Administrasi

Chief Operating Officer (COO): Pengertian, Tugas dan Tanggung Jawab, dan Kualifikasinya

Chief Operating Officer (COO)
Written by M. Hardi

Chief Operating Officer (COO)  – Dalam dunia kerja atau bisnis, tentu saja kamu pasti sering mendengar dengan apa yang disebut C-Level. C-Level dikenal sebagai istilah bagi para pemimpin tertinggi dalam dunia perusahaan. Salah satu jabatan yang amat dikenal dalam kategori C-Level adalah Chief Executive Officer (CEO) sebagai posisi yang memiliki tanggung jawab atau kekuasaan terkait keputusan tertinggi.

Hanya saja, ternyata tidak hanya CEO yang masuk dalam jajaran C-Level. Ada beberapa jabatan lainnya, seperti Chief Financial Officer (CFO), Chief Marketing Officer (CMO), dan tentu saja Chief Operating Officer (COO).

Dalam artikel kali ini ini, kita akan mengulas tentang apa itu Chief Operating Officer atau banyak orang mengenal dengan singkatan COO tersebut. Mari simak ulasan selengkap pembahasan tentang COO, mulai dari apa dan bagaimana peran COO dalam suatu perusahaan.

Pengertian COO

Chief Operating Officer (COO)

Sumber: Pexels

Dalam catatan singkatnya tentang business leaders, Andrew Blumenthal mengatakan bahwa Chief Operating Officer merupakan eksekutif senior yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap fungsi administrasi dan operasional setiap hari dari sebuah bisnis perusahaan. Selanjutnya, tugas dari COO tersebut akan dilaporkan secara langsung kepada CEO sebagai pemegang jabatan tertinggi dalam bisnis perusahaan.

Maka dari itu, posisi COO sering kali disebut sebagai jabatan tertinggi kedua dalam sebuah perusahaan, setelah seorang CEO. Bagi beberapa perusahaan, COO juga dikenal sebagai wakil presiden eksekutif untuk urusan operasional. Lebih mudahnya, COO merupakan direktur operasional dalam perusahaan.

https://www.gramedia.com/products/ceo-stories-perjalanan-sukses-17-ceo-di-indonesia?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Tugas dan Tanggung Jawab COO

Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya, seorang yang memangku jabatan sebagai COO bertanggung jawab terhadap fungsi administrasi dan operasional perusahaan. Secara umum, beberapa tugas COO adalah untuk berfokus pada pelaksanaan rencana bisnis perusahaan sesuai dengan model bisnis yang telah ditetapkan. Tentu saja, tugas tersebut sangat berbeda dengan tugas CEO yang lebih berfokus pada urusan tujuan jangka panjang dan pandangan perusahaan secara menyeluruh.

Chief Operating Officer (COO)

Sumber: HubSpot Blog

Singkatnya, COO memiliki tugas untuk mengimplementasikan berbagai rencana bisnis yang telah disusun oleh CEO. Sebagai contoh, pada saat sebuah perusahaan mengalami penurunan penjualan, CEO kemungkinan besar akan meminta peningkatan kontrol kualitas produksi dan lain sebagainya. Perintah ini tentu saja harus langsung dilaksanakan oleh COO yang akan menyampaikan rantai instruksi kepada bagian departemen sumber daya manusia, salah satunya yakni mengatur personel pada divisi kontrol kualitas.

Posisi COO sendiri sangat cocok bagi kamu yang memiliki kualitas dan pengalaman kerja luas serta sebelumnya pernah menjabat sebagai C-Level. Banyak perusahaan yang sangat membutuhkan seseorang berpengalaman untuk posisi pimpinan eksekutif ini. Maka dari itu, banyak lowongan yang dibuka untuk direktur operasional dalam perusahaan ini.

Selain itu, contoh lain untuk tugas COO dapat dilihat ketika produk bisnis di pasaran telah banyak ditiru atau banyak produk saingan yang hampir sama. CEO sebagai pemegang jabatan tertinggi kemungkinan akan meminta strategi tertentu. Strategi ini kemudian akan disampaikan kepada COO agar dapat diterapkan melalui penguatan divisi penelitian dan pengembangan, sehingga memproduksi produk dengan varian baru.

Dalam sebuah perusahaan, COO biasanya bertanggung jawab atas berbagai hal yang berada di ranah operasional perusahaan. Seorang yang menduduki jabatan COO akan melakukan pemantauan terkait bagaimana strategi datang dari CEO sekaligus mengawasi penerapan strategi atau perkembangan operasional perusahaan, mulai dari tahap pengembangan, produksi, hingga pra pemasaran.

https://www.gramedia.com/products/zero-to-one?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/zero-to-one?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Perbedaan COO dengan CEO, CFO, dan CMO

Meskipun terlihat setara, tetapi setiap posisi atau jabatan yang diemban oleh para C-Level ini memiliki jenjang atau tingkatan masing-masing. Tingkatan tersebut tentu saja disesuaikan dengan tanggung jawab dan peran dalam sebuah perusahaan.

Hal ini dapat diketahui dari adanya strata instruksi atau penugasan untuk setiap posisi dari CEO hingga CMO. Namun, secara umum CEO merupakan pimpinan tertinggi dalam perusahaan, sedangkan COO, CFO, dan CMO berada dibawah tanggung jawabnya.

COO

  1. Menduduki jabatan sebagai pimpinan operasional perusahaan.
  2. Bertugas untuk melakukan pengawasan dan pengambil keputusan terkait operasional perusahaan.
  3. Memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah perusahaan melalui ranah operasional (komunikasi, kolaborasi, improvisasi, rekrutmen, analisis operasional, dan implementasi strategi).
  4. Menempati posisi nomor dua sebagai wakil presiden senior utama dalam perusahaan.

CEO

  1. Menduduki jabatan sebagai pimpinan tertinggi perusahaan.
  2. Bertugas melakukan pengambilan keputusan dan strategi umum dari perusahaan.
  3. Memiliki tanggung jawab secara umum dalam perusahaan, baik kekuatan maupun kelemahan perusahaan.
  4. Menempati posisi utama sebagai presiden/direktur utama dari sebuah perusahaan.

CFO

  1. Menduduki jabatan sebagai pimpinan keuangan perusahaan.
  2. Bertugas untuk melakukan pengawasan perencanaan dan segala administrasi keuangan perusahaan.
  3. Memiliki tanggung jawab terhadap keuangan dan fungsi akuntansi dalam perusahaan, supervisi terhadap staf yang berhubungan dengan keuangan, dan memahami peraturan pajak yang berlaku.
  4. Menempati posisi sebagai wakil presiden senior dalam perusahaan (urusan keuangan).

CMO

  1. Menduduki jabatan sebagai pimpinan pemasaran perusahaan.
  2. Bertugas untuk mengawasi perencanaan hingga proses pemasaran produk perusahaan.
  3. Memiliki tanggung jawab terhadap analisa pasar, proses pemasaran, dan kolaborasi strategi pemasaran bersama dengan pimpinan operasional.
  4. Memiliki kemampuan dalam memahami peluang dan potensi pasar, serta risiko yang ada.
  5. Menempati posisi sebagai wakil presiden senior dalam perusahaan (urusan pemasaran).

7 Kualifikasi utama menjadi COO

Chief Operating Officer (COO)

Sumber: Pexels

Sebagai jabatan nomor dua tertinggi di perusahaan setelah CEO, Chief Operating Officer dianggap sebagai salah satu jabatan yang cukup tinggi untuk dicapai seseorang dalam dunia kerja atau perusahaan. Seseorang bisa mencapai jabatan ini diketahui harus memiliki daya saing tinggi dan kapasitas yang mumpuni dalam karir profesionalnya.

Menurut Harvard Business Review dan career advice dari Seek Australia, ada 7 kualifikasi utama yang wajib dimiliki oleh seorang untuk bisa menjadi Chief Operating Officer (COO) dalam suatu perusahaan. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Mempunyai Gelar Akademis yang Relevan

Kualifikasi yang pertama tentu saja adalah gelar akademis yang relevan atau sesuai, sehingga dapat menjadi dasar kualifikasi seorang COO. Meskipun tidak semua orang yang menduduki jabatan COO memiliki gelar akademis yang relevan. Hanya saja, bagi kamu yang memiliki impian menjadi seorang COO sangat disarankan untuk memiliki basis pendidikan mumpuni.

Gelar akademis yang relevan dimaksudkan tidak hanya yang selalu berhubungan dengan ekonomi bisnis atau Master of Business Administration (MBA). Beberapa gelar lain juga diperlukan, dengan catatan memiliki relevansi cukup tinggi terkait operasional perusahaan.

Misalnya saja, pimpinan tertinggi pada sebuah bisnis farmasi atau rumah sakit. Gelar yang dibutuhkan biasanya memiliki keterkaitan dengan hal medis atau manajemen rumah sakit. Gelar yang relevan akan sangat mendukung seorang COO untuk dapat lebih memahami setiap kompleksitas yang terjadi dalam pekerjaannya.

Tidak hanya itu, pendidikan tinggi dan yang relevan juga bisa membantu seorang COO dalam melaksanakan atau menerapkan berbagai perusahaan dengan mudah dan tepat. Sebagai jabatan yang bertanggung jawab terkait segala bentuk pelaksanaan, COO berarti harus mau dan mampu mengambil berbagai risiko yang berhubungan dengan operasional perusahaan. Selain itu, pelaksanaan strategi merupakan bagian dari langkah dalam menjaga kualitas bisnis perusahaan itu sendiri.

2. Mempunyai Pengalaman Kerja yang Luas dan Mampu Menjadi Agen Perubahan

Sesuai dengan sebuah kalimat bijak, “guru terbaik adalah pengalaman”. Sebagai seseorang yang menduduki posisi tertinggi kedua dalam perusahaan, COO tentu saja harus memiliki pengalaman kerja yang luas. Tidak hanya itu, pengalaman kerja yang luas ini juga harus diimbangi dengan kemampuan dan kapasitas yang mumpuni. Pengalaman kerja yang luas dan kapasitas yang mumpuni menjadi bukti bahwa seseorang bisa memberikan kontribusi signifikan kepada perusahaan.

Waktu yang diperlukan seseorang seseorang untuk mencapai level COO biasanya yaitu 10 tahun bekerja pada jabatan setara di bawahnya. Tidak hanya itu, relevansi kerja yang dilakukan selama kurun waktu 10 tahun ini dapat menjadikan membuat pengalaman seorang calon COO menjadi lebih lengkap dan mantap.

3. Mampu Menjadi Mentor atau Memiliki Jiwa Kepemimpinan

Seperti yang telah ditulis di atas, seorang COO dituntut untuk memiliki pengalaman kerja yang luas. Kemampuan ini menjadi tolak ukur yang harus dimiliki seorang COO pada saat menduduki C-Level di perusahaan. Selain itu, seorang COO biasanya juga dibutuhkan untuk menjadi pembimbing para CEO muda atau bahkan seorang pendiri perusahaan yang belum terlalu pengalaman.

Sebagai pembimbing atau mentor, seorang COO bisa dikatakan memiliki tanggung jawab untuk menjadi karakter yang elegan dan tidak tertutup terhadap orang lain. Meskipun memiliki tugas sebagai mentor, bukan berarti COO bebas melakukan apapun keinginannya kepada bawahan. Langkah ini biasanya digunakan oleh beberapa CEO dari sebuah perusahaan baru untuk mendapatkan pengalaman lewat COO dari industri atau usaha serupa.

4. Menjadi Penyeimbang dan Melengkapi Pengalaman bagi CEO

Sudah menjadi hal yang umum bahwa salah satu alasan perusahaan mendatangkan seorang COO senior tidak hanya untuk mentor, tetapi juga sebagai penyeimbang bagi CEO. Fungsi penyeimbang ini sendiri bisa dikatakan juga sebagai pelengkap pengalaman seorang CEO di perusahaan tersebut.

Para CEO biasanya memerlukan COO dengan kualifikasi ini agar tidak terkesan berjalan seorang diri atau mendapatkan rekan kerja yang lebih tenang, sehingga bisa menjadi penyeimbang dalam berbagai keputusan atau kegiatan.

Harvard Business Review menyatakan bahwa berbagai perusahaan besar di dunia, sebut saja Microsoft juga membutuhkan COO dengan kualifikasi demikian. Bill Gates pernah memiliki dua COO yang dibutuhkan sebagai penyeimbang dirinya.

Kedua orang tersebut adalah Jon Shirley dan Michael Hallman untuk menyeimbangkan dirinya. Beberapa pihak mengatakan bahwa Shirley dan Hallman menjadi penyeimbang dan sisi yang “tenang” bagi Bill Gates. Dalam kasus perusahaan ini, seorang COO pada dasarnya tidak diarahkan untuk mengarah ke posisi CEO.

5. Mampu Menjadi Rekan Diskusi bagi CEO

Dalam sebuah perusahaan, CEO bisa diibaratkan sebagai sebuah otak atau pusat yang melakukan kontrol. Sebagai seorang yang memegang jabatan tertinggi, CEO tetap saja membutuhkan rekan diskusi atau lawan bicara untuk persoalan strategi dan pemecahan masalah. Secara hirarkis, salah satu jabatan yang harus menjadi partner diskusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan operasional perusahaan adalah COO.

Maka dari itu, seorang COO harus memiliki kualifikasi juga sebagai partner untuk CEO. Dalam hal ini COO diharuskan mampu memberi timbal balik kepada CEO atas segala pemikirannya terkait perusahaan, baik itu yang bersifat praktikal maupun psikologis. Hal ini dikarenakan menjadi CEO merupakan tanggung jawab besar yang sangat berisiko. Peran COO dibutuhkan untuk meminimalisasi risiko dengan membuka diskusi, baik secara formal dan informal untuk mengembangkan perusahaan.

6. Mampu Menjadi “Pewaris”

Tak heran, apabila COO banyak disebut sebagai jabatan kedua di perusahaan, setelah CEO. Salah satu tanggung jawab yang paling berat dari kualifikasi untuk menjadi seorang COO adalah menjadi “Pewaris”. Maksud “Pewaris” sendiri yaitu COO harus siap untuk “mewarisi” perusahaan apabila seorang CEO telah berkehendak demikian.

Peran COO yang menempati urutan kedua dalam hierarki perusahaan memang sangat berpotensi adanya pewarisan semacam ini. Bagi seorang COO, menjadi “Pewaris” dari CEO merupakan kenaikan jabatan tahap akhirnya.

Meskipun tampak bahwa ada potensi yang sangat besar bagi seorang COO akan naik menjadi CEO. Namun, COO juga tentu harus bersiap dengan risiko besar yang sudah menunggu di depan. Beberapa hal yang diperlukan untuk menghadapi ini tentu saja adalah kesiapan diri, baik secara mental maupun fisik.

Menjabat CEO dapat dipastikan akan menguras banyak pikiran dan waktu, sama halnya dengan cara CEO dalam menyelesaikan masalah atau membuat strategi yang juga melelahkan. Maka dari itu, salah satu hal yang perlu dipelajari dan dipersiapkan oleh seorang COO ketika mendapat promosi adalah mampu menyelesaikan masalah dan membuat strategi.

7. Mempunyai Potensi Besar

Potensi besar seorang COO diharapkan menjadi nilai jual personal bagi perusahaan. Kualifikasi terakhir yang perlu dimiliki untuk menjadi COO yaitu potensi besarnya. Seorang COO diharapkan memiliki potensi yang besar sehingga bisa menjadi nilai jual personal bagi perusahaan. Beberapa pengamat meyakini bahwa seorang calon COO harus memiliki potensi yang terbaik dan teramat berharga untuk disia-siakan.

Jadi, tak heran, jika beberapa perusahaan memberikan promosi kepada seseorang dengan pengalaman luas dan telah berada di jajaran senior manajer teratas serta berperan sangat baik.

Seseorang yang memiliki daya tawar dan nilai jual tinggi itu biasanya merupakan pegawai dengan level senior dan telah terbukti amat mengenal seluk-beluk perusahaan. Ditambah lagi, perusahaan akan berpikir ratusan kali untuk melepas seseorang dengan potensi yang besar dan mumpuni dari perusahaan. Dengan keluarnya seorang dengan potensi besar tersebut, maka akan sangat berpotensi untuk menjadi pesaing.

Hal tersebut tentu saja sangat dihindari, salah satunya yakni dengan cara memberi promosi kepada pegawai senior tersebut, sehingga duduk di jabatan COO. Diangkatnya pegawai senior berprestasi sebagai COO, tentu akan menjadikan masa depan perusahaan lebih terjamin dan CEO tidak perlu bingung untuk mendapat rekan kerja yang seimbang.

https://www.gramedia.com/products/loonshots-ide-ide-gila-yang-memenangkan-perang-menyembuhkan-penyakit-dan-mengubah-sektor-industri?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Penutup

Apabila menyimak ulasan di atas, posisi COO bisa dikatakan sebagai sebuah capaian yang patut dikejar oleh seorang pegawai berpengalaman luas dalam perusahaan. Meskipun butuh pengalaman dan jam terbang yang tinggi, kapasitas seseorang mampu melesat lebih maju daripada waktu. Hal ini menjadikan posisi ini bisa juga dicapai oleh seseorang yang masih berusia muda sekalipun.

Maka dari itu, bagi Grameds yang memiliki impian untuk memimpin sebuah perusahaan. Bagi para kaum muda, kalian tentu harus optimis untuk untuk mencapai C-Level dalam suatu perusahaan. Kalian dapat mengembangkan kapasitas dan kualitas sekaligus memperbanyak pengalaman.

Hal tersebut akan sangat membantu kalian dalam menguasai sektor operasional dalam perusahaan. Potensi yang besar dan kualitas mumpuni tentu pada akhirnya akan mengantarkan kalian duduk di jabatan COO.

Demikian pembahasan lengkap tentang Chief Operating Officer, mulai dari pengertian, tugas, tipe, hingga kualifikasinya. Bagi Grameds yang ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang dunia kerja atau perusahaan dapat membaca buku-buku terkait dengan mengunjungi Gramedia.com.

Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Humam

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien