Geografi

Contoh Penerapan Konsep Geografi dalam Kehidupan Sehari-hari

contoh penerapan konsep geografi
Written by Ahmad

Contoh Penerapan Konsep Geografi dalam Kehidupan Sehari-hari – Ilmu Geografi umumnya dipelajari ketika seorang pelajar menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Istilah tersebut ternyata telah dikembangkan dari abad ke abad untuk menghasilkan kajian, pendekatan, hingga konsep. Melalui 10 konsep geografi, kelangsungan hidup manusia rupanya dapat menjadi lebih mudah.

Mengenal Apa itu Konsep Geografi?

Pada intinya, geografi berkaitan erat dengan semua bentuk dan fenomena yang berkaitan dengan alam. Fenomena tersebut terjadi di bumi, baik di lapisan biosfer, litosfer, atmosfer, hidrosfer, dan antroposfer.

Untuk mengkaji semua fenomena yang terjadi, maka geografi selalu menggunakan yang namanya konsep. Diambil dari kesamaan titik pandang dari kajian dan definisi yang telah dibahas, muncullah konsep esensial untuk mengungkapkan suatu gambaran.

Menurut Nursid Sumaatmadja, konsep geografi adalah pola abstrak yang ada kaitannya erat dengan ilmu yang dinamai Geografi. Konsep geografi terbagi menjadi 10 bagian. Banyak orang biasanya akan cenderung kesulitan untuk mengingatnya, padahal ada cara mudah untuk itu. Caranya adalah dengan menggunakan jembatan keledai, yakni ‘JaKet Mr. PoLo DIAnggo NiKen KeKait Karung’. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Ja : Jarak
Ket : Keterjangkauan
Mr : Morfologi
Po : Pola
Lo : Lokasi
D : Diferensiasi Area
I : Interaksi dan Interpedensi
Anggo : Aglomerasi
NiKen : Nilai Kegunaan
Kekait Karung : Keterkaitan Keruangan

Mudah, bukan? Urutannya menjadi lebih jelas dan singkatan-singkatan yang dibuat sangat menyenangkan untuk diingat. Untuk lebih jelasnya, pahami pembahasan dari masing-masing konsep berikut.

Lebih lanjut : 10 Konsep Geografi

Contoh Penerapan Konsep Geografi

1. Konsep Jarak

contoh penerapan konsep jarak

Konsep jarak adalah konsep yang terdiri atas dua tempat dan mengacu pada ruang. Atau, dapat diartikan sebagai jarak yang membentang adalah panjang dari dua tempat. Konsep jarak ini ternyata masih terbagi menjadi dua, yakni absolut dan relatif.

Jarak absolut adalah ruang atau sela antara dua lokasi yang dijelaskan, diterapkan melalui ukuran panjang. Satuan ukuran yang dipakai adalah meter (m), kilometer (km), atau dapat disesuaikan dengan ukuran yang ingin digunakan dan mudah diterapkan. Jarak ini tidak dapat diubah-ubah dan bersifat tetap, berbeda dengan jarak relatif yang merupakan jarak tempuh dan menggunakan satuan waktu, seperti lamanya.

Jarak relatif dapat berubah-ubah, tergantung dengan transportasi atau cara apa yang digunakan untuk melakukan perjalanan. Contoh nyatanya sendiri sudah biasa dilakukan banyak orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat menggunakan aplikasi Google Maps atau peta digital di ponsel.

Jarak dari Bandung ke monumen nasional jika dilihat dari aplikasi, akan ada beberapa data yang ditampilkan. Pertama, satuan jarak dari titik keberangkatan dengan tujuan adalah 165 km, kemudian juga ditunjukkan jarak tempuh jika menggunakan beberapa pilihan kendaraan, dengan motor, mobil, kereta api, atau berjalan kaki. Waktu yang dibutuhkan tentu berbeda dengan kendaraan yang berbeda-beda. Di sini akan terlihat jelas perbedaan antara jarak absolut dengan relatif.

Konsep ini berkaitan erat dengan lokasi sebagai pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan, pengangkutan barang, dan juga penumpang. Misalnya, lokasi antara jarak dan pemukiman penduduk.

banner-promo-gramedia

Jarak yang dibutuhkan agar sampai ke sana adalah 1-5 km. Dari jarak tersebut, pengunjung pasar bisa menghemat biaya untuk transportasi, memudahkan untuk pengangkutan barang, serta menghemat waktu yang dibutuhkan.

Konsep relatif juga dapat ditentukan dengan satuan waktu, seperti menit, detik, dan jam. Contoh penerapan lain, biasanya ditemukan dalam sebuah tiket pesawat. Informasi terkait jam penerbangan, misalnya dari Surabaya ke Yogyakarta membutuhkan waktu 1 jam 10 menit. Namun, informasi tersebut belum pasti, mengingat penerbangan dapat terhambat karena kondisi cuaca.

2. Konsep Keterjangkauan

Konsep yang satu ini lebih mengacu pada kemudahan untuk mencapai sebuah objek. Pengaruh terbesarnya tentu datang dari keadaan atau kondisi wilayah yang sedang ditempati. Sarana transportasi atau alat komunikasi sangat berpengaruh pada keterjangkauan ini. Contohnya, ketika sedang melakukan perjalanan destinasi atau berlibur ke dua tempat yang berbeda, seperti planetarium Jakarta dan Desa Wisata Baduy di Banten.

Nilai keterjangkauan dari kedua tempat ini berbeda. Jika seseorang ingin pergi ke planetarium, transportasi yang dikendarai adalah mobil atau kendaraan lainnya untuk sampai di tempat tujuan. Jika pergi ke Baduy, wisatawan tidak hanya membutuhkan mobil, motor, atau kendaraan lainnya, tetapi juga harus menempuh beberapa lokasi dengan berjalan kaki.

Contoh lainnya di beberapa bencana alam, banyak bantuan yang sulit didistribusikan ke tempat terjadinya bencana. Misalnya, karena dipengaruhi oleh medan yang berat atau jalan yang terlalu sulit untuk dilalui, mengakibatkan sejumlah bantuan akan melewati proses yang lebih lama dan sulit.

Selain contoh-contoh tersebut, penerapan konsep keterjangkauan dapat dipergunakan ketika seseorang akan membeli tanah. Misalnya, harga tanah yang lokasinya dekat jalan raya akan lebih mahal, ketimbang yang jauh dari jalan raya. Perbedaan tersebut timbul karena adanya akses lokasi yang berbeda.

Rumah yang dekat dengan jalan raya akan lebih mudah mendapat transportasi atau diketahui orang-orang ketika berjualan. Sebagai contoh lainnya, yakni harga beras di Pulau Papua yang lebih mahal, dari pulau-pulau terpencil. Karena perbedaan itulah, masyarakat akan mengetahui, daerah mana saja yang sulit diakses atau dijumpai produsen.

3. Morfologi

Terbentuknya muka bumi pastinya dipengaruhi oleh proses alam, sekaligus tindakan manusia. Misalnya, terdapat pegunungan, pantai, sungai, sebagainya yang jika dipengaruhi oleh tindakan negatif manusia, akan berakibat pada kerusakan. Selain itu, konsep morfologi juga erat kaitannya dengan faktor erosi, pengendapan atau penggunaan lahan, ketebalan tanah, serta penggunaan air.

Konsep ini juga memudahkan untuk mengetahui potensi dari sebuah lahan. Contohnya, saat seorang individu memiliki sebidang lahan pada daerah yang memiliki kemiringan lereng cukup curam, maka lahan tersebut tidak cocok untuk digunakan dalam membangun rumah. Hal tersebut akan berpotensi pada terjadinya tanah longsor. Dataran tinggi di Dieng juga dapat menjadi salah satu gambarannya, di mana bentuk permukaan bumi pada keadaan alam tersebut tampak seperti pegunungan.

Sebenarnya, tidak perlu jauh-jauh untuk memikirkan contoh-contoh tersebut. Tanda di pemasangan simbol ‘jalan menanjak’ atau ‘jalan menurun’ dapat memberi himbauan jelas untuk para pengendara. Peringatan tersebut dipasang supaya pengendara, bahkan pejalan kaki dapat berhati-hati supaya selamat. Wilayah tersebut nyatanya yang menjadi interaksi sebab-akibat antar wilayah dan berkembang sampai raja selanjutnya. Lebih lengkapnya lagi bisa dilihat pada buku yang satu ini.

4. Konsep Pola

Jika bicara tentang konsep pola, pastinya terkait dengan susunan atau penyebaran fenomena yang terjadi di muka bumi. Fenomena tersebut dapat berupa aliran sungai, jenis tanah, curah hujan, persebaran vegetasi pohon, dan masih banyak lagi. Gejala alam tentunya berbeda dengan gejala sosial yang dipengaruhi pemukiman, mata pencaharian, jenis perumahan yang ditempati warga, atau persebaran penduduk.

Contoh yang paling mudah diamati adalah bagaimana persebaran pemukiman penduduk. Ada pola pemukiman penduduk yang bentuknya memanjang, mengikuti garis pantai. Namun, ada pula yang memanjang dan mengikuti arah dari jalan raya.

Mata pencaharian penduduk dapat dipengaruhi oleh kondisi geografis, apalagi yang sangat mengandalkan bantuan alam. Misalnya, nelayan yang tinggal di sekitar pesisir pantai akan memancing dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencahariannya. Orang-orang yang tinggal di dataran tinggi dapat berkebun, memanen, dan membuka peluang usahanya dengan promosi lewat media sosial.

5. Konsep Lokasi

Konsep lokasi akan mengacu pada sebuah titik yang berada di muka bumi, terkait dengan kedudukan sebuah objek. Konsep yang satu ini menjadi konsep utama dalam menjawab pertanyaan ‘di mana?’ Untuk menentukannya dengan mudah, maka konsep terbagi menjadi dua, yakni absolut dan relatif. Lokasi absolut ditentukan dari garis lintang atau bujur, bersifat tetap dan tidak berpindah-pindah karena berpedoman pada garis geografis bumi.

Contohnya adalah lokasi absolut Indonesia yang terletak di antara 6°LU atau lintang utara dan 11°LS sebagai lintang selatan, hingga 95°BT (Bujur Timur) dan 141°BT (Bujur Timur). Artinya, Indonesia berada posisi strategis antara persilangan atau percaturan politik dunia.

Contoh lainnya adalah saat PPDB yang dilaksanakan kemarin, ada permintaan untuk mengisi data lokasi atau koordinat dari rumah masing-masing. Contoh yang satu ini juga termasuk lokasi absolut, di mana lokasi rumah berada pada titik tertentu yang tidak akan berubah, lokasi yang berkaitan dengan garis lintang dan bujur.

Berbeda dengan lokasi relatif yang memperlihatkan posisi sesuatu, berdasarkan kondisi dan situasi daerah sekitarnya. Lokasi ini dapat berubah sesuai sudut pandang penggunaannya. Misalnya, lokasi relatif Indonesia yang berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, kemudian berada juga di antara dua samudra, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

banner-promo-gramedia-sma

6. Konsep Diferensiasi Area

Konsep ini menekankan pada daerah-daerah yang berada di muka bumi, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan keunikannya sendiri yang khas.

Contohnya adalah penduduk di daerah pantai. Sebagian besarnya pasti bermata pencaharian sebagai nelayan karena sesuai dengan kondisi alamnya yang berupa dataran rendah dan dekat dengan laut, sedangkan daerah pegunungan bermata pencaharian sebagai petani karena memang tanah atau iklimnya sangat cocok untuk daerah pertanian. Ada perbedaan yang terakhir di antara dua lokasi tersebut.

Karena memiliki karakteristiknya sendiri, kedua kawasan yang menjadi objek dapat melakukan hubungan timbal balik. Hubungan atau kerjasama tersebut akan menimbulkan dampak yang menguntungkan. Istilahnya adalah saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Misalnya, kota dan desa memiliki perbedaan yang cukup signifikan, di mana kota memiliki fasilitas modern, sedangkan di desa sebaliknya.

banner-promo-gramedia

Keduanya sama-sama memproduksi sesuatu sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi dalam konteks berbeda. Kota menghasilkan barang pokok untuk berjalannya industri, sedangkan desa memproduksi sumber pangan dan bahan bakunya.

Karena itulah, kota sangat membutuhkan desa untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah. Desa juga membutuhkan kota ketika menginginkan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dari berbagai daerah, seperti Pulau Jawa sebagai penghasil beras dan Kalimantan untuk kayu.

7. Konsep Interdependensi dan Interaksi

Hubungan timbal balik ataupun saling ketergantungan antar dua wilayah adalah pengertian dari konsep interaksi maupun interdependensi. Berangkat dari perbedaan antar wilayah tersebut, pembahasan sebelumnya mengenai diferensiasi daerah, maka akan muncul interaksi yang bisa menjadi dampak menguntungkan dari masing-masing wilayah.

