Sejarah

10 Tempat Bersejarah di Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi

10 Tempat Bersejarah di Yogyakarta
Written by Fandy

10 Tempat Bersejarah di Yogyakarta – Sahabat Gramed, Yogyakarta menyuguhkan aneka macam tempat wisata, mulai dari pemandangan alam, sejarah, dan budaya. Selain itu, Yogyakarta juga sarat kesenian Jawa klasik, seperti seni tari, tembang, geguritan, gamelan, dan sastra yang berkembang menjadi kesenian rakyat.

Tidak dipungkiri, hal itulah yang membuat Yogyakarta sampai saat ini masih kental dengan tradisi keratonnya. Budaya masyarakat lokal dari tahun ke tahun juga membuat provinsi ini semakin hidup dan membawa daya tarik tersendiri, sehingga menarik minat para wisatawan dalam negeri hingga mancanegara untuk mengunjunginya.

Yogyakarta memiliki berbagai peninggalan atau jejak sejarah yang dapat dipakai untuk melacak perkembangan dan dinamikanya dalam lintasan waktu yang cukup panjang. Berbicara tentang Yogyakarta, tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede. Hal itu dikarenakan Mataram Islam menjadi titik yang secara langsung menghubungkan kehadiran Kesultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman yang menjadi perkembangan awal Yogyakarta.

Sejak Panembahan Senapati membangun keratonnya di Kotagede hingga Pangeran Mangkubumi membuka hutan beringin, benang merah sebuah pusat pemerintahan yang melahirkan peradaban tinggi tumbuh di wilayah yang saat ini bernama Yogyakarta.

Selain jejak sejarahnya berasal dari sebuah kerajaan, Yogyakarta juga menyimpan sejarah dan budaya yang berasal dari bangsa asing, seperti kebudayaan yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda dan Tionghoa.

Yogyakarta pada awal kemerdekaan juga banyak meninggalkan memori kolektif tentang peristiwa yang terjadi di wilayah ini. Semua peninggalan tersebut merekam tentang perjalanan Yogyakarta.

[algolia_carousel]

Jika Sahabat Grameds berkunjung ke Yogyakarta dan ingin mengenal lebih jauh mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang ada provinsi ini, berikut telah dirangkum 10 tempat bersejarah di Yogyakarta yang cocok untuk dikunjungi.

1. Keraton Kotagede

Keraton Kotagede adalah sebuah kota kuno yang pernah menjadi ibu kota Kesultanan Mataram sekitar tahun 1586–1613. Keraton tersebut terletak di wilayah administratif yang saat ini disebut dengan Kota Gede (kota besar).

Tata letak Keraton Kotagede memiliki konsep perpaduan Islam dan zaman pra-Islam, yaitu empat konfigurasi masjid-keraton-pasar-alun-alun yang disebut catur gatra tunggal. Kompleks situs ini juga dikelilingi oleh benteng pertahanan cepuri (benteng dalam) dan baluwarti (benteng luar).

Kini, peninggalan yang tersisa dari situs ini adalah reruntuhan beberapa bangunan kerajaan, yaitu benteng, pasar, masjid, dan permakaman.

2. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755. Lokasi keraton ini adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pembangunan keraton ini memakan waktu kira-kira satu tahun lamanya.

Setelah selesai dibangun tanggal 13 Sura 1682 tahun Jawa atau 7 Oktober 1756, sultan mulai menempati keraton dengan ditandai candra sengkala memet yang berbunyi Dwi Naga Rasa Tunggal. Tempat ini kemudian dijadikan sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan, sekaligus tempat tinggal para penggawa kerajaan beserta rakyatnya.

Bertakhtanya sultan di Keraton Ngayogyakarta menjadi ciri lahirnya sebuah era kesultanan penerus Dinasti Mataram. Keraton Yogyakarta memiliki ciri, identitas, dan peran unik sebagai pusat pemerintahan kerajaan dan kebudayaan Jawa, yang kemudian mampu berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan Indonesia modern hingga saat ini.

3. Situs Taman Sari

Kompleks Situs Taman Sari merupakan peninggalan dari Sri Sultan Hamengkubuwana I. Taman Sari berarti taman yang indah, yang dulunya merupakan tempat rekreasi bagi sultan beserta kerabat istana. Tempat yang masih sakral di lingkungan kompleks Taman Sari adalah Pasareyan Ledoksari, yaitu tempat peraduan dan tempat pribadi sultan.

Bagian bangunan yang paling menarik di kompleks ini adalah Sumur Gumuling, yang berupa bangunan bertingkat dua dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Pada masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau yang digunakan sultan untuk melakukan ibadah. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah.

Mayoritas struktur bangunan Taman Sari merupakan lorong-lorong bawah tanah, yang merupakan jalan rahasia dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat jika sewaktu-waktu kompleks ini mendapatkan serangan dari pihak musuh.

4. Situs Warungboto

Situs Warungboto atau biasa disebut dengan Umbul Warungboto dan Pesanggrahan Warungboto adalah kompleks situs cagar budaya yang secara administratif meliputi dua wilayah kecamatan berbeda, yaitu Kalurahan Rejowinangun dan Kalurahan Warungboto.

Bangunan utama pesanggrahan tersebut yang tersisa saat ini terletak di Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kêmantrèn Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Sementara itu, bangunan yang tersisa di Kalurahan Rejowinangun adalah benteng pesanggrahan di sebelah timur Sungai Gajah Wong.

Situs ini memiliki nama asli Pesanggrahan Rejawinangun, yang berfungsi sebagai sebuah pesanggrahan dan pemandian. Situs tersebut mulai dibangun oleh Gusti Raden Mas Sundara ketika menjadi putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwana I sampai dengan masa pemerintahannya memerintah kesultanan. Beberapa sumber primer seperti Tidjschriff voor Nederlandsch Indie, Serat Rerenggan, dan Babad Momana menyebutkan bahwa pesanggrahan ini mulai dibangun sejak tahun 1711 Jawa atau 1785 Masehi.

Bangunan situs ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bangunan di sebelah barat dan timur Sungai Gajah Wong. Situs tersebut didirikan di sisi barat dan sisi timur sungai dengan memanfaatkan tangga bertingkat sungai, antara kompleks bangunan yang berada di sisi timur dengan bangunan yang berada di sisi barat sungai memiliki sumbu imajiner yang membujur dari timur ke barat.

Selain itu, situs itu juga dilengkapi dengan kolam, taman, dan kebun layaknya sebuah pesanggrahan secara umum. Hal ini dikarenakan fungsinya berkaitan dengan kenyamanan dan ketenangan sultan dan kerabatnya.

Situs ini secara geografis dan ekologis mempunyai tingkat keterancaman yang tinggi, khususnya bencana alam gempa bumi. Sepanjang sejarahnya, ada dua gempa besar yang menyebabkan beberapa bagian bangunan situs ini rusak, yaitu pada 10 Juni 1867 dan 27 Mei 2006.

Sebelum selesai direnovasi dan dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) D.I. Yogyakarta pada 23 Desember 2016, situs itu hanyalah reruntuhan dan puing bangunan yang kurang terawat. Namun, saat ini bangunan tersebut dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Situs ini mulai populer ketika Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution melakukan sesi foto pra nikah di tempat ini pada 27 Oktober 2017.

5. Makam Ratu Mas Malang

Makam Ratu Mas Malang memiliki nama lain Makam Gunung Kelir dan Makam Antakapura (bahasa Kawi: “istana kematian” atau “istana tempat menguburkan jenazah”) adalah situs cagar budaya peninggalan dari Amangkurat I atau Amangkurat Agung yang terletak di Pedukuhan Gunung Kelir, Kalurahan Pleret, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul.

Situs ini berada di puncak bukit Gunung Sentana, dengan ketinggian + 99 meter di atas permukaan laut. Keberadaannya berkaitan dengan tokoh yang dimakamkan di tempat ini, yaitu Ratu Mas Malang dan Ki Panjang Mas. Mas Malang adalah putri dari Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog, serta salah satu selir Amangkurat I. Sebelum menjadi selir, dia adalah istri dari Dalang Panjang, salah satu dalang terkenal di daerah Kesultanan Mataram.

Babad Momana mencatat bahwa makam ini dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu sejak Mas Malang meninggal tahun 1665 hingga selesai pada 11 Juni 1668. Amangkurat I menamakan tempat itu dengan nama Antakapura (bahasa Kawi) yang berarti “istana kematian”, sedangkan masyarakat sekitar menamakannya dengan nama Makam Gunung Kelir karena terdapat guratan-guratan di dinding makam yang menyerupai kelir dalam pementasan wayang kulit.

Konstruksi dinding bangunannya berasal dari dari balok-balok batu putih, sedangkan nisannya terbuat dari batu andesit. Secara keseluruhan, kondisi fisik kompleks permakaman ini sudah rusak, terutama disebabkan oleh faktor alam.

Situs lain yang berada satu kompleks dengan permakaman ini adalah Sendang Maya. Situs yang terdiri atas dua kolam itu berada di sebelah timur laut makam dan berfungsi sebagai penampung air hujan. Kolam yang berada di dalam dinding keliling berukuran + 3,5 meter x 5 meter, sedangkan yang berada di luar dinding keliling berukuran + 6 meter x 6 meter. Sendang tersebut dikelilingi dinding batu bata yang sama dengan Makam Ratu Mas Malang, serta memiliki ketinggian + 3 meter dan ketebalan 2,1 meter.

6. Ndalem Jayadipuran

Ndalem Jayadipuran atau Ndalem Dipowinatan adalah bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 139, Kalurahan Keparakan, Kêmantrèn Mergangsan, Kota Yogyakarta. Pada awalnya, Ndalem Jayadipuran berbentuk rumah klasik Jawa bergaya limasan yang dikenal dengan nama Ndalem Dipowinatan.

Bangunan kuno ini memiliki peranan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada masa pergerakan, misalnya Kongres Jong Java ke-VI yang diselenggarakan pada 23–27 Mei 1923 dan Kongres Wanita Indonesia Pertama pada 22–25 Desember 1928.

Pada saat ini, bangunan Ndalem Jayadipuran ditempati oleh kantor BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Yogyakarta. Melihat banyaknya pergerakan kebangkitan nasional yang dilaksanakan di Ndalem Jayadipuran, gedung ini disebut sebagai “rumah kebangkitan nasional”.

7. Ndalem Brontokusuman

[algolia_carousel page=2]

Ndalem Brontokusuman atau Ndalem Pugeran adalah bangunan cagar budaya yang terletak di Kalurahan Brontokusuman, Kêmantrèn Mergangsan, Kota Yogyakarta. Lokasinya berada di sisi barat Jalan Sisingamangaraja serta bersebelahan dengan Kalurahan Keparakan di sebelah utara. Bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Wali Kota No. 798/KEP/2009.

Ndalem Brontokusuman didirikan tahun 1895 atau ketika Hamengkubuwana VII bertakhta. Komponen bangunan tersebut mengacu kepada Keraton Yogyakarta, yaitu berada dalam sebuah benteng dan memiliki struktur tata ruang rumah tradisional Jawa (pendopo, gledegan, regol, pringgitan, ndalem ageng, gandok kiwa, gandok tengen, seketheng, gadri, dan pawon).

8. Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia

Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau Gedung Bola Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta adalah bangunan cagar budaya yang didirikan pada 3 Juli 1955 oleh seniman bernama Jayeng Asmoro untuk memperingati 25 tahun pendirian organisasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan diresmikan oleh Presiden Soekarno.

Lokasinya berada di sebelah utara Stadion Mandala Krida atau tepatnya di Jalan Mawar No. 1, Kalurahan Baciro, Kêmantrèn Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota No. 798/KEP/2009, bangunan tersebut dimasukkan sebagai warisan budaya.

9. Kelenteng Fuk Ling Miau

Kelenteng Fuk Ling Miau atau Kelenteng Gondomanan merupakan tempat peribadatan umat Konghucu dan Buddha yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No.3, Kalurahan Prawirodirjan, Kêmantrèn Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Kelenteng Fuk Ling Miau didirikan pada 1846 oleh masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. Pada awalnya, kelenteng ini merupakan sebuah rumah buatan Sri Sultan Hamengkubuwana II untuk permaisurinya yang berasal dari Tiongkok, yang memiliki arti Fuk adalah berkah, Ling adalah tiada tara, dan Miau adalah kelenteng.

Kelenteng ini berada di bawah naungan Majelis Buddhayana Indonesia dengan nama Vihara Buddha Prabha Gondomanan. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan bagian belakang digunakan untuk umat Buddha, sedangkan bangunan bagian depan digunakan untuk umat Konghucu.

Bangunan kelenteng ini merupakan kombinasi arsitektur Tionghoa-Jawa. Salah satu ciri khas dari kelenteng ini adalah adanya sepasang naga langit yang saling menghadap mutiara api di atas bangunan, serta cat warna merah dan kuning sebagai simbol keharmonisan.

Bangunan Kelenteng Fuk Ling Miau menjadi cagar budaya pada 26 Maret 2007 di bawah Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. PM.25/PW.007/MKP/2007.

10. Panggung Krapyak

Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan merupakan bangunan yang digunakan oleh raja-raja Mataram sebagai tempat pengintaian untuk berburu binatang, khususnya menjangan. Bangunan ini berada di Jalan K.H. Ali Maksum, Kampung Krapyak Kulon, Kalurahan Panggungharjo, Kapanéwon Sewon, Kabupaten Bantul.

Pembangunan Panggung Krapyak erat kaitannya dengan sejarah pendirian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan berlantai dua yang terbuat dari batu bata tersebut dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada 1760. Setelah selesai dibangun, sultan menandainya dengan suryasengkala panunggaling kawicaksanaan salingga bathara.

Fungsi bangunan ini pada masa lalu adalah untuk tempat peristirahatan sultan, keluarga, dan pengiringnya ketika berburu menjangan atau hewan buruan lainnya di hutan. Hutan yang dimaksud berada di sebelah selatan Panggung Krapyak.

Panggung Krapyak juga menjadi salah satu bangunan yang berada di sumbu filosofis utara–selatan dengan Keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Bangunan ini merupakan simpul yang berada di sebelah selatan keraton dan jika diteruskan ke selatan akan sampai ke Pantai Parangtritis.

Sumbu filosofis itu mengandung arti manunggaling kawula gusti atau bersatunya rakyat dengan rajanya. Menurut sisi Islam, sumbu filosofisitu mengandung makna konsep hubungan antara manusia dengan Tuhan dan konsep hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Tempat-tempat yang berada di dalam sumbu filosofis itu merupakan lokasi-lokasi penting dalam struktur kebudayaan keraton dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan Kota Yogyakarta dapat berkembang ke arah timur dan barat dari jalur sumbu filosofis tersebut.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai 10 Tempat Bersejarah di Yogyakarta. Grameds dapat mengunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com untuk memperoleh referensi tentang tempat-tempat bersejarah lainnya yang berada di Yogyakarta, mulai dari latar belakang pendiriannya, keadaan bangunan, dan arsitektur pembangunanny.

Berikut ini rekomendasi buku Gramedia yang bisa Grameds baca untuk mempelajari tentang keistimewaan Yogyakarta agar bisa mempelajarinya secara penuh. Selamat membaca.

Temukan hal menarik lainnya di www.gramedia.com. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu menampilkan artikel menarik dan rekomendasi buku-buku terbaik untuk para Grameds.

Sumber:

  • Nurhajarini, Dwi Ratna, dkk (2012). Yogyakarta: Dari Hutan Beringin ke Ibu Kota Daerah Istimewa. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
  • Olthof, W.L.; Sumarsono, H.R. (2009). Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. Yogyakarta: Narasi.
  • Rohman, Fandy Aprianto (2021). “Manajemen Bencana dalam Konteks Pelestarian Makam Ratu Mas Malang Oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) D.I. Yogyakarta“. Kora-Kora (edisi ke-8).
  • Rohman, Fandy Aprianto (2021). “Mitigasi Bencana dalam Konteks Pelestarian Situs Warungboto, Kota Yogyakarta”. Widya Prabha. 10 (10): 12–20. ISSN 2302-8998.

BACA JUGA:

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien