in

Review Buku Berani Bahagia Karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Review Buku Berani Bahagia Karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga – Berani Bahagia atau The Courage to Be Happy adalah buku karya penulis asal Jepang, Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Buku ini merupakan buku lanjutan dari karya fenomenal internasional, The Courage to Be Disliked atau Berani Tidak Disukai.

Sama seperti buku The Courage to Be Disliked, buku The Courage to Be Happy juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada Oktober 2020 dengan judul “Berani Bahagia”. Dalam buku ini, Anda akan menemukan cara berhubungan kembali dengan diri sejati Anda, mengalami kebahagiaan sejati, dan menjalani kehidupan yang Anda inginkan.

Bagaimana jika satu pilihan sederhana dapat mengungkap takdir Anda?

Sama seperti buku selanjutnya, buku Berani Bahagia akan memaparkan pengajaran kuat dari salah satu sosok besar psikolog abad ke-19, Alfred Adler melalui dialog yang jelas antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Tiga tahun setelah perbincangan pertama mereka, si pemuda merasa kecewa, karena ia menemukan bahwa gagasan Adler hanya bekerja dalam teori saja, tidak dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Namun, melalui percakapan mendalam antara si filsuf dan pemuda itu, mereka mendalami pemahaman mereka mengenai pengajaran Alfred Adler. Mereka sama-sama mempelajari berbagai sarana yang dibutuhkan untuk menerapkan pengajaran itu dalam kehidupan sehari-hari yang kacau.

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga

Entah dibaca sendiri atau melanjutkan dari buku Berani Tidak Disukai, buku Berani Bahagia ini akan mengungkapkan cara berpikir dan bagaimana menjalani hidup yang baru dengan berani. Pengajaran yang disajikan akan memberdayakan Anda untuk melepaskan trauma masa lalu dan ekspektasi dari orang lain.

Anda bisa menggunakan kebebasan ini untuk membangun kehidupan yang benar-benar Anda inginkan. Berani Bahagia akan menyalakan cahaya yang menerangi hidup Anda dan juga dunia.

Mari menemukan keberanian untuk memilih menjadi bahagia. Baca selengkapnya terkait Review Buku Berani Bahagia Karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga disini!

Profil Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga – Penulis Buku Berani Bahagia

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga
eccthai.com

Ichiro Kishimi merupakan pria kelahiran tahun 1956, yang merupakan seorang philosopher dan psikolog Adlerian, serta penerjemah bahasa Inggris dan Jerman. Ichiro Kishimi menyandang gelar M.A. di filosofi, dari Universitas Kyoto.

Ichiro Kishimi juga merupakan Direktur Masyarakat Psikologi Adlerian Jepang, mantan konselor di Maeda Clinic di Kyoto, dan pernah menjadi pengajar filsafat dan bahasa Yunani kuno di berbagai universitas, seperti Kyoto University of Education dan Nara Women’s University.

Saat ini, Ichiro mengajar psikologi pendidikan dan psikologi klinis di Meiji School of Oriental Medicine di Suita, Osaka. Ichiro Kishimi saat ini juga memiliki sebuah kantor konseling pribadi di Kameoka, Kyoto, dan menghabiskan waktu luangnya dengan memberikan kuliah tentang Psikologi Adlerian dan pendidikan anak.

Fumitake Koga merupakan pria berusia 49 tahun, yang lahir pada tahun 1973 di Prefektur Fukuoka, Jepang. Fumitake Koga merupakan seorang penulis profesional yang telah memenangkan berbagai penghargaan.

Fumitake Koga telah merilis banyak karya best seller yang berhubungan dengan bisnis dan non-fiksi umum. Fumitake Koga mengenal psikologi Adlerian saat ia berusia akhir dua puluhan, dan dari situ, ia sangat terpengaruh oleh ide-ide yang menentang kebijaksanaan konvensional.

Setelah itu, Fumitake Koga kerap mengunjungi Ichiro Kishimi di Kyoto, untuk mengumpulkan esensi psikologi Adlerian darinya, dan mencatat metode “format dialog” klasik dari filsafat Yunani yang digunakan dalam buku yang ditulis mereka. Adapun, buku yang mereka tulis bersama, yaitu The Courage to be Disliked dan The Courage to be Happy.

Sinopsis Buku Berani Bahagia

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga

Pros & Cons
Pros Cons
  • Buku ini menindaklanjuti buku sebelumnya yang lebih memperkenalkan teori psikologi Adler, dengan menjelaskan penerapannya pada kehidupan sehari-hari.
  • Dibagi menjadi lima bagian yang berhasil menjelaskan inti dari teori psikologi Adler menjadi sebuah proses yang mudah untuk dimengerti.
  • Narasi dan terjemahan mudah untuk dimengerti.
  • Tidak ada perbedaan tipografi pada dialog yang diungkapkan Filsuf dan Pemuda, sehingga membingungkan pembaca.

FILSUF: Apakah kau bisa memberitahuku apa yang terjadi?

PEMUDA: Maksudmu, mengapa aku mengunjungi ruang belajar ini lagi? Yah, sayangnya, aku di sini bukan untuk sekadar mampir dan mempererat hubungan pertemanan lama kita. Aku tau kau sibuk, dan kondisiku juga membuatku tak memiliki banyak waktu untuk hal semacam ini. Jadi, tentu saja terdapat hal penting yang mendesakku datang lagi ke sini.

FILSUF: Ya, tentu, kelihatannya memang begitu.

PEMUDA: Aku sudah memikirkan banyak hal dengan saksama. Aku sudah dibuat cemas dan terobsesi oleh semua ini lebih dari yang seharusnya, dan memikirkan semuanya masak-masak. Dari situ, aku menemukan satu resolusi yang sangat serius, dan akhirnya aku memutuskan untuk datang dan menyampaikannya kepadamu. Aku tahu ada banyak hal yang perlu dikerjakan, jadi tolong luangkan waktumu malam ini saja. Sebab, bisa jadi ini adalah kunjunganku yang terakhir.

FILSUF: Apa yang terjadi?

PEMUDA: Apakah kau belum menebaknya? Ini mengenai masalah yang telah menyebabkan aku merasa sengsara sekian lama. Apakah aku harus melepaskan Adler?

FILSUF: Ah, aku mengerti.

PEMUDA: Langsung saja ke inti masalahnya, pengajaran Adler itu omong kosong. Benar-benar omong kosong. Sebenarnya, aku harus bicara lebih jauh dan mengatakan bahwa ide-idenya merugikan, bahkan berbahaya. Sekalipun kau tentu bebas memilih apa yang ingin kau percayai, jika memungkinkan, aku ingin untuk seterusnya kau tidak bicara lagi tentang ini. Aku bertekad menjadikan malam ini kunjungan terakhirku, seperti yang tadi sudah kukatakan, dengan kesadaran bahwa aku harus sepenuhnya berhenti berusaha memahami Adler, di hadapanmu dan dengan apa yang kurasakan saat ini.

FILSUF: Jadi, adakah peristiwa yang memicunya?

PEMUDA: Aku akan membahas semuanya dengan tenang dan dalam urutan yang runtut. Pertama-tama, apakah kau ingat hari ketika aku terakhir kali menemuimu tiga tahun lalu?

FILSUF: Tentu saja aku ingat. Waktu itu musim dingin, dengan salju putih berkilauan sejauh mata memandang.

PEMUDA: Ya, itu benar. Langit pada malam itu indah dan berwarna biru, ada bulan purnama. Di bawah pengaruh pengajaran Adler, hari itu aku mengambil satu keputusan besar untuk maju. Aku berhenti dari pekerjaanku di perpustakaan universitas dan menemukan posisi sebagai pengajar di SMP-ku yang dulu. Tadinya aku bertujuan untuk mempraktikkan pendidikan yang didasarkan pada pengajaran Adler dan menyampaikannya kepada sebanyak mungkin anak.

FILSUF: Bukankah itu keputusan yang bagus?

PEMUDA: Tentu saja. Saat itu idealismeku berkobar-kobar. Aku benar-benar tak dapat menyimpan ide-ide yang sangat mengagumkan dan bisa mengubah dunia itu untuk diriku

sendiri. Aku harus membuat lebih banyak orang memahaminya. Tapi siapa? Aku hanya bisa sampai pada satu kesimpulan. Orang dewasa, yang tak lagi polos dan tanpa cela, bukanlah

orang-orang yang perlu tahu tentang Adler. Dengan meneruskan pemikiran Adler pada anak-anak yang akan membentuk generasi bar itulah ide-idenya akan terus berevolusi. Itulah misi yang diberikan padaku. Kobaran api dalam diriku sangat membara, hingga aku sendiri mungkin terbakar olehnya.

FILSUF: Aku mengerti, Kau hanya dapat membicarakan hal ini dalam bentuk lampau?

PEMUDA: Benar, itu semua tinggal sejarah sekarang. Tolong jangan salah mengerti. Aku belum kehilangan harapan pada murid-muridku. Ataupun menyerah atau hilang harapan pada

pendidikan itu sendiri. Hanya saja, aku sudah tak lagi menaruh harap pada Adler, yang artinya, aku sudah tak lagi menaruh harap padamu.

Pada buku Berani Tidak Disukai, Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga berfokus pada pembahasan tentang teori psikologi Alfred Adler yang berpusat pada hubungan antar pribadi. Bagaimana kita sebagai manusia cenderung lebih fokus pada pendapat dan penilaian orang lain, sehingga membuat sebagian besar masalah yang kita alami. Dalam buku Berani Bahagia ini, akan dipaparkan tentang bagaimana cara mengimplementasikan teori Adler ke dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini akan menyajikan sejumlah panduan perilaku yang menunjukkan cara untuk dapat melangkah maju menuju target yang telah ditetapkan pada buku pertama. Berkaitan dengan teori psikologi yang dicetuskannya, Alfred Adler menyatakan bahwa memahami manusia bukan hal yang mudah. Dari segala bentuk psikologi yang ada, psikologi individual mungkin adalah psikologi yang paling susah untuk dipelajari dan dipraktikkan.

Dan walaupun kita mungkin sudah mengumpulkan keberanian dan mengambil langkah pertama, hal itu tak berguna jika kita hanya berhenti di situ saja. Ambil langkah-langkah kecil tanpa henti, itu yang kita sebut sebagai perjalanan.

Pemuda yang tiga tahun lalu datang mempelajari teori psikologi Adler mengalami kegelisahan setelah mencoba menerapkan teori tersebut dalam kehidupannya. Dia bertanya kepada filsuf tersebut, apakah dia harus melepaskan Adler? Namun, sang filsuf menjawab bahwa dirinya tidak mengatakan bahwa Adler merupakan satu-satunya kebenaran yang bersifat mutlak dan kekal. Dapat dikatakan, yang kulakukan yakni memberikan resep kacamata kepada orang lain.

Sasaran perilaku dan sasaran psikologi yang dikemukakan oleh teori psikologi Adler, yakni hidup secara mandiri dan hidup harmonis dengan masyarakat. Terdapat dua sasaran psikologi yang mendukung perilaku-perilaku tersebut, yaitu kesadaran bahwa diri memiliki kemampuan dan kesadaran bahwa orang lain di sekitarku adalah teman seperjuanganku. Menurut penulis Alfred Adler tidak memilih psikologi untuk dapat menganalisis pikiran manusia.

Inspirasi untuk menggeluti dunia medis adalah akibat kematian adik laki-lakinya. Hal utama yang ada di benaknya adalah apa arti kebahagiaan bagi manusia? Dan di awal abad kedua puluh, saat Adler masih hidup, pendekatan yang mampu mempelajari manusia dan menyelidiki bentuk nyata dari kebahagiaan adalah psikologi.

Kelebihan Buku Berani Bahagia

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga

Seperti yang telah dijelaskan di atas, konsep buku Berani Bahagia masih sama dengan buku Berani Tidak Disukai, di mana terdapat seorang pemuda dan seorang filsuf yang terlibat dalam diskusi mengenai teori psikologi Adler.

Namun, buku ini menindaklanjuti buku sebelumnya yang lebih memperkenalkan teori psikologi Adler, dengan menjelaskan penerapannya pada kehidupan sehari-hari. Jika diibaratkan, buku Berani Tidak Disukai bagaikan peta, dan buku ini bagaikan kompas yang akan menuntun pembaca untuk menjalani kehidupan bahagia berdasarkan teori Adler.

Buku Berani Bahagia ini dibagi menjadi lima bagian yang berhasil menjelaskan inti dari teori psikologi Adler menjadi sebuah proses yang mudah untuk dimengerti. Format tersebut membuat buku ini menjadi nyaman untuk dibaca. Ditambah narasi yang dituliskan penulis juga memang sangat mengalir. Kemudian, versi terjemahan buku ini juga sangat baik, mulai dari pemilihan kata hingga susunan kalimatnya.

Secara keseluruhan buku Berani Bahagia adalah sebuah buku sekuel yang melengkapi penjelasan dan memperdalam makna teori psikologi Adler. Dengan membaca buku ini, pembaca dapat semakin memahami seperti apa sebetulnya teori yang Adler cetuskan.

Kekurangan Buku Berani Bahagia

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga

Selain kelebihan, buku Berani Bahagia ini memiliki kekurangan. Kekurangan pada buku ini, yakni pada tidak adanya perbedaan tipografi pada dialog yang diungkapkan Filsuf dan Pemuda. Hal ini cukup membuat beberapa pembaca merasa bingung akan siapa yang sedang berdialog. Kemudian, tampilan buku ini dinilai terlalu dekat dengan bagian pinggir kertas, sehingga kurang nyaman untuk dibaca.

Pesan Moral Buku Berani Bahagia

review buku berani bahagia karya ichiro kishimi dan fumitake koga

Melalui penjelasan dalam buku Berani Bahagia ini, kita diingatkan kembali bahwa kebahagiaan sejatinya datang dari diri sendiri. Sebab, menjadi bahagia adalah sebuah keputusan yang bisa Anda tentukan. Dunia dan orang lain memang bisa memiliki andil, tetapi dirimu sendirilah sang pemegang kendali dan kunci untuk menemukan kebahagiaan.

Dari buku ini juga, kita dapat belajar untuk senantiasa bisa menjadi seseorang yang mandiri dan merdeka atas diri sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Kemudian, opini dan tindakan orang lain sejatinya tidak akan mempengaruhi kita, jika kita memang tidak ingin dipengaruhi. Ingat bahwa diri Anda yang memiliki kontrol atas kehidupan yang Anda jalani. Kemudian, anggaplah orang lain sebagai kawan, bukan pesaing atau orang yang derajatnya berada di bawah atau di atas kita.

Nah, itu dia Grameds ulasan review buku Berani Bahagia karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Bagi kalian yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang teori psikologi Adler dan cara mencapai kebahagiaan, kalian bisa mendapatkan buku ini hanya di Gramedia.com. Selamat membaca!

Rating: 4.06

Written by Gabriel