Misalnya, kota dan desa. Adanya perbedaan karakteristik antar dua wilayah tersebut akan memunculkan independensi dan timbal balik yang bisa menguntungkan. Kota membutuhkan desa sebagai pemasok bahan makanan, sedangkan desa membutuhkan kota sebagai pemasok bahan jadi, seperti pakaian, teknologi, dan lain sebagainya.

8. Konsep Aglomerasi

Konsep ini mengacu pada kecenderungan fenomena yang dikelompokkan menjadi objek pada sebuah wilayah, seperti pemukiman yang cenderung berkelompok pada wilayah subur dan asri. Contoh familiarnya adalah Cibaduyut yang merupakan sebuah sentra sepatu, lokasi tepatnya adalah di Kota Bandung. Upaya manusia dalam beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga konsep yang satu ini sering digunakan untuk mengkaji permasalahan sosial.

Misalnya, Tangerang adalah sebuah kota dengan perkembangan industri terbesar, bahkan dijuluki sebagai kota 1000 pabrik. Atau, sebuah pemukiman di daerah perkotaan yang penduduknya memiliki kesamaan asal daerah atau budayanya, seperti masyarakat pecinan.

9. Konsep Nilai Kegunaan

Konsep ini mengacu pada kelebihan yang dimiliki sebuah tempat maupun wilayah yang memiliki kegunaan berbeda, berdasarkan fungsinya. Misalnya, di Ciater, Jawa Barat terdapat sumber air panas alami yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai guna wilayahnya. Ada pula kawasan puncak di Bogor yang memiliki morfologi berupa kawasan berbukit dengan pemandangan yang indah, serta udaranya yang bersih.

Hal ini bisa menarik wisatawan untuk mengunjunginya, sehingga wilayah ini dapat dijadikan sebagai daerah wisata. Contoh lainnya adalah ketika merasa Madura terasa semakin dingin. Kawasan perbukitan di Wonosobo yang memiliki banyak tanah dan sumber mata air. Karena itu, Pulau Madura yang panas tidak akan cocok untuk lahan pertanian, melainkan tambak garam.

Jadi, konsep tersebut pasti memiliki manfaatnya masing-masing untuk kehidupan. Sebuah nilai guna yang memiliki potensi untuk dikembangkan, apalagi Indonesia sangatlah kaya akan keindahan dan keanekaragaman hayati.

Beberapa pantai, pohon mangrove, dan pemanfaatan luas untuk rumput laut, potensinya masih belum menonjol atau meningkat. Sebenarnya, mangrove sendiri tidak hanya bermanfaat untuk menahan abrasi maupun serangan angin topan. Jika potensinya ditekankan, mangrove juga dapat menjadi tempat wisata yang kaya akan pemanfaatan.

Kalimantan juga memiliki hutan tropis yang sangat cocok untuk dijadikan habitat hewan-hewan langka. Itulah sebabnya, taman nasional dan hutan lindung di sana sangatlah dijaga. Sebagai contoh lainnya, tanah aluvial yang cocok untuk dimanfaatkan oleh petani karena subur.

10. Konsep Keterkaitan Ruangan

Konsep ini menunjukkan tingkat hubungan antar wilayah. Hal ini mendorong terjadinya hubungan sebab-akibat. Intinya, pada konsep keterkaitan keruangan fenomena yang terjadi melibatkan dua wilayah atau lebih mudahnya ketika ada sebuah bencana, seperti banjir di suatu wilayah yang berdampak pada daerah lain atau sebutannya banjir kiriman.

Misalnya, Jakarta yang mendapatkan banjir kiriman dari Bogor. Kota tersebut merupakan dataran rendah, sedangkan Bogor merupakan dataran tinggi. Air akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang lebih rendah.

Selain mengetahui timbal balik antar ruang, seperti yang dijelaskan pada konsep interaksi atau keterkaitan keruangan, kajian geografi juga memberikan pengetahuan terkait konteks Indonesia sebagai poros maritim dunia. Kekayaan alam yang ada meliputi transportasi dunia yang menjadi aktif karena kestrategisan wilayah, kekayaan dan keanekaragaman biota laut, serta pariwisata untuk kemaritiman internasional.



Selalu Ingat bahwa potensi yang ada benar-benar harus dilestarikan secara arif dan bijaksana oleh seluruh penduduk Indonesia. Dari konsep geografi, pernyataan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri menjadi tidak terbantahkan. Saling membantu untuk membuahkan hasil yang maksimal akan menumbuhkan toleransi dan kerja sama yang baik.

Baca juga artikel terkait :

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien