Sejarah

10+ Daftar Pahlawan dari Sulawesi yang Telah Berjasa Untuk Indonesia

Written by Laeli Nur Azizah

Pahlawan dari Sulawesi – Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November setiap tahunnya. Dimana peringatan Hari Pahlawan ini ditetapkan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang sudah membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada zaman dahulu. Mereka tak hanya berjuang dengan senjata saja, namun juga banyak yang memperjuangkan kemerdekaan melalui beberapa bidang lainnya. Oleh karena itu, setiap menjelang Hari Pahlawa, pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada para pejuang yang telah memenuhi syarat.

Salah satunya adalah para pahlawan dari Sulawesi mempunyai peran penting dalam merebut dan juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beberapa nama pahlawan asal Sulawesi ini diabadikan sebagai nama-nama jalan sampai gedung pemerintah yang ada di Sulawesi.

Pahlawan nasional sendiri merupakan sebuah gelar yang disematkan kepada warga Indonesia yang mempunyai jasa besar terhadap kemerdekaan negara. Gelar pahlawan ini merupakan bentuk apresiasi untuk memperingati perjuangan mereka dalam melawan penjajah. Perjuangan pahlawan nasional dari Sulawesi ini dilakukan dari berbagai cara, baik itu melalui gerakan kepemudaan, politik, hingga militer. Mereka berperan besar dalam mempertahankan tanah Sulawesi sebagai bagian dari NKRI.

Daftar Pahlawan dari Sulawesi

Sulawesi adalah salah satu daerah yang ada di Indonesia yang disebut mempunyai peran penting dalam melakukan perlawanan di masa penjajahan. Hal tersebut ditandai dari penganugerahan terhadap para tokoh di Sulawesi sebagai Pahlawan Nasional yang dinilai turut andil melepaskan NKRI dari para penjajah. Bahkan sampai sekarang, beberapa Pahlawan Nasional dari Sulawesi masih tetap fenomenal dan selalu digaungkan saat kegiatan Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 November.

Jasa para pahlawan dari Sulawesi sudah sepatutnya tidak dilupakan dan selalu dijadikan sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Gagasan serta tindakan para Pahlawan Nasional ini mempunyai peranan yang penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, khususnya daerah asalnya. Karena mereka rela untuk mengorbankan jiwa serta raganya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Berikut ini adalah daftar pahlawan dari Sulawesi yang patut kita hargai perjuangannya:

1. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin adalah salah satu pahlawan dari Sulawesi yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 12 Januari 1631 dan meninggal dunia di usia 39 tahun, tepatnya pada Juli 1670. Ia merupakan putra kedua dari Sultan Malikussaid yang gigih dan berani dalam melawan penjajah Belanda pada saat itu.

Gowa sendiri merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang memiliki kekuasaan dalam jalur perdagangan. Di tahun 1666 kompeni yang dipimpin oleh Laksamana Cornelis Speelman berupaya untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan kecil namun tidak berhasil menundukkan Gowa. Perang yang terjadi antara Gowa dan VOC dimulai pada tahun 1660, dimana Belanda pada saat itu mendapatkan bantuan dari Kerajaan Bone. Perang tersebut menewaskan Panglima Bone, Tobala, akan tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Sehingga berakhir dengan perdamaian yang tidak berlangsung lama.

Sultan Hasanuddin yang merasa dirinya dirugikan kemudian menyerang dua kapal Belanda. Sehingga pihak Belanda mengirimkan Cornelis Speelman. Setelah itu, Sultan yang merasa terdesak menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Di tahun 1668 Sultan kembali ke tangan Belanda, namun kekuatan benteng Somba Opu berhasil jatuh ke tangan Belanda. Hingga akhirnya Sultan tidak mau bekerjasama dan mengundurkan diri dari tahtanya.

2. Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Syekh Yusuf Tajul Khalwati lahir di Gowa pada tanggal 3 Juli 1626 dan meninggal dunia di Cape Town, Afrika Selatan pada tanggal 23 Mei 1699. Ia merupakan anak angkat dari Sultan Alauddin karena ayahnya merupakan sahabat karib dari Raja Gowa. Syekh Yusuf Tajul Khalwati berasal dari keluarga bangsawan tinggi di suku bangsa Makassar dan masih berkerabat dengan para raja dari Banten, Gowa, dan juga Bone. Ia dianggap sebagai salah satu sesepuh dalam penyebaran Islam di Cape Town. Sehingga setiap tahun tanggal kematiannya, selalu diperingati secara meriah, bahkan dijuluki sebagai salah satu putra Afrika terbaik oleh Nelson Mandela.

3. Dr. G.S.S.J. Ratulangi

Dr. G.S.S.J. Ratulangi adalah pahlawan dari Sulawesi yang lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 5 November 1890 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 10 Juni 1949. Ia dimakamkan di Tondano pada usia 58 tahun. Dr. G.S.S.J. Ratulangi seringkali disebut sebagai tokoh yang multidimensi, dikenal dengan filsafatnya yang berbunyi “si tou timou tumou tou”, yang memiliki arti manusia baru bisa disebut sebagai manusia jika sudah memanusiakan manusia. Ia memperoleh pendidikan di sekolah dasar Belanda di Tonando, yakni sekolah Raja setingkat dengan SMP Tonando dan juga sekolah teknik Kononginlijke Wilhelmina School bagian Mesin di Jakarta pada 1908, ijazah dari Universitas Amsterdam pada 1915, doktor di Universitas Zurich pada 1919. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai banda udara Manado dan juga Universitas Negeri di Sulawesi Utara.

4. Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis lahir di Kema, Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872 dan meninggal dunia di Maumbi, Sulawesi Utara pada tanggal 22 April 1924 di usia 54 tahun. Ia merupakan seorang pahlawan nasional perempuan dari Sulawesi berkat usahanya untuk meningkatkan kondisi para perempuan Indonesia pada awal abad ke-20. Maria Walanda Maramis dianggap sebagai seorang pendobrak adat dan sebagai pejuang kemajuan serta emansipasi perempuan dalam dunia politik serta pendidikan melalui tulisannya di surat kabar setempat yang bernama Tjahaja Siang di Menado.

Lalu, Ia mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya atau PIKAT pada tanggal 8 Juli 1917 sebagai pemimpinnya dan mendirikan cabang-cabang di Minahasa dan di Jawa sampai saat kematiannya terus aktif disana. Patung Maria Walanda Maramis didirikan di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang yang berada di sekitar 15 menit dari pusat kota Manado.

5. Robert Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 14 Februari 1925 dan meninggal dunia di Pacinang, Makassar Sulawesi Selatan pada tanggal 5 September 1949. Ia sempat bersekolah di HIS pada 1913 dan juga MULO Don Bosco di Manado. Selain itu, Ia juga sempat terlibat dalam perjuangan melawan tentara NICA di Makassar, membentuk Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia Sulawesi atau LAPRIS pada tanggal 17 Juli 1946. Belanda kemudian menangkapnya pada tanggal 28 Februari 1947, Ia berhasil lolos pada 27 Oktober 1947, tapi tertangkap lagi dan dijatuhi hukuman mati. Makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar dan memperoleh Bintang Mahaputra Adipradana pada 10 November 1950 dan diberi gelar pahlawan nasional dari sulawesi pada 6 November 1973.

6. Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma

Jahja Daniel Dharma lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 9 atau 11 Maret 1911 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 27 Agustus 1988. Ia merupakan seorang perwira tinggi TNI AL yang beretnis Tionghoa. Selain itu, Ia juga dikenal dengan nama John Lie Tjeng Tjoan. Di usia 17 tahun, Ia datang ke Batavia untuk menjadi pelaut, emngikuti kursus navigasi sembari menjadi buruh pelabuhan. Saat bergabung dengan Angkatan Laut RI, Ia memimpin sebuah misi untuk menembus blokade Belanda demi menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya.

Selain itu, Ia juga mengamankan pelayaran kapal yang menyangkut komoditas ekspor Indonesai dan daerah operasinya yaitu Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan juga New Delhi. Jahja Daniel Dharma juga aktif dalam menumpas RMS dan PRRI atau PERMESTA. Pengabdiannya di Angkatan Laut berakhir pada tahun 1966 sebagai Laksamana Muda. Kemudian, Anugerah Bintang Mahaputera Utama diberikan kepadanya pada tanggal 10 November 1995 dan juga Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2009.

7. Bernard Wilhelm Lapian

Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara pada tanggal 30 Juni 1892 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 5 April 1977. Ia adalah seorang pejuang di berbagai bidang mulai dari agama, jurnalisme, hingga politik mulai zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan Indonesia. Bernard Wilhelm Lapian merupakan seorang pendiri Keraparan Gereja Protestan Minahasa atau KGPM di tahun 1933, berupa gereja yang mandiri dan juga independen yakni tidak dipengaruhi oleh Belanda.

Selian itu, Bernard Wilhelm Lapian juga memimpin pasukan sipil pada Peristiwa Merah Putih tanggal 14 Februari 1946 di Manado, melucuti pasukan Belanda dan membebaskan para petinggi KNIL yang ditangkap, pernah juga menjabat sebagai Gubernur Proponsi Celebes kedua dari tahun 1950 hingga 1951, serta memperoleh gelar pahlawan nasional dari Sulawesi pada tanggal 5 November 2015.

8. Pajonga Daeng Ngalle

Pajonga Daeng Ngalle lahir di Takalar, Sulawesi Selatan pada tanggal 1901 dan meninggal dunia pada tanggal 2 Februari 1958. Ayahnya bernama Hajina Daeng Massaung Ilangari Mangkura dan ibunya yang bernama Hapipah Daeng Ngintang. Ia merupakan seroang Karaeng atau kepala pemerintahan distrik Plongbangkeng pada tahun 1934. Pada bulan Oktober 1945, Ia bersama dengan seluruh bangsawan Sulawesi Selatan mengikuti sebuah konferensi raja-raja Sulawesi Selatan di Yogyakarta. Keputusan konferensi menghasilkan dukungan pada pemerintahan RI di Sulawesi sebagai pemerintah satu-satunya yang resmi atau sah di bawah pimpinan Gubernur Sam Ratulangi. Gelar pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan tersebut diberikan pemerintah Indonesia pada tanggal 3 November 2006.

9. Pierre Tendean

Kapten Czi Anm. Pierre Andries Tendean lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia dari ayah yang bernama Dr. AL Tendean dan Concert M.E yang berdarah Perancis. Ia merupakan ajudan dari Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, gugur pada peristiwa G30S PKI bersama dengan enam jenderal lainnya. Gelar pahlawan revolusi diberikan oleh pemerintah RI pada tanggal 5 Oktober 1965.

10. Ibu Agung Hj. Andi Depu

Ibu Agung Hj. Andi Depu adalah seorang tokoh pejuang perempuan dari Mandar, Sulawesi Barat yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional pertama dari Sulawesi Barat pada tanggal 6 November 2018. Dedikasinya yang sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan melawan Belanda sangat diakui masyarakat Mandar. Menurut beberapa sumber, diceritakan bahwa hanya daerah Tinambung, Balanipa yang tidak bisa dikuasai oleh Belanda karena adanya sosok Ibu Agung Hj. Andi Depu yang memimpin perjuangan melawan Belanda atau NICA. Ia lahir di Tinambung, Polman pada tahun 1907 dan meninggal dunia di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 18 Juni 1985. Ibu Agung Hj. Andi Depu merupakan Raja Balanipa yang ke-52, putri Laqju Kanna Idoro, Raja Balanipa yang ke-50. Ia juga mendirikan Fujinkai Wadah Gerakan Wanita Mandar Melatih.

11. Andi Abdullah Bau Massepe

Letnan Jenderal TRI Andi Abdullah Bau Massepe adalah salah satu pahlawan nasional atau perjuang kemerdekaan Indonesia yang mempuyai julukan Datu Suppa. Ia lahir di Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Celebes, Sulawesi Selatan pada tahun 1918. Menurut data yang ada, Ia meninggal dunia di usianya 29 tahun, yakni Februari 1947. Seorang pejuang heroik dari Sulawesi Selatan ini pernah mengemban jabatan sebagai Panglima pertama TRI Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jenderal. Datu Suppa merupakan keturunan bangsawan, Ia nak dari pasangan Raja Bone yang ke-32, yakni Andi Mappanyukki dan juga Besse Arung Bulo, yaitu putri Raja Sidenreng, anaj dari La Sadapotto Addatuang Sidenreng dengan Baeda Addatuang Sawitto.

Datu Suppa ini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 November 2005, sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2005.

12. Andi Djemma

Pahlawan dari Sulawesi berikutnya adalah Andi Djemma, yakni Raja dari Kedautan Luwu. Andi Djemma ini dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 November 2022. Penganugerahan gelar tersebut tidak lepas dari kebijakan Andi Djemma saat menjadi Datu Luwu. Dimana kedaulatan Luwu adalah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia. Tak hanya itu saja, sejarah juga mencatat Andi Djemma adalah Tokoh Utama Pelopor Keberadaan Nahdlatul Ulama atau NU di Tanah Luwu. Bahkan saat Andi Djemma ini menjadi Datu, organisasi kebangsaan dan agama lain seperti Partai Syarikat Islam Indonesia dan Muhammadiyah berkesempatan untuk menjalankan organisasinya di Kerajaan Luwu.

13. Andi Mappanyukki

Pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan yang bergelar Pahlawan Nasional adalah Andi Mappanyukki atau Petta Mangaku’. Andi Mappanyukki ini adalah Raja Kesultanan Bone yang ke-32. Ia merupakan salah satu tokoh pejuang dan seorang bangsawan tertinggi yang ada di Sulawesi Selatan. Andi Mappanyukki merupakan putra dari Raja Gowa yang ke XXXIV yakni I’M kualu Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Budhu’na atau Somba Ilang dan I Cella We Tenripadang Aring Alita, yakni putri tertua dari La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmed, Arumpone Bone atau Raja Bone. Diceritakan bahwa Ia juga pernah memimpin raja-raja Sulawesi Selatan untuk bersatu dan bergabung dengan Indonesia pada tahun 1950.

14. La Maddukelleng

La Maddukelleng adalah bangsawan yang tinggal di lingkungan istana dan kerap dipanggil Arung Singkang dan Arung Peneki. Julukan La Maddukelleng ini berasal dari Suku Wajo yang mana merupakan Petta Pammadekaenggi, itu artinya Tuan yang memerdekakan Wajo. La Maddukelleng ini dianugerahi Pahlawan Nasional karena berhasil membebaskan Wajo dan Sulawesi Selatan dari kekuasaan Belanda. Kemudian, La Maddukelleng meninggal dunia di Sulawesi Selatan pada tahun 1765 dan dimakamkan di Sengkang. Pada tanggal 6 November 1998, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No. 109/TK/1998.

Demikian penjelasan mengenai daftar pahlawan dari Sulawesi yang perlu diketahui. Bagi Grameds yang ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang tokoh pahlawan lainnya dapat membaca buku-buku terkait dengan mengunjungi Gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien