ini menjadi bagian sejarah yang hanya dapat ditulis oleh para pahlawan. Atas jasanya yang besar tersebut, namanya diabadikan menjadi nama trofi sebuah kompetisi untuk anak-anak. Piala Soeratin nama kompetisi tersebut.

Karena ia berhenti bekerja, Soeratin mendirikan usaha. Namun belum kami dapatkan secara detail usaha apa saja yang dijalankan olehnya. Hanya saja, muncul informasi bahwa Soeratin mendirikan perusahaan konstruksi yang bernama Balai Karti.

Penghasilan yang didapatkan Seratin dari bisnis tersebut tidak jarang digunakan untuk mengisi dana kas PSSI yang sangat minim. Ia merogoh kocek dari kantongnya sendiri.

Perjuangan yang dilakukan oleh Soeratin tidak cukup dengan menjadi ketua umum PSSI yang pertama. Setelah melepas jabatannya tersebut, ia diberitakan aktif menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk melawan penjajahan Belanda. Peran Soeratin di dalam TKR pun tidak main-main. Ia dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai letnan kolonel atau letkol.

Saat Jepang menduduki Indonesia hingga Belanda datang kembali ke Indonesia, keadaan sangatlah sulit. Rumahnya ikut diobrak-abrik Belanda karena dianggap melakukan perlawanan.

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Kisah Hidup dan Pengorbanan Soeratin

Soeratin dibesarkan di dalam keluarga yang terpelajar. Ayahnya, R. Sosrosoegondo, merupakan seorang guru di sebuah Kweekschool (Sekolah Keguruan). Ayahnya merupakan penulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Kondisi keluarga yang demikian membuatnya termotivasi untuk mengenyam pendidikan yang tinggi.

Soeratin memperistri R.A. Sri Woelan yang juga merupakan adik kandung dari dr. Soetomo, pendiri organisasi Budi Utomo. Peran Sri Woelan tidak bisa dipandang sebelah mata dalam perjalanan hidup Soeratin. Segala daya dan upaya ia lakukan untuk membantu perjuangan suaminya.

Saat dalam keadaan terdesa misalnya, ia rela menjual perhiasannya agar kegiatan organisasi PSSI yang dipimpin oleh suaminya dapat tetap berjalan. Anggaran dana yang seharusnya untuk keperluan rumah tangga mereka ia relakan untuk keperluan persepakbolaan Indonesia.

Tidak hanya itu, ia juga bersedia turun gunung untuk membantu pekerjaan PSSI. Maklum saja, saat itu di tahun 1931, PSSI sedang bersaing dengan NIVU yang lebih dulu menggelar kompetisi sepak bola.

Bayangkan saja, rumah Soeratin yang beralamat di Jalan Sangaji 68, Jetis, Yogyakarta kerap kali menjadi tempat penginapan para pemain apabila PSSI menggelar pertandingan antar perserikatan sepak bola. Betapa repotnya Sri Woelan, ia harus menyiapkan kamar tidur, kamar mandi, dan konsumsi untuk para pemain.

Kalaulah bukan karena cintanya pada Indonesia, tidak mungkin dapat mereka lakukan semua tu tanpa rasa pamrih. Bahkan mereka harus merogoh uang pribadi mereka sendiri.

Perjuangan R.A. Sri Woelan tidak cukup sampai di situ. Suatu saat, NIVU menolak untuk melepas pemain Persis dan PSIM yang akan bertanding pada beberapa hari ke depan. Sebab, NIVU menganggap kedua tim tersebut berada di bawah naungan pemerintah Hindia Belanda.

Tapi tiket pertandingan sudah terjual habis. Namun tak satu pun pemain yang tersedia. dr. Sahir selaku ketua Persis kebingungan dan mengadukan hal ini kepada Soeratin. Mendengar hal tersebut, Sri Woelan bersama nyonya dr. Sahir pontang-panting mencari pemain sepak bola.

Mereka berhasil. Para pemain sepak bola tersebut berhasil dikumpulkan. Meskipun profesi asli para pemain tersebut adalah tukang cukur rambut, penjual sate, sais delman, dan tukang kebun.

Tidak cukup sampai di situ, kedua perempuan tangguh tersebut juga mengemban tanggung jawab untuk mencari dana transportasi untuk pemain PSIM yang harus bertandang ke Solo. Sebagai pasangan hidup Soeratin, Sri Woelan telah mengabdikan hidupnya untuk menemani perjuangan suaminya. Secara langsung maupun tidak langsung, ia turut memperjuangkan nasionalisme melalui olahraga sepak bola.

Tahun 1937, Soeratin dan keluarganya pindah dari Jogjakarta menuju Bandung. Sayangnya, alasan pasti kepindahan Soeratin tak bisa diterka sebab masih banyak data yang berkabut. Ada yang menduga ia lelah dengan konflik antara PSIM dan Persis yang saling bertikai untuk menguasai PSSI. Kemudian ia menyerahkan kepemimpinan harian PSSI kepada Dr. Soeratman Erwin yang ada di Solo.

Kabar tentang Soeratin kembali mengudara setelah ia terpilih menjadi Ketua Kehormatan. Jabatan kali ini terkesan sebagai jabatan kehormatan saja. Sebab tidak fungsional apapun yang dapat dilakukan Soeratin. Meski menjabata sebagai ketua kehormatan, ia tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak memiliki pengaruh secara langsung dalam praktik keorganisasian PSSI.

Soeratin Menjadi Tentara

Saat Jepang masuk menguasai tanah air, semuanya berubah, PSSI pun vakum. PSSI seakan hilang. Soeratin kembali lenyap. Kabarnya tak terdengar sama sekali. Hingga setahun setelah Indonesia merdeka, sayup-sayup kabar mengenai keberadaan Soeratin mulai terdengar.

Saat itu, 1946, Soeratin tampak lebih tua dari usianya yang menginjak usia akhir 40 tahun. Ia kurus dan badannya sedikit bungkuk. Meski demikian, postur tubuh tersebut tak mengurangi wibawa keperwiraannya sebagai letnan kolonel. Sejak itu, orang-orang pun meyakini, bahwa ia pernah menjadi kepala pabrik senjata di Jawa Barat semasa revolusi.

Ia diprediksi menjadi tentara pada usia 44 tahun. Usia tersebut memang bukanlah masa yang tepat untuk masuk menjadi tentara. Namun, keilmuannya yang mumpuni sebagai insinyur lulusan Jerman yang mungkin mengantarkan karir militernya melesat begitu cepat hingga menjadi letkol. Tapi ini masih menjadi hipotesis.

Pantas saja, ia mendapatkan tanggung jawab mengurusi bagian persenjataan. Di Jawa Barat, menurut salah seorang tentara yang bernama Herrawan, Soeratin mengelola delapan pabrik senjata dan dinamit yang tersebar di daerah Sukabumi hingga Garut. Masih menurut Herrawan, Soeratin bukan bagian dari Divisi Siliwangi, melainkan bagian dari Maskar Besar Tentara di Jogjakarta.

Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia

Masa Tua Soeratin

Tak banyak yang mengetahui kisah hidup Soeratin selanjutnya. Sebab saat itu, semuanya serba sulit. Sehingga tidak banyak perhatian kepada masing-masing personal tokoh.

Setelah pensiun dari militer, Soeratin menduduki posisi tinggi di perusahaan Djawatan Kereta Api. Adalah Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Ir. H. Djuanda, yang memberikan jabatan tersebut.

Ia tinggal di Bandung. Sebuah rumah dengan ukuran 4 x 6 meter. Sebenarnya bangunan itu merupakan sebuah garasi mobil di Jalan Lombok 33, Bandung. Garasi mobil itu kemudian disulap Soeratin menjadi rumah dengan kamar mandi terpisah sejauh 25 meter. Jika hujan, ia dan istrinya kebasahan.

Entah bagaimana ceritanya, dikabarkan saat itu Soeratin tinggal bersama seorang istri berkebangsaan Belanda. Di manakah R.A. Sri Woelan? Sayangnya belum ditemukan dokumen atau data apapun mengenai hal ini.

Keadaan mereka saat itu sangat susah. Soeratin pun sakit-sakitan. Jangankan membeli obat, mencukupi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah bersyukur bagi mereka. Mereka hidup berdua saja tanpa ada anak keturunan di rumah tersebut.

Masa pilu di hari tua semakin terlihat dengan ditemukannya koran-koran yang mencantumkan nama Nyonya Soeratin sebagai pemenang kuis teka-teki silang. Di koran tersebut, tertulis Mevrouw (nyonya) Soeratin, Djalan Lombok 33 A.

Dengan informasi ini, dapat dikatakan kehidupan ketua umum PSSI yang pertama dan istrinya di masa tua memang sangat sulit. Mereka menamla kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengisi kuis TTS di koran, mengirimkan jawabannya, berharap menang, mendapatkan hadiah, dan berbagi kehangatan di masa tua.

Saat meninggal pun, Soeratin tak diperlakukan istimewa. Ia bahkan dimakamkan seperti orang biasa. Tidak ada rombongan mobil, orang-orang gedongan, pembesar, dan petinggi yang hadir dalam pemakanannya. Tidak juga ada tembakan salvo penghormatan ala militer sebagai anggota TKR.

Penghormatan mulai tampak di tahun 1962. Pihak PSSI mulai membersihkan makamnya dan merawatnya.

Kesimpulan

Grameds, setelah membaca penjelasan di atas, kita tahu bahwa Soeratin merupakan seseorang insinyur lulusan Jerman. Keilmuan tersebut membawanya berada pada posisi komisaris di sebuah perusahaan kontruksi terkemuka milik Belanda. Namun, ia rela meninggalkan itu semua, karena nasionalisme dalam dadanya bergemuruh.

Ia lebih memilih aktif di pergerakan dengan mendirikan PSSI dan menjalankan usaha kontruksi secara mandiri. Usahanya tersebut ia gunakan untuk kebutuhan keluarga dan mencukupi dana kas PSSI yang sangat minim. Sayangnya masa tua Soeratin begitu memilukan, sakit dan jatuh miskin hingga meninggal dalam kondisi tak dikenal sebagai siapa-siapa.

Grameds, betapa pilu masa tua dari seorang pejuang kemerdekaan, pendiri sepak bola Indonesia, sekaligus Ketua Umum PSSI pertama. Membaca sejarah dapat mengantarkan kita menuju ruang-ruang perenungan agar memaknai hidup lebih dalam dan menghargai orang-orang terdahulu. Dengan buku-buku terbaik kami, Gramedia siap menjadi #SahabatTanpaBatas Anda.

Penulis: Mutiani Eka Astutik

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Pendiri Permainan Sepak Bola di Indonesia



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien