Desain

Aliran Surealisme: Pengertian, Contoh Karya Surealisme

Written by Laeli Nur Azizah

Aliran Surealisme – Seni lukis termasuk ke dalam cabang aliran seni rupa. Di dalam cabang seni lukis, seseorang bisa menyalurkan kreativitas mereka dengan menggunakan bidang dua dimensi, seperti halnya kanvas, papan, kertas gambar, dan juga dapat memakai media lainnya. Dalam bidang seni, terdapat beberapa aliran yang menghasilkan berbagai macam jenis seni lukis yang indah dan penuh makna. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu aliran seni rupa yang cukup terkenal dan eksis hingga sekarang, yaitu aliran Surealisme. Aliran yang satu ini adalah aliran seni yang menampilkan gambar objek yang nyata dalam kondisi yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Sehingga aliran Surealisme memiliki citra seperti dalam keadaan mimpi.

Perkembangan seni lukis memang telah ada sejak zaman dulu. Hal tersebut berkaitan dengan suatu ekspresi jiwa seseorang yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Dari gagasan ataupun ide dari aliran seni lukis yang sudah ada, pastinya akan menghasilkan sebuah gaya lukisan yang kemudian akan membedakan antara seniman satu dengan seniman yang lainnya. Bahkan di dalam beberapa aliran seni lukis memiliki suatu ajaran yang dapat dengan mudah dipahami.

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas tentang pengertian aliran Surealisme, ciri-ciri, tokoh, dan contoh karya masing-masing seniman. Namun sebelum membahas lebih dalam, hal pertama yang akan kita bahas adalah tentang pengertian aliran Surealisme.

Pengertian Surealisme

Surealisme merupakan sebuah aliran yang menyajikan kontradiksi antara mimpi dan realita kemudian menjadikannya nyata ke dalam sebuah gambar yang menampilkan objek-objek nyata dalam kondisi yang tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata. Hal tersebut seperti di dalam mimpi atau alam bawah sadar kita. Surealisme sendiri menggunakan pendekatan teori psikologi Freud yang mengeksplor tentang alam bawah sadar dan citra sebuah mimpi manusia sebagai suatu penggambaran dari hasrat manusia.

Mimpi ataupun citra dari alam bawah sadar tersebut diyakini dapat menunjukkan keinginan dan juga hasrat manusia yang sesungguhnya akan tetapi hal itu sudah dikubur di alam bawah sadar karena adanya tekanan sosial ataupun hal lainnya inguk tidak menampilkannya. Walaupun sudah ditutupi, itu bukan berarti hal yang menjadi sebuah hasrat dan juga keinginan yang sebenarnya dari seseorang merupakan hal yang negatif. Kemungkinan, sesuatu yang dipendam itu bisa terjadi karena tidak percaya diri, malu, sampai ditakuti karena adanya trauma tertentu. Hal tersebut juga bisa sesederhana sebuah mimpi di masa kecil seseorang yang terus memudar karena harus menghadapi realitas yang lebih logis saat mereka dewasa. Mempunyai hasrat yang sedikit tidaklah masalah, selama kita bisa mengendalikan dan tidak mengikutinya.

 

Kemunculan Surealisme

Aliran Surealisme merupakan salah satu gerakan seni yang paling besar di abad ke-20. Surealisme dicetuskan oleh Andre Breton, yaitu seorang Sastrawan dari aliran Dadaisme di dalam tulisan Manifesto Surealisnya di tahun 1924. Aliran yang satu ini berawal dari dunia sastra dan berujung menular ke dunia seni rupa dan bidang seni yang lainnya. Akan tetapi, beberapa ahli mengungkapkan bahwa aliran ini sudah ada sejak tahun 1917, melalui sebuah karya dari Giorgio de Chirico yang menampilkan pemandangan trotoar kota dengan sentuhan gaya yang terlihat seperti halusinasi. Walaupun pada akhirnya, Chirico memutuskan untuk meninggalkan gaya melukisnya tersebut. Tetapi karyanya telah menginspirasi Mac Ernst untuk memakai gaya yang serupa.

Seperti halnya mayoritas aliran seni, aliran Surealisme merupakan sebuah produk yang hadir dari periode sejarahnya. Aliran tersebut melakukan pemberontakan kepada zona nyaman yang dihasilkan oleh kaum kelas menengah kebawah. Para Dadais tidak sepakat dengan kepuasan kaum menengah tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa kaum menengah merupakan suatu kaum yang paling terhimpit horison nya dengan zona nyamannya sendiri. Sampai mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya mereka merupakan salah satu kaum yang paling dirugikan di dalam tatanan masyarakat modern.

Hal tersebut menggambarkan bagaimana Dadais dengan berbagai macam idenya yang mengejutkan dan di luar nalar hendak berusaha untuk menggugah para kaum kelas menengah keluar dari pemikiran generik tersebut. Aliran Surealisme sendiri masih mengadopsi ide tersebut, tapi melakukannya dengan membawa citra mimpi yang cenderung imajinatif pada objek-objek yang nyata. Di sisi kain, Dadais menampilkan sesuatu yang mengejutkan melalui sebuah citra buruk, acak, dan tidak lazim untuk dipandang masyarakat umum. Aliran Surealisme selalu ingin membuat pikiran mereka bebas dari berbagai batasan realitas yang dibangun sendiri oleh masyarakat modern.

Berakhirnya dari Surealisme

Adapun polemik yang muncul di antara para sejarawan tentang akhir dari aliran ini. Untuk beberapa sejarawan, Surealisme berakhir sesudah terjadi Perang Dunia II. Saat gerakan seni modern lainnya menjadi terkenal. Sedangkan para ahli mengungkapkan bahwa kematian Andre Breton yang terjadi di tahun 1966 menandai berakhirnya aliran Surealisme. Di sisi lain, pendapat lainnya mengungkapkan bahwa aliran yang satu ini tetap berlanjut hingga sekarang dan banyak tercermin melalui karya seni kontemporer.

Unsur-Unsur Surealisme

Berikut ini adalah beberapa unsur Surealisme yang membantu terciptanya sebuah karya Surealis. Unsur-unsur tersebut antara lain:

1. Mitos

Mitos merupakan sebuah ungkapan dari dalam jiwa manusia. Tiap manusia mempunyai ketakutan di dalam dirinya yang mereka percaya. Sementara di dalam Surealisme, mereka akan menampilkan mitos-mitos tersebut, yang mungkin kita percaya atau kita takuti. Dengan adanya mitos, nilai sebuah seni dari karya Surealis akan semakin bertambah.

2. Mimpi

Mimpi adalah salah satu jalan terbaik untuk mengungkapkan suatu hal yang berasal dari alam bawah sadar. Dengan adanya mimpi, hal-hal yang tidak nyata bisa diciptakan dan direalisasikan ke dalam sebuah bentuk karya.

3. Metamorfosis

Metamorfosis biasanya akan menggunakan teknik automatic, frottage , drawing, fumage, decalcomania, cadavre exquis, dan teknik pengembangannya.

Ciri-Ciri Aliran Surealisme

Berikut ini adalah beberapa ciri dari aliran Surealisme yang perlu diketahui:

a. Menyajikan gambar objek nyata dalam kondisi tidak nyata
b. Pencitraan seperti di dalam sebuah mimpi
c. Memiliki kontras yang tinggi, itu artinya: ada wujud besar yang berdampingan dengan wujud kecil
d. Memainkan sebuah imaji yang ada di dalam mimpi dengan yang ada di dunia nyata
e. Terkesan seperti fantasi namun tetap berpegangan pada referensi yang ada di dunia nyata

Gaya dan Teknik Surealis

Karya lukisan Surealis tidak hanya ditentukan oleh karakteristik yang bisa dikenali, tapi juga oleh filosofi yang meyakini penggunaan teknik tertentu untuk mengungkapkan maksud dari karya seni dan memungkinkan mereka mencapai tujuannya.

Beberapa karya dari seniman Surealis, misalnya karya Picasso berbeda dengan karya milik Max Ernst. Para seniman cenderung akan mengubah gaya mereka seiring berjalannya waktu, bahkan mereka juga akan menggunakan gaya serta teknik yang berbeda di dalam satu karya seni. Beberapa teknik yang umumnya digunakan oleh para seniman Surealisme adalah kolase, automatisme, grattage, dan frottage.

1. Automatisme

Automatisme kerap dipakai dalam penulisan. Dimana penulis akan membiarkan aliran kata mengalir dengan sendirinya tanpa adanya hambatan. Proses yang sama juga diterapkan pada lukisan Surealis, dimana para seniman akan membiarkan kuas mereka melukis dan bergerak dengan sendirinya tanpa adanya hambatan.

2. Frottage dan Grattage

Frottage yaitu ketika seorang seniman membuat permukaan yang memiliki tekstur dan menggosoknya menggunakan bahan yang lembut seperti krayon. Sementara Grattage lebih mengacu saat potongan cat dihilangkan dengan menggunakan cara tertentu.

Tokoh Aliran Surealisme

Di bawah ini adalah beberapa tokoh dari aliran Surealisme yang mempunyai pengaruh cukup besar dalam pergerakan seni Surealis. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:

1. Rene Magritte

Rene Magritte lahir pada tanggal 21 November 1898 merupakan salah satu seniman asal Belgia yang paling terkenal di abad ke-20. Magritte memperoleh banyak sekali pujian dan sanjungan atas pendekatannya yang sangat istimewa terhadap aliran Surealisme. Akan tetapi, sebelum menjadi seorang seniman, untuk menunjang kehidupannya, Magritte menghabiskan waktu hingga bertahun-tahun untuk bekerja mendesain dan memproduksi cover buku.

Magritte sangat tertarik dengan keberadaan kaum kelas menengah, yaitu kaum yang menghabiskan hampir sebagian besar waktunya untuk bekerja dan menghabiskan uang mereka untuk bertahan hidup. Menurut Magritte, kelas menengah tergolong kurang miskin untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah, tapi juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti rumah. Kehidupan tersebut Ia lambangkan melakui lukisan pria yang mengenakan topi bowler.

Lukisan Aliran Surealisme Golconda dan Analisisnya

"Contoh

Karya tersebut menampilkan sebuah adegan hujan manusia. Dimana semua orang terlihat hampir identik atau mirip satu sama lain dan menggunakan pakaian yang sama, lengkap dengan topi bowler. Walaupun begitu, bisa jadi pria-pria yang ada di lukisan tersebut hanya melayang karena tidak adanya indikasi gerakan yang tersirat. Latar belakang dari lukisan tersebut adalah kawasan yang ada di pinggiran kota yang mirip dengan kawasan dimana Magritte tinggal. Ia juga menggunakan pakaian dengan cara yang sama, yaitu seperti orang-orang yang ada di lukisan tersebut. Topi bowler merupakan sebuah topi yang biasa digunakan oleh kaum kelas menengah pada saat itu.

Salah satu interpretasi ataupun tafsiran yang bisa diproduksi yaitu bahwa Magritte ingin menonjolkan garis batas antara individualitas dan asosiasi atau kelompok yang sudah hilang dan kabur di masa modern ini. Semua pria menggunakan pakaian yang sama, mempunyai fitur tubuh yang serupa, dan semuanya melayang secara bersamaan di tempat yang sama. Kebebasan individu sudah hilang, padahal hal tersebut adalah salah satu dasar dari Hak Asasi Manusia untuk mengekspresikan dirinya sendiri dengan cara yang mereka inginkan.

2. Frida Kahlo

Frida Kahlo merupakan seorang seniman yang biasa menggunakan simbolisme visual yang berasal dari rasa sakit fisik yang Ia alami dalam upaya untuk lebih memahami penderitaan emosional. Dari semenjak kecil, Kahlo sudah menderita polio yang membuat kakinya tidak seimbang. Semasa hidupnya, Kahlo mengalami rasa sakit yang tidak kunjung usai. Sehingga Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Sebelum Kahlo, bahasa kematian, kehilangan, dan juga kesendirian sudah diteliti dengan baik oleh beberapa seniman pria. Akan tetapi hasilnya belum dibedah secara signifikan oleh seniman wanita. Tak hanya itu saja, Kahlo juga tidak hanya masuk ke ranah Simbolisme yang umum saja, namun Ia juga memperluas hal itu dengan cara membuat simbol miliknya sendiri.

Kahlo tak hanya dikategorikan sebagai seorang seniman Surealisme. Tapi juga menjadi salah satu tokoh pergerakan seni feminis. Ia sudah banyak membuat simbol atau ikon yang khas yang dipakai sepanjang karirnya, termasuk rambut, hewan, dan pita. Kahlo berhasil menciptakan cara baru untuk membahas mengenai aspek dari identitas wanita, sekalipun yang paling kompleks. Tidak hanya menjadi seniman yang hebat, Kahlo juga menjadi sosok seorang yang banyak dikagumi karena pribadinya yang unik. Potret dari wajah Kahlo yang juga sangat ikonik yaitu dengan ciri khas alis tebal dan bersatu. Ia juga mempunyai pengaruh besar untuk seniman lainnya. Sampai sekarang, masih banyak seniman kontemporer yang menggunakan citra potretnya untuk dipakai sebagai referensi karya mereka.

Lukisan Surealisme The Wounded Deer dan Analisisnya

Contoh Karya Aliran Surealisme: The Wounded Deer oleh Frida Kahlo, gambar asli diperoleh melalui: fridakahlo.org

Lukisan yang satu ini menampilkan sosok hibrida antara rusa dan manusia yang merupakan potret wajah sang pelukis, yaitu Frida Kahlo. Ia menempatkan dirinya menjadi makhluk yang tak berdaya dn terluka karena anak panah yang menancap di seluruh tubuhnya. Sepertinya, makhluk hibrida ini sedang diburu di hutan.

Apabila dilihat dari adegan yang ada di lukisan, Kahlo menegaskan bahwa dia masih hidup. Akan tetapi anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya perlahan-lahan pasti akan membunuhnya. Makhluk tersebut terlihat menggunakan anting-anting mutiara, seakan-akan menyoroti keinginannya untuk menjadi seorang wanita lainnya yang mungkin bisa hidup lebih lama karena tidak menderita penyakit seperti dirinya. Ia juga terlihat menunjukkan keinginannya untuk hidup lebih bebas di alam terbuka.

Kahlo tidak menggambarkan dirinya sebagai seekor rusa jantan yang memiliki tanduk besar. Hal tersebut menunjukkan spiritualitasnya terhadap pemikiran feminis. Seperti halnya satir terhadap kondisi dunia seni yang selalu dikuasai oleh seorang pria. Jarang sekali ada wanita yang mendapatkan tempat untuk menjadi seniman. Di lukisan ini, Ia juga menunjukkan ketertarikannya untuk mengapresiasi seniman besar lainnya yang ada di masa lalu. Lukisan tersebut diasosiasikan dengan lukisan yang bertema St. Sebastian yang mempunyai adegan serupa, yaitu anak panah yang menancap di seluruh tubuh.

3. Salvador Dali

Salvador Dali merupakan salah satu seniman Surealis yang paling terkenal, dominan, dan juga produksi di era abad ke-20. Dali dikenal sebagai pioner seniman yang mengetahui bahwa keteran komersil juga dibutuhkan untuk seorang seniman. Ia kerap muncul di TV dan intensif memperoleh wawancara pers. Dalam perjalanan karirnya, Ia tidak hanya melukis, tapi juga menyelami media seni lain seperti seni grafis, seni pahat, seni periklanan, seni desain, sastra, film, dan yang cukup terkenal adalah kolaborasi yang Ia lakukan bersama dengan Luis Buñuel dan Alfred Hitchcock.

Selain karena keahlian tekniknya yang tidak terkalahkan, Dali juga terkenal karena kepribadiannya yang eksentrik dan flamboyan. Dalam penggunaan awal morfologi organik, karya yang Ia memiliki membawa ciri khas seniman Spanyol, Pablo Picasso dan Joan Miro. Lukisannya itu juga menunjukkan ketertarikannya terhadap seni Klasik dan Renaisans. Hal tersebut tampak jelas melalui gaya hiper realistik dan pemakaian simbolisme religius di dalam karyanya.

Lukisan Surealisme The Persistence of Time dan Analisisnya

Contoh Karya Aliran Surealisme: The Persistence of Time oleh Salvador Dali, gambar asli diperoleh melalui: wikiart.org

The Persistence of Time merupakan sebuah lukisan yang cukup ikonik dan terkenal dari Salvador Dali. Lukisan tersebut menampilkan berbagai macam jam dinding dan juga weker yang terlihat meleleh. Di dalam lukisan ini, Dali membuat sebuah benda yang seharusnya keras menjadi terlihat lunak. Adanya pohon yang tampak seperti tumbuh di atas blok kayu yang mirip seperti sebuah meja menambah kesan kontras yang terjadi antara realita dan dunia mimpi.

Horison yang terlihat luas tapi tampak kosong, ditambah dengan tebing yang digambarkan secara jelas walaupun jaraknya tidak dekat, membuat latar belakang lukisan menjadi terlihat seperti di dunia mimpi, atau hanya ilusi. The Persistence Of Time, atau Keteguhan Waktu tampaknya memang menjadi sorotan utama di dalam karya ini.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien