Geografi

Siklus Batuan: Pengertian, Proses, dan Klasifikasinya

siklus batuan
Written by Rifda Arum

Siklus Batuan – Apakah Grameds tahu jika bebatuan yang ada di sekitar kita ini memiliki siklus (perputaran) sama halnya dengan air? Yap, bebatuan tersebut awalnya berasal dari magma yang ada di bawah permukaan bumi ini. Berhubung batuan ini memiliki sebuah siklus, maka dari itu keberadaannya akan selalu diperbaharui alias seolah tidak pernah habis. Biasanya, batuan ini digunakan sebagai bahan dasar industri.

Batuan yang ada di muka bumi ini tidak hanya sekadar kerikil atau batu sungai saja, akan tetapi banyak sekali jenisnya. Bahkan sebuah intan atau permata yang memiliki harga fantastis saja ternyata juga berupa batu lho… Hanya saja dalam proses geologinya mengandung komponen kimia khusus yang mempunyai harga jual tinggi. Lalu sebenarnya, apa sih siklus batuan itu? Bagaimana proses yang terjadi dalam siklus batuan ini? Apa saja jenis-jenis batuan yang ada di bumi ini? Nah, supaya Grameds tidak bingung, yuk simak ulasan berikut ini!

siklus batuan

https://www.pexels.com/

Apa Itu Batuan?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), batuan adalah mineral atau paduan mineral yang membentuk bagian utama dari kerak bumi. Definisi lain mengenai batuan ini adalah kumpulan-kumpulan atau agregat dari mineral-mineral yang sudah dalam membeku atau keras. Tidak hanya itu saja, batuan merupakan salah satu elemen kulit bumi yang menyediakan mineral-mineral anorganik, yang mana melalui proses pelapukan dapat menghasilkan tanah.

Dalam sebuah batuan, jarang memuat satu mineral saja, sehingga kebanyakan batuan mengandung gabungan dari dua mineral atau lebih. Keberadaan mineral tersebut menjadi substansi anorganik dengan komposisi kimia dan struktur atom tertentu. Terlebih lagi, jumlah mineral itu beragam jenisnya.

Disiplin ilmu yang mempelajari keberadaan batuan di planet bumi ini disebut dengan Petrologi, yang mana merupakan komponen penting dari geologi. Biasanya, keberadaan batuan ini dimanfaatkan oleh manusia untuk pondasi bangunan yang memiliki ketinggian kurang dari 10 meter. Selain itu, batuan yang memiliki warna dan tekstur unik sering juga digunakan sebagai hiasan pada sebuah bangunan.

Bagaimana Proses Siklus Batuan?

siklus batuan

Siklus batuan adalah sebuah proses perputaran dimana material bumi berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, akibat adanya interaksi antara lempengan tektonik dan siklus hidrologi. Siklus batuan ini berbeda dengan siklus hidrologi yang dapat terjadi setiap hari. Dalam siklus batuan, justru prosesnya membutuhkan waktu hingga ribuan tahun sehingga tidak diketahui secara jelas kapan dan akhir dari siklusnya.

Secara singkat, proses siklus batuan ini berasal dari magma yang keluar dari bawah permukaan bumi, kemudian menjadi dingin karena terkena hujan dan sinar matahari, sehingga menjadikannya sebuah batuan beku. Batuan beku tersebut jika dibiarkan di udara terbuka maka kelamaan akan rusak dan hancur. Nah, supaya lebih jelas akan bagaimana siklus batuan yang terjadi di planet Bumi ini, perhatikan uraian berikut ini!

1. Magma Mengalami Kristalisasi

Batuan yang ada di bumi ini semuanya diawali oleh adanya magma. Magma ini merupakan “bahan pokok” pembentuk batuan yang terletak di bawah permukaan bumi. Biasanya, magma ini keluar dari gunung berapi. Magma ini mengalami proses kristalisasi, yakni proses pembekuan hingga membentuk sebuah kristal atau mineral.

Grameds pasti sudah tahu jika magma itu berupa cairan yang panas, sehingga ion-ion penyusunnya juga akan bergerak bebas tanpa beraturan. Nah, ketika gunung berapi meletus, pasti magma juga akan ikut keluar dan meleleh di sepanjang permukaan bumi. Jika lelehan magma tersebut terkena air hujan, pasti akan mengalami proses kristalisasi tersebut. Dalam proses ini, Grameds dapat membayangkannya sebagaimana air yang didinginkan hingga menjadi es.

Magma yang telah mengkristal ini biasanya dapat ditemukan di sepanjang gunung berapi yang telah mengalami erupsi. Nah, dari magma yang membeku ini nantinya akan membentuk sebuah jenis batuan, yakni batuan beku.

2. Mengalami Pengangkatan dan Pelapukan

Batuan-batuan beku yang telah terbentuk tersebut apabila berada di udara terbuka, tentu saja akan mengalami proses pelapukan. Batuan yang mengalami proses pelapukan paling cepat adalah batuan yang membeku di permukaan bumi, sebab terpapar langsung oleh cuaca di bumi baik air hujan maupun panas matahari. Maka dari itu, batuan yang berada di permukaan bumi jelas lebih cepat mengalami pelapukan dibandingkan batuan yang berada di bawah permukaan bumi.

Namun meskipun demikian, bukan berarti batuan yang berada di bawah permukaan bumi ini tidak bisa mengalami pelapukan ya…Batuan-batuan di bawah permukaan tetap dapat mengalami proses pelapukan, hanya saja harus melewati proses pengangkatan ke permukaan tanah terlebih dahulu. Proses pengangkatan batuan di bawah permukaan bumi biasanya terjadi melalui proses tektonik.

Proses pelapukan pada batuan dapat terjadi karena adanya reaksi fisik dan kimia antara batuan dengan interaksi udara, air, maupun organisme tertentu. Setelah batuan menjadi lapuk, nantinya akan menjadi material sedimen melalui sebuah proses erosi.

3. Proses Erosi

Setelah mengalami proses pengangkatan dan pelapukan, proses selanjutnya adalah erosi. Dalam proses ini, air berperan paling banyak dalam siklus batuan. Air yang mengalir, misalnya dari sungai, dapat mengangkut material-material pelapukan batu menuju tempat lain. Selain air mengalir, ada juga angin dan gletser yang mampu mengangkut material menuju tempat lain alias berpindah.

4. Pengendapan dan Pembentukan Batuan Sedimen

Material-material dari pelapukan batuan beku yang telah terangkut atau berpindah ini, lama-kelamaan akan mengendap di suatu tempat dan bertambah menjadi semakin banyak. Berhubung jumlah batuan yang mengendap ini semakin banyak, maka lama-kelamaan batuan juga akan mengeras. Proses itulah yang membentuk sebuah batuan sedimen.

5. Batuan Sedimen Berubah Menjadi Batuan Metamorf

Keberadaan batuan sedimen memiliki jumlah yang tidak sedikit, terutama di bawah permukaan bumi. Ketika batuan tersebut tidak tersingkap menuju ke atas permukaan bumi terutama saat terjadi proses pengangkatan (tektonik), maka batuan tersebut justru akan terkubur lebih dalam lagi.

Semakin dalam batuan sedimen terkubur di bawah permukaan bumi, maka akan semakin besar kemungkinannya untuk terpapar suhu dan tekanan dari kompresi tektonik serta energi panas yang berasal dari panas bumi. Akibatnya, batuan akan berubah hingga menjadi batuan metamorf atau malihan.

6. Batuan Metamorf atau Malihan Berubah Kembali Menjadi Magma

Berhubung batuan ini memiliki siklus atau perputaran layaknya air hujan, maka batuan metamorf atau malihan ini juga akan kembali lagi menjadi magma. Nah, dari magma itu nantinya akan mengalami proses selanjutnya, hingga begitu seterusnya.

geologi umum - siklus batuan

Klasifikasi Batuan Beku dan Batuan Sedimen

Batuan Beku

1. Batu Apung

batuan apung - siklus batuan

Batu apung memiliki ciri berupa warna yang keabu-abuan, memiliki pori-pori, ringan, dan dapat mengapung di dalam air. Proses terbentuknya adalah berasal dari pendinginan magma yang berbentuk gelembung-gelembung gas. Batu apung ini memiliki beragam manfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk mengamplas atau menghaluskan kayu, sebagai bahan pengisi (filler) terutama di bidang industri, sebagai isolator temperatur tinggi, dan masih banyak yang lainnya.

2. Batu Obsidian

batu obsidian - siklus batuan

Batu obsidian ini memiliki ciri berupa warnanya yang hitam seperti kaca, tetapi tidak ada kristal. Proses terbentuknya adalah berasal dari lava permukaan yang mendingin secara cepat. Biasanya, batu ini digunakan sebagai alat pemotong atau ditempatkan di ujung tombak terutama pada masa purbakala. Namun untuk zaman sekarang ini, batu obsidian kerap digunakan sebagai kerajinan.

3. Batu Granit

batu granit - siklus batuan

Batu granit ini memiliki ciri berupa bentuknya yang seperti terdapat kristal-kristal kasar dengan warna putih, abu-abu, hingga jingga. Batu ini biasanya dapat ditemukan di daerah pinggiran pantai, pinggiran sungai, maupun di dasar sungai.  Proses pembentukannya adalah berasal dari pendinginan magma di bawah permukaan bumi yang terjadi secara lambat. Pada zaman sekarang, keberadaan batu granit kerap digunakan sebagai bahan bangunan.

4. Batu Basalt

batu basalt - siklus batuan

Batu basalt ini memiliki ciri berupa adanya kristal-kristal berbentuk sangat kecil dengan warna hijau keabu-abuan. Tak jarang, batu ini memiliki lubang-lubang. Proses pembentukannya adalah berasal dari pendinginan lava yang mengandung gas, tetapi gasnya telah meluap. Batu basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, tetapi dapat juga digunakan sebagai bahan pondasi bangunan misalnya gedung, jembatan, dan jalan raya.

5. Batu Diorit

batu diorit - siklus batuan

Batu diorit ini memiliki ciri berupa warnanya yang kelabu bercampur putih, tetapi ada juga yang berwarna hitam bercampur putih. Proses pembentukannya adalah berasal dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic. Biasanya, batu ini diproduksi pada busur lingkaran vulkanis yang mana membentuk suatu gunung. Kegunaan batu diorit adalah sebagai batu ornamen dinding maupun lantai yang ada di bangunan gedung.

Batuan Sedimen

1. Batu Konglomerat

batu konglomerat - siklus batuan

Batu konglomerat ini memiliki ciri berupa adanya kerikil-kerikil bulat, dengan batu dan pasir yang merekat satu sama lain. Proses pembentukannya adalah berasal dari bahan-bahan yang lepas akibat gaya berat sehingga menjadikannya lebih padat dan terikat. Biasanya, batu jenis ini digunakan sebagai bahan bangunan.

2. Batu Pasir

batu pasir - siklus batuan

Sesuai dengan namanya, batu pasir ini tersusun dari butiran-butiran pasir dengan warna abu-abu, kuning, dan merah. Proses terbentuknya adalah berasal dari bahan-bahan yang lepas karena adanya gaya berat sehingga menjadikannya lebih padat dan terikat. Meskipun proses pembuatannya hampir sama dengan batu konglomerat, tetapi manfaatnya berbeda. Pada batu jenis ini, biasanya digunakan sebagai material utama dalam pembuatan gelas atau kaca. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan sebagai konstruksi bangunan.

3. Batu Serpih

Batu serpih ini memiliki ciri berupa bentuknya yang lunak dan baunya seperti tanah liat. Memiliki butir-butir batuan halus dengan warna hijau, hitam, kuning, merah, dan abu-abu. Proses terbentuknya hampir sama dengan batu konglomerat dan batu pasir, yakni dari bahan-bahan yang lepas akibat dari gaya berat sehingga menjadikannya semakin padat dan terikat. Biasanya, batu ini digunakan sebagai bahan bangunan.

4. Batu Gamping (Kapur)

Batu ini memiliki ciri berupa agak lunak dengan warna putih keabu-abuan. Bahkan batu ini dapat membentuk gas karbondioksida jika ditetesi oleh asam. Proses terbentuknya adalah berasal dari cangkang binatang lunak misalnya siput, kerang, dan binatang laut yang telah mati. Cangkang tersebut tidak akan musnah, tetapi akan memadat dan membentuk batu kapur. Biasanya, batu jenis gamping ini dijadikan sebagai bahan baku pembuatan semen.

5. Batu Breksi

Batu breksi di Tebing Breksi, Yogyakarta

Batu breksi ini memiliki ciri bentuk berupa gabungan pecahan-pecahan biasanya berwarna merah. Proses terbentuknya adalah berasal dari letusan gunung berapi yang terlempar tinggi ke udara, kemudian mengendap di suatu tempat. Keberadaan batu ini biasanya dijadikan sebagai kerajinan dan bahan bangunan.

Karakteristik Mineral Pada Batuan

Batuan Beku

Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, biasanya melihat pada indeks warna dari batuan kristal. Pada dasarnya, warna mineral sebagai penyusun batuan beku dikelompokkan menjadi dua, yakni:

  • Mineral Felsik, yaitu mineral yang memiliki warna terang. Terdiri dari mineral kuarsa, feldspar, feldspatoid, dan muskovit.
  • Mineral Mafik, yaitu mineral yang memiliki warna gelap. Biasanya berupa biotit, piroksen, amphibol, dan olivin.

Berdasarkan indeks warna, mineral pada batuan beku memiliki klasifikasi sebagai berikut:

  • Leucoctaris Rock, yang mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
  • Mesococtik Rock, yang mengandung sekitar 30-60% mineral mafik.
  • Melanocratic Rock, yang mengandung lebih dari 60% mineral mafik.
  • Holofelsic, yakni yang memiliki indeks warna kurang dari 10%
  • Felsic, yakni yang memiliki indeks warna 10-40%.
  • Mafelsic, yakni yang memiliki indeks warna 40-70%
  • Mafik, yakni yang memiliki indeks warna lebih dari 70%

Batuan Sedimen

Pada batuan sedimen, biasanya penamaannya didasarkan pada butir penyusun pada batuan tersebut. Misalnya, breksi, pasir, lempung, dan lain-lain.

  • Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir mineral yang lebih besar dari 2 mm dan butiran yang bersudut.
  • Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir mineral lebih besar dari 2 mm dan butirannya berbentuk bundar.
  • Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 hingga 2 mm.
  • Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 hingga 1/256 mm.
  • Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir yang lebih kecil dari 1/256 mm.

Mengenal Apa Itu Magma Secara Singkat

Dalam proses siklus batuan, magma merupakan asal-usul dari terbentuknya batuan yang ada di planet bumi ini. Pada dasarnya, magma adalah campuran dari batuan cair dan semi cair yang hanya dapat ditemukan di bawah permukaan bumi. Grameds pasti sudah tahu bahwa planet bumi ini terdiri dari tiga lapisan, yakni inti bumi yang merupakan pusat dan memiliki suhu panas, mantel bumi berada di tengah, dan kerak bumi sebagai lapisan luar sekaligus tempat tinggal makhluk hidup.

Nah, keberadaan magma itu berasal dari bagian antara lapisan mantel bumi dan kerak bumi. Pergerakan magma biasanya dipengaruhi oleh pergerakan lempeng yang ada di lapisan mantel bumi. Tak jarang pula, magma keluar dari gunung berapi dengan suhu sekitar 700-1.300⁰ C.

Nah, itulah penjelasan mengenai bagaimana siklus terjadinya batuan dan jenis-jenis batuan yang ada di planet bumi ini. Apakah Grameds pernah melihat salah satu jenis-jenis batuan beku atau batuan sedimen tersebut?

Baca Juga!