in

Review Buku Range karya David Epstein

Review Buku Range Karya David Epstein – Ketika melihat berita tentang anak umur 12 tahun yang sudah memulai kuliah di bidang IPTEK, apa yang biasanya kita pikirkan? 

“Mungkin 10 tahun lagi (umur dimana kebanyakan orang baru saja menyelesaikan kuliahnya), ia mungkin sudah menjadi salah satu peneliti ternama di bidangnya”. 

Selain itu, ketika melihat anak balita yang mampu menendang bola masuk keranjang yang bahkan ia sendiri belum bisa memanjatnya, apa yang biasanya kita pikirkan? 

“Jika dilatih menjadi pemain bola sejak dini, ia akan menjadi pemain kelas dunia di usia yang sangat belia”. Kita semua akan berpikir, dengan logika linier, bahwa jika seseorang dapat melakukan sesuatu di usia yang jauh lebih muda dari seharusnya, maka pada usia kebanyakan orang baru bisa melakukannya, ia kemungkinan sudah menjadi ahli.

Semasa kita kecil dulu, kita pasti sering sekali diberitahu oleh orang tua untuk selalu fokus pada kemampuan kita yang paling mumpuni. Setiap orang pasti memiliki kemampuan ini, entah itu dalam bidang akademis, olahraga, seni, atau bidang lainnya. 

Budaya untuk berfokus pada kemampuan terbaik ini memang secara langsung mendidik kita untuk menjadi seorang yang spesialis, yaitu orang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam tentang suatu bidang. 

Karena memang secara logika, jika satu orang terus belajar dan terus berlatih fokus dalam satu bidang, maka orang tersebut akan punya pemahaman yang mendalam dan punya pengalaman yang lebih lama dibandingkan orang lain yang baru belajar.

Maka dari itu, mulailah sejak dini, tentang konsisten, dan jangan menyerah adalah rumus sederhana dalam menggapai kesuksesan di bidang apapun, mungkin kebanyakan kita akan mengamininya.

“Dunia semakin kompleks, tidak ada yang mampu menguasai segala hal. Oleh karena itu, memilih satu bidang yang spesifik, mulai sejak dini, lalu teruslah berkutat pada bidang yang sama mungkin secara sadar maupun tidak sadar akan melekat pada pikiran kita.

Namun di era digital seperti sekarang memaksa masyarakat untuk bisa melakukan semuanya  dengan serba cepat dan dinamis. Kita sekarang berada di dunia pembelajaran, dimana kita bisa mengandalkan pola yang hampir selalu sama seperti dulu, karena informasi terus menerus mengalir terus tanpa henti. 

Berbeda jauh dengan abad ke-20. Dimana semua masih berjalan pelan dan fokus sehingga menghasilkan banyak spesialis.

Untuk menghadapi dunia seperti itu bahwa sudah saatnya menjadi seorang generalis, seorang yang mempunyai pengetahuan yang luas tentang banyak bidang dan mampu melihat satu masalah dari berbagai perspektif. 

Di era digital dimana seorang bisa mendapatkan informasi dengan lebih cepat, menjadi generalis mempunyai proses yang lebih mudah dibandingkan dengan menjadi seorang spesialis yang jelas membutuhkan waktu yang lebih banyak.  

Efeknya banyak perusahaan yang saat ini mencari seorang generalis karena dinilai serba bisa, mampu berkontribusi banyak dibandingkan dengan seorang spesialis yang hanya fokus pada satu bidang. Seorang generalis dipandang lebih kreatif dan menciptakan satu ide baru dan segar.

Membicarakan tema terkait self improvement, dalam artikel ini akan membahas buku dengan judul Rangel karya David Epstein dimana isi buku tersebut menjelaskan terkait dengan pengembangan diri untuk melakukan suatu atau beberapa bidang.

Mari kita simak artikel ini selengkapnya terkait review buku range karya david epstein!

Review Buku Range Karya David Epstein

Penulis: David Epstein

Tanggal Terbit: 27 Januari 2020

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 400 Halaman

ISBN: 9786020637761

Pros & Cons

Pros Cons
  • Isi  cerita menarik karena berdasarkan pengalaman dan pengetahuan penulis
  • Bahasa terjemahan mudah dimengerti
  • Banyak cerita yang terlalu panjang terkesan membosankan
  • Beberapa cerita seperti justifikator atau cocoklogi pesan.

Sinopsis

Penulis membahas pandangan ini dengan pendahuluan dengan menceritakan kisah Tiger Woods, yang dianggap sebagai salah satu pemain golf terbaik serta atlet paling terkenal sepanjang masa, yang pada usia sangat muda sudah mampu memegang stik golf dan memukul bola layaknya para pemain golf pada umumnya. 

Ini adalah cerita klasik dari aturan 10.000 jam yang dianggap menjadi salah satu rumus universal kesuksesan. Ada beberapa hal yang membuat Tiger Woods bisa menjadi seorang spesialis seperti sekarang ini. 

Yang pertama adalah lingkungan yang membuat Tiger Woods sendiri, dimana dia hidup dan berkembang dalam lingkungan yang berbentuk kind environment yaitu dia berlatih dengan sumber daya manusia yang optimal, instruksi yang jelas, punya aturan yang jelas dan dapat dilakukan berulang-ulang dengan sempurna.

Selain model Tiger dalam meraih kesuksesan, terdapat cerita Roger Federer (Atlet terkenal dan nomor satu di bidang tenis). 

Tidak seperti Tiger Woods, masa kecilnya justru dihabiskan dengan banyak olahraga selain tenis sebelum akhirnya fokus pada tenis pada masa remaja, usia yang dianggap cukup telat dibandingkan atlet pada umumnya. Masa kecilnya yang selalu dihabiskan dengan berbagai macam olahraga membantu kemampuan atletik dan koordinasi mata dan tangannya.

Review Buku Range Karya David Epstein

Isi buku ini dimulai dengan cerita keluarga Laszlo Polgar yang melatih ketiga anaknya sejak dini untuk menjadi juara catur, dengan hasil mengesankan termasuk judit yang ELO rating nya menempati peringkat ke-8 dunia pada tahun 2004. 

Kesuksesan mendidik anaknya membuatnya mengklaim bahwa jika metode spesialisasi sejak dini ini diterapkan, maka umat manusia dapat mengatasi masalah seperti kanker dan AIDS. Namun pertanyaannya, apakah catur dan golf, dengan aturan sederhana serta mengandalkan pengalaman  berulang (yang disebut juga kind learning environment) merupakan representasi yang tepat untuk dunia saat ini?

Pada bidang-bidang yang termasuk kind learning environment di mana polanya berulang dan aturan mainnya jelas seperti catur, golf, pemadam kebakaran dsb, bahwa para ahli menanggapi positif terkait seberapa ahlinya seseorang ditentukan seiring pengalamannya. 

Namun ada sisi sebaliknya yang disebut wicked learning environment, dimana pola nya tidak selalu berulang seperti analis tren politik dan keuangan, metode spesialisasi dini seperti pada model “Tiger” dan aturan 10.000 jam nampaknya banyak berguna atau bahkan bisa bersifat kontraproduktif.

Wicked learning environment inilah yang menurut dalam buku ini merupakan representasi yang tepat untuk dunia saat ini, dimana informasi pembelajaran mungkin saja terhalang oleh satu dan lain hal, tanpa aturan yang jelas, pola pembelajaran bisa berubah dan respon balik yang didapat bisa tidak akurat. 

Dalam buku ini dijelaskan dengan argumen bagaimana dunia saat ini bertransformasi menjadi wicked world. 

Dimulai dengan penjelasan mengenai flynn effect (peningkatan skor hasil test IQ pada generasi muda di abad ke 20) bahwa dengan adanya modernisasi dan transformasi dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri, kemampuan abstraksi, mencari pola, dan berpikir tanpa mengandalkan pengalaman juga meningkat.

Sebagai contoh, ketika diminta untuk memilih salah satu benda yang tidak termasuk dalam kategori serupa dari burung/senapan/belati/peluru, kebanyakan dari masyarakat modern akan memilih burung karena tidak sesuai dengan kategori senjata. 

Namun, masyarakat pedesaan tidak bisa menjawabnya karena beralasan, senapan harus diisi dengan peluru untuk menembak burung, dan belati digunakan untuk menyembelih burung. 

Kemampuan berpikir secara konseptual dan bisa mengaplikasikannya ke berbagai bidang adalah hal yang dibutuhkan dunia, dan hal ini didapatkan dari latihan dalam konteks yang luas. Hal ini tidak seperti kehidupan masyarakat pra modern, catur, pemadam kebakaran dsb yang mengandalkan pengalaman yang berulang dalam menjalani pekerjaannya.

Dijelaskan juga bagaimana cara mengembangkan range dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah  di bidang matematika. Ada dua tipe pengajaran yang sering digunakan. Tipe pertama dan biasanya yang lebih umum adalah using procedures, dimana rumus akan diberikan kemudian contoh soal dikerjakan dengan mengacu ke rumus yang diberikan tersebut. 

Tipe kedua yaitu making connections, dimana para siswa dirangsang untuk menemukan sendiri alasan mengapa rumus tersebut benar. Jadi, fokusnya lebih ke konsep dibandingkan prosedur. Metode lainnya yaitu interleaving, yaitu menggabungkan beberapa jenis latihan menjadi satu jenis latihan. 

Sebagai contoh sederhana, jika seseorang ingin membedakan karya seni buatan Cezanne, Picasso, dan Renoir, dibandingkan mempelajari karyanya secara terpisah satu demi satu lebih baik mempelajari ketiganya sekaligus.

Selanjutnya ada beberapa cerita  dimulai dari grup musisi yang dapat menjadi ahli dengan mempelajari tidak hanya satu instrumen. Hal ini sejalan dengan teori sampling period versi Roger yang sudah dijelaskan di awal. 

Lalu ada cerita pelukis impresionis terkenal Vincent Van Gogh yang pendidikan dan karirnya berganti-ganti dari mulai dealer kesenian, penjaga toko buku, pastur hingga kembali lagi ke bidang seni. Ada cerita dari sosok Johannes Kepler yang turut andil dalam merevolusi ilmu astronomi. 

Dalam penjelasan Kepler, ia menggunakan teknik analogi, seorang yang memiliki range juga nampaknya digambarkan sebagai orang yang berpikir diluar kebiasaan/thinking outside the box. Ada cerita dari seorang ahli kimia yang justru dapat memecahkan masalah yang dimiliki oleh Exxon selama bertahun-tahun, dan solusinya terinspirasi dari aktivitasnya membantu pekerjaan konstruksi.

Yang terakhir adalah seorang Gunpei Yokoi yang berhasil menciptakan satu mainan revolusioner dari Nintendo, GameBoy. Rahasia pembuatan GameBoy adalah bagaimana Gunpei Yokoi bisa menggabungkan pengetahuan berbagai bidang dan juga menyatukannya dalam satu wadah. 

Gunpei Yokoi juga menggabungkan berbagai bidang teknologi yang sudah ada, sangat mudah dimengerti, dijangkau, dan dibeli oleh masyarakat luas dalam satu wadah baru yang membuat semua orang dapat merasakan seluruh manfaatnya.

Mau tau apa saja pembahasan selengkapnya, anda bisa mendapatkan secara menyeluruh dengan mengakses Gramedia.com untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan detail dari Range karya David Epstein.

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam pembahasan ini akan dijabarkan beberapa kelebihan yang terdapat dalam buku Range. Isi buku ini mudah dipahami karena berdasarkan pengalaman dan latar belakang akademis penulis, penjelasan nya pun mudah dimengerti karena dihubungkan dengan kenyataan yang terjadi.

Lalu ada juga kekurangannya. Pada buku ini  banyak terdapat cerita-cerita nya terkesan bertele-tele sehingga bisa membosankan untuk di baca di beberapa bagian. Ide-ide di setiap babnya terkesan diulang-ulang dengan  perspektif yang dibedakan sedikit saja.

Lalu ada cerita yang terkesan hanya sebagai justifikator alias cocoklogi pesan yang disampaikan dalam buku ini. Namun dengan kekurangan-kekurangan detail ini bisa tertutupi dengan ide utama yang mudah dipahami dan provokatif, tapi juga sangat relevan di dunia sekarang ini.

Secara keseluruhan buku ini patut menjadi buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Terlebih lagi buku ini memiliki kiat-kiat yang dapat mengembangkan skill. Sehingga bisa membantu diri sendiri untuk termotivasi untuk mencoba keahlian dalam beberapa bidang.

Buku ini mendapat rating yang cukup tinggi 4,14 di goodreads, buku yang tidak boleh dilewatkan untuk dibaca.

Kesimpulan

Buku ini menjelaskan terkait dengan kemampuan seseorang untuk menguasai satu bidang atau lebih, poin pentingnya yaitu untuk mengembangkan keahlian yang kita  miliki. Untuk mampu keluar sejenak dari disiplin utama kita dan menikmati area disiplin yang lain pada akhirnya akan dapat membantu atau menginspirasi kita dalam satu atau berbagai cara.

Ketika membaca buku ini, saya teringat dengan konsep Interdisciplinary Teaching, dimana metode ini umum digunakan untuk mendorong seseorang untuk melihat satu kasus dalam berbagai sudut pandang. Sebagai contoh, ketika kita merencanakan untuk jalan-jalan ke suatu tempat atau luar negeri, kita dapat mempelajari cara menghitung kurs jual dan beli mata uang, membaca peta dan membuat itinerary.

Ini ada beberapa pembelajaran yang dapat dilakukan oleh seseorang, di saat yang sama bisa belajar matematika terkait dengan menghitung kurs mata uang, lalu mempelajari geografi ketika kita membaca peta untuk menuju lokasi yang sudah direncanakan, dan keahlian di kehidupan nyata yaitu sewaktu kita membuat itinerary, membuat rincian untuk perjalanan dari budgeting, hingga jadwal ke lokasi mana saja saat melakukan traveling.

Di dalam buku ini Epstein juga menunjukkan kenyataan lain yang terbilang mencengangkan. Dari penelusurannya yang diamati dari sekian banyak atlet, seniman, musisi, penemu dan ilmuwan paling sukses di dunia. 

Ia menemukan bahwa sebagian besar bidang yang punya kompleksitas dan sisi tak terduga yang lebih unggul justru adalah orang yang generalis bukan spesialis. Para generalis ini sering kali terlambat menemukan jalur mereka dan mencoba  banyak bidang, alih-alih berfokus pada satu. 

Tapi imbas positif mereka menjadi lebih kreatif, lebih gesit, dan mampu membuat kaitan konsep yang tidak bisa dilihat oleh  para spesialis.

Ini ternyata menjadi kebutuhan tersendiri di masa sekarang, terutama di dunia kerja. Sebab di era digital saat ini, makin besar  kebutuhan untuk bekerja lebih fleksibel dan penuh dengan penyesuaian akan ketidakpastian. 

Mereka yang hanya berfokus pada satu keahlian, apalagi melibatkan  pengulangan, akan semakin sedikit dibutuhkan. Kita tentu tidak perlu tahu semua hal atau ahli dalam semua bidang. 

Tapi pada saat ini mensyaratkan kita  harus tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Dalam hal ini sudah termasuk tahu bagaimana cara menempatkan diri dengan benar sesuai dengan kebutuhan.

Dijelaskan juga dalam saran singkat yaitu jangan merasa tertinggal. Yaitu dimana semua orang mengalami kemajuan pada laju yang tak serupa. 

Bandingkan diri kita sendiri dengan diri kita yang kemarin, bukan bandingkan diri kita dengan orang lain. Ini menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan spesialisasi karena kita semua pun menjadi spesialis dalam satu bidang atau yang lainnya. 

Buku ini bisa dianggap sebagai respon  bagi ide spesialisasi dini dan sempit sebagai jalan mudah meraih kesuksesan, serta kita pun belajar bahwa proses trial and error ternyata diperlukan.

Demikianlah review buku dari Range karya David Epstein. Semoga artikel ini bisa bermanfaat, serta bisa menumbuhkan minat untuk membaca buku secara keseluruhannya. Diharapkan artikel ini bisa memberikan beberapa gambaran dari isi bukunya.

Jika ingin dengan mudah mendapatkan dan mencari informasi buku-buku best seller lain yang menarik, langsung saja akses Gramedia.com untuk mendapatkannya.

Written by Mega